
Daffin mengulurkan tangan ke belakang. Ia ingin mencoba menjambak rambut Chris. Namun, sejurus kemudian Chris pun langsung menggenggam tangan itu. “Chrihs..“ gumam Daffin tidak tertahankan lagi. Sentuhan Chris benar-benar membuat Daffin menggila, menggelinjang seperti cacing kepanasan, dan melenguh tanpa henti saat bibir itu terus-menerus menstimulasi leher serta kuping.
Chris turunkan celana itu hingga dua labu nan mulus dan montok itu terlihat. Chris kecup sekilas. Lalu, ia masukkan perlahan jari telunjuk dan tengah ke dalam lubang itu—serta ia lakukan dengan gerakan memutar dan mencoba menyentuh sesuatu di dalam sana. “Uh uh ahhhhh,“ gumam Daffin. Kontan Daffin pun mendongakkan kepala dengan bibir terbuka lebar melolong kenikmatan tanpa henti, dan bahkan meminta Chris untuk merojok bagian itu lagi dan lagi.
Puas dengan jari-jemari. Chris pun membasahi lubang itu dengan air liurnya. Ia jilati sampai benar-benar basah. Bahkan, lidah Chris juga menari-nari di dalam sana. Sensasi ini membuat tubuh Daffin blingsatan tidak karuan. Si kecil Daffin juga mulai menegang sempurna. Ini sungguh gila. “Mahs ahhhhh,“ gumam Daffin. Sambil Chris arahkan si kecil ke lubang itu, ia juga sambil memutar wajah Daffin sedikit, lalu ia cium bibir Daffin penuh nafsu. “Hmph!“ gumam Daffin saat Chris mendorong pinggulnya hingga membuat si kecil melesak masuk sepenuhnya. Namun, suara-suara lenguhan itu tertahankan oleh bibir Chris yang terus saja mengulum bibir Daffin.
Kedua tangan Daffin meremas bahu sofa saat Chris mulai memajumundurkan pinggulnya. Sesekali Chris kecup punggung Daffin hingga membenamkan wajahnya di ceruk leher Daffin. “Ah ah ah ah ah maahhhsssss ngh,“ gumam Daffin. Saat ini rambut Daffin sudah berantakan karena dijambak. Wajahnya juga semakin memerah seperti udang rebus. “Mahs mahs ma-uh ke-lu-ahr mahs ngh,“ gumam Daffin. Chris mengurut milik Daffin sambil menggoyangkan pinggulnya. Serangan dari dua arah ini membuat milik Daffin berkedut. “Uh uh aaah ah ah ah ah ah mahs mahs kelu-keluahr aaaahhhhhhhh,“ teriakan panjang itu pun keluar dari bibir Daffin pertanda ia telah menyemburkan cairan kenikmatan itu. Tubuh Daffin bergetar hebat.
Saat benda itu masih terasa sensitif sekali, Chris malah memegangnya dan mengurutnya sambil memajumundurkan pinggulnya hingga Chris pun ingin mencapai puncak kenikmatan. “Uuuhhh Daffihnn sayang aahhhhhhh hhmph sssttt aaaahhh,“ gumam Chris menyemburkan cairan putih itu di dalam. Nafas keduanya terengah-engah. Chris pun menggendong tubuh Daffin ke kamar.
Setelah tidur beberapa saat, Chris pun terbangun. Chris ingin memasak sesuatu. Ia lihat ke samping. Seulas senyum tipis terukir indah di bibir saat ia melihat sang pujaan hati masih tertidur pulas. Chris kecup pucuk kepala Daffin dan turun dari ranjang dengan hati-hati. Di dapur Chris memulai aktivitas masak. Ia membuat Bandeng Pesmol untuk santap malam nanti setelah maghrib. Setelah ikan bandeng didiamkan 15 menit dengan perasaan jeruk nipis dan garam, ikan bandeng pun digoreng setengah matang. Setelah itu Chris pun menumis bawang merah hingga wangi dan bumbu halus lainnya hingga tidak berbau langu.
Samar-samar Daffin mencium aroma harum dari dapur. Uh, gue jadi laper, batin Daffin. Ia pun membuka mata perlahan. Lalu, duduk sebentar di pinggiran ranjang sambil merasuk sandal. Mata Daffin masih sangat mengantuk sekali. Tapi, tidur terlalu lama di sore hari membuat kepala agak pening. Dilihat dari jam dinding sebentar lagi maghrib, batin Daffin. Daffin pun melangkahkan kaki keluar menuju dapur. Disana telah ada sesosok pria yang nampak sibuk memasak. Daffin penasaran kira-kira Chris masak apa, ya?
“Udah bangun?“ tanya Chris. “Hm,“ sahut Daffin malas. Chris terkekeh. Jelas sekali Daffin itu masih mengantuk. Lihat Daffin saja sampai merebahkan kepalanya di atas meja makan. “Cuci muka dulu sana trus sisiran. Itu rambut udah kek sarang singa aja tau nggak?“ ucap Chris. Daffin mencebikkan bibir kesal. “Biarin~“ sahut Daffin terdengar manja. “Duuh sayangnya mas gemesin, ya??“ ucap Chris mengacak-acak rambut Daffin. “Jangan maaas,“ ucap Daffin sebal dengan kedua alis berkerut. Chris ini kadang-kadang mengesalkan juga, karna dirinya terkadang memperlakukan Daffin layaknya anak kecil. Seperti tadi contohnya. Hahaha, Chris malah menertawai Daffin. Daffin pun semakin sebal dibuatnya.
Bandeng Pesmol menjadi santapan malam Chris dan Daffin malam ini. Cita rasa asam asin pedas dan gurih ini membuat siapa saja akan ketagihan. Huh, Daffin saja sudah makan untuk piring kedua. “Mas kok malah milih jadi CEO sih? Emang kerjaan mas di kampus mau dikemanain?“ cetus Daffin penasaran sambil mata ke arah televisi. Chris dan Daffin makan malam lesehan di depan televisi. Tentu saja menggunakan tangan, bukan sendok. “Mau jadi orang kaya, Daff,“ sahut Chris.
“Itu mah cita-cita semua orang kali mas,“ ucap Daffin. “Oh? Gitu? Baru tau mas kalo itu tuh cita-cita semua orang? Wkwkwk,“ ucap Chris. Daffin menatap Chris sebal sambil geleng-geleng kepala. “Ehem, Daff,“ seru Chris. “Kenapa kamu berenti jadi aktor aja?“ ucap Chris. Daffin pun menoleh. “Terserah lah aku mau jadi apa, yang penting ngasilin duit,“ sahut Daffin.
“Bukan gitu maksud mas, Daff~ Ehem, kenapa kamu nggak kerja jadi aktor buat mas aja? Kamu tinggal lepas baju trus telentang di atas ranjang. Per jam mas bayar 50jt deh,“
“Waaaahh,“ gumam Daffin kesal. Ini orang kesambet apa gimana, sih?, batin Daffin. “Jangan ngadi-ngadi,“ ucap Daffin kembali menyantap Bandeng Pesmol bersama nasi putih. “100jt pun mas sanggup loh. Beneran Daff hahahahaha,“ ucap Chris lagi tertawa terbahak-bahak. Ia pun berdiri dan melangkahkan kaki ke dapur mengambil sebotol air dingin di kulkas. “Hadeuh capek deh,“ ucap Daffin geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Juan menemani Yoga hadir di persidangan cerai dengan mantan istrinya, Lilis. Disana juga ada Tia, sang puteri. Tia menatap Juan sinis. Tapi, bukan Juan namanya kalau ia mudah terpengaruh apalagi terintimidasi. Heh, lu pikir gue takut apa lu liatin gue kek gitu?, batin Juan. Tia geram saat Juan malah bersikap biasa-biasa saja. Juan malah tersenyum sambil berbisik-bisik dengan Yoga. Heh, Tia mendengus memutar bola mata malas.
Tia pun menghampiri Juan. Dan satu tamparan pun berhasil mendarat di pipi Juan. “Tia!“ seru Yoga kontan berdiri. Tia sudah keterlaluan, batin Yoga. “Sopan sedikit Tia! Dia lebih tua dari kamu!“ tegur Yoga emosi. “Mas.. Udah mas.. Nggak papa..“ ucap Juan berusaha menenangkan Yoga. Jangan sampai Yoga tersulut emosi di depan umum.
Semua mata memicing ke arah Juan dan Yoga. Juan pun meminta Yoga untuk duduk. “Maaf, Tia. Selesein dulu sidang ini baru kita ngobrol berdua.“ ucap Juan. Itulah salah satu alasan Yoga begitu sangat mencintai dan menyayangi Juan. Dia bahkan mampu bersikap lebih dewasa dari Yoga. Berada di dekat Juan, membuat Yoga benar-benar merasa dijaga dan dihargai. Berbeda dengan saat masih bersama Lilis dulu. Lilis cuma mau tau uang bulanan saja. Bahkan, Lilis jarang berada di rumah. Di belakang Yoga, Lilis berselingkuh, sehingga Yoga pun juga melakukan hal yang sama.
Bagi Yoga untuk apa mempertahankan rumah tangga saat dua sejoli sudah tidak lagi saling mencintai? Dan bercerai adalah jalan terbaik bagi Lilis dan Yoga saat ini. “Duduk Tia! Kamu nggak usah nampar-nampar orang kek gitu. Nanti tangan kamu kotor.“ tegur Lilis, sang ibu. Tia pun duduk di samping Lilis. Jujur saja ingin Tia mencakar wajah Juan itu sampai puas. Tia sungguh tidak tahan jikalau setiap harinya ia harus menelan cacian dan makian dari teman-teman sebayanya di dalam ataupun di luar kantor. Tiap kali berkumpul pasti mereka selalu saja menyindir Tia, yang memiliki seorang ayah cacat penyuka sesama jenis. Huh, Tia emosi.
Selesai sidang Tia kembali menghampiri Juan. Tia belum menyerah jua ingin memaki-maki Juan. “Lu itu sampah! Lu nggak pantes ada di masyarakat, brengsek!“ hardik Tia sambil menunjuk-nunjuk wajah Juan dengan jari telunjuk. Tia terlihat sangat emosi. Hah, Juan menghela nafas. Si Tia ini bodoh atau bagaimana, sih?, batin Juan menatap Tia datar.
“Mas duluan aja ke mobil. Biar aku ngobrol sama Tia disini,“ ucap Juan. Yoga pun berlenggang begitu saja meninggalkan Juan dan Tia disini. “Buka mata lu, Tia. Ibu lu ngehotel sama cowok lain. Tapi, lu malah tutup mata?“ ucap Juan sarkasme. “Perlu gue tunjukin ato gue sebarin foto-foto nyokab lu, hah?!“ ucap Juan menantang Tia. Cih! Digertak sedikit saja membuat nyali Tia menciut. Berani di bibir saja, batin Juan. “Lu?!“ seru Tia marah. “Inget Tia. Lu bakalan lebih malu lagi kalo gue ampe sebarin foto-foto nyokab lu. Jadi, jangan berani-berani neken gue. Lu masih bocil. Nggak pantes berurusan ma orang kek gue. Nggak selevel.“ ucap Juan ketus. Heh, Tia mendengus. Juan pun pergi meninggalkan Tia sendiri di tempat. “Udah Tia udah. Kamu itu malu-maluin mama aja.“ tegur Lilis memegang lengan Tia. Huft, puterinya yang satu ini memang benar-benar.
Di rumah Yoga duduk termenung. Juan ke dapur sebentar mengambil segelas air mineral. Lalu, ia pun duduk di samping Yoga. “Mas.. Minum dulu..“ seru Juan. Dalam hati Yoga merasa sangat bersalah telah melibatkan Juan ke dalam masalah rumah tangganya sendiri. Juan bahkan sampai harus menerima tamparan dari Tia. “Mas? Aku nggak papa.. Kamu nggak usah khawatir..“ ucap Juan sembari menggenggam satu tangan Yoga. Juan tau Yoga saat ini sedang merasa bersalah. Dia tipikal seorang pria yang sangat perasa.
Juan taruh gelas itu di atas meja. Lalu, ia peluk sang kekasih sambil memberi tepukan di punggung. “Senyum dong sayang,“ pinta Juan. Yoga malah ingin menangis. “Jangan nangis ah jelek,“ ucap Juan lagi. Ia pun mengecup kening dan kedua pipi Yoga dengan cepat. “Juan~ Mas lagi serius..“ seru Yoga. “Kalo aku bilang udah udah, ya?“ kali ini suara Juan sedikit lebih tegas. Hm, sesekali sebagai calon suami, aku musti lebih tegas ke calon istri sendiri, batin Juan.
“Mas..“ seru Juan. “Hm?“ sahut Yoga. Sejurus kemudian Juan pun langsung mengangkat tubuh Yoga ke kamar. Yoga berteriak-teriak karna Juan bersikap sangat agresif. “Juan! Stop! Aah! Nggh! Ju-ahn ah! Udah! Ngghhh stoohhhppp aahhh,“ teriak Yoga dari dalam kamar. Entah apa yang dilakukan Juan sampai-sampai membuat Yoga melenguh sekeras itu.
Hardinata memeriksa kulkas di dapur. Serta keperluan dapur yang lain. “Hadeuh belanja lagi gue,“ gumam Hardinata saat ia dapati ada banyak keperluan dapur yang telah habis. Hardinata pun meraih kunci mobil di sofa. Hardinata melajukan mobilnya menuju Pasar Senen. Tiba di pasar ia pun mengenakan masker. Jangan sampai ada orang yang mengenalinya saat ia berkeliling pasar nanti. Mau ditaruh dimana muka ini kalau ada orang yang melihat seorang CEO besar berbelanja di pasar? Nggak bisa bayangin gue, batin Hardinata. Lebih parah lagi kalau sampai masuk artikel. Uh, masalah masalah masalah, batin Hardinata lagi.
Saat Hardinata memilah-milah sayuran segar. Seorang pria yang berdiri di sampingnya mengerling. “Nggak disangka-sangka, ya? CEO belanja di pasar? Ckckck. Kirain di mall?“ seru seseorang sarkasme. Hardinata pun mendelik. “Tristan?“ gumam Hardinata. Sial! Kenapa gue malah ketemu sama makhluk astral disini?, batin Hardinata kesal. “Bu, tolong bawang merah setengah kilo, bawang putih seperempat, sama kentang setengah kilo. Cabe gede sama keriting 5000 ya, bu? Campur aja.“ ucap Tristan sambil memberikan uang 100rban.
Hardinata pun memilih untuk berbelanja di lapak lain. Bersebelahan dengan Tristan membuat Hardinata kesal saja. Tapi, kalau dipikir-pikir bagaimana bisa Tristan tau kalau itu adalah Hardinata? Bukankah Hardinata telah mengenakan masker untuk jaga-jaga? “Anda masih berhutang maaf sama ucapan makasih loh, Pak CEO?“ seru Tristan menyamakan langkahnya dengan si Hardinata itu. Hardinata lebih memilih acuh saja dan melangkahkan kaki dengan cepat. Tiba-tiba Hardinata tidak sengaja bertabrakan dengan orang di pasar. Semua belanjaan Hardinata pun berserakan kemana-mana. Uh, sial banget gue, batin Hardinata menggerutu.
__ADS_1
Tristan berniat membantu. Tapi, Hardinata malah menangkis tangan Tristan dan memintanya pergi dari sini. “Lu nggak tau diri banget, ya!?“ seru Tristan kesal. Tristan sama sekali tidak ada niatan untuk melakukan apapun kepada Hardinata. Dia cuma berniat ingin membantu saja. Tapi, apa yang Hardinata lakukan? Dia malah mengusir Tristan. Hardinata tidak peduli. Tristan sama sekali tidak mengerti mengapa ada manusia seperti Hardinata di muka bumi ini?
Ingin Tristan meninggalkan Hardinata begitu saja. Tapi, Tristan juga tidak tega. Tristan pun membuka bagasi mobil dan mengambil beberapa plastik besar disana. Tristan membantu Hardinata memungut tomat, bawang, serta belanjaan lainnya yang berhamburan disana-sini. Tristan tidak peduli saat Hardinata memicingkan mata tajam ke arahnya. “Nih, belanjaan anda, Pak CEO. Lain kali kalo jadi orang jangan arogan, angkuh, belagu, sok.“ ucap Tristan memberikan barang belanjaan Hardinata dengan kasar. Hardinata mendengus. Tristan pun meninggalkan Hardinata begitu saja. Hah, di dalam mobil Tristan menghela nafas. Bisa-bisanya gue ketemu orang kek gitu, batin Tristan geleng-geleng kepala. Sungguh Tristan tidak habis pikir.
“Gue udah bilang gue bukan temen Daffin. Lu kalo mo minta tanda tangan dia lu ajalah datengin langsung yang bersangkutan. Ngerepotin gue aja lu.“ ucap Daru protes di telepon sambil membuka pagar rumah. Teman perempuan Daru di kampus terus saja mengganggu Daru sepanjang hari. Dia membujuk Daru untuk memintakan tanda tangan Daffin. “Lu kalo kagak mintain tanda tangan, awas lu! Kagak bakal gue bantu lu ngerjain tugas lagi! Cari aja sono temen yang bisa lu minta ngerjain tugas-tugas lu tapi nggak minta bayaran kek gue.“ ucap teman Daru sarkasme.
Sambungan telepon pun terputus saat Daru membuka pintu rumah sendiri. “Assalamu'alaikum,“ Daru mengucapkan salam. “Wa'alaikumussalam,“ sahut seorang pria, kontan membuat kedua alis Daru saling bertautan. Sedangkan suara Idah, ibu Daru, terdengar sangat jauh. Mungkin Idah sedang berada di dapur, batin Daru. Daru pun memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali diiringi helaan nafas berat. “Lu ngapain disini? Nggak ada rumah?“ seru Daru sebal saat melihat Djaka duduk manis di ruang tamu.
“Daru! Ngomong itu yang sopan dong!“ tegur Idah sembari membawa nampan berisi kue dan minuman. “Mama tau siapa dia, kan? Dia udah apain aku dulu waktu kecil mama juga tau, kan? Dia udah bikin aku malu, ma!“ ucap Daru dengan nada tinggi. Daru sungguh tidak terima jika Djaka berada disini. “Pergi lu sana,“ usir Daru ketus. Kilatan mata Daru ketara sekali jikalau dirinya amat sangat marah. Djaka sampai terdiam. Hm, ini sudah 10 tahun lebih berlalu, tapi Daru masih saja menyimpan dendam dalam hati, batin Djaka.
Dulu Djaka suka sekali usil dan mengerjai Daru ini itu sampai-sampai Daru mengamuk dibuatnya. Kita ambil satu contoh. Kala itu Daru sedang asyik bermain bersama teman-teman seusianya. Kalau Djaka tidak salah ingat, kala itu Daru baru berusia 6 tahun, sedangkan Djaka berusia 16 tahun. Djaka tersenyum misterius, lalu mendorong Daru ke kubangan lumpur. Daru pun terjatuh bersama sepeda yang ia tumpangi. Tubuh Daru kotor karna lumpur. Kontan semua teman-teman Daru pun menertawai Daru. Djaka? Dia malah lari begitu saja.
“Djaka pulang aja tante, nggak papa kok, Djaka makan kuenya nanti aja di lain waktu tante,“ ucap Djaka beranjak dari sofa. Djaka bersiap-siap ingin pulang saja. Djaka juga tidak ingin membuat Daru semakin emosi karna dirinya. Daru mendengus dan mengalihkan pandangannya ke objek lain. Daru sama sekali tidak sudi memandang wajah Djaka yang sok itu. “Tapi, ini baru tante bikinin loh Djaka? Diminum dulu,“ ucap Idah meletakkan nampan itu di atas meja. “Ng-nggak papa tante, Djaka pulang aja,“ sahut Djaka tidak enak hati baik kepada Daru ataupun Idah.
Setelah mengucapkan salam Djaka pun keluar dari rumah Daru berniat ingin pulang. Hah, Djaka menghela nafas memandangi pintu rumah Daru. “Aduh!“ gumam Daru mengaduh saat Idah memukul pundak Daru dengan keras. “Cepet minta maaf sama Djaka, Daru. Mama nggak pernah ya didik kamu nggak sopan kek gitu sama yang lebih tua. Malu-maluin aja kamu.“ ucap Idah marah. Menurut Idah, Daru itu sudah kelewatan. “Cepetan kata mama! Keluar minta maaf! Sebelum kamu minta maaf sama Djaka, jangan harap kamu bisa masuk ke rumah, Daru.“ ucap Idah ketus. Idah pun melangkahkan kaki ke kamar meninggalkan Daru di ruang tamu. Daru termenung. Semua ini gara-gara Djaka, batin Daru malah menyalahkan Djaka.
“Woy!“ seru Daru saat Djaka hendak menstarter motornya. Djaka pun menoleh ke belakang. Daru?, batin Djaka. “Gue minta maaf. Dah. Cepetan lu ke dalem gih sana. Gue nggak mau mama marah-marah ke gue lagi.“ ucap Daru ketus dengan kedua tangan bersedekap di dada. Djaka menatap Daru sebentar. Terlintas ide cemerlang di benak Djaka. Usilin aja kali yah nih anak, batin Djaka. “Ehem,“ seru Djaka berdehem. “Cium om dulu. Baru om maafin.“ ucap Djaka tersenyum dan menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih.
Daru memutar bola mata malas. “Dikasih hati malah minta jantung.“ ucap Daru sarkasme. “Ya udah kalo nggak mau. Om mendingan balik aja. Biarin lah Tante Idah marah-marah sama kamu. Biar kamu tau rasa.“ ucap Djaka membuat Daru semakin geram. Bahkan, kedua mata Daru mulai menyipit. “Cepetan!“ seru Djaka. Daru menggertakkan gigi. Daru menggerutu tidak jelas. Huh, mau tidak mau Daru pun harus kembali masuk ke dalam perangkap si tukang usil yang satu ini. Cup. Daru kecup pipi Djaka sekilas. Djaka mengulum senyum. “Udah, kan? Cepetan! GPL!“ ucap Daru ketus. Ia pun masuk ke dalam lebih dulu.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa baca judul lain juga ya 👉 LION HEART [BL], ARES [BL], CRUSH ON YOU [BL], COME BACK HOME [BL]. Jangan lupa juga like dan favorit! Kritik dan saran silahkan tulis di komentar, ya!