
Kevin maju ke depan dengan terpaksa. Ia menatap satu per satu senior yang berwajah garang nan menakutkan itu tanpa merasa takut sedikitpun. Bahkan, ia mengangkat sebelah alisnya seolah menantang para senior-senior yang menurutnya sok.
Tiba-tiba ia pun tersenyum simpul tatkala melihat senyuman manis Melisa yang ditujukan kepadanya. Ia pun berusaha membalas senyuman Melisa dengan tersenyum samar, hampir tidak terlihat sama sekali.
Salah satu senior cowok bernama Radi pun bersuara dengan gayanya yang garang dan sangar, ”Gaes mau dikasih hukuman apa nih anak?” ujarnya meminta pendapat kepada rekan-rekannya untuk memberikan hukuman apa yang cocok untuk Kevin.
Salah satu senior berwajah chinese bernama Rafael pun beranjak dari meja yang sedari tadi didudukinya. Rafael menatap remeh Kevin seolah sudah menyiapkan matang-matang hukuman apa yang akan diberikan kepada Kevin.
”Potong rambutnya aja,” ujar Rafael tersenyum licik.
Kevin pun mendelik tajam. Rupanya reaksi cepat Kevin terbaca oleh senior-senior ospek. Masing-masing di antara mereka pun memegangi kedua sisi lengan Kevin supaya Kevin tidak bisa lari kemana-mana.
”Jangan potong rambut gue, gue ada pemotretan besok,” ujar Kevin jujur. Namun, tidak untuk Radi dan senior lainnya, mereka sama sekali tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Kevin.
Radi pun datang dengan tangan kanan memegang gunting, hendak bersiap-siap untuk segera memotong rambut Kevin yang lumayan keren dan superstar itu. Kevin meronta tidak terima. Kuat juga nih senior sebleng? Pikirnya.
”Gue bakal bayar lo berapapun yang lo mau asal lo nggak motong rambut gue.” cetus Kevin tiba-tiba hingga membuat Radi mengerutkan alisnya. Radi pun tersenyum miring, ”Lo ngerendahin gue?” ujar Radi merasa direndahkan ketika Kevin menyebutkan uang sebagai bentuk sogokan, supaya Radi tidak jadi memotong rambutnya.
__ADS_1
Kevin pun diam. Ia menatap tajam ke arah Radi dan Radi pun menatap Kevin balik tak kalah tajamnya. Radi pun mendekati Kevin dan meneliti seluruh wajah Kevin. “Ganteng juga lo,” ujar Radi kemudian tersenyum sinis. ”Tapi sayang atitude sama seniornya jelek ckckck,” ujarnya lagi.
”Tahan.” perintah Radi kepada rekan-rekannya supaya menahan Kevin lebih kuat. Semua para maba pun bersorak sorai meneriakkan kalimat "AYO POTONG" berkali-kali sampai rasanya cukup membuat emosi Kevin kian membuncah.
Sorak sorai itu pun kian terdengar nyaring seiring gunting yang dipegang oleh Radi kian mendekati rambut Kevin dan siap untuk segera memotongnya. ”BRENGSEK! UDAH GUE BILANG BESOK GUE ADA PEMOTRETAN ****!” ujar Kevin ketus kemudian ia pun menyerang perut Radi dengan kaki kanannya hingga membuat Radi tersungkur dan gunting yang ada di tangannya terlepas.
Dada Kevin naik turun menandakan emosinya yang kian membuncah. Ia pun meronta hingga akhirnya tangan kedua seniornya terlepas dari lengannya. Dua senior yang sebelumnya memegangi lengannya pun kini kembali mencegatnya yang hendak menghajar Radi.
Radi pun bangkit dibantu oleh Melisa dan Rafael. Ia tidak habis pikir jika juniornya yang bernama Kevin itu bisa seanarkis ini hanya karena masalah spele, yaitu memotong rambut. Bukankah memotong rambut adalah hal yang biasa untuk seorang maba? Lalu, apa masalahnya?
”SALAH! GUE GAK MASALAH KALO LO MAU CUKUR RAMBUT GUE AMPE GUNDUL SEKALIPUN! TAPI BUKAN HARI INI ATO BESOK!” ujar Kevin menjelaskan masih dalam batas kewajarannya. Ia masih bisa menahannya sedikit emosinya dengan harapan senior seblengnya itu bisa memahami kondisinya.
Pria itu tidak lain ialah pak dosen yang bernama Rama Aditya. Ia cukup disegani di kampus ini. Ia pun dikenal sebagai dosen paling disiplin di antara dosen-dosen yang lain, sampai-sampai masalah konseling kemahasiswaan pun diserahkan kepadanya.
Kevin pun mendelik. Ia mengerutkan alisnya bingung. Siapa lagi nih orang? Ucapnya dalam hati heran. ”Saya dosen disini, kenapa?” ujar Rama sarkasme. Ia paling tidak suka jika ada kekerasan di kampus tempat ia mengajar.
”Berani nendang orang lagi? Perlu saya kasih tau kamu anak siapa biar semua orang disini tau? Trus orang tua kamu dipermaluin secara nggak langsung hm?” ujar Rama perlahan mendekati Kevin dengan kedua alis Kevin yang saling bertautan.
__ADS_1
Kevin pun diam tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Ia tidak ingin jika masalahnya sendiri harus dikait-kaitkan dengan kedua orang tuanya. Tentu, ia sendiri tidak ingin kedua orang tuanya terbebani hanya kareba masalah pribadinya sendiri.
Kevin pun mencoba menenangkan dirinya sedikit demi sedikit. Ia berusaha sabar untuk mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa ia menolak di potong rambutnya. Walaupun ia sama sekali tidak suka akan hal itu, ia tetap mencoba untuk memahami peraturan yang ada. Tapi, setidaknya bukan hari ini atau besok.
”Gue bilang gue ada pemotretan penting besok. Kalian boleh cukur kepala gue ampe gundul tapi asal bukan hari ini ato besok. Gue mohon,” pinta Kevin dengan suara yang mulai merendah.
Rama menatap Kevin dengan tatapan yang tajam nan penuh intimidasi. Namun, ia cukup kagum dengan Kevin yang sama sekali tidak terpengaruh di bawah intimidasi orang lain. ”Boleh juga nih anak?” ucap Rama dalam hati.
”Cukur,” ujar Rama kemudian memerintahkan murid-muridnya untuk mencukur rambut Kevin secepatnya. Ia sudah menjumpai banyak murid selama beberapa tahun mengajar disini, tentu ia pun hafal bagaimana tabiat murid-muridnya yang suka berbohong untuk menghindari hukuman.
”Lepasin,” ujar Kevin menepis lengannya tatkala kedua senior tadi hendak menahan lengannya kembali. ”Gue gak bakal lari,” ujarnya seraya menatap lurus mata Rama. Ia pun tersenyum miring, ”Keknya anda bukan dosen yang baik ya pak? Secara nggak langsung anda ngajarin murid-murid anda sendiri buat main hakim sendiri.”
Cih! Rama benci tatkala ia harus menghadapi seorang mahasiswa/i yang berlagak hebat dan benar. Padahal aslinya mereka bukanlah seperti apa yang mereka katakan.
Sebelum rambut Kevin benar-benar dicukur, ia pun berkata sambil tersenyum miring, ”Gue pastiin lo pak dosen, bakalan nyesel. Ampe saat itu tiba..berlutut di kaki gue,” ujar Kevin tidak main-main.
Meskipun banyak orang menganggap perkataannya hanyalah sebuah candaan anak maba yang sok keren atau kegantengan, ia tidak peduli, ia hanya ingin mengatakan apa adanya. Bohong? Shit! Sekali lagi Kevin bukanlah orang yang suka berbohong walaupun ia adalah oranh yang mudah tersulut emosinya.
__ADS_1
”Ok,“ jawab Rama mantap dengan tangan beredekap di dada dan sebelah alis terangkat.