
Halim dan Setiaji pergi ke pasar bersama-sama layaknya sepasang suami istri; memilih-milih ikan dan sayur apa yang akan dibeli untuk menu makan siang nanti. Kebetulan tiap kali liburan semester, Setiaji akan tinggal di apartemen Halim sampai liburan berakhir. “Sayang, ini nih yang,“ seru Halim memilih seikat sawi hijau. Sejurus kemudian; Setiaji pun memukul tangan Halim; otomatis Halim pun langsung menaruh sayur itu kembali. “Kalo mau milih sayur yang seger itu jangan ngasal dong, Lim. Lu liatin yang bener, ah,“ protes Setiaji saat Halim mencoba memilih seikat sawi hijau dengan dedaunan sempurna—tanpa ada bolongan sedikit pun.
Setau Setiaji, sayur-sayuran yang tidak terdapat bolongan-bolongan kecil di daunnya itu adalah sayuran yang mengandung pestisida. Sedangkan yang tidak mengandung pestisida itu; terdapat ulat-ulat kecil atau ada bekas bolongan-bolongan di daunnya, karna dimakan oleh ulat. Justru dedaunan dengan tipe seperti itulah yang lebih baik dan sehat untuk dimakan.
Tiba di bagian lapak yang menjual ikan-ikanan. Setiaji memeriksa ikan-ikan tersebut mulai dari: mata, insang, sisik, daging, perut, dan bau. Setiaji harus teliti dalam memiliki ikan segar. Ia pun memeriksa bagian mata. Hm, masih masih jernih dan terang; insangnya juga masih merah, batin Setiaji sambil memeriksa bagian insang. “Bu, ini sekilo berapa?“ tanya Setiaji ke si penjual sembari menunjuk ikan gurame.
“48rb,“ sahut si ibu. “Bisa kurang nggak, bu? 40 aja, ya?“ tawar Setiaji. Si ibu pun terlihat berpikir. “Udah~ 40 aja~“ ucap Setiaji lagi. “45 dek 45,“ ucap si ibu. Setiaji merasa harga segitu masih terlalu mahal. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lapak si penjual. Namun, sejurus kemudian, si penjual pun memanggil Setiaji. “Eh eh eh, bisa dek bisa dek,“ ucap si penjual. Setiaji mengulum senyum. Namun, senyumannya itu pun memudar seketika, tatkala ia kembali menghampiri lapak itu. Halim geleng-geleng kepala melihat aksi tawar menawar antara Setiaji dan si penjual. Beneran istri idaman ini mah, batin Halim.
“Ji, itu gurame dua kilo siapa yang makan emang??“ tanya Halim saat keduanya memasuki apartemen. “Kulkas kan ada? Ditaro di kulkas lah. Gimana, sih?“ sahut Setiaji sembari meletakkan sandal di rak sandal. Setiaji pun langsung menuju dapur dan mulai memasak. Sedangkan Halim mengambil beberapa cemilan di dalam lemari, lalu duduk di TV sambil menonton channel-channel menarik.
“Mau masak apa yang?“ tanya Halim sambil mata fokus ke TV dan makan kacang-kacangan dengan melemparnya ke atas sedikit; dan hap; mulut Halim pun mampu menangkapnya. “Guramenya sih digoreng biasa,“ ucap Setiaji sembari menyiapkan; talenan, pisau, dan beberapa wadah untuk sayur dan ikan. “Trus sayurnya sayur garang asem, sama sambel belimbing wuluh,“ ucap Setiaji lagi. “Jangan pedes-pedes yang~“ ucap Halim. “Iya,“ sahut Setiaji sambil membersihkan ikan yang sudah dikeluarkan isi perutnya oleh si penjual.
“Duh duh duh duh duh duh,“ seru Halim langsung melesat menuju kamar mandi di dekat dapur sembari memegang perutnya yang terasa sakit. “Kenapa Lim?“ tanya Setiaji dari luar; pasalnya Halim terlihat seperti orang yang dikejar musuh. “Kit perut yang~ Lagi mo nabung,“ sahut Halim dari dalam toilet. Setiaji pun geleng-geleng kepala.
“Lama banget sih Lim ke toiletnya?—ampe masak loh sayur yang aku bikin ini?“ ucap Setiaji heran. Halim pun langsung terduduk di kursi meja dapur. Uh, lubang itu terasa sangat pedas dan panas, batin Halim. “Ya iyalah lama, orang aku sakit perut. Ji, ambilin air putih dong,“ pinta Halim. Setiaji pun mengambilkan segelas air putih untuk Halim.
Daru rebahan di ruang tamu sembari makan coklat dan berselancar di sosial media. Entah mengapa; Daru tiba-tiba membuka isi chat antara dirinya dan Djaka. Ini adalah isi chat dari satu minggu lalu, batin Daru. Selama itu pula Djaka tidak pernah menghubungi apa lagi datang ke rumah Daru. Kurang kerjaan banget gue mikirin nih orang, batin Daru. Ia pun memindah channel TV—yang menayangkan FTV remaja. “Padahal gue udah nggak remaja lagi,“ gumam Daru. Hm, anggap saja Daru belajar ilmu acting dari sana—supaya acting Daru semakin bagus.
Daru rebahan; sambil ngemil dan menggaruk perutnya yang terasa gatal. Daru menatap layar TV itu dengan serius. Di sana; si tokoh utama pria; memohon-mohon kepada wanitanya untuk menarik kembali kata-kata putus; padahal hujan sangat deras. Si wanita pun menutup pintu gerbang; dan menyisakan si pria yang langsung terduduk di atas aspal. “Lebay banget sih ckckck,“ ucap Daru berkomentar.
“Haha iya, Ka~ Tante mah maklum aja kamu bisa sesibuk itu~ Udah GM, sih?“
"Ah tante mah bisa aja deh,“
Daru seperti mendengar dua orang sedang berbicara dan tertawa. Daru pun langsung bangun dan duduk; siapa dua orang yang sedang berbicara itu. Hah? Daru melongo. Mama dan Djaka, batin Daru mengernyitkan alis. “Lagi ngobrolin apa sih—kedengeran ampe sini juga,“ ucap Daru malas. Idah pun menghampiri Daru, lalu menjitak dahi sang anak. “Terserah mama lah,“ ucap Idah. “Ya nggak, Ka?“ seru Idah. “Haha iya tante iya,“ sahut Djaka.
“Eh eh eh kalo mo ngerokok jangan di sini. Di luar sana! Bau tau!“ ucap Daru ketus. Bahkan kedua alis Daru saling bertautan. Saat ia melihat Djaka duduk di sofa, dan ingin menyalakan sebilah rokok. “Kamu sama Djaka itu tuaan Djaka, tau? Yang sopan dong kalo ngomong.“ tegur Idah. Daru memberengut. “Kek kamu nggak ngerokok aja, Da? Tuh, asbak rokok penuh gegara siapa coba?“ ucap Idah sarkasme. Djaka pun terkekeh.
Perasaan udah tenang nggak ada pengganggu. Eh, malah dateng lagi? Bangsat banget emang, batin Daru menggerutu. “Maaf, Da, om nggak ada chat kamu ato mampir ke sini, soalnya om sibuk banget. Sering kerja lapangan juga,“ ucap Djaka; seolah-olah Daru menantikan dirinya. “Bukan urusan gue bangsat!“ sahut Daru. “Daru~ Mulutnya~ Awas ya~ Mama laporin sama papa ntar~“ ancam Idah dari dapur. Daru pun mencebikkan bibirnya kesal. Daru paling tidak bisa jikalau dirinya harus berurusan dengan pak tua yang satu itu. Bisa-bisa Daru masuk camp militer. Hiiiiii, batin Daru bergidik ngeri.
__ADS_1
“Tanteee kalo Djaka nikahin Daru gimana????“ seru Djaka; kontan membuat Daru langsung mendelik. Djaka pun nyengir kuda saja. Nih orang kalo ngomong sembarangan banget, deh?, batin Daru kesal. Idah pun menghampiri Daru dan Djaka sembari memegang pisau di tangan sebelah kanan. “Ngomong apa tadi kamu, Ka? Nikahin Daru?“ tanya Idah. Djaka pun menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Itu pun kalo tante restuin aku sama Daru~ Hehe,“ sahut Djaka.
“Nikahin aja langsung, Ka. Tante restuin 100%. Kamu jangan khawatir. Biar dia cepet keluar dari rumah, Ka. Capek tante ngurusin dia,“
“Beneran tante? Biar Djaka langsung telepon WO nya,“
“Telepon aja langsung telepon,“
“Ma! Mama apa-apaan sih ah!“ protes Daru. Idah tidak menghiraukannya sama sekali. “Lin? Lu bisa siapin gedung segala macem nggak? Gue mo nikah minggu depan,“ ucap Djaka mengerling ke arah Daru yang sudah melotot itu; lalu Djaka pun menghidupkan speaker. “Hah? Serius lu? Nggak lucu banget tau nggak?“ ucap Linda dari seberang sana; dia terdengar tidak percaya. “Beneran, Lin. Tapi, gue nikah sama cowok,“ ucap Djaka. “Gila lu Djak! Hadeuh ok deh ok deh asal lu transfer aja duitnya, gue siapin dah,“ ucap Linda. “Gratis aja napa? Temen sendiri juga?“ ucap Djaka. “Nggak nggak nggak bisa. Bangkrut gue ntar.“ sahut Linda. Sambungan telepon pun terputus.
“Djak! Arrggh! Lu telepon lagi nggak temen lu itu? Gue tonjok lu ampe babak belur tau rasa. Biarin gue masuk penjara sekalian.“ ucap Daru ketus. “Iya pa, minggu depan minggu depan. Si Djaka ngebet. Tapi, si Daru malah nolak? Gimana dong, pa?“ ucap Idah di telepon. “Besok papa pulang, ma. Nanti kita bicarain lagi. Suruh si Djaka nginep di situ. Papa mau interogasi dia nanti.“ sahut Papa Daru dari seberang sana. “Love you papa sayang~“ ucap Idah. Sambungan telepon pun terputus.
Daru benar-benar kesal dan marah. Ia mengacak-acak rambutnya gusar. Sialan!, batin Daru. Daru pun melesat ke kamar sendiri. Berada lama-lama di ruang tamu membuat seisi kepala Daru terasa ingin pecah. Cih! Bisa-bisanya emak bapak aku setuju gitu aja ya allah, batin Daru tidak habis pikir.
Chris berencana ingin memberikan sebuah kejutan kepada Daffin—dengan menghadiahinya sebuah dompet merk Bottega Veneta seharga 7,8jt, dan jam tangan merk Vacheron Constantin Tour De I'ile seharga 20 miliar. Tentu saja Chris tidak ingin memberikannya begitu saja di rumah. Chris ingin suasana yang lebih romantis. Bahkan Chris pun telah memesan sebuah kamar di Four Seasons Hotel Jakarta untuk satu malam—tipe Suite Club Premier: luas kamar 68 meter persegi, 1 tempat tidur king size, kamar mandi dilengkapi pancuran, dan bak mandi.
Chris ingin malam ini menjadi malam terindah antara Daffin dan dirinya. Chris pun tersenyum penuh arti—tatkala membayangkan bagaimana ia dan Daffin bermesraan nanti malam. Hah, aku musti cepet-cepet selese, batin Chris. Ia pun menjadi lebih bersemangat—hingga tak terasa jarum jam pun berada di angka 4.
Setelah kurang lebih 20 menit. Chris pun muncul dengan kaos abu-abu—yang ia masukkan ke dalam celana kain hitam—serta blazer hitam, dan sepatu model Penny Loafers; ciri khas penggunaan ban tali di lidah sepatunya dengan detil tambahan bagian dalam kulit—yang dibuat celah berbentuk wajik. “Daffin?“ seru Chris. Daffin melongo melihat penampilan Chris saat ini—yang terlihat jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya. Lihatlah rambut short neat—yang dimana menyisakan bagian atas yang dapat disisir ke samping.
“Kenapa? Jelek? Biar mas ganti baju lagi aja,“ ucap Chris. Daffin pun menyipitkan mata, lalu tersenyum. Hap. Daffin berhambur di pelukan Chris. Chris pun terkekeh melihat tingkah manja Daffin. “Nggak~ Ganteng banget tau~ Serius aku ampe pangling loh mas,“ ucap Daffin memundurkan kepalanya sedikit; dengan posisi kedua tangan melingkar di leher Chris. Chris pun melingkarkan tangannya di pinggul Daffin, dan berkata, “Malem ini kita nginep di hotel sayang,“. Hm, Daffin menatap Chris curiga. “Pasti kamu ngerencanain sesuatu yang aneh-aneh, deh?“ cetus Daffin. “Sama istri sendiri juga~ Nggak papa kali, Daff?“ ucap Chris. Keduanya pun saling tersenyum satu sama lain.
Chris menutup mata Daffin dengan sehelai kain; saat ia dan Daffin tiba di depan pintu kamar hotel. “Masuk sayang,“ seru Chris. Daffin pun melangkahkan kaki masuk ke dalam; meski Chris juga ikut membimbing Daffin; supaya kaki Daffin tidak tersandung sesuatu. Chris lepas sehelai kain yang menutupi mata Daffin—setelah ia menutup pintu. Daffin berdecak kagum sambil menutup mulutnya dengan tangannya sendiri—saking terkejutnya ia melihat bagaimana kamar ini didekorasi sedemikian rupa.
Lantai tempat Chris dan Daffin berpijak saja dihiasi oleh taburan bunga mawar, dan lilin-lilin di sisi kiri dan kanan. Di sana juga ada kasur berukuran king size—yang di mana di atas kasur terdapat taburan bunga mawar merah di mana mana. Daffin terharu. “Mas,“ seru Daffin memutar badan. Ia pun langsung memeluk Chris dengan erat. “Makasih,“ ucap Daffin berterima kasih. “Suka?“ tanya Chris. Daffin pun menganggukkan kepala dengan cepat. “Kita istirahat sekarang, sayang,“ ucap Chris membimbing tubuh Daffin mundur ke belakang—hingga Daffin pun tersendiri di pinggiran ranjang dan rebahan di atas kasur nan empuk dan harum.
Chris tatap kedua mata Daffin penuh cinta. Uh, Daffin terhipnotis. Chris kecup kening Daffin lama sekali; saking terbuainya Daffin dalam belaian manis Chris; ia sampai-sampai tidak sadar jika Chris telah berhasil menggenggam miliknya itu keluar dari sarang. “Eungh,“ gumam Daffin meremas pundak Chris; saat Chris mengurut pelan miliknya dan memberikan stimulasi di bagian kepala. Daffin otomatis berteriak dengan keras. “Maahhhhsss aahhh nnggh mahs stop stop ah ah nahn-tih kek-kel-u-ahr mahs nggh,“ gumam Daffin.
Chris pun semakin menekan bagian kepala milik Daffin itu—hingga milik Daffin pun mulai berkedut. Daffin menggigit bibirnya sendiri; saat ia merasa miliknya hendak segera menyemburkan cairan kenikmatan itu. “Mahs mahs udah udah ah ah ah mahs aaahhhhhh uhhh ssssttt ngh,“ teriak Daffin diiringi keluarnya semburan cairan putih nan kental dan banyak dari lubang di ujung kepala miliknya.
__ADS_1
Tristan menstarter mobil sebentar. Malam-malam begini ia harus mengambil cucian di CLOP Laundry. Karna alasan kesibukan; Tristan tidak bisa mengambil cuciannya lebih awal. Tiba di tempat laundry, Tristan melihat sesosok pria tengah merogoh saku baju dan celana; mencari-cari beberapa lembar uang—yang mungkin ada di sana. Tapi, nihil, sama sekali tidak ada. Dompet tertinggal di apartemen itu benar-benar mengesalkan, batin pria itu. Hm, tunggu dulu, kenapa perawakan pria ini terlihat sangat familiar?, batin Tristan.
“Pak CEO?“ seru Tristan. Hardinata pun menoleh dengan cepat. Sial. Bisa-bisanya aku ketemu sama makhluk ini di sini?, batin Hardinata tidak suka. “Mba, boleh saya tingga dulu? Saya mau ngambil dompet ke apartemen,“ ucap Hardinata. “Ini mba, sekalian sama punya saya aja, tolong dihitung, ya?“ ucap Tristan. Heh, Hardinata mendengus sambil mencebikkan bibir kesal. “Jangan ikut campur. Saya bisa sendiri.“ ucap Hardinata ketus.
“Hus, pacar nggak boleh ngambek,“ ucap Tristan berbisik. “Saya bukan pacar kamu, ya?! Hati-hati kalo bicara,“ ucap Hardinata memperingatkan. Tristan masa bodoh saja. Mau Hardinata menolak sampai guling-guling di aspal pun—Tristan akan mengejar Hardinata sampai dapat. Belum tau dia aku siapa, batin Tristan. Hardinata dan Tristan pun keluar dari tempat Laundry bersama-sama.
“Udah makan malem, pak?“ tanya Tristan. “Bukan urusan kamu,“ sahut Hardinata ketus. “Eits!“ seru Tristan menahan pergelangan tangan Hardinata saat Hardinata hendak membuka pintu mobil. “Hari ini hari kedua kita jadian loh, pak?“ ucap Tristan. Hardinata cengo. Tristan ini ngomong apa, sih? Nggak jelas banget. Hari kedua jadian? Siapa yang pacaran emangnya, hah?, batin Hardinata.
Tristan pun menarik paksa pergelangan tangan Hardinata; untuk masuk ke dalam mobil milik Tristan. “Mobil bapak nanti saya suruh orang buat nganter ke rumah bapak langsung,“ ucap Tristan sambil memasang seatbelt. Tristan pun langsung tancap gas sebelum Hardinata benar-benar mengamuk. Hardinata memutar bola mata malas. Tiba di depan apartemen Tristan; keduanya pun turun dari mobil. Tristan menenteng tas berisi cucian sambil tangan kiri menggenggam dengan erat pergelangan tangan Hardinata; supaya Hardinata tidak kabur ke mana-mana.
Huft, Tristan menghembuskan nafas berat setelah ia berhasil membawa Hardinata masuk ke dalam apartemen. Ini sih lebih susah daripada nyeret anjing pake tali, batin Tristan. “Tolong yang anteng ya sayang?? Hm??“ ucap Tristan—yang entah mengapa terdengar sangat menggelikan di telinga Hardinata.
Sejurus kemudian; Tristan pun menyajikan beberapa menu makanan di atas meja seperti; Semur Jengkol, Asinan Betawi, dan Ayam Sampyok. Hardinata merasa ngeri melihat menu makanan super jengkol—yang super duper bau itu. “Tenang aja, Pak CEO. Kalo takut sama bau jengkol, abis makan jengkol langsung minum susu trus makan buah-buahan seger,“ seru Tristan; seolah tau kekhawatiran yang Hardinata rasa.
“Cepetan makan,“ seru Tristan meminta Hardinata untuk segera turun dari sofa, dan duduk lesehan di lantai—yang beralaskan karpet bulu. Tristan menyalakan TV dan mencari saluran—yang menayangkan film barat bergenre action. Sampai saat ini tidak ada keanehan yang terjadi. Semuanya terlihat biasa-biasa saja, batin Hardinata. Tristan terlihat lahap sekali. Entah mengapa tiba-tiba mata Tristan mengerling ke samping. Kedua alis Tristan berkerut; saat ia melihat Hardinata terlihat sedang sangat gelisah. Sebelas alis Tristan pun terangkat; ketika ekor matanya tertuju pada sesuatu yang berbentuk tenda. Hardinata lagi on?, batin Tristan.
Tristan pun beranjak menuju dapur; mencuci tangan sampai bersih; lalu ia keringkan dengan handuk kecil. Tristan mengambil sesuatu di laci. Ia pun menyeringai. Lalu, kembali duduk di sebelah Hardinata. Hm, dia masih gelisah, pasti gara-gara itu, batin Tristan. “Pak CEO?“ seru Tristan. Saat Hardinata menoleh ke samping; Tristan pun langsung mendorong tubuh Hardinata; Hardinata rebahan di lantai dengan Tristan yang berada di atas.
“Kamu mau ngapain, hah?! Lepasin!“ ucap Hardinata berusaha berontak. Tristan mengunci kedua tangan Hardinata ke atas. Tristan pun melepaskan celana yang dikenakan oleh Hardinata. Lalu, ia keluarkan lah milik Hardinata yang telah menegang sempurna itu. “Panjang banget, pak?“ ucap Tristan frontal. Sebelum Hardinata mengeluarkan sumpah serapah; Tristan pun langsung mengulum milik Hardinata sembari memencet botol itu beberapa kali hingga mengeluarkan tetesan gel—yang langsung Tristan olesi di lubang itu.
“Tri-Tris-tahn ka-kamu brengsek ah aahhh ngh ah,“ ucap Hardinata melenguh saat Tristan terus-menerus mengulum miliknya—pun jari tengah Tristan yang menari-nari di dalam sana. Tristan pun merojok lubang itu lebih dalam lagi—sampai ia menemukan titik ternikmat itu. “Ugh! Si-situh ah eumh,“ gumam Hardinata. Ini gila. Sungguh gila. Tadi itu apa? Mengapa ah, te-terasa sa-sangat nikmat?, batin Hardinata. “Teriak yang keras, Pak CEO,“ ucap Tristan. Tristan pun membuka resleting celana; menampakkan miliknya yang gemuk, panjang, dan berurat. “Ugh! Ka-kamu apain arrgghh hah hah sssttt hmph,“ gumam Hardinata saat ia merasa lubang itu terasa seperti dirobek-robek. Panas dan perih.
“Oh? Ini? Coba bapak duduk trus liat ke bawah,“ ucap Tristan nyengir kuda. Ia pun menarik tubuh Hardinata hingga terduduk di atas pangkuan Tristan. Hardinata terengah-engah. Wajahnya juga kian memerah. Hardinata pun mencoba melihat ke bawah sambil meraba lubang itu—yang ternyata.. Sial!, batin Hardinata mengumpat. Bagaimana bisa benda itu masuk ke dalam sana?
Tristan mendorong pinggulnya secara tiba-tiba. Hardinata otomatis membenamkan wajahnya di ceruk leher Tristan sambil meremas pundak Tristan sekuat tenaga. “B-breng-sek ahh ka-kamu Tristan eungh,“ gumam Hardinata. Perut Hardinata terasa penuh. Tristan terus saja menggempur lubang itu hingga berkali-kali merojok titik itu; dan membuat Hardinata melolong kenikmatan seketika.
.
.
__ADS_1
.
UP KEMBALI KALO LIKES 2,35K || LION HEART [BL] UP KEMBALI KALO LIKES 600