GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 44


__ADS_3

Daru pun turun dari motor. Ia lepas helm di kepala, lalu mengembalikannya dengan kasar kepada Djaka. Daru masuk ke dalam rumah sambil misuh-misuh diikuti oleh Djaka di belakang. “Lain kali jangan jemput gue lagi! Gue bukan anak kecil lagi tau nggak, sih!? Dari kemaren gue udah bilang jangan deketin gue lagi. Tapi, apa? Lu tuli!“ ucap Daru ketus berteriak-teriak di dalam rumah. Ia pun membanting pintu kamar. Suara decitan pintu itu pun bahkan terdengar sangat nyaring.


Idah mengeluskan dada melihat kelakuan Daru yang sudah kelewat batas itu. “Djaka, maafin Daru, ya?“ ucap Idah tidak enak hati kepada Djaka sambil menyentuh pundak Djaka. “Nggak papa tante,“ ucap Djaka tersenyum tipis. Ia pandangi pintu kamar Daru lamat-lamat. Daru udah berubah, batin Djaka. Dia bukan lagi Daru yang bisa Djaka usili seperti dulu. Hah, Djaka menghela nafas.


“Disini dulu ya, Ka? Makan dulu bareng Daru,“ ucap Idah. Djaka pun menganggukkan kepala pelan. Beberapa saat kemudian Idah pun mengetuk pintu kamar Daru beberapa kali. “Daru? Kamu tidur, nak? Makan dulu,“ seru Idah dari luar. Daru tidak bergeming. Di dalam kamar Daru malah tertidur pulas dengan kaos yang terangkat sedikit hingga membuat pahatan perutnya yang sempurna itu terlihat.


“Biar Djaka aja yang bangunin Daru tante,“ seru Djaka. “Beneran nggak papa ini, Ka? Tante khawatir aja dia bakalan neriakin kamu kek tadi,“ ucap Idah sedikit cemas. Djaka pun tertawa. “Tenang aja tante, Djaka tahan banting kok,“ ucap Djaka. Hm, kira-kira aku harus bagaimana ya ke Daru? Dia keras kepala banget, batin Djaka. Djaka pun memutar knop pintu kamar Daru, lallu masuk ke dalam. Kamar Daru ini bernuansa putih dan biru. Djaka baru ingat kalau Daru memang menyukai apapun yang berbau langit dan lautan. Kata Daru dulu, dengan melihat luasnya langit dan lautan, ia bisa lebih semangat lagi menggapai cita-cita.


Djaka tersenyum tipis saat ia duduk di pinggiran ranjang sambil memandangi wajah Daru. Bagi Djaka, Daru itu masihlah si kecil Daru yang dulu. Dia cuma menjadi lebih dewasa saja, dan tentunya bertambah tinggi pula. Cup. Djaka kecup kening Daru sekilas. Hal itu pun membuat tidur Daru terusik. Kedua alis Daru berkerut. Ia pun membuka mata perlahan, dan hal yang ia lihat pertama kali setelah membuka mata ialah Djaka yang saat ini tengah tersenyum manis kepada dirinya.


“Lu?!“ seru Daru marah. Ia pun langsung duduk dan menatap Djaka dengan tatapan membunuh. “Ngapain lu disini hah?! Keluar!“ ucap Daru ketus. Djaka malah tersenyum lebar sambil mengedipkan mata beberapa kali. “Om nggak ada temen disini, Daru. Kan om baru pindah tugas? Hehe jadi om mau temenan sama kamu lah,“ ucap Djaka. “Bukan urusan gue. Sana lu sana. Nggak penting banget.“ ucap Daru berdiri sambil menarik-narik pergelangan tangan Djaka. Djaka mengulum senyum, karna sedari tadi Daru tidak berhasil menarik tangan Djaka sampai membuat Djaka keluar dari kamar ini. “Otot perutnya sih sobek sobek. Tapi, narik om nya aja nggak kuat? Ckckck,“ ucap Djaka mencibir.


Daru mencebikkan bibir kesal. Liat aja bangsat gue pasti bisa, batin Daru bertekad. Ia pun berusaha menarik pergelangan tangan Djaka sekuat tenaga dan argh! Daru malah terjungkal ke belakang, tepatnya langsung menempel di belakang pintu, dan hal itu pun membuat Djaka ikut tertarik. Kini tubuh keduanya saling berhimpitan. “Mi-minggir,“ seru Daru. Sial! Kali ini malah Daru yang tubuhnya dikunci oleh Djaka si sialan ini.


“Ehem, kamu nggak kangen sama om?“ ucap Djaka basa-basi sambil mengedipkan mata dan tersenyum lebar. Daru memutar bola mata malas diiringi helaan nafas berat. “Ngapain gue kangen sama lu? Nggak penting banget. Minggir!“ ucap Daru berontak. Nih orang kok bisa kuat gini sih, batin Daru sebal. “Daru~ Om kangen banget tau~“ ucap Djaka lemah lembut dan menatap Daru lamat-lamat. Uh, Daru geli.


Djaka semakin menghimpit tubuh Daru. Daru benar-benar tidak ada kesempatan lagi untuk berontak sedikit pun. “Minggir bangsat!“ seru Daru marah. Namun, Djaka sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan marah Daru itu. Entah mengapa di mata Djaka hal itu malah membuat Daru terlihat semakin imut. Djaka mendekatkan bibirnya ke telinga Daru. Lalu, ia pun berbisik, “Om.. Kangen banget sama kamu, Daru..“ ucap Djaka. Kata-kata Djaka barusan yang diiringi seru nafas yang amat terasa di permukaan kulit wajah itu pun membuat Daru merinding. Tubuh Daru mendadak membeku.


Sebelah alis Djaka terangkat. Ia menatap Daru dan tersenyum misterius. Cup. Djaka mengecup pipi Daru sekilas. Kedua mata Daru membola sempurna. Daru menelan ludah susah payah. Kini Daru dan Djaka pun saling bertatapan satu sama lain. Daru mampu melihat dengan jelas, jikalau Djaka saat ini tengah menatapnya tanpa berkedip sama sekali. Uh, a-apa apaan ini?, batin Daru.


Djaka sudah tidak tahan lagi melihat ekspresi nan menggemaskan itu. Ia pun mengecup bibir Daru dengan lembut atas dan bawah secara bergantian. Sialan!, umpat Daru dalam hati. Daru berusaha mendorong Djaka, namun sia-sia. Dan sialnya lagi, Djaka ternyata lebih kuat dari dirinya. “Ngh!“ gumam Daru.


“Apa?! Ka-kak Chris mau nikah?“ seru Lili tidak percaya saat ia mendengar percakapan ayah dan ibunya. Bibir Lili bergetar. Nggak, nggak boleh, Kak Chris nggak boleh nikah sama siapapun, batin Lili. Ini tidak bisa dibiarkan. Lili harus segera bertindak. “Li! Lili!“ seru Iin, sang ibu. Saat Lili tiba-tiba lari masuk ke dalam kamar. “Gimana ini, pa?“ ucap Iin khawatir. “Tenang dulu, ma. Lili pasti baik-baik aja kok,“ sahut Harlis, sang suami.


Lili memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Bagaimana pun Lili harus tinggal bersama Chris di Jakarta. Lili juga telah memesan tiket kereta api dari Yogyakarta ke Jakarta. Lili menyeka air mata yang terus saja berjatuhan tanpa henti. Malam ini jua Lili harus berangkat, batin Lili. “Lili? Kamu mau kemana?“ tanya Harlis, sang ayah. Lili terlihat bersiap-siap ingin pergi beserta koper yang ia bawa. “Lili mau ke Jakarta, pa.“ sahut Lili. Harlis mengernyitkan alis. “Ini udah malem Li, udah mau isya. Kamu juga musti kuliah. Di rumah aja, Li. Nggak usah kemana-mana.“ ucap Harlis. Lili tidak peduli. Di pikiran Lili saat ini cuma ada Chris, Chris, dan Chris.

__ADS_1


“Pokoknya Lili mau ke Jakarta, pa! Lili.. Lili mau ketemu sama Kak Chris!“ ucap Lili mantap. Harlis diam. Mau marah pun Harlis juga tidak tau harus marah yang bagaimana. Di keluarga Nugroho sendiri, Lili memang selalu dimanjakan dalam hal apapun. Bahkan, dibanding Setiaji, sang kakak, bisa dibilang Lili lah yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang lebih, karna Lili satu-satunya anak perempuan di keluarga ini.


“Terserah kamu Lili,“ ucap Harlis kemudian. Harlis pun memilih masuk ke dalam kamar saja. Iin juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin Iin menekan Lili lebih keras lagi, namun Iin takut jikalau Lili malah nekad lagi lebih dari ini. “Hati-hati, nak..“ ucap Iin tidak sampai hati. Iin menghela nafas berat setelah Lili mencium tangannya dan berpamitan. “Ji?“ seru Iin di telepon. Di seberang sana Setiaji sedang mengerjakan tugas kuliah. “Iya ma?“ sahut Setiaji. “Barusan Lili berangkat ke Jakarta naik kereta, Ji.“ ucap Iin. Kedua alis Setiaji langsung berkerut. Lili? Ke Jakarta? Tapi, untuk apa?


“Kok bisa ma? Lili mau ngapain emang?“ tanya Setiaji menghentikan aktivitasnya sebentar. “Tadi.. Dia nggak sengaja denger mama sama papa ngobrol masalah Chris yang mau nikah.. Dia mau nyusul Chris, Ji..“ sahut Iin. Lili pasti nggak bakalan tinggal diam. Jangan sampai dia nekad. Gue harus bertindak cepat, batin Setiaji. Lili boleh saja tidak mendengarkan kata-kata Harlis dan Iin. Tapi, berbeda cerita kalau itu Setiaji. Sekali Setiaji bicara, Lili akan diam seribu bahasa. Ya, cuma Setiaji yang bisa meredam tindakan Lili yang di luar batas itu.


“Mama tenang aja. Aji bakalan jemput Lili nanti di stasiun,“ ucap Setiaji. Sambungan telepon pun terputus. Lalu, Setiaji pun langsung menelepon Halim. Ia berniat meminta tolong kepada Halim untuk mengantarkannya ke Stasiun nanti. “Ada apa sayang ku cinta ku istri ku hm?“ seru Halim dari seberang sana. “Ih, apaan sih Lim, lebay ah.“ ucap Setiaji geli. “Hahaha iya iya ada apa sayang? Kenapa? Hm?“ tanya Halim sambil bermain game di laptop. “Ntar subuh anterin gue ke Stasiun Gambir,“ sahut Setiaji. “Ngapain kesana?“ tanya Halim sambil mata fokus ke laptop. Saat ini Halim tengah memainkan game sepeda balap. “Lili ke Jakarta,“ sahut Setiaji.


“Hah? Ke Jakarta? Kan dia di Jogja, Ji? Kok bisa?“


“Huft. Lu tau kan adek gue kek gimana? Dia nggak sengaja denger bonyok gue ngomong masalah nikahannya si Chris ama Daffin. Kan dia suka sama Chris, Lim?“


“Iya juga sih. Trus gue jemput lu jam berapa nih ntar?“


“Kereta Lili kemungkinan nyampe jam 4an. Jadi, lu musti jemput gue setengah jam lebih awal, Lim. Stasiun Gambir kan lumayan jauh tuh? Sekitar 28 menitan pake mobil kesana. Inget! Tepat waktu! Jangan telat lu!“


Sambungan telepon pun terputus. Setiaji harus mengatakan hal ini secepatnya kepada Chris nanti. Huh, mana tugas numpuk lagi, gumam Setiaji mengeluh. Tiba-tiba mata Chris melihat kalender mini di samping. Disana ada lingkaran merah melingkar di tanggal 18. Ya, dua hari lagi aniversary Halim dan Setiaji yang ke 3. Setiaji pun senyum-senyum sendiri saat mengingat kenangan tiga tahun lalu, saat dimana ia dan Halim pertama kali bertemu. Saat itu Halim masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Sedangkan Setiaji masih kuliah S2 semester tujuh. Uh, kenangan lama emang indah banget, batin Setiaji tersenyum.


Daffin menata piring di depan TV. Chris dan Daffin terbiasa makan lesehan di depan TV, meskipun kadang-kadang juga makan di meja makan. “Daff, gelas yang biasa mas pake kemana? Kok nggak ada?“ seru Chris dari dapur. Chris heran sedari tadi ia menggeledah seisi lemari gelas dan piring, mencari-cari keberadaan gelas yang biasa ia pakai untuk minum. Tapi, Chris sama sekali tidak menemukannya disana.


“Tadi pagi aku nggak sengaja pecahin mas, pas nyuci piring,“ sahut Daffin. Daffin pun ke dapur mengambil buah-buahan di kulkas untuk dijadikan pencuci mulut sebelum makan makanan utama. Chris pun minum air putih langsung dari botol. “Udah dibilangin jangan langsung dari botol. Pake gelas napa sih. Gitu aja susah banget,“ protes Daffin sambil menata buah-buahan di piring. “Nih, bawain ke depan sana,“ ucap Daffin lagi memerintah Chris. “Nggak, nggak susah, Daff. Tinggal dorong aja langsung masuk kok~ Trus nyemburinnya di dalem, mantep banget deh,“ sahut Chris membuat Daffin semakin sebal. “Tau ah rese,“ ucap Daffin sambil mengambil beberapa sendok di lemari.


“Sini cium dulu muach muach muach,“ seru Chris memberikan kecupan di pucuk kepala Daffin sebanyak tiga kali. Hal ini Chris lakukan bukan tanpa alasan. Jujur saja Chris merasa kagum melihat Daffin perdana masak hari ini. Bandeng Presto dan Sambal Dengkek yang Daffin buat terlihat sangat menggugah selera. “Makasih sayang udah masakin buat mas muach,“ ucap Chris, lalu mengecup pucuk kepala Daffin lagi. “Hm~ Mas~“ gumam Daffin manja.


Chris dan Daffin pun mulai menyantap hidangan yang dibuat oleh Daffin tadi. Di luar dugaan, Bandeng Presto dan Sambal Dengkek buatan Daffin ini luar biasa lezat. “Daff, mas tambah nasi lagi,“ ucap Chris. Bahkan, Chris saja sampai tambah nasi lagi, saking lezatnya buatan Daffin ini. “Enak banget, Daff. Tau nggak?“ ucap Chris. Daffin pun datang dengan sepiring nasi setelah tadi ke dapur sebentar mengambilkan nasi untuk Chris. “Syukur deh kalo enak,“ sahut Daffin tersipu diringi senyuman samar menghiasi bibir tipisnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian makan malam pun selesai. Daffin menumpuk piring-piring ini, lalu ia bawa ke dapur biar sekalian dicuci. Sedangkan Chris asyik main gadget dan berselancar di sosial media instagram sambil mengorek sela-sela gigi dengan jari telunjuk, lantaran ada sisa-sisa makanan yang tersangkut. Sambil mencuci piring Daffin sambil memutar lagu penyanyi asal Korea, yaitu Kim Woo Seok yang berjudul Red Moon.


Foto dari feed Gilang pun tiba-tiba muncul di feed instagram Chris. Kontan ia pun langsung memberikan hati ke postingan foto itu, yang dimana Gilang dan James berfoto berdua di pinggiran pulau sambil memandangi pulau tersebut dari gazebo. “Mas Chris! Tolong di pel ya lantai bekas kita makan tadi,“ ucap Daffin setengah berteriak dari dapur. Chris pun tersadar, dan langsung bangkit mengambil pel lantai di dekat pintu toilet di dapur.


Selesai mencuci piring. Saatnya Daffin beristirahat. Ia pun duduk di sofa, tepatnya di sebelah Chris. Chris terlihat mengetik-ngetik sesuatu di laptop dengan kacamata bertengger kokoh di antara tulang hidungnya. “Mau minum teh nggak mas? Biar aku bikinin,“ ucap Daffin menawarkan sambil memindah channel TV. “Nggak usah, air putih aja udah cukup, Daff,“ sahut Chris tanpa menoleh. Dibilang mau sih mau. Cuma Chris tau, bisa jadi Daffin saat ini sedang kelelahan. Lihatlah bagaimana cara Daffin bersender di sofa. Dia pasti sangat kelelahan, karna seharian ini kesana kemari mengurus persiapan pernikahan, batin Chris. Itulah alasan Chris mengindahkan tawaran Daffin tadi.


“Kerjaan kantor mas?“ seru Daffin menoleh ke samping sambil tangan kanan menyentuh jerawat yang ada di dahi dekat pangkal rambut. “Hm,“ sahut Chris. “Sini coba aku bantuin mas. Biar cepet.“ ucap Daffin. Chris malah terkekeh. Ia pun menoleh ke samping dan berkata, “Biar cepet apa??? Biar cepet bisa ngegoyang gitu, Daff??? Hahahahaha,“ Chris pun tertawa. Daffin mencebikkan bibir kesal. Huh, bisa-bisanya Chris berpikiran tidak senonoh seperti itu?, batin Daffin geleng-geleng kepala. “Paan si ah. Nggak bisa~ Malem ini capek pegel-pegel. Mau tiduran aja~ Bobo ganteng~“ sahut Daffin sembari meraih hp miliknya di atas meja.


“Nggak papa, trus kenapa? Mas tinggal nunggu kamu tidur pules dulu baru masukin ke dalem. Biar kamu nggak ngerasa sakit gitu wkwkwk,“ goda Chris semakin membuat Daffin sebal. Daffin pun langsung memukul lengan Chris pelan karna gemas. “Hooaaamm,“ Daffin pun menguap sampai meneteskan air mata karna mengantuk. “Tidur duluan aja, Daff. Mas masih ada kerjaan,“ seru Chris. Ini baru jam 20:45. Tapi, Daffin merasa sudah lumayan mengantuk. Mungkin Daffin kelelahan karna sepanjang hari ini Daffin sibuk bersama Chris kesana kemari. “Hooaaamm, iya deh mas, aku tidur duluan, ya?“ ucap Daffin masuk ke kamar lebih dahulu. Chris pun tersenyum samar.


Setelah menyelesaikan kerjaan kantor sampai hampir jam 12 malam. Chris pun memutuskan untuk tidur. Ia memijit tulang hidungnya yang terasa sedikit nyeri, karna terlalu lama mengenakan kacamata. Ia pun masuk ke dalam kamar dan rebahan di samping Daffin setelah mematikan saklar lampu di ruang tengah. Daffin sudah tertidur pulas dengan posisi telentang. Sebelum tidur Chris kecup kening Daffin sambil mengusap pucuk kepalanya sayang terlebih dahulu. “Calon istri mas tersayang.. Mimpi indah ya sayang..“ gumam Chris. Ia pun mulai memejamkan mata sambil melingkarkan tangan di perut Daffin. Tidak butuh waktu lama, Chris pun terlelap.


Setiaji pun bersiap-siap ingin berangkat menuju Stasiun Gambir. Ia harus mengenakan pakaian tebal serta celana gober supaya badan tetap terasa hangat. Setiaji pun masuk ke dalam mobil. Seperti biasa saat pertama kali berjumpa, Setiaji akan mendekatkan wajahnya ke Halim. Cup. Halim pun mengecup pipi dan bibir Setiaji sekilas. Keduanya pun segera memasang seatbelt dan melajukan mobil menuju tempat tujuan.


Halim menyetir dengan satu tangan saja. Sedangkan tangan kirinya digenggam oleh Setiaji demi memberikan kehangatan di suhu dingin saat subuh seperti ini. Sekarang sudah jam 3:30 pagi. Kalian bisa bayangkan betapa dinginnya suhu di jam segini. Ugh, baik Halim ataupun Setiaji saja sampai harus mengenakan jaket tebal. “Trus ntar lu bakalan gimana ke adek lu, Ji? Secara kan lu pernah cerita ke gue kalo adek lu tuh manja bingits,“ ucap Halim. “Tinggal gertak aja selese, Lim. Cuman masalahnya gue tuh nggak mau Lim dia jadi perusak kebahagiaan orang lain, apalagi keluarga sendiri. Duh, pusing gue.“ ucap Setiaji mengeluh.


“Untung gue anak tunggal, Ji. Hahaha,“ ucap Halim tertawa. Setelah 24 menit berlalu, Halim dan Setiaji pun tiba di Stasiun Gambir. Dalam hati Halim tidak menyangka, meskipun subuh-subuh begini, stasiun kereta api tetap ramai sekali, ya? Setiaji sambil meneleponi Lili, menjelaskan dimana posisi Setiaji sekarang. “Lili!/Kakak!“ seru Lili dan Setiaji berbarengan. Halim diam saja melihat interaksi dua kakak beradik Lili dan Setiaji. Setelah mendengar semua cerita Setiaji tadi malam, entah mengapa terdapat secercah perasaan takut di hati Halim. Coba kalian pikir, kalau saat ini saja Lili sudah berani ingin mengacaukan kebahagiaan orang lain, bagaimana nantinya? Mungkinkah dia juga akan menghancurkan rumah tangga orang lain? Hah, semoga aja nggak bakalan terjadi, batin Halim.


Setelah itu Lili pun juga memeluk Halim setelah memeluk Setiaji. “Kita seumuran. Lu jangan manggil gue kakak. Ngerti?“ protes Halim. Lili berlagak cemberut. “Tetep jadi kakak ipar juga Kak Halim~“ ucap Lili tersenyum lebar. Hahaha, mereka bertiga pun tertawa bersama. “Lim, thanks ya udah nganterin gue sama Lili? Lu pulang jangan ngebut, awas,“ ucap Setiaji berterima kasih sekaligus mengingatkan sesaat setelah ia turun dari mobil. “Buat kamu apa sih yang nggak sayang~ Hehehe,“ goda Halim. “Tau ah gelap. Gue mo ke dalem dulu. Dadah sayang,“ ucap Setiaji malu-malu saat menyebutkan kata sayang di ujung kalimatnya tadi. Halim pun terkekeh.


Di dalam apartemen Setiaji pun mulai bersikap agak dingin kepada Lili. “Li..“ seru Setiaji sembari melepaskan jaket yang menempel di badan. Lalu, menggantungnya di gantungan baju. “Uhm?“ gumam Lili duduk di sofa. “Kakak peringatin kamu, Li. Kamu boleh suka sama Chris. Tapi, jangan ampe ngancurin kebahagiaan dia.“ ucap Setiaji menusuk hati. “Tapi, kak—“ sahut Lili langsung dipotong oleh Setiaji. “Nggak ada tapi-tapian, Li. Kalo kamu ampe gangguin Chris sama calon istrinya, kakak nggak bakalan tinggal diem, Li. Kamu inget kata-kata kakak. Kakak udah salah terlalu manjain kamu selama ini.“ ucap Setiaji menohok. Lili pun terdiam seribu bahasa. Ia pun mengepalkan tangan karna geram. Bibir Lili juga mulai bergetar karna kesal dan marah. Heh, Lili mendengus sembari menahan air mata. Sedangkan Setiaji masuk ke kamar dan membiarkan Lili sendirian duduk di sofa.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan favorit! Dukung GKTG menuju 2K likes!


__ADS_2