
GKTG [BL] 24/1
Sudah hampir setengah jam Chris menunggu di dalam mobil. Kemana Daffin pergi? Daffin urung jua menampakkan barang hidungnya. Chris pun turun dari mobil dan kembali masuk ke dalam kampus. Mungkin Daffin masih ada di dalam, batin Chris.
Chris bertanya ke beberapa murid disana. Nihil, tidak ada satu pun yang tau akan keberadaan Daffin. Hm, telepon Daffin aja kali, ya?, batin Chris. Ia pun mendial nomor telepon Daffin. Chris mengernyitkan alis keheranan. Mengapa Daffin tidak mengangkat teleponnya?
CHRIS
“Kamu dimana?“
DAFFIN
“Meneketehe. Lu cari aja sendiri.“
Chris memijit pelipisnya yang tidak sakit sama sekali. Daffin mendadak kembali menggunakan istilah elu gue. Hah, pasti Daffin sedang marah saat ini, batin Chris. Kenapa bisa begitu? Bukankah tadi Daffin baik-baik saja?
CHRIS
“Kamu dimana Daff? Kamu mau mas ke bar trus tidur ama cewek lain, hm?“
Daffin yang saat ini tengah rebahan di sofa sambil streaming sebuah sebuah lagu berjudul blue flame itu pun langsung bangkit setelah membaca sms dari Chris. Hah, pintar sekali Chris ini mengancam Daffin? Apa? Tidur sama perempuan lain? Cih!
DAFFIN
“Oh, gitu? Udah sana pergi aja. Gue gak peduli. Lu kalo berani nginjek tuh bar, jangan harap lu ketemu ama gue lagi. Gue mau kuliah di luar negri.“
“Pft,“ Chris terkekeh geli membaca sms dari Daffin yang berisi ancaman, bahwa ia akan berkuliah di luar negeri kalau Chris berani menginjakan kaki di bar. Mau marah pun rasanya segan. Daffin itu terlalu imut dan lucu, membuat siapapun tidak tega untuk benar-benar marah padanya. Huh, dasar Daffin, batin Chris.
CHRIS
“Kamu dimana sayang???“
Kedua mata Daffin langsung melotot tajam saat membaca pesan singkat itu, yang dimana Chris memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Semburat merah pun muncul di kedua pipi Daffin. Oh tidak, Daffin tersipu malu.
DAFFIN
“Rumah.“
Chris pun tersenyum. Ia langsung memasukkan ponselnya kembali ke saku celana. Lalu, mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Di tengah jalan Chris berpikir untuk membeli sesuatu untuk makan malam di rumah nanti.
__ADS_1
“Apa ya??“ batin Chris.
Sorot mata Daffin mengarah ke pintu. Suara pass apartemen yang ditekan terdengar. Itu pasti Chris. Daffin langsung membelalakkan mata saat ia melihat kedua tangan Chris penuh dengan kantung plastik. “Lu bawa apaan si, hah? Kok ampe bejibun gini?“ tanya Daffin cengo.
“Buat makan malem kita.“ sahut Chris santai lalu berjalan menuju dapur dan meletakkan semua belanjaannya di meja makan. “Hah? Kita cuman berdua, loh? Siapa yang bakalan ngabisin coba?“ protes Daffin. “Kamu,“ ucap Chris enteng lalu mengambil sebotol air dingin di kulkas dan meminumnya langsung tanpa menggunakan cangkir atau apapun.
Daffin menghembuskan nafas berat. Chris itu bodoh atau bagaimana, sih?, batin Daffin. “Lu beli apa aja emang?“ tanya Daffin sambil melihat-lihat satu per satu bungkus plastik. Chris langsung menjitak dahi Daffin. “Mas trus aku kamu, jangan pake elu gue, ngerti?“ tegur Chris.
Daffin memutar bola mata malas. “Serah lu dah,“ sahut Daffin masa bodoh sambil menenteng sebungkus plastik belanjaan Chris tadi menuju ambang pintu. “Kemana? Itu mau dibawa kemana?“ tanya Chris beras sambil melepas tiap kancing baju koko yang ia kenakan.
Daffin memutar badan. “Ngasih satpam di bawah,“ sahut Daffin. “Oh~“ Chris beroh ria saja. “Lagian makanan seabrek siapa yang abisin coba? Mending dikasihin, kan?“ ucap Daffin lalu keluar apartemen. Chris pun tersenyum tipis.
“Tadi kenapa kamu duluan pulang? Trus nggak ngabarin mas juga?“ tanya Chris sambil membuat teh hangat di dapur lalu membawanya ke ruang tengah. “Kamu pikir aja sendiri,“ sahut Daffin mencoba acuh saja sambil memindah-mindah chanel TV dari satu saluran ke saluran yang lain.
Daffin menoleh sambil mengunyah makanan dengan nyaring. Jelas sekali ia sengaja seperti itu. “Terserah gue, nggak penting.“ sahut Daffin ketus. Ia mendadak sebal dan kesal. Chris geleng-geleng kepala. Huh, kenapa lagi Daffin ini?, batin Chris.
Chris pun berdiri. Ia berjalan ke suatu tempat. Heh, mana Daffin peduli. “EGP.“ batin Daffin. Semua lampu di apartemen pun mendadak mati. Daffin panik. Chris sengaja berjalan menuju saklar lampu untuk memastikan semua saluran listrik di apartemen ini.
“Chris?“ seru Daffin. Hening. Tidak ada suara sama sekali. Daffin merinding. Ia takut. Bagaimana kalau nanti Daffin melihat penampakan sosok hantu di apartemen ini? Mau lari kemana Daffin? Huh, kemana sih Chris?, batin Daffin.
Sial, kemana pula Daffin meletakkan ponsel miliknya sendiri? Daffin meraba-raba sofa. Barangkali ada penampakan ponselnya disana. Uh, Daffin sudah mencoba, namun nihil. Tidak ada ponsel sama sekali disana.
Tiba-tiba satu tangan Chris meremas bongkahan empuk di belakang bagian bawah Daffin. Daffin terperanjat sekaligus geli. Ia merasakan gelenyar-gelenyar aneh dalam dada. “Chris.. Ja-jangan nakal deh..“ ucap Daffin.
Chris meremas labu nan empuk itu makin intens saja. Tadinya tangan Chris meremas dari luar. Tapi, kali ini ia meremas dari dalam dengan menelusupkan tangannya disana. “Ungh,“ gumam Daffin refleks meremas pundak Chris.
Sambil meremas labu. Chris sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Daffin dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Daffin dari sana. Daffin kegelian diiringi suara-suara aneh nan menjijikan bagi sebagian orang. Namun, bagi sebagiannya lagi terasa terdengar begitu nikmat dan menggairahkan.
Chris mendorong Daffin pelan sampai ke dinding. Hingga pada akhirnya tubuh Daffin pun menempel di dinding. Chris melonggarkan dekapannya. Dalam gelap keduanya saling bertatapan. Hening. Chris ataupun Daffin sama sekali tidak bersuara. Kalau sudah begini apa yang akan terjadi? Kalian tebak sendiri.
Chris membuka kancing baju Daffin perlahan. Satu per satu hingga rasanya benar-benar tidak terasa. Pelan-pelan Chris mengarahkan bibirnya ke leher Daffin hingga membuat Daffin menggelinjang. “Umh Chriishh,“ gumam Daffin.
Chris menciumi leher Daffin. Entah mengapa ini adalah bagian terfavorit Chris. Sungguh amat sangat memabukkan. Chris pun turun dan sedikit berjongkok. Ia menciumi area d4d4 hingga pusar. Di bagian pusar itu lah lidah Chris menari-nari. Hal ini semakin membuat Daffin kelojotan dan lemas.
Chris pun mengulum adik kecil Daffin. Oh tuhan, Daffin sudah melayang ke angkasa. Ini seperti surga dunia saja. Terlalu nikmat untuk dirasa. Chris mengulum sang adik sambil memaju mundurkan mulutnya dan sambil meremas labu di belakang dengan tangan kiri. Pun tangan kanan yang juga aktif meremas dua biji telur yang menggelantung indah. Oh tuhan, Daffin mendapatkan stimulasi dari tiga arah sekaligus.
Daffin berkali-kali mengeluarkan desisan aneh. Chris benar-benar lihai dalam urusan memanjakan pasangan. Chris mampu merasakan kalau adik Daffin di dalam mulutnya mulai mengembang dan membesar. Uh, keras seperti besi.
Saat adik Daffin terasa berkedut dan mungkin sebentar lagi ingin memuntahkan cairan putih. Chris langsung berdiri lalu menyalakan lampu dengan remote otomatis. Kini terlihatlah sudah pemandangan indah di depan mata. “Keluarin sendiri. Mas mau istirahat.“ ucap Chris.
__ADS_1
Dasar Chris biadab, batin Daffin. Daffin serasa sudah berada di ujung puncak kenikmatan. Namun, harus gagal karna Chris rupanya tengah mengerjai dirinya. “Lu?!“ seru Daffin. Chris menaikturunkan alisnya. Ia malah meninggalkan Daffin sendirian dan memilih masuk ke dalam kamar.
Gilang datang ke kantor James tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Suasana hati dan raut muka Gilang saat ini tidak terlalu baik. Ia berjalan dengan cepat. Bahkan ia mengabaikan beberapa orang yang mencoba menyapa dirinya. “Dasar sombong,“ batin mereka.
Gilang pun membuka pintu ruangan James dengan kasar. Sungguh Gilang ingin melempari James dengan berbagai sumpah serapah. James terkejut mendengar decitan pintu yang cukup keras. Ia pun menoleh ke depan. Gilang?, gumam James.
“Kamu bilang ke papa batalin ide gila ini sekarang juga.“ ucap Gilang ketus. James mengerutkan alis. Gilang datang kemari tanpa rasa hormat sedikit pun. Ia terlihat marah dan emosi. “Duduk,“ ucap James dingin. Dia juga tidak suka kalau ada seseorang datang sekonyong-konyong tanpa mengedepankan sopan dan santun. Bahkan jika itu adalah Gilang. James tidak akan mentolerirnya sedikit pun.
James berdiri lalu menghampiri Gilang. “Kalo kamu siap kehilangan harta warisan papa kamu, ok, saya bakalan batalin perjodohan kita. Berani?“ ucap James membuat Gilang tertohok. “Kenapa? Nggak berani?“ tanya James lagi sarkasme saat ia melihat keterdiaman Gilang.
Gilang menggertakkan gigi. Ia geram. Ia sama sekali tidak bisa keluar dari lingkaran kebodohan ini dari arah manapun. Semua senjata mengarah pada dirinya. Gilang hanya mempunyai dua pilihan, mundur tapi mati atau maju tapi selamat.
Tatapan James benar-benar mengintimidasi. Hah, Gilang akui dirinya kalah. “Udah?“ seru James. “Keluar,“ ucap James lagi dengan nada mengusir. Gilang pun keluar dari ruangan James dengan perasaan gondok. Brengsek sekali James itu, batin Gilang.
James tidak benar-benar berniat ingin memperlakukan Gilang seperti itu. Ia hanya ingin memberi pelajaran sedikit pada Gilang. Gilang itu keras kepala. James tidak ingin Gilang terus-terusan menjadi seorang pria yang keras kepala dan tidak mampu berpikir logis. Hah, sepertinya James harus menemui Gilang setelah pekerjaannya selesai nanti.
Gilang meraih mantel di gantungan baju sebelah kanan dekat kursi tempat ia duduk dan biasa bekerja. Semua pekerjaan selesai tepat jam 5 sore lebih sedikit. Saat Gilang membuka pintu. Betapa terkejutnya ia melihat sesosok iblis berwujud manusia berdiri di depan pintu dengan posisi kedua tangan bersedekap di dada.
Gilang menatap orang itu malas. “Kunci mobil,“ ucap Gilang meminta sang sekretaris untuk memberikan kunci mobil miliknya. Sang sekretaris pun diam. Dia bingung harus menjawab apa pada atasannya itu. “Uhm..“ gumam sang sekretaris. “Kenapa?“ tanya Gilang. “Itu—“
“Kuncinya disini,“ celetuk James memain-mainkan kunci mobil milik Gilang dengan satu tangannya. Hah, mau berulah apa lagi, si James ini?, batin Gilang. Gilang sedang tidak ingin berdebat. Biarkan saja James mau melakukan apa pada kunci mobilnya itu. Gilang bisa naik taksi.
Ia pun berjalan tanpa menghiraukan James sama sekali yang tengah mengejar dirinya. “Gilang,“ seru James. James berpikir Gilang akan mempermasalahkan kunci mobil yang sengaja ia ambil dari sekretaris Gilang sendiri. Di luar dugaan Gilang malah acuh dan memilih naik taksi.
James tidak kehabisan akal. Ia menggenggam pergelangan tangan Gilang paksa dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil James saat itu juga. Gilang memang berbadan tinggi berotot. Tidak kalah tinggi dan berotot nya dengan James. Tapi, bagaimana bisa James lebih kuat dari dirinya?
James diam seribu bahasa sepanjang ia menyetir. Gilang hanya bisa mendengus kesal melihat raut muka dingin James. Ya, James saat ini suasana hatinya kurang baik, ia marah. Mobil yang dikendarai oleh James pun sampai di sebuah rumah besar nan megah.
“Turun,“ ucap James dingin saat ia sudah berada di luar pintu mobil tempat Gilang duduk. Gilang pun menurut saja meskipun ia sebenarnya malas meladeni James yang terkesan memakaa dirinya. James berjalan lebih dulu masuk ke dalam. Ia tidak peduli lagi Gilang mau ikut masuk atau tidak. Namun, di luar dugaan Gilang ternyata ikut masuk jua.
James marah. Namun, ia berusaha meredamnya. “Besok kita nikah,“ ucap James sambil melempar jas dan rompinya ke sembarang arah. “Apa lu bilang? Nikah?“ seru Gilang. Ini sungguh tidak masuk akal. James ingin menikahi Gilang? Ayolah jangan bilang kalau James itu bukan lah lelaki waras.
James memutar badan dan menatap Gilang dengan tatapan kurang bersahabat sambil berkacak pinggang. Kalian mau tau alasan James menjadi seperti ini kenapa?, karna ia takut kehilangan. Sorot mata James memang tajam. Namun, terdapat secercah kepedihan disana. Entah apa, Gilang juga tidak tau. Suasana hening. Keduanya sama-sama diam. “Maafin saya kalo saya harus maksa kamu kek gini. Tapi, yang perlu kamu tau, saya takut kehilangan kamu Gilang.“
.
.
.
__ADS_1
Semoga tetap seru ya 😃 soalnya mood lagi kurang bagus cuman masih tetep mau nulis jujur ngerasa chapter ini chapter terkering 🤣