GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 22


__ADS_3

Suasana rumah sakit pun berubah menjadi pilu dipenuhi suara tangisan penuh pengharapan. Sebuah harapan agar Cindy mampu sadar dan pulih kembali seperti sedia kala. Husein terus saja menyalahkan Gilang atas apa yang menimpa putrinya. Ia geram hingga sebuah tamparan pun melayang di pipi kanannya. Gilang diam seribu bahasa.


James tidak kuasa untuk menengahi karena ini bukan ranahnya. Ia hanya sebagai penonton saja. Hasna menggenggam tangan putrinya erat sambil sesekali menciumnya penuh kasih sayang. Air matanya tak henti-henti luruh membasahi kedua pipinya.


Tiba-tiba jari-jemari Cindy bergerak dan perlahan ia pun membuka matanya. Tubuhnya terasa kaku sekali karena rasa sakit yang luar biasa mendera seluruh tubuhnya. Jari telunjuknya seolah-olah menunjuk seseorang yang tengah duduk di sofa, James.


James pun bangkit. Hasna beralih tempat duduk supaya James bisa memperhatikan Cindy dengan seksama. ”Ka-mu..” gumamnya lemah dengan kedua mata sayup-sayup menatap James.


”Saya James nona,“ ucap James sambil menggenggam tangan Cindy. Semua orang yang ada disana tidak mengerti mengapa Cindy menunjuk James untuk diajak bicara. Bukan ayahnya, ibunya, adiknya, ataupun Gilang.


”To-to-long ja-ga Gi-lang.” pinta Cindy berusaha tersenyum.


”Saya bakalan jaga Gilang dengan hidup saya. Saya nggak bakalan biarin dia terluka satu helai rambut pun.“ ucap James mantap.


“Ma-af.” ucap Cindy lalu tangannya pun terlepas seketika ketika kesadarannya benar-benar hilang dan monitor pasien yang menjadi garis lurus.


”Cindy!“ pekik Hasna meraung ketika mengetahui sang anak menghembuskan nafas terakhir. James membeku ketika ia mengingat kejadian barusan, yang dimana Cindy memberikannya pesan terakhir untuk menjaga Gilang.


Sudah pasti Cindy begitu mencintai Gilang sampai-sampai ia tidak lagi memperhatikan jalanan dan harus meregang nyawa. Dada James perih seperti ada belati tajam menyayatnya. Namun, semua itu terlihat samar lantaran tatapan matanya yang tajam setajam elang.


Husein terus saja menghakimi Gilang dan Jamea tentu tidak terima. Menurutnya semua ini sudah kehendak tuhan yang tidak bisa dielakkan. ”Cukup Pak Husein.” ucap James menahan tangan Husein yang terus saja mencengkeram kerah kemeja Gilang.


”Ini bukan salah Gilang. Nggak ada yang salah disini. Coba anda pikir lagi gimana kronologis anak anda keluar menyusul Gilang. Gilang sama sekali nggak minta dia buat nyusul dan liat sesuatu yang seharusnya nggak dia liat.”


James memberikan kartu namanya. Husein seketika diam ketika membaca kartu nama tersebut dan mengetahui siapa James sesungguhnya. James tau tindakannya yang seolah mengandalkan latar belakangnya untuk menghentikan tindakan Husein itu salah. Namun, ia juga tidak ingin siapa pun yang ada disini saling menyalahkan. Semua ini adalah takdir.


”Saya mohon supaya anda lebih bijak lagi dalam menilai situasi.” ucap James.


Saat ini Rama sedang menerangkan materi kuliah untuk jurusan hukum kepada seluruh mahasiswa/i di kelasnya. Ia permisi sebentar karena teleponnya terus saja bergetar. ”Halo?” sahut Rama.


”.....”


Dari mejanya Kevin heran melihat mimik wajah Rama yang tiba-tiba berubah drastis. ”Mohon maaf, saya ada urusan mendadak, jadi materi kita sampai disini dulu. Terima kasih.” ucap Rama segela keluar kelas.


”Kenapa ya? Nggak biasanya deh tuh orang kek gitu.” batin Kevin sedikit cemas. Beberapa saat kemudian ia pun mendapat sms dari Rama kalau nanti sore Rama akan menjemputnya.


”Jangan naik taksi ato nebeng!” sms dari Rama lagi membuat Kevin geleng-geleng kepala.


”Tumben banget ya Pak Rama ngajarnya nggak selese gitu?” celetuk Naila yang duduk di samping Kevin.


”Jangan kepo deh Nai. Masalah lo aja bejibun ck.” cibir Juan membuat Naila ingin memukulnya dengan buku namun ia urungkan.


Kevin dan teman-temannya pun berkumpul di tempat biasa, Juan, Kevin, Malik, dan Naila. ”Mal si Dhika mana?” tanya Kevin heran ketika satu personil tidak menampakkan diri.

__ADS_1


“Lu nggak tau? Kakaknya Dhika kan meninggal dunia gegara kecelakaan tadi malem.” jawab Malik.


”Hah?“


“Iya srius, keknya Pakdos Rama kesana juga deh. Tadi, ada papasan ama beliau kek buru buru gitu.”


”Rama? Lah? Sangkut pautnya ama kakaknya Dhika apaan?“


“Kudet ya lu? Kakaknya Dhika kan mantannya Pakdos Rama. Baru putus sih kasian emang.”


Kevin pun diam seketika. Baru putus? Berarti Kevin sendiri adalah selingkuhan Rama? Jangan-jangan keduanya putus karena Rama yang ketahuan berselingkuh dengan Kevin? Kevin menggelengkan kepalanya. Ia yakin Rama bukanlah orang yang seperti itu. Tapi, mungkin saja, bukan?


”Tumben si Melisa nggak ngintilin lu Kev?” tanya Naila penasaraan.


“Udah end.“ jawab Kevin sambil memakan kacang polongnya dengan kesal.


“Syukur alhamdulillaah.“ ucap Juan mengelus dadanya bersyukur kalau Kevin dan Cindy sudah putus.


”Dasar lu Jo,“ cibir Naila menoyor kepala Juan.


”Gue juan bukan Jo.“ protes Juan.


Selama perjalanan menuju apartemen, tidak ada satu pun di antara keduanya yang memulai pembicaraan. Rama diam seribu bahasa begitu pula Kevin. Suasana hati Rama rupanya sedang kurang baik. Hal ini terlihat jelas dari caranya menyetir yang terkesan ngebut dan ugal-ugalan sampai-sampai membuat Kevin harus menggenggam sesuatu di bagian atas supaya tubuhnya tidak terombang-ambing.


“Hm?” sahut Rama dengan deheman saja tanpa menoleh sedikit pun padanya.


“Lu sakit?” tanya Kevin hati-hati.


”Nggak papa Kevin.” jawab Rama menoleh sebentar lalu tersenyum meskipun senyumnya terlihat sedikit dipaksakan. Kevin tidak ingin bertanya lebih banyak lagi. Ia tidak ingin membuat suasana hati Rama semakin memburuk.


”Bikinin mas kopi yah.” ucap Rama ketika keduanya telah sampai di apartemen. Kevin langsung menuju dapur sedangkan Rama ke ruang kerjanya mengambil sebuah kotak besar.


”Ini apaan Ram? Mau diapain?” tanya Kevin lalu meletakkan secangkir kopi di meja.


”Barang-barang saya sama Cindy dulu.” jawab Rama.


Lagi-lagi Kevin teringat akan perkataan Malik tadi di kampus. Ia berpikir kalau Rama telah berselingkuh dengannya. Jadi, benar begitu? Ia pun memberanikan diri untuk bertanya.


“Gue denger gosip lu di kampus.“ ucap Kevin dan Rama pun menoleh sambil merapikan rambut Kevin yang sebenarnya sama sekali tidak berantakan. Rama memperhatikan Kevin seolah meminta penjelasan gosip apa yang telah Kevin dengar.


”Lu baru aja putus sama Cindy. Berarti lu selingkuh sama gue dong!? Wah parah lu Ram.” ucap Kevin tidak habis pikir. Rama menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa Kevin berpikir kalau dirinya selingkuh? Memangnya Rama pria apaan.


Rama pun menjitak dahi Kevin hingga membuatnya mengaduh kesakitan. ”Punya otak itu kalo mau nilai sesuatu diteliti dulu. Jangan asal nyablak aja.” ucap Rama dan Kevin pun mendengus.

__ADS_1


”Kamu harus tau usia saya itu 27 tahun. Inget 27 tahun!” ucap Rama menekankan kata '27 tahun'. Kevin pun memutar bola matanya malas.


”Serah lu dah.”


”Saya pacaran sama Cindy kurang lebih satu tahun. Bukannya ngebet nikah ato apa ya, kalo pacaran cuma sekedar pacaran biasa trus nggak ada niatan buat ke jenjang lebih serius ngapain? Apalagi umur saya aja udah 27 mau otw 28 beberapa bulan lagi. Pacaran luntang lantung nggak jelas, malu sama umur lah.” ucap Rama menjelaskan panjang lebar.


”Jadi, nggak selingkuh?”


”Kenapa? Cemburu?”


”Nggak tau.”


Kevin benar-benar tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Cemburu? Entahlah bisa jadi iya bisa jadi tidak. Semuanya serasa tiba-tiba dan akal sehatnya pun seolah tidak untuk menerima tapi dipaksa untuk harus menerima bahwa nyatanya Rama saat ini sedang berusaha mendekati dirinya.


Pikirannya mulai berkelana kemana-mana dengan perasaan yang kalut, rasanya mengesalkan sekali ketika ia tidak mampu memahami isi hatinya sendiri. Sudahkah ia mulai menyukai Rama? Sayang? Cinta? Ia masih belum yakin.


”Kenapa?“ tanya Rama ketika melihat Kevin yang nampak gusar.


”Gue benci sama diri gue sendiri. Gue nggak ngerti sama apa yang gue rasain sekarang. Nyesek banget rasanya, heh!” jawabnya kesal.


Rama tertegun mendengar ungkapan kekesalan Kevin. Rama tentu memahami maksud dari perkataannya. Bagi Kevin percintaan sesama pria adalah sesuatu yang tabu, dan seiring kebersamaan keduanya mungkin sudah ada benih-benih cinta di hatinya. Hanya saja perasaannya yang gamang belum ingin mengakui hal itu.


Rama menarik Kevin untuk duduk di pangkuannya. Ia pun meletakkan dagunya di pundak Kevin dengan kedua tangan melingkar di pinggangnya dan merasakan betapa gusarnya seorang Kevin. ”Maafin saya udah bikin kamu kek gini.” ucap Rama lirih terdapat secercah rasa penyesalan. Bukan berarti ia akan berhenti untuk mengejar Kevin.


Hah.. Kevin menghela nafasnya. Ia tidak tau harus melakukan apa untuk membawa kemana hatinya akan menuju. Entah ke rasa suka atau hanya sekedar terbawa nafsu sesaat saja. ”Maafin saya Kevin. Maaf.“ ucap Rama lagi meminta maaf dengan tulus.


Kevin pun meraih wajah Rama sehingga wajah Rama pun sedikit mendongak dan mata keduanya saling bertemu. Ia pun mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan ciuman di bibirnya. Ciumannya pun semakin menuntut hingga keduanya pun harus menjauhkan bibir masing-masing untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


“Masuk ke gue Ram. Plis bantu gue buat yakinin perasaan gue sendiri.” ucap Kevin menatapnya lamat-lamat.


Di kamar keduanya berhasil melepas semua kain yang ada hingga keduanya saling menampakkan indahnya sebuah maha karya. Rama mengecup jari jemari kaki Kevin satu per satu. Ia cium pergelangan kakinya hingga ke atas membuat Kevin otomatis meremas sprai kasurnya ketika ia merasakan sensasi yang luar biasa.


“Sa-sakihht Ram. Ugh.” aduh Kevin ketika ketiga jari Rama mengobrak-abrik ringnya dan merojok bagian ujung sana yang membuat rasa sakitnya berubah menjadi rasa nikmat tiada tara. Tidak hanya itu selain Rama aktif memaju mundurkan jari jemarinya disana, ia pun mengulum adik kecil Kevin sampai-sampai membuat Kevin belingsatan.


Sprai kasur yang tadinya rapi pun menjadi berantakan karena ulahnya. Kevin menggigit bibir bagian bawahnya ketika Rama menciumi pusar dan area perutnya lalu naik ke atas dan menyambar dua biji kacangnya.


”Uhh ngh Raahhm aaahhhhhh emmmhh uuhhdaaaah ngh.” lenguhnya ketika jari jemari Rama semakin ganas merojok ringnya. Mata Kevin pun merem melek ketika adik Rama yang gemuk itu menggempur ringnya tanpa ampun. Kevin pun meremas pundak Rama guna menahan sakit yang mendera.


”You're mine.” ucap Rama lalu mengecup kening Kevin. Bulir air mata membasahi pelupuk mata Kevin ketika rasa sakit bercampur haru dirasanya. Kevin pun meraih wajah Rama lalu mencium bibirnya. Dan lagi Rama secara mengejutkan mendorongnya kuat-kuat.


”AHHHHHHHHHH.” keduanya pun mengeluarkannya bersama yang dimana Rama menumpahkan lahar miliknya di dalam.


***

__ADS_1


Judul lain COME BACK HOME [BL], BLUE SKY [BL], ARES [BB], JOMBLO AKUT


__ADS_2