GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 23


__ADS_3

Suara cicitan burung-burung di udara mulai menggema di bumi ini. Tentu saja itu adalah pertanda sudah pagi hari. Dua sejoli ini masih saja bergumul di dalam selimut. Dingin. Itulah yang keduanya rasakan saat ini. Hingga rengkuhan Chris pada Daffin pun semakin erat.


Uh, ingin rasanya mereka berlama-lama berada di atas kasur, tapi apalah daya, yang satu dituntut akan pekerjaannya sebagai dosen, dan yang satunya lagi adalah seorang mahasiswa. Chris meraba-raba nakas. Ia meraih ponselnya lalu melihat jam di layar. Hah, baru pukul 06:05, batin Chris.


Masih ada waktu dua jam lagi untuk Chris bersiap-siap dan berangkat ke kampus bersama Daffin. Ia pun bangkit masih dalam keadaan tidak mengenakan apapun. Ia ambil handuk piyama di lemari. Sebelum memulai aktivitas bersih-bersih, Chris ke kamar mandi terlebih dahulu mencuci muka dan menggosok gigi.


Biarkan saja Daffin istirahat, batin Chris. Ia mulai membersihkan seluruh sudut apartemen dengan vacum cleaner. Lalu, berlanjut dengan mengepel lantai. Sambil mengepel Chris juga menanak nasi untuk santapan pagi ini bersama Dhefin nanti.


“Hmm.. Masak apa ya??“ batin Chris berhenti sebentar lalu berpikir sambil satu tangan berkacak pinggang dan tangan satunya lagi memegang pel. Hari ini Chris ingin menjadikan Daffin raja di rumah ini. Hah, asal kalian tau, digempur habis-habisan beberapa ronde itu tidak semudah yang kalian pikir. Seluruh tubuh rasanya remuk dan pegal sekali. Ya, meskipun siapapun mungkin akan ketagihan ingin melakukan itu lagi, tetap saja melakukan itu membutuhkan tenaga yang cukup besar pula.


“Loh? Kok gue nggak dibangunin sih, Chris?“ seru Dhefin tepat berada di belakang Chris. Daffin pun duduk di kursi mini bar. Daffin melihat seisi rumah nampak rapi dan bersih. Siapa lagi kalau bukan Chris yang mengerjakan semua ini.


“Kasian bangunin orang ganteng bobo, kalo keganggu, kan nggak asyik?“ sahut Chris memutar badan. Lalu, ia kembali mengaduk sup yang ia buat. “Lagi bikin apa?“ tanya Daffin. “Sup,“ sahut Chris. “Sup apa?“ tanya Daffin lagi. “Sup iga,“ sahut Chris.


“Chris,“ seru Daffin. “Ambilin gue air putih dong,“ pinta Daffin. Daffin benar-benar malas untuk sekedar mengambil air putih. Selain masih mengantuk, area belakang di bawah sana juga masih terasa perih. Bayangkan saja mereka melakukan itu beronde-ronde sampai dini hari.


“Lu pernah main begituan ama cewek lu yang dulu-dulu nggak, Chris?“ tanya Daffin membuat Chris tertohok sampai-sampai Chris terbatuk-batuk. Oh tuhan, Daffin, pertanyaan macam apa itu? “Daff, aku itu lebih tua dari kamu, sopan sedikit napa manggilnya. Panggil mas, trus aku kami, jangan pake elu gue, nggak sopan ah.“ tegur Chris.


“Gue udah nyaman kek gini gimana dong?“ ucap Daffin membela diri. Chris menatap Daffin sembari kedua tangan berada di atas meja, yang dimana salah satu tangan Chris memegang serbet. “Kamu maba, kan? Berarti masih belasan dong? Umur kamu berapa coba?“


“18,“ sahut Daffin datar. “Nah, mas udah 27. Jadi, beda berapa tahun?“ tanya Chris. Daffin mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan sambil mengetukkan jari di depan dagu dengan bibir sedikit ia monyongkan. “9 tahun,“ sahut Daffin.


“Itu kamu tau sendiri? 9 tahun loh? Udah ya mas nggak mau tau, pokoknya kamu perbaiki cara kamu manggil mas. Mas nggak mau disama-samain sama temen kamu yang lain.“ ucap Chris posesif. “Hm,“ sahut Daffin dengan bibir yang sengaja ia manyunkan.


“Mas.. Kok bau sapi sih?“ tanya Daffin saat ia mulai menyantap sup iga buatan Chris. Chris heran sembari menggeleng-gelengkan kepala. Daffin Daffin, di mana-mana sapi itu mempunyai aroma khas sapi. Tidak mungkin, bukan? Kalau sapi berubah aromanya menjadi aroma ayam atau jamur?


“Itu sup iga Daffin~ Hedeh ya iyalah bau sapi,“ sahut Chris sebal. “Mas belum jawab pertanyaan aku tadi,“ ucap Daffin. Sebelah alis Chris terangkat. Pertanda ia heran. Pertanyaan yang mana?, batin Chris. “Itu.. Dulu mas pernah begituan sama cewek lain nggak?“


Chris pun diam sebentar sambil menatap Daffin lamat-lamat. “Uhm.. Mau tau ato mau tau banget?“ goda Chris. Huh, Daffin mendengus. “Cepetan jawab,“ pinta Daffin. Daffin amat sangat penasaran, karna dilihat dari segi permainan Chris, dia tergolong cukup lihai. Mustahil, bukan? Kalau seandainya Chris tidak pernah melakukan itu sebelumnya?


“Pernah,“


“Berapa kali?“

__ADS_1


“Sekali,“


“Sama siapa?“


“Almarhumah Cindy,“


Suasana pun hening beberapa saat setelah Chris menyebut nama almarhumah sang mantan kekasih. Daffin menatap Chris dengan perasaan bersalah. Hah, Daffin sudah salah bicara. Seharusnya dari awal Daffin tidak perlu menanyakan pertanyaan bodoh ini.


“Maafin aku mas, aku udah lancang.“ ucap Daffin dengan pandangan mata sedikit menurun. Hah, bisa juga seorang keras kepala seperti Daffin merasa bersalah seperti ini? Seulas senyum tipis terukir di bibir Chris. Ini rupanya sisi lain dari Daffin.


“Mas nggak marah, wajar kamu nanya kek gitu, kamu juga musti tau masa lalu mas gimana. Sebaliknya mas juga musti tau masa lalu kamu gimana.“ ucap Chris. Daffin pun mengangkat kepalanya sedikit. Ia tatap Chris lamat-lamat. Chris sungguh tidak tahan melihat ketampanan serta keimutan Daffin saat ini. Satu tangannya pun terulur untuk mengusap pipi Daffin yang sedikit tirus sembari tersenyum.


Saat Chris dan Daffin berada di ambang pintu. Daffin sedikit terkejut melihat Chris tiba-tiba mengenakan peci warna hitam. Juga baju koko. Mau kemana?, batin Daffin. Uh, Chris benar-benar terlihat lucu sekali. Seperti bapak-bapak kompleks yang suka berkumpul di pos dan bermain kartu domino. “Mau kemana? Kok pake peci? Kan ini bukan hari jum'at?“ cerca Daffin penasaran.


“Selametan di rumah Cindy,“ sahut Chris. Ah, benar juga, Cindy baru meninggal dunia dua hari yang lalu. Daffin juga tidak menaruh cemburu pada Chris saat dia begitu perhatian pada keluarga Cindy. “Nggak ngajar?“ tanya Daffin. “Ngajar kok, cuman telat bentar, kenapa? Kangen yah?“ sahut Chris sekaligus bertanya. Daffin mendengus. Percaya sekali Chris ini? Huh!, batin Daffin.


Chris dan Daffin berpegangan mulai dari keluar dari pintu apartemen sampai naik turun lift. Pun sampai ke basement. Beberapa orang sempat menatap keduanya aneh. Namun, baik Chris ataupun Daffin acuh saja.


Hasna terus saja menangis dan bersender di pundak sang ibu. Hasna masih belum bisa menerima kepergian sang puteri. Di luar Husein berdiri menyambut para tamu yang datang. “Silahkan masuk, pak.“ ucap Husein mempersilahkan.


Raut muka Husein mendadak masam saat ia melihat rombongan keluarga Gavin datang. Disana juga ada Gilang dan James. Gavin dan Husein memang dikenal sebagai musuh bebuyutan dalam dunia bisnis. Sebenarnya dulu mereka bersahabat. Namun, karna ada beberapa masalah, hal itulah yang membuat hubungan persahabatan di antara keduanya putus.


Sungguh dalam hati Gavin sama sekali tidak membenci ataupun berniat memusuhi Husein. Bagi Gavin, sampai kapanpun Husein itu adalah sahabat karib. Masih teringat jelas di benak Gavin bagaimana dulu mereka sama-sama berjuang untuk merangkak naik ke atas.


“Terima kasih udah dateng,“ ucap Husein dingin dengan sorot mata tajam. Husein sungguh membenci muka-muka palsu seperti mereka ini. Ingin Husein mengusir, namun ia juga tidak ingin menanggung malu di hadapan orang-orang.


Beberapa saat kemudian Chris pun datang. Entah apa yang ada di hati dan pikiran Husein. Ia menatap Chris tidak suka. Chris juga tidak sebodoh itu untuk mengetahui hal itu. Namun, Chris berusaha tersenyum dengan ramah. Lalu, bersalaman dengan Husein.


Chris tidak ingin mengibarkan bendera permusuhan. Kalau Chris berada di posisi Husein, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Kehilangan seorang puteri yang amat dicintai bukanlah hal mudah dan bisa diterima dengan lapang dada. Tentu hal ini amat sangat mengejutkan Husein dan sekeluarga. Terutama Hasna, sang istri.


Setelah acara baca do'a selesai, saatnya membagikan makanan untuk para tamu yang hadir. Chris berdiri dan membantu untuk membagikannya pada orang-orang. Menu makanan pada acara selamatan hari ini adalah udang asam manis. Sederhana tapi pasti terasa nikmat sekali.


Chris juga membantu membagikan air mineral serta buah-buahan yang sudah diiris dan ditata di piring sebagai pencuci mulut. Pun air kobokan untuk mencuci tangan. Sungguh suasana kekeluargaan seperti tidak akan ditemukan di negeri manapun, kecuali Indonesia.

__ADS_1


Husein menghampiri Chris di depan pintu saat Chris berdiri disana untuk mendampingi para tamu yang ingin pulang setelah acara selesai. “Terima kasih, Chris,“ ucap Husein. Dalam hati Husein menahan diri untuk tidak berkata-kata kasar dan ketus. Husein mencoba untuk mengesampingkan egonya.


Hingga tibalah giliran Gavin, Gilang, dan James keluar. Chris menganggukkan kepala saja sambil tersenyum saat ia bertatap muka dengan Gavin, Gilang, dan James. “Saya pamit pulang dulu, Pak Husein,“ seru Gavin. Husein menganggukkan kepala pelan tanpa membalas perkataan Gavin barusan.


Mereka pun saling bersalaman meskipun dalam hati mungkin sedikit sanksi. Chris juga ingin berpamitan, lantaran ia juga harus mengajar sebentar lagi di kampus. “Jangan galak-galak sama muridnya, Chris.“ ucap Husein berpesan. Husein mencoba menekan ego dalam dada. Jangan sampai Chris juga terseret dalam daftar nama orang yang ia benci, karna Chris tidak ada dalam peristiwa itu waktu itu. Chris pun tersenyum.


“Tumben lu alim kek gini, Chris? Nah, kalo gini kan enak diliat? Adem gimana gitu~ Hehehe,“ cibir Tristan saat ia melihat Chris turun dari mobil.


“Gue mo jadi suami soleh, gak kek lu lah kerjaannya clubbing mulu, tobat cuy.“ sahut Chris membuat Tristan tertohok.


Tristan mencebikkan bibirnya kesal. Chris memang paling bisa membolak-balikan kata-kata. Huh, jurusan hukum mau dilawan, batin Tristan. “Nggak boleh buka aib sesama muslim brooooooo,“ ucap Tristan. “Oh?“ sahut Chris singkat.


Chris pun masuk ke dalam salah satu ruangan yang dimana ia akan mengajar di ruangan itu. Di jurusan hukum sendiri, Chris mengajar dua materi kuliah sekaligus untuk semester satu, yaitu pendidikan pancasila dan kewarganegaraan.


Seluruh murid perempuan menganga tidak percaya melihat Chris mengenakan outfit berbeda dari biasanya. “Ini tuh serius Pak Chris kan, ya?“ ucap salah seorang murid berbisik-bisik. Chris sedang mempersiapkan materi yang hendak diajarkan. Sebelum mulai mengabsen, ia terlebih dahulu menatap satu per satu murid di ruangan ini. Chris mengangguk pelan, karna jumlah muridnya lengkap semua.


“Tumben Pak Chris penampilannya kek ustadz gitu???“ ucap Naila berbisik pada Juan.


“Alhamdulillaah gitu Nai.. Kan adem liatnya?“ sahut Juan.


“Hmm iya juga sih,“ ucap Naila menganggukkan kepala membenarkan perkataan Juan barusan.


Daffin menoleh ke kiri dan ke kanan. Uh, sial, mengapa semua murid perempuan disini terlihat terkagum-kagum melihat Chris berpenampilan seperti itu? Kedua alis Daffin sampai berkerut. “Daffin Hernando,“ seru Chris.


“Eh? I-iya Chri— Eh? Iya, pak?“ sahut Daffin sedikit tergagap. Hampir saja ia keceplosan memanggil Chris dengan sebutan nama saja tanpa ada imbuhan 'pak' di depan nama. Chris menatap Daffin dengan tatapan kurang mengenakan. “Kenapa ya, pak?“ tanya Daffin polos seperti tidak tau apa-apa, alasan mengapa Chris memanggil dirinya.


Naila gemas. Ia pun memutar badan ke belakang. Lalu, mencubit pergelangan tangan Daffin pelan. “Giliran lu ngab,“ seru Naila. “Giliran apaan?“ tanya Daffin lagi membuat Naila pusing tujuh keliling. “Giliran lu ngumpulin tugas b3go!“ sahut Naila sebal. Ya ampun, astaga, Daffin sampai lupa.


Ia pun segera maju ke depan meletakkan buku tugas di meja Chris. Chris menatap Daffin datar. “Tuh orang kenapa si ah?“ batin Daffin. Ingin Daffin menonjol muka datar Chris. Chris terlihat sangat menyebalkan dengan ekspresi seperti itu.


“Tunggu,“ seru Chris. “Kamu ambil lagi buku tugas kamu,“ ucap Chris. Daffin mengernyitkan alis. Untuk apa Chris memintanya mengambil kembali buku tugasnya? “Kok bapak suruh saya ambil lagi? Kan udah saya kerjain, pak?“ ucap Daffin membela diri.


“Kalo males belajar nggak usah kuliah.“ ucap Chris. Daffin sama sekali tidak mengerti. “Belum ngerti juga? Tugas kamu itu masih banyak poin-poin yang ketinggalan. Pasti sengaja, kan? Udah kerjain ulang sana,“ ucap Chris ketus. Seluruh murid pun diam. Dasar Chris, bisa-bisanya dia membuat malu murid sendiri, ah bukan, kekasih sendiri, batin Daffin.

__ADS_1


__ADS_2