GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 43


__ADS_3

Hari terakhir berada di Italia. Gilang dan James jalan-jalan ke Island of Capri. Sebuah pulau terpencil yang sangat indah—pun udara yang masih sangat bersih dan sejuk. James membantu Gilang naik ke atas perahu dengan menggenggam tangannya dengan kuat supaya tidak terjatuh. Baru setelah itu giliran James yang naik ke atas perahu. Seorang pemandu pun membawa keduanya menuju Blue Grotto. Menurut informasi, Blue Grotto ini adalah gua sepanjang 50 meter, yang dimana dulu menjadi kolam renang pribadi para Kaisar Romawi.


Beruntung keadaan arus sendiri cukup rendah dan tenang. Sehingga Gilang dan James pun bisa masuk ke dalam gua tanpa hambatan. Gilang takjub. Ia tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat air laut di gua ini bersinar terang dengan cahaya kebiruan. “Jim Jim,“ seru Gilang sambil menepuk paha James pelan. “Coba liat deh. Jernih banget! Trus kek bercahaya terang gitu. Serius aku baru pertama kali liat ada air laut bercahaya di dalam gua kek gini,“ ucap Gilang antusias sambil menaruh tangan di atas paha James.


James juga ikut senang melihat Gilang senang. James merendam tangannya di dalam air. Dan itu benar-benar bercahaya. Sungguh alam ciptaan tuhan memang luar biasa sangat indah. Setelah puas mengunjungi Island of Capri. Gilang dan James pun hari ini akan kembali ke Indonesia. Dan saat ini keduanya telah berada di dalam pesawat. Gilang terlalu lelah. Hingga ia pun tertidur dalam pelukan James nan hangat ini.


Setelah melakukan perjalanan udara selama kurang lebih 17 jam 30 menit dari Italia ke Indonesia, akhirnya Gilang dan James pun tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Uh, lelah sekali, batin Gilang. Gilang memasang kacamata hitam. Semua mata tertuju pada sosok Gilang dan James yang entah mengapa keduanya terlihat sangat tampan dan berwibawa hingga menimbulkan decak kagum pada setiap orang.


“Salat dulu Gilang, kita ke mushola bandara aja, disitu tuh,“ ucap James mengingatkan Gilang untuk salat. Gilang dan James pun salat subuh bersama disana, meskipun sudah lumayan telat, tapi tidak apa-apa daripada tidak dikerjakan sama sekali. Baru setelah itu keduanya pun mencari tempat makan yang enak di ibukota. Bandar Djakarta adalah rumah makan pilihan James untuk mengisi perut di pagi hari ini. “Mau pesen apa sayang?“ tanya James. “Udang-udangan Jim,“ sahut Gilang sambil memeriksa hp.


“Mba,“ seru James. Seorang waiters pun menghampiri. “Saya mau udang galah jumbo saus singapore 1, ayam bakar saus madu 1, trus kakap merah saus thailand 1. Sayang kamu mau minum apa?“ ucap James sekaligus bertanya. “Samain aja sama kamu Jim,“ sahut Gilang. “Minumannya teh botol sosro aja deh mba 2 sama air mineral 1,“ ucap James membuat liat pesanan.


Sambil menunggu pesanan James sambil melihat-lihat official instagram pribadi. James pun melihat-lihat isi feed akun instagram Gilang. Kenapa disini cuma ada foto pemandangan dan Gilang sendirian? Kenapa nggak ada foto berdua coba?, batin James curi-curi pandang ke Gilang. “Gilang,“ seru James. “Hm?“ sahut Gilang sambil minum air mineral. “Coba dong upload foto kita berdua di ig kamu. Masa di ig saya doang sih?“ ucap James. Gilang pun mendelik. “Nggak mau,“ sahut Gilang singkat dan padat. Hah, James pun menghela nafas. James menggerakkan kakinya naik turun di kaki Gilang di bawah sana. Gilang sebal. Bisa-bisanya James berbuat sefrontal itu di depan umum?, batin Gilang. “Kakinya Jim,“ tegur Gilang dengan mata setengah melotot.


“Nggak, upload dulu foto kita berdua, baru saya berenti usilin kamu,“ ucap James kekeh. Dasar si tua bangka, batin Gilang mengatai James. Gilang pun membuka galeri foto di hp. Ia pun berdiskusi dengan James. Kira-kira foto mana yang cocok dan bagus untuk di upload di instagram nanti. “Ini nih bagus nih Gilang, ini aja ini aja,“ seru James bersemangat. “Cepetan!“ seru James lagi tidak sabaran. “Sabar napa, Jim~“ protes Gilang sebal. Sebuah foto dengan pose yang dimana Gilang dan James duduk berdua di gazebo di pinggir Pulau Ischia, Italia. Di foto itu Gilang dan James memandangi pulau nan indah itu dengan satu tangan bertumpu di sisian gazebo.


Foto pun berhasil di upload. “Puas?“ seru Gilang sebal. James pun tersenyum puas, karna akhirnya ada satu foto berdua di instagram Gilang. “Permisi,“ seru seorang waiters. Pesanan Gilang dan James pun tiba. Si waiters menata piring-piring itu dengan rapi di atas meja. “Silahkan dinikmati,“ ucap si waiters, lalu meninggalkan meja Gilang dan James. Gilang menatap udang galah jumbo itu dengan mata berbinar. Setau James, Gilang itu memang maniak udang. Jangan heran jikalau Gilang akan seantusias itu saat berhadapan dengan yang namanya udang. Berbeda dengan James yang alergi seafood.


Syuting film memang telah berakhir. Namun, bukan berarti Daru bisa berleha-leha begitu saja. Daru juga harus tetap masuk kuliah seperti biasa. Daru tidak terlalu suka mengenakan kendaraan pribadi. Sehingga ia pun lebih memilih grab saja untuk mengantarkan dirinya ke kampus. Sesaat setelah ia turun dari mobil. Hampir semua gadis di kampus meneriaki dirinya. Terlebih gaya berpakaian Daru, yang kata mereka mirip oppa-oppa korea.


Tentu saja karna menurut Daru penampilan itu nomor satu. Ke kampus saja ia mengenakan outfit kaos abu-abu dibalut mantel krim selutut, celana jeans hitam—serta sepatu pantofel. Daru juga mengenakan kacamata tipe clubmaster lensa gelap. Uh, Daru terlihat sangat tampan sekali. “Daru! Daru! Foto bareng! Daru! Pliisss!“ begitulah para gadis di kampus ini berteriak meminta foto bersama atau sekedar memberi tanda tangan.


Daru pun memenuhi permintaan mereka untuk foto-foto bersama diiringi senyuman tipis. “Mohon maaf teman-teman semua. Gue musti masuk kelas dulu. Sekali lagi mohon maaf, ya?“ ucap Daru mengatupkan kedua tangannya meminta maaf. Jujur saja Daru tidak terlalu suka dikerumuni seperti ini. Tapi, di sisi lain Daru juga tidak ingin dianggap sombong oleh orang lain. Daru juga ingin hidup biasa seperti mahasiswa biasa pada umumnya. Daru juga ingin sedikit ketenangan.


“Bangsat lu!“ seru Yuyun memukul pundak Daru dengan keras dengan tasnya sendiri. Daru mendengus. Datang-datang Daru langsung dipukul seperti ini. Mau nih anak apaan sih?, batin Daru kesal. “Gue baru dateng bangsat,“ sahut Daru ketus. Ia pun duduk di kursi biasa paling depan di barisan kedua. “Mana?“ ucap Yuyun sambil satu tangan menengadah ke Daru meminta sesuatu. “Paan si ah kagak jelas lu,“ ucap Daru sarkasme. “Tanda tangan,“ ucap Yuyun. “Tanda tangan apaan? Tanda tangan gue?“ sahut Daru sambil mengeluarkan buku-buku dari dalam tas.

__ADS_1


Kali ini giliran Yuyun yang dibuat kesal oleh Daru. “Gue dari kemaren minta tanda tangan si Daffin, kan? Mana? Sini!“ ucap Yuyun. Daru memutar bola mata malas. Daru mencebikkan bibir kesal sambil geleng-geleng kepala. Ia pun mengambil notebook dari dalam tas dan memberikannya kepada Yuyun. Sejurus kemudian Yuyun pun tersenyum puas setelah mendapatkan banyak tanda tangan Daru di notebook itu. “Thanks cinta kuuuuuuuuu sayang kuuuuuu,“ ucap Yuyun mencolek dagu Daru, lalu keluar dari kelas begitu saja. Karna memang Daru dan Yuyun berada di jurusan yang berbeda.


“Daru~ Pertahanin nilai kamu, ya~“ tegur Ibu Dosen saat hendak keluar dari kelas. Ibu Dosen itu sedikit kagum kepada Daru yang mampu mempertahankan nilai kuliah dengan baik, meskipun Daru sendiri sibuk syuting, dan sering izin cuti kuliah. “Haha iya bu, makasih,“ ucap Daru tersenyum. “Yoo brooo,“ seru Daru bertos ria dengan beberapa teman laki-laki di kampus. “Dah jadi artis aja, lu. Traktir kira-kira lah.“ seru Duta. “Tenang aja urusan begituan mah. Tar gue kabarin lu lu pada di gc kalo gue dah kagak sibuk lagi,“ sahut Daru.


“Lu ada cek chattan kita kita di gc nggak, Da?“ seru Eri. Daru menggelengkan kepala. “Kenapa emang?“ tanya Daru tidak tau apa-apa. “Minggu depan reuni katanya, coba lu cek dah,“ sahut Eri. “Gue males buka WA. Makanya notif gue matiin, berisik tau nggak?“ ucap Daru. “Elu mah gitu. Kalo berisik tinggal uninstall aja gimana sih, ribet amat idup lu,“ ucap Eri sarkasme. “Kek lu kagak tau aja Er, dese kan dah jadi artis~“ timpal Duta. “Kagak ada hubungannya samsek ngab,“ ucap Daru sambil menscroll chattan di aplikasi whatsapp. Benar saja, teman-teman Daru di SMA merencanakan reuni akbar minggu depan di Lemo Hotel Serpong.


“Gimana? Lu ikutan nggak?“ tanya Duta. “Gue liat jadwal minggu depan dulu sih. Tapi, kalo pun ada jadwal kerja gitu, kalo masih bisa ditunda, gue pasti dateng,“ sahut Daru. Begini-begini Daru juga menyukai ruang lingkup pertemanan, apalagi ini adalah reuni akbar, dan karna kesibukan masing-masing, entah Daru atau yang lainnnya jarang sekali bisa berkumpul. Dan reuni menjadi salah satu cara untuk melepas rindu dengan teman-teman lama.


“Cep, tolong lu kosongin jadwal gue minggu depan, soalnya gue mo ke acara reuni di Lemo Hotel Serpong minggu depan,“ ucap Daru di telepon. “Sip,“ sahut Cecep, sang asisten dari seberang sana. “Daru!“ seru Djaka di depan pintu gerbang kampus. Daru terkejut sampai ia pun terbatuk-batuk saat melihat sosok Djaka berdiri di depan sana. “Lu ngapain kesini? Kurang kerjaan banget,“ ucap Daru ketus sambil membetulkan tas punggung.


“Mau jemput kamu lah, Da,“ sahut Djaka. Daru menghela nafas berat. “Gue udah pesen grab. Mending lu pulang sana gih. Gue nggak mau ya naik motor! Rusak ntar rambut gue!“ ucap Daru sarkasme. Daru ini kalau bicara lumayan menusuk juga, ya?, batin Djaka. Saat Daru ingin menghampiri grab mobil yang telah ia pesan, Djaka pun meraih pergelangan tangan Daru. “Naik, Da,“ seru Djaka. “Lepasin!“ ucap Daru berontak. Djaka semakin memperkuat cengkeramannya. “Naik dulu, baru aku lepasin,“ ucap Djaka.


Saat Daru ingin marah-marah dan memaki, Djaka pun bersuara, “Kamu itu selebritis terkenal, Daru. Jangan bikin karir kamu sia-sia dengan kamu maki-maki om disini.“ ucap Djaka serius dan menatap Daru agak sedikit lebih tajam. Hah, Daru pun menghela nafas. Mau tidak mau ia pun naik ke atas motor Djaka. “Pake helmnya,“ ucap Djaka memberikan satu helm kepada Daru.


Hardinata mencebikkan bibir kesal. Serius deh masa aku musti lakuin ini sih?, batin Hardinata. Ia pun turun dari mobil sambil menenteng makanan dan minuman di tangan kiri dan kanan. Hardinata mengenakan outfit biasa-biasa saja, kaos hitam dan jaket hitam sepinggul, serta celana kain abu-abu tua dan sepatu sneakers putih—juga masker dan kacamata hitam.


Tring tring tring. Hardinata memencet bel apartemen itu dengan hati-hati. Pintu itu pun terbuka. Dan sesosok pria yang membukakan pintu itu sampai mundur beberapa langkah ke belakang saking terkejutnya. “Penguntit?“ seru Tristan terkejut sambil mengedipkan mata beberapa kali. Hardinata memutar bola mata malas. Ia pun melepaskan kacamata yang ia kenakan. “Ini saya,“ ucap Hardinata ketus. Tristan menatap curiga beberapa saat. Tunggu dulu, untuk apa Hardinata datang kemari?, batin Tristan menaikturunkan alisnya.


Hardinata pun menerobos masuk ke dalam begitu saja. Ia khawatir jikalau ada orang lain diam-diam menjepret dirinya. Uh, susah memang kalau jadi orang terkenal di dunia hiburan, batin Hardinata. Tristan mendengus. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap si Pak CEO yang terkesan seenak udelnya saja. Hardinata sama sekali belum dipersilahkan untuk duduk. Tapi, dia malah duduk begitu saja di sofa.


“Maaf, apa anda bisa lebih arogan lagi dari ini, Pak CEO?“ seru Tristan berdiri sambil berkacak pinggang. “Maaf, tapi saya cuma mau balas budi, karna kamu udah nolongin saya waktu itu, saudari—siapa nama kamu?“ ucap Hardinata sekaligus bertanya. “Cari tau aja sendiri,“ sahut Tristan sebal, lalu duduk di sofa bersama Hardinata. Tristan melihat-lihat bungkusan plastik yang dibawa oleh si arogan Hardinata tadi. “CFC? Sushi? Nasi Bakar Empal Geprek? Bebek Bengil?“ batin Tristan.


“Buat saya nih? Pak CEO?“ seru Tristan memastikan. Kebetulan perut Tristan sudah berdemo minta diisi sedari tadi. “Tadi saya bilang apa? Saya mau balas budi, kan? Ya udah, berarti itu semua buat kamu. Makan. Abisin. Jangan ampe ada sisa.“ ucap Hardinata memerintah. “Temenin makan lah, Pak CEO~ Saya mana bisa ngabisin ini semua? Bisa buncit nanti,“ ucap Tristan. Cih! Hardinata berdecih kesal. Ia pun menemani Tristan makan bersama ditemani beberapa gelas kopi dari starbox.


Tristan mengambil sebotol air dingin di kulkas dan dua gelas kaca. Lalu, ia pun kembali duduk di sofa. “Jangan minum kopi doang, Pak CEO~ Air putihnya diminum juga~“ ucap Tristan. Entah bagaimana ceritanya mata Tristan tiba-tiba mengerling ke arah sana, ke area sensitif Hardinata. “Ehem,“ Tristan berdehem. “Maaf, sebelumnya, Pak CEO. Kalau saya boleh tau ukuran anu anda berapa, ya? Saya liat keknya gede banget hehe,“ ucap Tristan. Hardinata pun langsung menyemburkan isi makanan di mulutnya itu sampai terbatuk-batuk. Sialan banget nih orang! Bisa-bisanya dia nanya kek begituan ke aku?, batin Hardinata mendelik tajam ke Tristan.

__ADS_1


“Hati-hati Pak CEO~“ tegur Tristan sambil mengunyah Bebek Bengil. Hardinata geram. Ingin rasanya ia segera pergi dari apartemen si mesum ini. Bahkan, Hardinata saja masih belum mengetahui siapa nama pria brengsek di hadapannya kini. “Nama kamu siapa, hah?“ tanya Hardinata sambil mengusap bibir dengan tisu. Tristan pun mendekatkan wajahnya dan berkata, “Saya udah bilang, kan? Pak CEO? Cari tau sendiri,“ sahut Tristan, lalu menarik wajahnya kembali. Heh, Hardinata mendengus. Sedangkan Tristan terlihat tidak peduli dan malah asyik menikmati kopi pemberian Hardinata.


Chris dan Daffin menemui seorang designer khusus jas pria setelah sebelumnya menemui pihak wedding organizer untuk memilih pelaminan mana yang pas dan cocok untuk acara pernikahan keduanya nanti. Chris dan Daffin pun sepakat akan melangsungkan pernikahan di Grand Ballroom, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Dengan luas 2700 meter persegi ini mampu menampung setidaknya kurang lebih 3000 tamu undangan. Ini akan menjadi resepsi pernikahan yang besar dan meriah. Uh, jujur saja Daffin sangat gugup sekali. Usia Daffin baru 18 tahun dan ia juga baru saja memasuki semester dua di kampus. Tapi, sebentar lagi ia akan menikahi dosen sendiri.


“Kami ada beberapa rekomendasi untuk tipe-tipe jas yang paling banyak dan sering dipesan di acara pernikahan. Nah, disini ada beberapa tipe seperti, Double Breasted, American Style, dan Italian Style.“ ucap si Mba WO menjelaskan. “Kamu mau tipe kek gimana, Daff?“ tanya Chris. Daffin pun menghela nafas sambil berpikir. “Uhm.. Gini mas, nurut aku tipe yang bikin body kita pas itu lebih bagus. Jadi, kesannya nggak kedodoran gitu,“ sahut Daffin.


“Nah, kebetulan kalau Italian Style itu dia fit body. Jadi, bikin body yang makenya keliatan lekukannya dan bahu juga jadi keliatan lebih tegas. Trus tipe ini ada dua kantong di bagian bawah sama kiri di bagian atas.“ ucap Mba WO menjelaskan. Setelah berdiskusi kurang lebih selama satu jam, akhirnya Chris dan Daffin pun memilih jas dengan tipe Italian Style, yang dimana terdapat 8 kancing bertahtakan emas 18 karat—serta bahan wol yang sangat langka, yaitu Vicuna dan Qiviuk. Dan Chris pun harus membayar setidaknya kurang lebih 2,8 miliar untuk dua stel jas. Bagi Chris uang segitu tidak masalah. Toh, ini untuk pernikahan sekali seumur hidup.


“Maen satu film aja aku nggak ampe 1 miliar loh mas,“ seru Daffin di dalam mobil. “Nah, itu kamu tau? Nikah sama mas nanti mas kasih uang saku 1 miliar tiap bulan loh Daff hahahaha,“ sahut Chris bercanda. Lalu, ia pun mulai melajukan mobilnya menuju apartemen. Hari ini cukup melelahkan. Chris dan Daffin memilih untuk beristirahat di apartemen dan memasak sendiri makanan untuk makan malam nanti. “Dasar ih kepedean banget,“ ucap Daffin terkekeh geli.


“Mas mas ntar biar aku aja deh yang masak,“ ucap Daffin sambil melepas seatbelt. “Bisa masak emang kamu, Daff?“ ucap Chris. Ia dan Daffin pun turun dari mobil. “Bisa lah~ Harus bisa dong mas~“ ucap Daffin. Sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen, Chris pun sambil melingkarkan tangannya di pinggul Daffin. “Oh~ Jadi, udah ngerti nih critanya? Kiat-kiat jadi istri yang baik dan benar gitu?“ ucap Chris mengulum senyum. “Ih~ Paan si ah nggak jelas banget. Emang aku apaan,“ ucap Daffin mencubit pinggul Chris sedikit. Daffin pun tersipu malu.


“Duh, Daff, mas mau mandi dulu, ya? Kamu mau masak, masak aja. Jadi, mas selese mandi bisa langsung makan deh hehe,“ ucap Chris saat memasuki apartemen. “Hm,“ sahut Daffin dengan deheman saja sambil melepas sepatu dan kaos kaki. Lalu, ia pun merasuk sandal khusus untuk di dalam apartemen. Sebelum mulai memasak, Daffin pun minum sebentar, untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokan. “Segeeerrr,“ gumam Daffin.


Daffin membuka kulkas. Lalu, mengambil dua ekor ikan bandeng. Tebak, Daffin mau membuat apa? Betul! Daffin mau membuat Bandeng Presto. Pertama-tama Daffin membersihkan ikan bandengnya terlebih dahulu. Lalu, melumurinya dengan garam dan jeruk nipis, dan diamkan selama 10 menit. Sambil menunggu, Daffin sambil membuat bumbu halus mulai dari bawang putih, bawang merah, kemiri, ketumbar, kunyit, jahe, dan garam. Semua bumbu pun diulek sampai halus.


Setelah 10 menit berlalu. Ikan bandeng yang didiamkan tadi itu pun dicuci kembali. Lalu, dilumuri dengan bumbu halus hingga merata sampai ke dalam. Setelah itu diamkan lagi selama 30 menit. Sambil menunggu Daffin pun ingin membersihkan diri terlebih dahulu. “Loh? Nggak jadi masak, Daff?“ seru Chris saat setelah keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Ia melihat Daffin membuka lemari baju mengambil handuk.


Daffin pun menutup pintu lemari, lalu berdiri. “Jadi mas jadi. Lagi nunggu ikan bandengnya didiemin dulu 30 menit. Jadi, sambil nunggu aku mau mandi dulu bentar,“ sahut Daffin. “30 menit? Emang bikin apaan sih?“ tanya Chris penasaran sambil menyemprotkan bodymist di leher dan ketiak. “Bikin bandeng presto. Itu biar bumbunya meresap.“ sahut Daffin, lalu masuk ke kamar mandi.


.


.


.

__ADS_1


Dukung GKTG raih 2K likes ya! Jangan lupa like dan favorit! Trus baca juga CRUSH ON YOU [BL] ya!


__ADS_2