GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 35


__ADS_3

Chris dan Daffin memutuskan untuk menyembunyikan hubungan keduanya dari public untuk sementara. Sampai Daffin selesai syuting dan film itu ditayangkan secara serentak di bioskop—juga sampai kontrak kerja Daffin selesai beberapa bulan lagi. Daffin sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Ia mengenakan kupluk, kacamata, dan masker serba hitam. Dugaan Daffin benar, pasti para wartawan yang haus akan berita itu bergerombol menunggu dirinya di luar rumah sakit. Tapi, siapa sangka? Daffin malah keluar dari rumah sakit ini lewat jalan rahasia, yang memang khusus disediakan untuk pasien VVIP.


“Mas,“ seru Daffin. “Beliin aku makanan dong, laper, tapi buat dimakan di rumah aja.“ ucap Daffin. “Kamu mau makan apa?“ tanya Chris. “Geprek Bensu sama Blenger Burger.“ sahut Daffin. Chris menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Daffin itu baru saja keluar dari rumah sakit. Seharusnya dia makan makanan ringan dan sehat dulu untuk beberapa hari ke depan. Bukannya malah makan makanan berat.


Daffin sama sekali tidak mendengar Chris bersuara. Dilihat dari raut muka, Chris, sepertinya dia marah, batin Daffin. Hah, Daffin menghela nafas. Sudahlah, Daffin juga sedang tidak ingin berdebat. Lebih baik Daffin diam saja. Lagian gue cuma mau makan itu, masa nggak dibolehin sih, cerutu Daffin dalam hati.


Tiba di apartemen. Chris membantu Daffin duduk di kursi roda. Chris ingin Daffin tinggal di apartemen Chris untuk sementara sampai Daffin sembuh total. “Inget, kamu nggak boleh makan luaran dulu. Biar mas yang masakin,“ ucap Chris. Daffin memberengut kesal. Lagian makan-makanan luar tidak akan membuat kesehatan Daffin sampai seburuk itu. Cih! Daffin berdecih kesal. Chris terlihat lebih protektif dari biasanya.


Di dapur Chris memasak Sup Ayam untuk Daffin—juga segelas madu hangat. Chris ingin Daffin cepat sembuh, apapun itu, pasti akan Chris lakukan. Dari dapur Chris melihat pujaan hatinya itu tengah menonton televisi. Kalau dari suara yang Chris dengar, itu seperti acara lawak. Tapi, Daffin sama sekali tidak tertawa, apa lagi tersenyum. Itu anak nonton lawak tapi mukanya malah datar gitu, gumam Chris.


“Daffin? Sini makan dulu, biar mas suapin,“ seru Chris. Daffin mengacuhkan Chris. Enak saja dia mau memberi aku makan makanan hambar seperti itu?, batin Daffin. “Daffin sayang?“ seru Chris. “Mas, aku itu mau Geprek Bensu sama Blenger Burger, bukan sup itu, Mas~“ ucap Daffin protes dengan kedua alis saling bertautan. Hah, sepertinya kali ini Chris harus sedikit mengalah dari tuan puteri.


“Iya iya, nanti mas orderin. Tapi, makan ini dulu, ya?“ ucap Chris lemah lembut sambil tersenyum. Chris usap pucuk kepala Daffin, karna Chris tidak ingin suasana hati Daffin semakin memburuk. Kalian tau? Hati yang senang dan bahagia akan membantu pemulihan Daffin sedikit lebih cepat? “Hm,“ sahut Daffin dengan deheman saja sambil menganggukkan kepala pelan.


“Ini satu buat mas, silahkan diambil mas,“ ucap Chris saat ia menerima pesanan dari go food. Chris pun memberikan satu kotak Geprek Bensu. “Terima kasih banyak mas,“ ucap si go food itu berterima kasih. “Sama-sama mas, saya juga terima kasih banget,“ ucap Chris menutup pintu. Ia pun ke dalam menyusul Daffin. Lihatlah bagaimana kedua mata Daffin seketika langsung berbinar bahagia. “Sini sini mas cepetan mas, aku laper~“ seru Daffin manja sambil memainkan tangannya ingin mengambil bungkusan plastik itu dari tangan Chris. “Sabar napa Daff,“ ucap Chris.


“Uuuuuuu mantaaappppp,“ ucap Daffin senang sekali saat ia membuka dua kotak berisi makanan yang diinginkannya tadi. “Perasaan kamu tadi udah makan sepiring? Masih mau makan lagi? Yakin abis nih?“ cerca Chris menggoda Daffin. “Iya dong~ Mas nggak tau sih aku tuh kesiksa banget beberapa hari ini nggak bisa makan enak.“ sahut Daffin sambil menyantap makanannya. “Maknyuuusss mas mau?“ tanya Daffin. “Makan aja, mas nunggu sisa kamu aja Daffin.“ sahut Chris. “Pelan-pelan nanti keselek,“ ucap Chris memperingatkan.


Sambil menunggu jam kuliah tiba, Juan bersantai-santai sendirian di Trafique Coffee, Senayan. Sambil mengerjakan tugas kuliah, Juan sambil menikmati secangkir Oreo Trappucino seharga 47rb rupiah. Tiba-tiba hp Juan berdering. Dari Yoga. “Halo mas?“ seru Juan sambil ketak-ketik. “Kamu sekarang lagi dimana?“ tanya Yoga dari seberang sana. “Lagi di Trafique Coffee,“ sahut Juan.


“Jangan kemana-mana, mas mau kesitu,“ ucap Yoga langsung memutuskan sambungan telepon tanpa berpamitan terlebih dahulu. Hm, dasar Mas Yoga, kebiasaan deh, batin Juan. “Siang sayang,“ seru Yoga tersenyum sumringah. Lalu, Yoga kecup pipi Juan sekilas. “Nggak kerja mas?“ tanya Juan penasaran. Ini masih jam 10 lebih 20 menit. Padahal belum masuk waktu makan siang. Tapi, mengapa Yoga malah kesini dan bukannya di kantor?


“Kamu nggak suka mas kesini?“ tanya Yoga terdengar sedikit ketus. Dia sangat posesif sekali. “Bukan gitu maksud aku mas. Ini kan masih jam kerja mas, jadi aku penasaran aja kok mas bisa kesini? Bukannya di kantor? Gitu~“ sahut Juan. “Lagi bosen aja,“ ucap Yoga. Lagian dia adalah bos di kantor sendiri. Sudah pasti wajar-wajar saja kalau Yoga ingin jalan-jalan keluar di jam kerja sekalipun.


“Mas mau pesen sesuatu nggak? Biar sekalian makan siang aja,“ ucap Juan. “Mas mau kamu~“ goda Yoga tersenyum. “Iya nanti~“ ucap Juan mengerti maksud terselubung akan perkataan Yoga barusan. Huh, kalau ada maunya saja, pasti Yoga jadi manja sekali. “Dasar suami nggak tau diri!“ seru seorang wanita dewasa yang mengenakan kulot putih serta atasan renda yang dimasukkan ke dalam. Dia mendorong Yoga sampai tersungkur ke lantai.


Juan otomatis langsung membantu Yoga bangkit. Lilis, istri Yoga, dia terlihat sangat marah. Kenapa?, batin Juan. “Oh~ Jadi, kamu ninggalin aku istri kamu demi pacar cowok kamu ini, hah?!“ ucap Lilis berapi-api. Kontan Juan dan Yoga pun menjadi pusat perhatian. Semua orang di Coffee ini mengerumuni. Beberapa orang juga langsung menyalakan kamera masing-masing. Tentunya untuk merekam aksi labrak yang dilakukan oleh Lilis.


“Jaga bicara kamu Lilis.“ seru Yoga. Lilis sungguh tidak pantas berbicara seperti itu. Juan melihat keadaan dulu. Kalau sudah tidak bisa terkendali, baru ia akan menengahi. “Mas, aku itu kurang apa, hah? Ampe kamu pacaran sa-sama cowok? Yang bener mas? Jadi, jadi sekarang kamu nggak normal mas?“ cerca Lilis membuat Yoga tertohok. Pedas sekali mulut wanita ini, batin Juan.

__ADS_1


“Jangan kamu pikir aku nggak tau Lilis. Kamu juga selingkuh!“


“Aku? Selingkuh? Mas, aku itu kerja, kerjaaaa! Ngerti kerja, kan?“


Dalam hati Yoga ingin sekali membalas semua kata-kata Lilis. Tapi, Yoga sadar, mereka masih berada di tempat umum. Selain tidak sopan, ini juga amat sangat memalukan. Beberapa saat kemudian Juan pun mulai unjuk gigi. Juan juga tidak ingin orang lain menjadi salah faham, dan mencapai Juan sebagai perebut suami orang. “Ini bukti-bukti perselingkuhan yang Bu Lilis lakuin.“ ucap Juan menunjukkan foto-foto Lilis yang tengah asyik jalan-jalan dengan pria-pria berdompet tebal.


Mata Lilis membola. Darimana Juan mendapatkan semua foto-foto itu? Hah? Jangan sampai foto-foto itu terekspos ke sosial media. Duh, kemana Lilis harus menaruh muka? Dia sudah sangat malu sekali. Sebelum Lilis benar-benar dipermalukan, lebih baik Lilis sekalian menjambak dua pria brengsek di hadapannya kini.


“KALIAN BERDUUUAAAAAAA HYYAAAAAAAAA!!!“ teriak Lilis. Juan terkejut bukan main saat Lilis langsung menyerang dirinya dengan menjambak rambut Juan kuat-kuat. Yoga mencoba untuk menengahi, namun naas, Yoga juga menjadi korban kekejaman Lilis. Beberapa orang yang berniat membantu pun juga jadi sasaran amukan Lilis, si ular betina.


Juan dan Yoga terduduk lesu dengan rambut acak-acakan. Lilis sudah diamankan di kantor polisi. Trafique Coffee seketika menjadi berantakan sana dan sini. “Saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas insiden tadi mas. Saya siap tanggung jawab atas kerugian coffee ini berapapun.“ ucap Juan. Sepertinya Juan harus libur kuliah hari ini. Hah, ada-ada saja, batin Juan.


Di rumah, Juan membantu mengobati luka di pipi, atas mata, dan sudut bibir Yoga. Semua ini karna ulah Lilis, si ulah betina satu itu. “Maaf,“ cicit Yoga pelan. Dalam hati Yoga merasa amat sangat bersalah kepada Juan. Juan ikut menjadi korban amukan Lilis. Juan tersenyum tipis. Dari sorot mata Yoga, Juan tau, jikalau Yoga saat ini sedang merasa amat sangat bersalah. Di balik sikap posesif yang Yoga miliki, Yoga juga merupakan seseorang yang mudah tidak enak hati ke orang lain.


“Mas janji bakalan selesein semua masalah ini secepatnya Juan,“ ucap Yoga meyakinkan Juan. “Hm,“ sahut Juan tersenyum tipis. Juan pun meraih leher Yoga dengan tangan kirinya. Juan benamkan wajahnya di leher Yoga. Lalu, ia cium leher itu dengan lembut. “Mmhhh,“ gumam Yoga otomatis memejamkan mata. Yoga pun melingkarkan tangannya di punggung Juan melalui sela-sela ketiak. Tanpa ia sadari kini ia pun telentang di atas sofa. Malam ini Juan lah yang berada di atas. “Mas,“ seru Juan. Yoga pun menatap Juan dengan tatapan penuh gairah. “Mulai hari ini, mulai malem ini, dan sampai seterusnya. Aku, Juan, pengen di atas kamu seutuhnya mas.“ ucap Juan. Ini sangat mendadak sekali, batin Yoga. Juan ingin menjadi pemeran pria seutuhnya? Itu artinya Yoga tidak bisa lagi menikmati lubang itu. Ini pilihan yang sangat sulit.


Bibir Yoga terasa kelu. Juan tau ini sangat mendadak, dan pasti ini adalah keputusan yang sangat sulit bagi Yoga. Sungguh Juan ingin menjadi seorang pria yang seutuhnya untuk Yoga. Biarkan Juan yang menjaga Yoga sampai nanti, kapanpun dan dimana pun. “Jawab aku mas,“ seru Juan kembali mencium hingga menjilati leher Yoga. “Mmmhh Ju-ju-aahnn,“ gumam Yoga. “Kalo kamu nggak jawab, aku bakalan cium leher kamu terus ampe kamu lemes mas.“ ucap Juan.


Yoga pun meraih leher Juan supaya bibir keduanya saling bertemu. Malam ini adalah malam terindah. Suara Yoga yang melenguh kenikmatan itu pun menggema di seluruh ruangan. “La-lagiiihhh aaahhhhh,“ gumam Yoga meminta Juan untuk merojok bagian ternikmat di dalam sana lagi dan lagi.


James merasa beruntung sekali memiliki mertua sepengertian Gavin, karna Gavin memberi izin kepada Gilang supaya bekerja bersama James saja. Entah itu membantu di kantor atau menemani dinas ke luar kota. “Masih lama Jim?“ tanya Gilang. Saat ini keduanya sedang melakukan penerbangan dari Jakarta ke Surabaya. “Masih 1 jam lagi. Tiduran aja di pundak saya, Gilang.“ sahut James.


Uh, kenapa mata ini sama sekali tidak bisa diajak kompromi?, batin Gilang. Sungguh Gilang mengantuk teramat sangat. Gilang pun tiduran di pundak James. Perlahan-lahan Gilang pun terlelap. James menoleh. Ia tatap sangat istri lamat-lamat. Si batu ini, batin James. Gilang itu sangat keras kepala. Dia juga sering berbicara ketus. Tapi, akan ada saat dimana ia manja dengan caranya sendiri ke James. Manja dengan berkedok keras kepala? Hm, itulah Gilang.


Tiba di Bandara Juanda. Gilang langsung mengenakan kacamata hitam kekinian. Jujur saja tidur kurang lebih satu jam di pesawat membuat kedua mata Gilang sedikit membengkak. Mungkin nyawa Gilang masih belum terkumpul sepenuhnya, karna tadi Gilang sempat oleng sedikit. Untung saja James dengan sigap meraih pinggul Gilang. “Kita langsung ke hotel aja. Hari ini full istirahat dulu. Ngomong-ngomong kamu kenapa keliatan ngantuk banget gitu sih sayang? Hm? Nggak biasanya?“ ucap James sekaligus bertanya.


Gilang mendadak salah tingkah, lalu menjauhkan diri sedikit dari James. “Aku bisa jalan sendiri,“ ucap Gilang. Gila! Gimana cara aku kasih tau James coba? Kalau kemarin malam sebenarnya.. “Gilang?“ seru James. “Hah?“ sahut Gilang dan lamunannya pun buyar seketika. “Cepetan Jim, aku mau istirahat,“ ucap Gilang gugup. Gilang tidak ingin James menginterogasinya lebih dalam lagi.


Saat Gilang tertidur pulas di hotel, James baru saja keluar dari kamar mandi. James merasa Gilang seperti menyembunyikan sesuatu. Itu dia, batin James, saat ia lihat hp milik Gilang ada di atas nakas. Jangan-jangan ada sesuatu disana?, batin James menduga-duga. Jangan bilang kalau Gilang mendekati pria lain selain James? Sebelum James memeriksa total hp Gilang, ia memastikan terlebih dahulu apakah Gilang benar-benar sudah terlelap atau belum. Aman, batinnya.

__ADS_1


James lihat riwayat chat di beberapa aplikasi. Semua seputar pekerjaan dan bisnis saja. Hm, trus apa lagi, ya?, batin James. James pun iseng membuka aplikasi youtube dan seketika kedua mata James pun membola. “Posisi aaa yang enak, tips supaya tahan lama, tips supaya tahan beronde-ronde, tips sehat hubungan antarsesama pria.“ begitulah isi di dalam kolom pencarian youtube milik Gilang. Uh, untuk apa Gilang menonton konten-konten seperti ini? Bukankah praktek langsung itu lebih baik? Gilang Gilang, batin James geleng-geleng kepala.


Biar tunggu sampai Gilang bangun saja, baru James interogasi. James bersender di ranjang, tepat di samping Gilang, sambil mengurus beberapa pekerjaan dari laptop. Bahkan, Gilang tidur dengan masih mengenakan pakaian sewaktu di perjalanan tadi. “Hmph,“ gumam Gilang menggeliat. Lalu, tangannya otomatis memeluk pinggul James dan membenamkan wajahnya disana. “Gilang? Sayang? Bangun..“ seru James pelan dan lemah lembut.


Gilang masih belum bergeming. “Ini udah sore Gilang, mandi dulu,“ ucap James. Huh, si batu ini lagi-lagi berulah. James letakkan sebentar laptop itu di atas nakas. James kecup pucuk kepala Gilang lalu mengusapnya pelan. “Bangun~ Nggak baik tidur sore sayang~ Hm? Bangun ya?“ seru James. Gilang malah mendusel-duselkan kepalanya di perut James. “Nanti..“ gumam Gilang serak.


“Bangun, nanti kepala kamu pusing,“ ucap James lalu kembali mengecup pucuk kepala serta kening. Gilang pun mendongak sedikit. “Jahat kamu Jim.“ ucap Gilang protes dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Ia pun langsung bangun dan duduk seperti biasa. Namun, ia kembali merebahkan kepalanya di paha James. “Ngantuk Jim~“ ucap Gilang.


“Kamu ngantuk gara-gara tadi malem streaming begituan?“ celetuk James. Tubuh Gilang pun menegang. Ia duduk dengan posisi tubuh sangat tegap sekali—juga kedua mata yang membola sempurna. Darimana James tau semua itu? “Jadi, bener?“ tanya James. Lagi-lagi Gilang diam seribu bahasa. Duh, gimana nih?, batin Gilang menelan ludah susah payah. Gilang pun tersenyum garing. Hah, James menghela nafas. “Kita udah sering praktek masa kamu musti browsing yang begituan sih? Mau lebih lama lagi apa gimana?“ ucap James membuat Gilang tertohok. “Tau ah Jim! Kamu rese banget!“ sahut Gilang salah tingkah. Gilang pun langsung melesat ke kamar mandi. Ia tidak ingin James semakin memojokkan dirinya. Cukup sampai disini saja. Uh, memalukan sekali, batin Gilang.


Daru jalan-jalan sendiri di sekitaran Pecenongan, salah satu surga kuliner di Jakarta. Jalan-jalan di Pecenongan saja, Daru mengenakan outfit supermodel. Daru mengenakan kemeja motif garis-garis kecil biru putih, celana hitam yang sedikit ketat di atas mata kaki, anting clip rantai di sebelah kiri, dan anting jepit bentuk ring kecil-kecil di daun telinga bagian atas dan bawah.


“Sate padang 10 tusuk ya bang,“ ucap Daru kepada si penjual. Sambil menunggu pesanan siap, Daru sambil bermain dengan ponsel pintar miliknya. Di samping Daru ada seorang pria yang juga sama-sama memesan sate padang sepuluh tusuk. Pria itu menoleh dan melihat penampilan Daru dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Berandal?“ batin pria itu geleng-geleng kepala saat melihat kedua telinga Daru terdapat anting-antingan.


“Ini pesenennya mas,“ seru si penjual. Daru pun memberikan uang bayaran lalu pergi setelah mengucapkan terima kasih sebelumnya. Daru tidak lantas langsung pulang begitu saja. Dia jalan-jalan dulu, barangkali ada makanan-makanan enak dan menggugah selera. Pria itu mengikuti Daru dari belakang tanpa Daru sadari. Pria itu persis seperti penguntit saja, karna mengikuti Daru kemanapun Daru melangkah.


Daru pun singgah di sebuah kedai yang menjual bakso iga sapi. Hm, aromanya saja sangat menusuk penciuman, pasti bakso iga sapi disini lezat sekali, batin Daru. “2 bungkus ya bang, cabenya yang banyak,“ ucap Daru. Pria yang mengikuti Daru tadi juga ikut memesan beberapa bungkus bakso. Bagaimana bisa Daru masih belum curiga? Dia bahkan sama sekali tidak menoleh. Tidakkah Daru mengenali suara pria itu? Yang sebelumnya berada di sebelahnya saat akan memesan sate padang? Kalau dia seorang pencopet bagaimana?


Daru pun tidak sengaja menoleh ke samping. Kedua mata Daru langsung terbuka lebar serasa ingin keluar dari tempatnya. Pria itu pun juga menoleh. Daru dan pria itu saling bertatapan beberapa saat. Sial!, batin Daru. “Ini uangnya mas, makasih,“ ucap Daru. Setelah itu ia pun melangkahkan kakinya dengan cepat. Terlihat buru-buru menang. Ya, Daru tidak ingin berurusan dengan pria brengsek itu lagi. Huh, kenapa dia malah muncul disini sih?, batin Daru heran.


“Daru!“ seru pria itu membuat bulu kuduk Daru meremang saja. Daru mempercepat langkah kakinya sampai setengah berlari. “Daru!“ seru pria itu lagi. “Brengsek,“ gumam Daru kesal. Saat Daru menyentuh pagar rumah, pria itu dengan sigap meraih pergelangan tangan Daru. “Sombong banget ya sekarang?“ ucap pria itu sarkasme. “Lepasin,“ ucap Daru ketus.


“Eh? Djaka? Kamu kapan ke Jakarta?“ seru Idah, ibu Daru. Sial! Kenapa ibu Daru harus menyapa si brengsek ini?, batin Daru. “Baru satu mingguan ini tante, soalnya saya dipindahtugaskan disini,“ sahut Djaka. Daru sudah berwajah masam. “Daru! Daru! Eh itu anak dasar,“ seru Idah saat melihat Daru masuk ke dalam begitu saja tanpa permisi. Sekilas mengenai Djaka, dia adalah saudara kandung dari kakak ipar Idah di Bali. Sedari dulu Daru dan Djaka memang tidak pernah akur, karna Djaka selalu usil kepada Daru, dan membuat Daru membenci Djaka melebihi luasnya bumi dan lautan. Djaka pun tersenyum lalu berpamitan pulang. Makanan di tangannya saat ini tidak bisa dibiarkan lama-lama begitu saja. Itulah alasan mengapa Djaka tidak bisa bertamu di rumah Daru sore ini.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan favorit di judul lainnya ya! COME BACK HOME [BL], CRUSH ON YOU [BL], LION HEART [BL] & ARES [BL] terima kasih banyak sudah membaca karya amatir gue!!!


__ADS_2