
TOK TOK TOK. Kevin mengetuk pintu ruangan Rama beberapa kali. ”Masuk.” ucap Rama dari dalam dan Kevin pun segera masuk ke dalam. ”Ram.” seru Kevin dan Rama pun menoleh sambil membetulkan kacamatanya.
“Panggil saya yang sopan Kevin, ini di kampus bukan di rumah.” ucap Rama serius.
”Serah lu dah.” sahut Kevin sebal. ”Gue mau jalan sama Melisa. Jadi, lu nggak usah nungguin gue. Gue bisa pulang naik taksi.” ucap Kevin membuat kedua alis Rama saling bertautan.
”Melisa?“ gumam Rama dan Kevin pun membenarkannya.
“Jangan deket-deket sama Melisa. Dia bukan cewek baik-baik.” ucap Rama membuat Kevin mendengus kesal.
”Tau apa lu dia baik ato nggak? Emang lu kenal gitu? Terserah gue lah mau deket sama dia ato nggak. Bukan urusan lu.” sahut Kevin mulai tersulut emosi.
Rama pun menghela nafasnya berat lalu melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di meja. Ia pun bangkit menghampiri Kevin yang berdiri di dekat pintu. ”Nih.” ucap Rama memberikan masker berwarna hitam.
”Paan nih?“ tanya Kevin heran.
“Kamu modeling terkenal, kan? Mau privasi berdua sama Melisa, kan?”
”Emang iya, trus?”
”Ya udah pake biar nggak ada yang tau. Trus jangan lupa kalo mau makan di luar cari private room.”
”Cih!” Kevin pun mengambil masker dari tangan Rama dengan kasar. Ia pun mendengus lalu segera keluar dari ruangan Rama.
Dalam hati Melisa mengumpat kesal karena ternyata acara ngedate bersama Kevin hari ini malah naik taksi. ”Mobil lu kemana? Tumben lu naik taksi?” tanya Melisa berusaha selembut mungkin supaya tidak terdengar ketus.
”Di rumah. Kan tadi udah bilang? Kalo gue bareng sama Rama?” jawab Kevin sambil mengacak-acak pucuk kepala Melisa.
Disini lah keduanya berada, tepatnya di Mie Ayam Solo yang terkenal akan cita rasanya yang tidak berubah dari jaman ke jaman. Kevin memilih tempat di pojokan supaya kebersamaannya dengan Melisa tidak terekspos.
Melisa meneliti seluruh depot mie ayam yang jauh dari kata mewah. Melisa tidak menyangka kalau Kevin akan mengajaknya makan di tempat yang seperti ini. ”Mel?” panggil Kevin tersenyum ketika melihat Melisa tidak henti-hentinya memandangi sekeliling.
”Lu sakit?” tanya Kevin.
”Ng-nggak kok.” jawab Melisa dengan senyum yang dipaksakan.
Dua porsi mie ayam legendaris itu pun datang ditemani dua gelas es teh manis. Kevin menyantap mie ayamnya dengan lahap sedangkan Melisa nampak uring-uringan. 'Mie ayam doang? Cuma 10rban pula? Ngedate apaan coba di tempat ginian? Euwh.' batin Melisa.
__ADS_1
”Dulu kami bukan orang berada. Bahkan, buat menuhin kebutuhan sehari-hari kami musti ngutang di warung. Papa supir, mama IRT, trus gue dulu masih SD nggak paham soal dunia kerja kek gimana. Tapi, gue bersyukur gue bukan anak manja yang seenak udelnya minta ini itu ke ortu.”
Melisa tersentak ketika Kevin mulai bercerita dan membawa-bawa orang tua. Melisa berharap kalau dirinya akan melakukan sesuatu yang berarti di hari kencannya. Tapi, apa? Bukannya di restoran mahal malah depot mie ayam. Bukannya membahas hubungan keduanya bagaimana ke depannya atau sekedar bercanda ria, malah bercerita tentang kisah hidupnya.
”Papa nggak mau nasib keluarganya gitu-gitu aja dan papa pun bertekad buat cari pekerjaan yang lebih baik. Cari kerja sana sini nggak ada yang mau nerima karena papa cuma lulusan SMA. Tapi, tiba-tiba ada satu perusahaan yang nawarin beasiswa kuliah sambil kerja disana.”
“Papa bener-bener ngededikasiin hidup dia disana sampai dari tahun ke tahun jabatan papa makin naik makin naik dan sekarang papa jadi direktur yang udah ngebesarin nama papa disana.”
”Mobil mewah gue? Baju celana sepatu topi gucci channel gue? Semuanya papa yang beliin. Gue nggak minta tapi beliau yang diem-diem beliin dan cari tau ukuran yang pas buat gue. Gue? Pendapatan gue di dunia modeling nggak seberapa, cuman cukup-cukup buat biaya kuliah gue aja. Dan nggak setiap saat juga gue dapet job.”
”Dan satu hal yang papa tekenin di dalam hidup dia dan keluarganya. Papa sampai kapan pun nggak bakalan mau cari nafkah yang nggak halal. Bahkan, karena beliau terlalu jujur, dulu beliau sempet difitnah sama temen kerja sekantor.”
Halal? Cih! Jangan sok munafik Kevin. Batin Melisa kesal setelah mendengar semua ocehan Kevin yang entah mengapa seperti menyudutkan dirinya yang berambisi untuk hidup glamor, tidak peduli dengan cara apapun, halal atau haram sekali pun.
Kevin mengulurkan tangannya mengelus surai rambut Melisa sayang. Ia pun tersenyum meskipun ia tau saat ini mimik wajah Melisa terlihat sedikit masam. “Enak nggak?“ tanya Kevin. Sebenarnya Kevin tidak perlu bertanya. Jelas sekali dari mangkuk mie ayam Melisa yang masih utuh yang hanya tersentuh sedikit. Itu artinya mie ayam yang disantapnya tidak cukup enak.
Berbeda dengan Kevin yang melahap habis sampai tidak tersisa. Mie ayam disini cita rasanya benar-benar enak sekali. Tapi, Kevin tidak mengerti mengapa Melisa tidak menghabiskannya. Bahkan, pengunjung yang ada di samping depan belakangnya terlihat begitu sangat menikmatinya.
”Kita pulang aja ya.” ucap Kevin lalu bangkit menuju kasir.
***
Sudah satu minggu ini ia izin bekerja karena sakit. Lebih tepatnya galau karena hubungannya dengan Rama harus berakhir di tengah jalan. Cindy tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa bijak dalam menyikapi masalahnya sendiri.
Cindy kembali terisak mengingat kenangan-kenangan indahnya bersama Rama. ”Kamu jahat banget Ram.” gumamnya sambil sesenggukan. Ibunya pun tidak tau lagi harus berbuat apa. Sebagai orang tua tentu hati ibunya terasa perih melihat kondisi putrinya yang seperti ini.
“Assalamu'alaikum Gilang.” ucap Ibu Cindy di telepon.
”Wa'alaikumussalam Bu, ada apa?“ sahut Gilang di seberang sana.
Hasna pun menceritakan kondisi putrinya itu pada Gilang hingga membuat Gilang yang ada di seberang sana khawatir bukan main. Telepon pun terputus dengan Gilang yang segera meluncur menuju rumah Cindy untuk menjenguknya.
Gilang pun masuk ke dalam kamar Cindy yang bernuansa serba pink. Sesuai dengan kepribadiannya yang periang. Ia pun naik ke kasur dan mengelus pucuk kepala Cindy sayang. ”Rama.” gumam Cindy seketika ia pun membalikkan badannya.
“Kak Gilang?” gumam Cindy terdengar sedikit kecewa karena yang datang adalah Gilang bukannya Rama.
”Cindy plis jangan bikin mama papa kakak adek kamu khawatir ya? Hm?” pinta Gilang sambil tangannya merapikan rambut Cindy yang sedikit berantakan. Cindy tidak kuat lagi menahan air matanya lebih lama lagi. Ia pun menangis dalam pelukan Gilang.
__ADS_1
Gilang mencoba menenangkan Cindy yang terus saja menangis sambil sesenggukan. ”Dia udah ninggalin aku kak, dia udah nggak sayang lagi sama aku.” ucapnya dengan suara parau.
Gilang sudah mendengar penjelasan mengenai putusnya hubungan Cindy dan Rama dari Hasna, ibu Cindy. Lelaki mana yang sudah berani membuat Cindy sehancur ini? Gilang pun memastikan kalau orang tersebut akan menerima balasannya.
Ketika Rama meraih gagang pintu mobilnya, tiba-tiba seseorang menonjoknya dengan keras hingga membuatnya tersungkur. ”BRENGSEK!” umpat pria bermantel warna coklat itu terlihat emosi.
Pria yang tidak Rama kenal itu pun meraih kedua kerahnya dan kembali menonjok wajahnya. Rama tidak ingin membalas pukulan pria itu karena ia tau saat ini ia masih berada di area kampus. Tidak etis kalau dirinya yang berprofesi sebagai dosen malah menyerang orang lain di area sini.
”Kamu siapa?” tanya Rama. Ia pun berusaha bangkit dan menahan tangan pria itu yang ingin mencoba memukulnya lagi.
”Lu udah nyakitin Cindy.”
”Cindy?”
”Heh, ngerasa hebat lu, hah?”
Rama meringis ketika sudut bibirnya yang membiru dan mengeluarkan darah segar itu terasa perih. ”Kita bicara baik-baik dulu. Jangan main hakim sendiri. Saya tau kamu orang yang berpendidikan.” ucap Rama tenang dan bijak. Keduanya pun memutuskan duduk di bangku pos tempat satpam biasa jaga.
”Saya putus sama Cindy bukan karena saya udah nggak sayang. Tapi, karena itu keputusan terbaik buat hidup saya.”
”Heh! Keputusan terbaik lu bilang?“
”Saya bukan anak kecil lagi yang mau buang-buang waktu buat pacaran nggak jelas apalagi nggak ada niatan buat nikah. Cindy, dia milih buat ngejar karirnya dari pada nikah sama saya. Tiap kali saya ajakin dia buat ketemu sama orang tua saya, dia selalu nolak dan ngehindar. Selama ini saya udah cukup sabar. Jadi, tolong kamu jaga sikap.”
Gilang geram setelah mendengar pernyataan Rama barusan. Bagaimana pun Rama telah menyakiti kesayangannya, Cindy. Perkataan Rama selanjutnya pun membuat Gilang mendelik tajam.
Rama berdiri lalu menatap Gilang tajam. ”Setau saya Pak Gavin itu orangnya ramah dan bijaksana. Saya pikir anak-anak beliau juga bakalan punya sifat kek beliau. Tapi, keknya nggak ya?” ucap Rama sarkasme seraya tersenyum miring. Rama pun segera meninggalkan Gilang yang termenung disana.
Siapa Rama sebenarnya? Bagaimana dia bisa tau nama ayah Gilang sementara Gilang baru pertama kali bertemu dengan Rama? Sudah pasti Rama bukan orang biasa. Tapi, orang hebat berkedok dosen kampus. Gilang pun mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Rama pun masuk ke apartemennya sendiri dan mencari-cari sosok Kevin yang ternyata tengah memasak di dapur. Rama menatapnya nanar. Lalu, menyusul Kevin di dapur dan tanpa babibu ia pun memeluk Kevin dari belakang, membenamkan wajahnya yang nyeri di ceruk leher Kevin membuat Kevin geli.
”Ram.“ protes Kevin sedikit memberontak.
”Bentar aja plis aku pengen meluk kamu kek gini bentar aja Kevin.“ ucap Rama lirih.
”Geli Ram.“ ucap Kevin pelan sambil menumis tempe tahu dan buncis. Namun, Rama semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya disana hingga aroma mint yang menguar dari leher Kevin pun begitu terasa di indera penciumannya.
__ADS_1
***
Judul lain COME BACK HOME [BL], BLUE SKY [BL], ARES [BB], JOMBLO AKUT