GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 37


__ADS_3

Daffin sedang dimake up di ruang rias. Sebentar lagi ia harus take. Daffin bermain game sambil minum es kopi. Make up Daffin kali ini agak sedikit pucat dengan riasan mata lebih tajam untuk menambah kesan garang dan sangar. Tentu saja karna Daffin berperan sebagai seorang siluman serigala di season dua Lion Heart. Selesai di make up Daffin pun berdiri. Ia dibantu oleh penata busana untuk mengenakan kostum serba hitam mulai dari kaos sampai mantel—serta ikat pinggang.


“Gue kira bocil? Oh? Udah gede toh? Tapi, pake baju aja masih dibantuin?“ seru Daru mencibir. Daru juga sudah siap untuk take. Dan di film ini Daru berperan sebagai tokoh antagonis. Berada dalam satu kru bersama Daru, Daffin benar-benar harus ekstra sabar menghadapi mulut Daru yang super pedas itu. “Bukan urusan lu,“ sahut Daffin ketus. “Gue nggak ngerti kenapa lu malah tetep maen buat season dua? Padahal lu sering NG.“ ucap Daru menohok.


Oh tuhan, bisakah engkau tenggelamkan Daru saat ini juga?, batin Daffin. “Tapi, gue pemeran utama. Nggak kek lu cuman pemeran sampingan doang. Cih!“ sindir Daffin berdecih kesal. “Mata lu tetesin dulu sama obat mata, Daff.“ seru Dimas memberikan obat tetes mata. Setelah selesai bersiap-siap, saatnya Daffin take bersama pemeran yang lain.


“Aisyah..“ seru Daffin. Ia berdiri tepat di belakang. Aisyah yang sudah menua itu pun menoleh. Ia terkejut melihat Daffin berdiri tidak jauh dari tempat ia berdiri. Sudah 20 tahun berlalu. Daffin masih sama seperti dulu. Muda dan tampan. Dia sama sekali tidak berubah, batin Aisyah. Selama dua puluh tahun ini ia telah memendam rindu dalam dada.


Pada akhirnya takdir kembali mempertemukan Aisyah dan Daffin. Ia pun langsung berhambur di pelukan Daffin. Bahkan, aroma tubuh Daffin sama sekali tidak berubah. Masih sapa persis seperti dua puluh tahun lalu. Kedua mata Aisyah berkaca-kaca. Aisyah memeluk Daffin dengan erat. Pun Daffin membalas pelukan Aisyah sembari mengecup pucuk kepalanya beberapa kali.


“Da-Daffin..“ gumam Aisyah sesenggukan. “Ini aku.. Aisyah..“ gumam Daffin mengelus punggung Aisyah. “Bunda?“ seru seorang anak kecil laki-laki. Aisyah pun menoleh—dan Daffin pun menghilang. “Arya?“ seru Aisyah. Arya pun menghampiri dirinya dan memeluk Aisyah di lutut, lantaran tinggi badan Arya yang masih kecil. Benar, Aisyah telah menikah dengan seorang pria bernama, Irwan. Ia dikaruniai dua orang anak, seorang puteri berusia 17 tahun dan seorang putera berusia 4 tahun. “Arya lapppeeeerrrrrr,“ ucap Arya manja. “Uh, anak mama laper, ya? Hehe,“ ucap Aisyah sambil mencubit hidung Arya pelan.


“Cut! Ok!“ seru si sutradara. Semua kru pun beristirahat sebentar. Sebuah truk makanan pun datang. Itu adalah truk makanan yang dikirimkan oleh penggemar rahasia Daffin. Tiba-tiba hp Daffin berdering. Itu sms dari Chris. “Mas ngirim truk makanan kesitu. Udah nyampe, kan?“ tulis Chris. Seulas senyum tipis pun terukir di bibir Daffin. Hm, jadi ini dari Chris? Pantas saja anonim, batin Daffin.


DAFFIN:


“Udah mas,“


CHRIS:


“Nanti malem mas ke rumah, tunggu ya,“


DAFFIN:


“iya,“


“Cie senyum-senyum sendiri? Lagi liatin apa, sih?“ seru Aisyah menghampiri Daffin. Ia pun duduk di samping Daffin. Aisyah terlihat lebih akrab saat berbicara dengan Daffin dibandingkan saat mereka pertama kali bertemu. Tentu saja karna mereka terlibat dalam film yang sama—juga di luar syuting pun mereka sering jalan-jalan berdua karna tuntutan dari dua belah pihak agensi, demi menaikkan rating film yang mereka bintangi. Begitulah dunia hiburan. Sebuah kepalsuan yang dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat lebih nyata.


Jujur saja Daffin cuma menganggap Aisyah itu teman main satu film saja. Di luar itu Daffin sama sekali tidak ada niatan ingin menjalin hubungan pertemanan lebih dari ini. Kalau ditanya alasan mungkin Daffin akan bercerita sedikit. Kala itu Daffin menjemput Aisyah ke rumahnya, dan Daffin cuma menunggu di mobil saja. Kalian tau? Daffin harus menunggu setengah jam lebih. Lagi saat keduanya berada di tempat umum, Daffin selalu berpesan untuk tidak berlebih-lebihan dan Daffin ingin dirinya dan Aisyah cukup berpegangan tangan saja. Tapi, Aisyah malah sengaja melingkarkan tangannya di lengan Daffin dan bersikap manja layaknya anak kecil?


“Lagi liatin elu hehe,“ sahut Daffin tersenyum misterius. Dimas tau pasti Daffin sedang merencanakan sesuatu. “Serius?“ seru Aisyah tidak percaya sekaligus senang. Daffin sedang melihat aku?, batin Aisyah tersipu malu. “Sini liat coba,“ ucap Aisyah meraih hp Daffin dari tangan Daffin sendiri. Senyuman itu pun langsung memudar tatkala yang ia lihat bukanlah foto atau video dirinya, melainkan sekumpulan hewan-hewan yang ada di kebun binatang.


“Paan sih,“ ucap Aisyah terlihat tidak suka. Ia tau Daffin itu suka usil. Tapi, ayolah, masa Aisyah harus disamakan dengan hewan-hewan itu?, batin Aisyah. “Udah ah gue mo makan dulu,“ ucap Daffin beranjak dari bangku menuju truk makanan di depan sana. Berhubung masih istirahat, Daffin ingin makan sepuasnya.

__ADS_1


Chris turun dari mobil dan singgah ke mini market sebentar. Daffin telah mengiriminya list belanjaan yang harus Chris beli di aplikasi chat. “Mas Chris?“ seru seseorang. Chris pun menoleh. “Mba Hanna?“ seru Chris. Hanna terlihat senang, karna ia tidak sengaja bertemu Chris disini. Kalau boleh jujur Chris merasa kurang nyaman dengan sikap Hanna yang sok akrab itu.


“Mau dibantu mas?“ tanya Hanna mencoba menawarkan diri membantu. Hanna tersenyum manis. Sedangkan Chris tersenyum simpul saja. “Nggak papa mba, makasih,“ sahut Chris secara halus. “Mas Chris tinggal di daerah sini?“ tanya Hanna lagi. Hanna berpikir mungkin Chris tinggal di daerah sini. Kalau tidak mengapa Chris malah belanja disini?


“Iya sayang?“ seru Chris mengangkat telepon. Hah? Sayang?, batin Hanna. Siapa sayang yang Chris maksud? Hm, adiknya mungkin? Bisa saja, kan?, batin Hanna mencoba berpikir positif. “Lama banget sih mas? Jangan-jangan kamu masih di kantor?“ seru Daffin dari seberang sana. Daffin curiga kalau Chris berbohong akan dirinya yang tadi berkata akan pulang sebentar lagi. Huh, dasar tukang kibul, batin Daffin kesal.


“Beneran~ Ini mas lagi di mini market. Kamu kan pesen macem-macem tadi?“ ucap Chris. Chris mengapit hp miliknya di antara pundak dan telinga sambil memasukkan berbagai macam jenis snack ke keranjang. Hanna merasa diabaikan. Ia pun memilih pergi dari sana meninggalkan Chris sendiri tanpa berpamitan terlebih dahulu. Bisa-bisa nya Hanna berdiri disitu dan diabaikan seperti patung saja.


“Cepetaaaannnnn,“ ucap Daffin manja. “Matiin dulu teleponnya, mas nggak bisa fokus ini, nanti malah lama lagi nggak kesana-sana.“ ucap Chris. Sambungan telepon pun terputus. Setelah selesai berbelanja dan melakukan pembayaran, Chris pun melakukan mobilnya menuju kediaman Daffin. Ia turun sambil menenteng dia kantong plastik besar di tangan kiri dan kanan.


“Assalamu'alaikum om tante,“ seru Chris tersenyum. Olivia menyambut kedatangan Chris dengan senang hati. “Duh, banyak banget belanjaan kamu, Chris?“ seru Olivia. Chris pun tertawa. “Pesenan Daffin tante,“ sahut Chris. “Itu anak kalo nitip ke orang nggak kira-kira deh. Daffin! Chris nih! Cepetan turun!“ seru Nugraha. “Suruh ke kamar aja, pa! Daffin males keluar!“ sahut Daffin berteriak.


“Itu anak dasar deh..“ gumam Nugraha. “Maklumin Daffin ya, Chris? Oh iya, kamu balikan lagi sama Daffin?“ ucap Nugraha sekaligus bertanya. Hubungan Chris dan Daffin terlihat membaik, dan Nugraha baru saja berkesempatan bertanya langsung kepada Chris. Chris menatap Olivia sebentar lalu menatap Nugraha. “Iya om, tapi untuk sementara nggak bisa go public dulu. Jadi, harus sembunyi-sembunyi.“ sahut Chris.


“Kamu ke atas aja deh. Tante takut ada yang ngamuk ntar. Kamu ganti baju trus istirahat aja. Nanti tante anterin makanan ke kamar.“ ucap Olivia. Chris pun permisi ke atas ke kamar Daffin. Chris pun memutar knop pintu kamar Daffin. Dan Daffin pun langsung berhambur di pelukan Chris sampai-sampai membuat Chris mundur beberapa langkah. “Daffin~ Ini mas baru dateng ya ampun,“ seru Chris. Daffin pun mengecup pipi Chris lalu melonggarkan pelukannya. Ia ambil dua kantong plastik besar di tangan Chris.


“Baju kamu udah aku rapiin di lemari,“ ucap Daffin. Ia pun duduk lesehan di lantai beralaskan karpet bulu. Hm? Benarkah?, batin Chris. “Mas mau mandi dulu, lengket,“ ucap Chris. Chris pun melangkahkan kaki ke kamar mandi. Saat ia hendak menggosok gigi, Chris memencet-mencet pasta gigi itu berulang kali. Namun, isinya tidak keluar sama sekali, karna ternyata pasta giginya telah habis. “Daff? Ini pasta giginya abis. Tolong bawain mas yang baru dong?“ seru Chris dari dalam kamar mandi.


Daffin menepuk jidat sendiri. Ia lupa kalau pasta gigi di kamar mandi memang telah habis. “Tunggu bentar mas!“ sahut Daffin. Ia pun langsung melesat keluar menuruni anak tangga. “Ma ma ma ma ma pasta gigi dimana?“ tanya Daffin terlihat buru-buru. “Di lemari biasa Daff. Kenapa emang?“ sahut Olivia sekaligus bertanya. Daffin pun langsung mengambil pasta gigi di lemari bagian bawah dapur. “Pasta gigi di kamar mandi abis. Mas Chris lagi mandi soalnya,“ sahut Daffin. Ia pun berlari ke atas. “Hati-hati Daff ya ampun itu anak,“ tegur Olivia.


Chris duduk di samping Daffin dengan handuk melingkar di pinggul. “Bajuan dulu napa mas,“ ucap Daffin protes. Uh, sial, aroma tubuh Chris menguar sampai ke indera penciuman, batin Daffin. Chris memperhatikan Daffin dengan sebelah alis terangkat. Mata Chris menyipit. Ia menangkap sesuatu yang aneh pada diri Daffin.


Daffin terlihat gelisah. Dia juga menghindari tatapan Chris. Kenapa?, batin Chris. Chris pun mencoba merapatkan tubuhnya ke Daffin. Kita lihat bagaimana reaksi Daffin. Hehehe, batin Chris tersenyum jahat. Sial! Oh tuhan, kenapa mencium aroma tubuh Chris saja membuat aku agak sedikit bergairah?, batin Daffin semakin gelisah. “Loh? Yogurtnya kemana?“ gumam Daffin mencari-cari keberadaan yogurt kesukaannya itu di dalam plastik, namun nihil tidak ada sama sekali.


“Yogurtnya mana mas? Kok nggak ada?“ tanya Daffin. Chris diam sebentar lalu ia pun tersenyum dengan wajah tanpa dosanya itu. “Lupa,“ sahut Chris. “Uhm, tapi mas pun ga yogurt yang lain kok. Mau nggak?“ ucap Chris. Daffin pun menatap Chris dengan tatapan curiga. “Beneran ini~ Coba kamu merem dulu deh,“ ucap Chris berakting semeyakinkan mungkin. Daffin memutar bola mata malas lalu memejamkan mata.


Chris pun berdiri di hadapan Daffin. “Buka,“ seru Chris meminta Daffin segera membukakan mata. Dan betapa terkejutnya Daffin sampai ia menelan ludah dengan kasar. Saat ia melihat milik Chris yang setengah menegang itu bergelantungan dengan indah. Gi-gila! Gila! Ge-gede banget!, batin Daffin. Daffin membeku. Namun, Chris terus saja menggoda Daffin dengan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, sehingga membuat benda panjang itu ikut bergoyang-goyang.


“Ma-mas Chris, mi-minggir dong, a-aku nggak bisa liat komputer,“ ucap Daffin gugup. Sial! Gue ampe salah tingkah!, batin Daffin. “Emut dulu, Daff.“ ucap Chris. “Ha-hah? E-****?“ gumam Daffin mendadak kagok. Oh tuhan, apa Chris ini sudah gila atau bagaimana? “Cepetan~ Dijamin bersih kok~ Kan mas baru mandi??“ goda Chris. Huh, kesabaran Daffin benar-benar diuji kali ini. Baru satu bulanan ini hubungan Chris dan Daffin membaik setelah berpisah kurang lebih setengah tahun. Dan dalam periode itu baik Chris ataupun Daffin sama sekali belum melepaskan hasrat masing-masing, yang dimana Chris lah sebagai pihak yang menusuk.


“Cepetan Daffin~ Ato mas yang ngemut punya kamu?“ seru Chris memberikan Daffin pilihan. Uh, dasar Chris, batin Daffin. Daffin menelan ludah, lalu ia pegang milik Chris itu dan mengarahkannya ke mulut. Baru masuk setengah saja, Daffin sudah hampir tersedak. Chris menyeringai dan ia pun langsung mendorong pinggulnya hingga miliknya meledak masuk sepenuhnya di dalam rongga mulut Daffin. “Ummhhh aahhhh,“ gumam Chris. Emutan Daffin sungguh nikmat, batin Chris.


Setelah puas Chris pun menarik miliknya keluar. Daffin sampai terbatuk-batuk. “Nungging,“ seru Chris. “Lu gila?!“ seru Daffin tidak terima. Keluarlah sudah bahasa elu gue dari bibir Daffin. “Mulutnya Daffin~ Cepetan! Kamu mau mas yang bantu kamu nungging, hah? Lebih sakit lagi loh?“ ancam Chris. Daffin mendesis kesal. Ia pun menungging seperti yang Chris inginkan. “Celananya lepas,“ ucap Chris. Daffin pun menghela nafas. Ia pun melepas celana ogah-ogahan. Dasar mesum, batin Daffin.

__ADS_1


Chris kecup dua labu itu sambil memejamkan mata. Sungguh Chris rindu untuk kembali menikmati lubang ini. Chris sudah terlalu banyak menahan diri. Malam ini Chris harus melepaskan semua hasrat dalam diri. Chris memejamkan mata, namun bibirnya terus bergerak menciumi punggung Daffin. “Ummh,“ gumam Daffin saat Chris menciumi punggungnya sambil memelintir dua biji kacang itu. Daffin menoleh ke samping. Bibir keduanya pun saling bertemu.


“Ji! Ji! Setiaji!“ seru Halim mengejar Setiaji yang langsung keluar dari kafe. Setiaji marah. Ia memutar bola mata malas. “Stop Lim! Jangan ngejer gue.“ ucap Setiaji ketus. Setiaji pun melangkahkan kaki dengan cepat. Ia malas untuk sekedar berdebat dengan Halim. Setiaji marah bukan tanpa alasan. Halim pun meraih pergelangan tangan Setiaji. Kedua mata Setiaji memerah. Mungkin dia sedang menahan tangis, batin Halim.


“Gue nggak buta, Lim. Masa lu cuman diem doang pas dia mepet-mepet sama lu? Lu juga kek nikmatin banget pas balon dia nyentuh lengan lu. Gue nggak buta, Lim. Gue nggak buta!“


“Ji.. Plis lah dia cuman temen gue.. Gue care ama dia karna dia temen gue.. Srius.. Gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia, Ji.“


“Tapi, kenapa lu nggak ngasih jarak, hah? Lu geser kek apa kek kan bisa?“


“Huft,“ Halim menghela nafas. “Gue bilang dia temen gue. Kalo gue ngasih jarak, dia pasti mikir gue risih, dan gue bakalan makin ngerasa nggak enak sama dia, Ji. Plis. Gue cuman sayang sama lu, hm? Percaya akan gue, Ji.“


“Lepasin tangan gue,“ seru Setiaji. Halim geleng-geleng kepala. Ia sama sekali tidak ingin melepaskan tangan Setiaji. Kalau Halim lepas begitu saja, mungkin Setiaji akan lari. “Cukup Lim!“ seru Setiaji menarik tangannya dari Halim hingga terlepas dengan kasar. Sejurus kemudian Halim pun mengejar Setiaji, lalu ia dekap tubuh Setiaji dengan erat.


“Maaf,“ seru Halim. Setiaji berusaha berontak. Namun, Halim mendekapnya terlalu erat sehingga membuat Setiaji tidak bisa lepas dengan mudah. “Udah Lim. Cukup. Diliatin orang~“ seru Setiaji. Halim tidak peduli dengan banyaknya pasang mata yang menatap aneh kepada keduanya. “Nggak Ji. Gue nggak bakalan lepasin sebelum lu maafin gue.“ ucap Halim. Setiaji melihat sekeliling. Uh, tatapan orang-orang itu sungguh tidak mengenakan, batin Setiaji. “Udah~ Lepasin Lim~ Iya iya gue maafin,“ ucap Setiaji.


“Beneran?“ tanya Halim memastikan sekali lagi. Barangkali ia salah dengar. “Gue cium yah?“ ucap Halim berdiri di hadapan Setiaji. “Lu-lu jangan gila deh Lim. Ini tempat umum. Masa lu mau nyium gue disini?“ ucap Setiaji dengan kedua alis saling bertautan. “Dikiiiiiit aja yah? Yah? Yah yah?“ pinta Halim memohon dengan amat sangat. Uh, Setiaji jadi serba salah. Seharusnya lebih baik ia tidak usah memaafkan Halim tadi. Kalau sudah begini Setiaji pun juga ikut malu. Uh, dasar Halim brengsek, batin Setiaji.


Setiaji diam. Ia tidak mengiyakan ataupun mengindahkan. Namun, bukan Halim namanya jikalau dirinya menyerah begitu saja. Halim pun meraih pinggul Setiaji. Lalu, ia kecup bibir itu lalu menggerak-gerakan bibirnya dengan pelan dan lembut. Semua orang yang berlalu-lalang disitu tercengang melihat pemandangan tak terduga itu. Halim benar-benar sudah gila, batin Setiaji.


Gilang turun dari mobil sambil mulut menguap dengan lebar. Ia dan James harus menemui klien penting. Itu lah mengapa ia dan James baru tiba di rumah pukul 10 malam. Miris sekali, bukan? James mengunci mobil terlebih dahulu. Baru masuk ke dalam bersama Gilang. “Ngantuk banget ya Gilang?“ seru James. Gilang diam saja. Ia tidak menyahut sama sekali. Huh, andai kalian tau, bagaimana James berusaha untuk ekstra sabar menghadapi Gilang yang super duper cuek itu. Kalian pasti akan mengelus dada dan geleng-geleng kepala. Seperti saat ini misalnya, James cuma bertanya apakah Gilang sudah sangat mengantuk? Tapi, apa? Gilang sama sekali tidak menyahut sepatah katapun.


“Kalo ampe tuh orang nggak deal sama kontrak yang kita ajuin. Kita blacklist aja sekalian Jim.“ ucap Gilang terlihat kesal. Bisa juga Gilang selesai itu gara-gara seorang klien?, batin James. Gilang pun duduk di atas sofa. Uh, lelah sekali, batin Gilang sambil bersender dan memjamkan mata.


“Mandi dulu sana,“ seru James sambil menendang-nendang kaki Gilang pelan. Ia pun duduk di samping Gilang. “Nanti aja lah. Capek banget tau.“ ucap Gilang sebal. Gilang Gilang, batin James geleng-geleng kepala. “Cepetan mandi. Kita belum salat isya, Gilang~“ ucap James lagi. Huh, mau tidak mau Gilang pun harus segera membersihkan diri di kamar mandi. Padahal bisa dibilang Gilang lelah dan seluruh badan pegal-pegal bukan main.


Selesai membersihkan diri, Gilang dan James salat isya bersama, yang dimana James lah yang menjadi imam. Selesai salat Gilang pun menciun tangan James. Hal ini telah menjadi kebiasaan Gilang mencium tangan James tiap sehabis salat sejak hubungan keduanya mulai membaik saat itu. James pun mengecup kening Gilang. Sajadah sudah dirapikan. Hm, tinggal makan malam saja yang belum, batin Gilang. “Jim,“ seru Gilang. “Hm?“ sahut James sambil melepaskan peci dari kepala. Lalu, menaruhnya di atas lemari. “Laper,“ ucap Gilang. James pun terkekeh. “Iya iya nanti saya masakin~“ sahut James.


.


.


.

__ADS_1


COY baru up kalo udah nyampe 1K likes! Dan GKTG up sampai 50 chapter dan nunggu 2K likes di chapter ke 50! Kalo kagak nyampe pending ye 😎


__ADS_2