GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 42


__ADS_3

Chris dan Daffin bersiap-siap ingin menghadiri undangan makan malam dari Ganendra Pratama. Chris mengenakan stelan kaos hitam rajut lengan panjang yang dibalut dengan mantel coklat terang selutut—juga celana hitam semata kaki serta sepatu sneakers putih. Berbeda dengan Daffin, dia mengenakan kemeja monokrom motif replika patung seorang perempuan dan sekuntum bunga—juga celana hitam semata kaki dan sepatu brogue dengan ciri khas lubang di sepatunya. Daffin juga mengenakan kalung yang ia pasang di bagian kerah, bukan leher.


“Mas takut kalo Pak Ganendra naksir sama kamu, serius, Daff.“ ucap Chris jujur saat Daffin mengoleskan sedikit liptint di bibir saat ia telah berada di mobil sambil menggerakkan bibirnya guna meratakan liptint yang ia oles. “Mana ada~ Nggak mungkin mas~ Jangan mikir aneh-aneh deh,“ sahut Daffin. Chris ini terlalu posesif. Kalian mungkin tidak tau, tiap kali Daffin berpakaian ala model profesional, pasti ia akan beradu argumen terlebih dahulu dengan Chris.


“Lain kali kalo mau keluar pake baju biasa aja, Daff. Kecuali kamu ada syuting baru deh tampil keren kek gini,“ ucap Chris. Dengar, kan? Chris lagi-lagi mengomentari pakaian yang Daffin kenakan? “Udah ah mas rese, ngeributin itu itu mulu. Mas kan udah tua mana tau fashion. Kalo aku masih muda ya wajar lah.“ tukas Daffin kesal. Kedua alis Daffin bahkan saling bertautan. Chris pun menoleh. Lihatlah kedua alis Daffin yang menukik tajam itu. Dia pasti lagi kesel banget, batin Chris.


Tiba di mansion Ganendra, di daerah Cilandak, kedatangan Chris dan Daffin pun disambut hangat oleh Ganendra, sang empu mansion. “Silahkan masuk Chris, Daffin,“ ucap Ganendra mempersilahkan keduanya masuk ke dalam. Mansion ini sangat besar, luas, dan megah. Tapi, terlihat sangat sepi sekali, dan cuma ada pembantu disana sini, batin Daffin. “Kalian udah jalin hubungan berapa lama? Maaf, kalau saya lancang,“ tanya Ganendra sekaligus meminta maaf. Daffin diam saja dan membiarkan Chris yang menjawab. “Hampir satu tahun, Pak Ganen,“ sahut Chris.


Dalam hati Daffin berucap, “Errr dipotong putus 6 bulanannya mana? Hmm,“. Chris dan Daffin dijamu dengan hidangan utama steak dengan daging berkualitas tinggi. Saat dicicipi, tidak salah lagi, ini adalah steak yang terbuat dari iga sapi wagyu, batin Daffin. Begini begini Daffin juga tidak buta soal makanan. Setau Daffin Ganendra Pratama ini adalah seorang muslim. Tapi, mengapa dia minum wine juga, ya?, batin Daffin bertanya-tanya.


“Saya denger kamu mau buka studio foto, Chris? Sekalian buat promosi produk sendiri, kan?“ cetus Ganendra. Chris ingin membuka studio foto? Jadi, bisa dikatakan jikalau Chris ingin membuat label sendiri dan menampung para modeling? Benar begitu?, batin Daffin. “Betul, Pak Ganen. Yah, masih rencana sih. Ini aja saya masih survey gedung dulu, yang bagus dan strategis.“ sahut Chris sambil mengiris steak. “Kalau nanti kamu udah bikin label sendiri, kamu cari fotografer Italia, namanya Lanzo.“ ucap Ganendra. Siapa lagi si Lanzo ini? Italia? Bule dong? Pasti ganteng? Gue nggak kalah ganteng kan, ya?, batin Daffin posesif.


Ganendra tersenyum penuh arti. Jelas sekali dari raut wajah Ganendra jikalau dirinya berdecak kagum kepada sosok Chris. Pria berusia 29 tahun seperti Chris ini, benar-benar sangat berdedikasi di dunia bisnis. Ganendra akui saham Narendra Group terus naik saat semua tugas perusahaan dilimpahkan kepada Chris. Bukan berarti Mayang tidak cukup berdedikasi untuk itu. “Kalo kamu gimana, Daff? Saya denger kamu nggak mau perpanjang kontrak?“ seru Ganendra membuat Daffin tertohok. Daffin pun menoleh sebentar ke Chris. Lalu, ia alihkan pandangannya ke Ganendra.


“Uhm, itu.. Saya mau fokus kuliah dulu, pak.“ sahut Daffin ragu-ragu. Tentu saja hal itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Ganendra terkekeh. Daffin ini sama sekali tidak pandai bersilat lidah, batin Ganendra. “Lagian Chris juga mau buka label, kan? Biar Chris aja yang handel kamu, Daff. Daripada kamu diteken mulu sama Hardinata? Ya nggak?“ ucap Ganendra. Santai tapi jelas sekali jikalau kata-kata Ganendra barusan sangat tajam dan memojokkan Daffin. Seolah-olah Ganendra berkata, selama ada Chris, karir Daffin pasti akan berjalan mulus. Bahkan, tanpa bantuan dari orang lain sekalipun. Sedikit banyak Daffin juga merasa jikalau Ganendra saat ini tengah meremehkan dirinya. Bukan Daffin namanya jikalau dirinya mudah terintimidasi. Cih!


Haha, kuat juga mental nih anak?, batin Ganendra. Daffin terlihat masih sangat muda. Tapi, dia bermental baja dan tidak mudah terintimidasi, apalagi terprovokasi oleh orang dewasa. Berkepribadian kuat seperti Daffin, Ganendra tiba-tiba teringat akan dirinya saat masih muda dulu. “Kamu tau Benjiro, Daff?“ seru Ganendra. Daffin pun menoleh. “Dia produser juga sama kek saya. Cuman basis dia di Amerika. Tapi, terakhir kali saya denger beritanya dia buka cabang di Semarang, dan bulan depan juga ada audisi besar-besaran. Gimana? Minat nggak?“ ucap Ganendra.


Daffin tidak terlalu mengenal siapa sosok Benjiro itu. Tapi, dia pernah mendengar nama itu dulu. Di sosial media orang itu juga sempat viral karna dia live ngamen di jalanan Simpang Lima Kota Semarang. Kalau diingat-ingat lagi, suara Benjiro itu amat sangat merdu, batin Daffin memuji penuh kekaguman. “Mau sih, pak. Tapi, masalahnya kantor mereka di Semarang.“ sahut Daffin. “Nggak kuat LDR, ya? Hahahaha,“ ucap Ganendra menohok. Di sebelah Chris malah mengulum senyum melihat Daffin menjadi bahan lelucon Ganendra. Kena kamu Daffin hahaha, batin Chris. Daffin pun tersenyum kaku.


Di dalam mobil Daffin marah-marah dan mengungkapkan semua uneg-uneg dalam hati. “Mas, kok bisa sih temenan ama Pak Ganendra itu? Serius deh ngeselin banget,“ seru Daffin geleng-geleng kepala. “Hahaha, ada-ada aja kamu, Daff. Gitu-gitu tajir loh dia wkwkwk,“ sahut Chris. “Ih! Beneran! Ngeselin tau!“ ucap Daffin dengan kedua tangan bersedekap di dada. Daffin pun memejamkan mata sambil memasang earphone di kedua telinganya.

__ADS_1


Chris melajukan mobilnya ke Le Bridge, di Pantai Indah, Jakarta. Chris ingin memberikan surprise kepada Daffin. Sungguh hati ini sudah tidak sabar lagi, batin Chris. “Ini dimana mas?“ tanya Daffin terkejut saat ia turun dan menginjakkan kaki di tempat yang terasa sangat asing ini. “Le Bridge,“ sahut Chris tersenyum lebar. Chris menggenggam satu tangan Daffin dan berjalan pelan beriringan berdua. “Uwaaahhh aku baru tau mas, kalo ada tempat sekece ini di Jakarta, aku selama ini kemana aja coba?“ ucap Daffin berdecak kagum.


Demi menjaga kerahasiaan momen indah antara Chris dan Daffin, Chris harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membooking semua kursi di Le Bridge malam ini. Temaram lampu di sepanjang jembatan ini semakin menambah kesan romantis. “Kok bisa sepi banget sih mas? Padahal tempatnya kece banget loh ini?“ seru Daffin heran. “Mas booking tempatnya buat kamu sayang,“ sahut Chris. Kontan Daffin pun mengernyitkan alis. Untuk apa Chris membooking seluruh kursi disini?, batin Daffin terheran-heran.


“Stop!“ seru Chris. Daffin pun menghentikan langkah kakinya seketika. Saat mendengar aba-aba dari Chris. Huft, Chris gugup, ia menghembuskan nafas berat beberapa kali. Ini lebih gugup daripada menghadapi para investor asing yang terkenal sulit ditangani itu. Seorang waiter memberikan mic kepada Chris. Daffin heran, Chris ini sebenarnya mau ngapain?, batin Daffin.


“Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu.“


“Berjuta rasa rasa yang tak mampu diungkapkan kata-kata. Dengan beribu cara-cara kau selalu membuat ku bahagia. Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku. Maukah kau tuk menjadi pilihanku? menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau tuk menjadi yang pertama? Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata? Will you marry me, Mr. Daffin Hernando?“


Daffin terharu setelah mendengar kata-kata cinta penuh makna dari sang pujaan hati, Chris. Sungguh malam ini adalah malam terindah di antara malam-malam yang pernah ada. “Yes, i do,“ sahut Daffin tidak kuasa lagi menahan tangis haru nan bahagia ini. Berpisah selama itu dan kembali dengan sebuah lamaran. Daffin merasa dirinya lah satu-satunya orang yang paling bahagia di dunia ini.


Seorang waiter membawakan kotak kecil berisi seutas cincin emas putih mata satu. Chris pun mengambil cincin itu. Lalu, ia sematkan di jari manis Daffin. Lagi-lagi air mata Daffin berjatuhan tanpa ia bisa menahannya lebih lama lagi. “Mas..“ gumam Daffin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jujur Daffin tidak tau bagaimana ia harus mengungkapkan rasa bahagia ini malam ini.


“Makasih tante,“ ucap Daffin. “Eh, jangan panggil tante. Panggil mama. Ok?“ ucap Mayang. “Iya ma~“ sahut Daffin tersenyum. Setelah itu seluruh keluarga pun makan malam bersama. “Lim, lu kok nggak cerita ke gue sih kalo lu pacaran sama Kak Aji?“ ucap Daffin protes. Daffin menunjukkan sedikit perhatiannya kepada Chris, dengan menaruh oseng sayur di atas piring Chris. “Lu aja nggak nanyain gue,“ sahut Halim. “Lu mah cuman curhat masalah obat-obatan doang, gue beneran nggak paham dah asli. Kaget banget gue tau lu sama Kak Aji. Tau-taunya kan sepupuan sama Mas Chris. Deketan dong kita?“ ucap Daffin. Setelah selesai makan bersama, mereka pun bersantai dan berbicara masing-masing secara berkelompok. Nugraha asyik ber teleponan dengan teman bisnis. Sedangkan Mayang dan Olivia berbicara tentang arisan, pakaian terbaru, dan hal-hal lainnya yang sama sekali tidak Daffin mengerti. Kalau kelompok Chris, Daffin, Halim, dan Setiaji beda lagi.


Daffin menghembuskan asap rokok berkali-kali dari mulut. Disana cuma Setiaji saja yang tidak merokok sama sekali. “Lu manggil Aji kakak? Sedangkan ke gue lu manggil nama doang? Parah lu,“ protes Halim. “Kagak pantes lu gue panggil kakak. Muka lu terlalu tua. Beda lah sama Ko Aji awet muda gitu~“ ucap Daffin sarkasme. “Malem ini nginep di apartemen mas, kan?“ seru Chris berbisik. “Hm,“ sahut Daffin sambil main gadget. Di bawah sana tangan kanan Daffin digenggam oleh Chris.


Berhubung hari libur di akhir pekan, Tristan berolahraga mengelilingi Taman Menteng. Demi menjaga keutuhan roti sobek di dalam sana, Tristan rela bercucuran keringat hingga membasahi kaos polos yang ia kenakan. “Siapa tau dapet gebetan? Ehem,“ gumam Tristan percaya diri. Tentu saja harus seperti itu. Tristan itu berparas tampan, putih, hidung mancung, atletis, berbadan tinggi, dan seorang dosen pula. “Tapi, kok bisa-bisanya gue masih jomblo, ya? Padahal tiap bercermin perasaan gue nggak kalah ganteng dari Chris deh? Muka gue juga mulus kagak ada jerawat,“ batin Tristan. Ia malah diam termenung.


“Tisunya, kak?“ seru seorang gadis kecil sedang menjajakan tisunya di area sini pun menghampiri Tristan. Dia menawari Tristan tisu. “Berapa satunya dek?“ tanya Tristan. “Paling kecil 1000, yang sedang 3000, kalo yang paling gede 10.000,“ sahutnya. “Beli dua ya, dek? Nah, ini uangnya, kembaliannya buat kamu aja,“ ucap Tristan memberikan yang seratus ribuan kepada anak kecil itu diiringi senyuman lebar. Si anak pun tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


“Kenapa musti dia lagi sih?“ batin Hardinata sebal. Ia melihat Tristan dari kejauhan tengah membeli tisu yang dijual oleh pedagang keliling. Tristan bahkan mengusap pucuk kepala anak itu. “Cih! Pencitraan,“ batin Hardinata mencibir. Daripada pusing memikirkan hal-hal yang tidak penting, lebih baik Hardinata pun kembali berlari mengelilingi Taman Menteng. “Hati-hati mas!“ seru seseorang dari belakang. Entah bagaimana ceritanya Hardinata tidak terlalu memperhatikan jalanan di depan, sehingga kaki kirinya malah masuk ke dalam aspal berlubang. Kontan Hardinata pun terjatuh.


Tristan pun mencoba membantu pria di depannya itu, yang tiba-tiba terjatuh karna tidak memperhatikan jalanan di depan dengan baik. “Pak CEO!?“ seru Tristan dan kedua matanya pun setengah membola. Sungguh dunia ini sempit sekali. Bagaimana bisa Tristan bertemu alien sejenis Hardinata ini disini? Tristan mendengus. Ia pun berdiri tanpa memberikan pertolongan apapun. Terakhir kali Hardinata menolak mentah-mentah untuk dibantu. Kali ini mungkin akan sama saja. “Anda bisa bangun sendiri, kan? Kalo gitu saya permisi dulu,“ ucap Tristan melangkahkan kaki pergi. Toh, alien nan arogan di hadapannya ini sama sekali tidak membutuhkan pertolongan Tristan.


Saat Tristan melangkahkan kaki beberapa langkah, Hardinata pun bersuara, hingga membuat langkah kaki Tristan terhenti seketika. “Tolongin saya, Tristan!“ seru Hardinata. Uh, kali ini aku beneran musti harus jatohin harga diri aku sendiri ke dasar lautan ckckck, sial banget, batin Hardinata menggerutu. Hah, Tristan pun menghela nafas. Ia pun memutar badan ke belakang. Lalu, melangkahkan kaki menghampiri Hardinata yang masih terduduk di aspal. Cih! Dasar belagu!, batin Tristan.


Mau tidak mau Tristan pun membantu Hardinata duduk di bangku taman. Dalam kondisi apapun, terutama saat berolahraga, Tristan selalu siap siaga membawa perlengkapan medis P3K—serta sprai pereda cidera di dalam tas. Tristan melepas sepatu serta kaos kaki Hardinata. Tristan berjongkok di depan Hardinata. Ini bukan cuma cidera. Tapi, juga berdarah, batin Tristan. Tristan menyemprotkan sprai pereda nyeri karna cidera itu di pergelangan kaki Hardinata. Tristan juga mengobati luka di mata kaki dan lutut dengan telaten. “Kamu dokter?“ gumam Hardinata saat melihat betapa jari-jemari nan panjang itu dengan lihai memberikan pertolongan pertama pada mata kaki dan lutut Hardinata yang terluka sedikit.


“Udah,“ gumam Tristan berdiri. “Saya mau lanjut olahraga. Sisanya anda urus sendiri, Pak CEO.“ ucap Tristan dingin. Ingin lidah ini mengucapkan terima kasih kepada Tristan. Namun, apa daya? Lidah ini terasa kelu, batin Hardinata. “Ma-maka...sih,“ cicit Hardinata. Tristan tidak mungkin dapat mendengarnya, karna dirinya kembali berlari begitu saja meninggalkan Hardinata sendiri disini. Hardinata paling tidak suka jikalau dirinya harus berhutang seperti ini kepada orang lain. “Si Tristan itu pasti bakalan jadiin aku bahan cemoohan dia nanti? Cih!“ batin Hardinata berdecih kesal.


Juan dan Yoga berbelanja bersama di mall untuk membeli kebutuhan bulanan. Juan mendorong troli, sedangkan Yoga melingkarkan tangannya di lengan Juan. Tiba di barisan khusus berbagai jenis minuman kemasan, Yoga mengambil sebotol susu UHT. “Beli ini juga gimana? Buat bikin pasta?“ tanya Yoga. “Boleh~ Sekalian buavita rasa jambu sama jeruk mas,“ sahut Juan. Yoga pun mengambil sebotol susu UHT dan dua botol buavita rasa jambu dan jeruk, lalu ia masukkan semuanya ke troli.


Keduanya pun kembali berkeliling. “Kesitu kesitu kesitu,“ seru Yoga menunjuk kepada barisan berbagai jenis daging dan ikan. “Uuhh enak banget ini bikin steak,“ gumam Yoga menaruh Daging Sirloin dan Daging Rib Eye ke troli. “Salmon sama udang juga mas,“ seru Juan. Selesai berkeliling Juan dan Yoga pun ke kasir. Dan untuk urusan belanja bulanan—atau makan di luar itu adalah tanggung jawab Juan. Karna menurut Juan, disini dirinya lah seorang suami yang harus bertanggung jawab penuh kepada istri, meskipun tidak bisa dipungkiri jikalau Yoga lebih berduit daripada dirinya. “Total 2jt 596rb mas,“ ucap si mba kasir. Juan pun memberikan kartu kreditnya.


“Ngeborong nih, Jo?“ seru seorang perempuan. Juan pun menoleh, dan ternyata itu adalah senior Juan di kampus. “Haha iya mba. Biasa pedapuran udah pada abis.“ sahut Juan menyusun belanjaan di bagasi belakang. “Gue ke dalem dulu ya, Jo? Daah,“ ucap perempuan itu. “Sip mba,“ sahut Juan menutup bagasi itu rapat-rapat. Saat Juan mulai menyetir, tiba-tiba Yoga bertanya, “Tadi siapa?“ terdengar sedikit posesif. Juan sambil melihat keluar jendela mobil, memperhatikan satu per satu rumah makan, kafe, atau restoran yang enak-enak. “Senior kampus,“ sahut Juan. “Senior kampus doang? Serius?“ ucap Yoga terlihat masih belum percaya. “Serius mas~“ sahut Juan. Yoga menyenderkan punggungnya di kursi mobil dengan kasar. Kedua alis Yoga saling bertautan. Juan menoleh ke samping sebentar. Huh, pasti Mas Yoga lagi cemburu, Mas Yoga Mas Yoga, batin Juan.


Juan pun tiba di Segarra, sebuah restoran yang berlokasi di dekat Pantai Ancol, sehingga bisa langsung melihat pemandangan pantai dari restoran ini. “Ngapain kesini sih, Juan? Pulang aja lah,“ ucap Yoga terdengar tidak suka. Juan yakin Yoga masih marah kepada dirinya. “Maaf, sayang~ Dia beneran senior kampus aku~“ ucap Juan. Juan pun membantu melepaskan seatbelt Yoga. Juan terkekeh saat melihat Yoga yang masih saja cemberut. “Udah ah mas jangan ngambek. Ntar aku cium nih?“ ucap Juan. Yoga menuli. Ia tidak peduli. Juan pun turun dari mobil dan berjalan memutar sebentar ke pintu mobil sebelahnya lagi. Juan buka pintu mobil itu untuk Yoga. Yoga itu keras kepala. Juan harus ekstra membujuk Yoga sekuat tenaga. Juan sampai harus mengecup pipi Yoga berkali-kali, baru Yoga mau turun. “Jangan ngambek lagi, ya?“ ucap Juan terkekeh sambil menutup pintu.


.


.

__ADS_1


.


Dukung GKTG capai 2K likes! Jangan lupa like dan favorit! Jangan lupa baca LION HEART [BL] juga, ya! Kalimat cinta pas lamaran itu, gue ambil dari website merdeka com ya!


__ADS_2