
Tristan jalan-jalan ke mall; berniat ingin membeli beberapa stel pakaian kerja, dan sehari-hari. Tristan pun tidak sengaja menoleh ke depan sana. Di sana ada Hardinata, batin Tristan. Dia berjalan bersama beberapa orang pria. Kalau dilihat dari cara Hardinata berinteraksi dengan pria-pria itu—sudah pasti ini tidak jauh-jauh dari masalah bisnis. Tristan pun tersenyum penuh siasat.
Setengah jam kemudian. Saat Hardinata hendak membuka pintu mobil; tiba-tiba seseorang meraih pergelangan tangannya. “Kamu?!“ seru Hardinata kaget sambil mengernyitkan alis. Tristan tersenyum dengan wajah tanpa dosa. Ia pun menarik pergelangan tangan Hardinata dan mendorongnya masuk ke dalam mobil (baca: mobil Tristan). Hardinata marah. Tristan ini selalu saja berbuat seenaknya. “Jangan protes! Kalo nggak mau video itu kesebar,“ ucap Tristan mengancam.
Hardinata mendengus sambil memutar bola mata malas. Tristan ingin membawa Hardinata ke suatu tempat yang sangat indah—dijamin Hardinata pasti akan menyukainya; sebagaimana Tristan juga menyukai tempat itu. Hardinata memijit pelipisnya yang sama sekali tidak sakit; ia pun menoleh ke samping. “Bisa nggak kamu tuh hormat sedikit sama orang lain, hah?“ ucap Hardinata ketus. Hardinata juga harus kembali ke kantor—tapi apa? Hardinata malah diculik.
Setelah mengendarai mobil selama 23 menit dari Mall Cipinang Indah; akhirnya Hardinata dan Tristan pun tiba di Planetarium Jakarta—yang berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat. Planetarium Jakarta adalah sebuah bangunan yang dijadikan tempat untuk pameran dan simulasi benda-benda langit seperti: bintang, planet, meteor, dan lain-lain. “Bisa lepasin nggak?“ protes Hardinata saat Tristan terus saja menggenggam tangan Hardinata sedari tadi; seolah-olah Hardinata bisa kabur kapan saja. “Nggak bisa,“ sahut Tristan. Lalu, ia dan Hardinata pun memasuki sebuah ruangan teater; ruangan ini dibuat seperti bioskop dengan langit-langit berbentuk seperti kubah; layar di teater ini diposisikan di langit-langit sehingga membuat para penonton seolah-olah melihat pemandangan asli luar angkasa.
Hardinata risih; Tristan terus saja menggenggam tangannya seperti seorang ibu menggenggam tangan anaknya. Hei! Hardinata itu bukan anak kecil lagi! Tristan tentu saja tidak peduli akan hal itu. Ia juga sempat mengerling sedikit; Hardinata terlihat sangat kesal dan marah. Tristan pun mengulum senyum. Paling-paling sebentar lagi Hardinata akan berdecak kagum, batin Tristan.
Pertunjukan teater pun dimulai. Hardinata terkejut. Bagaimana bisa ada tempat seindah ini? Ke mana saja aku selama ini?, batin Hardinata. Tempat ini benar-benar sangat indah dipandang mata. Serasa seperti berada di luar angkasa benaran. Tristan menoleh, lalu tersenyum, saat ia melihat Hardinata terlihat menikmati pertunjukan ini. “Pak CEO?“ seru Tristan. Hardinata sama sekali tidak mendengar. “Pak CEO!“ seru Tristan lagi. Saat Hardinata menoleh ke samping; Tristan pun langsung mengecup bibir Hardinata sekilas. Hardinata pun membelalakkan mata—antara kesal dan terkejut bercampur jadi satu. Tristan? Dia cuma tersenyum saja.
Setelah menonton pertunjukan teater selama kurang lebih satu jam—Tristan pun mengajak Hardinata menjelajah Galeri Astronomi di sini; tempat yang dibuat seperti terowongan; ia dan Hardinata jalan berdua tanpa melepaskan genggaman tangan itu sama sekali. Sepanjang galeri ini; kita akan disambut oleh benda-benda dan peralatan astronomi seperti: gambar-gambar bintang, pecahan baru meteor, hingga baju astronot. Bahkan di sini juga ada koleksi meteorit—yang pernah jatuh di Indonesia pada tahun 1975.
Hardinata dan Tristan pun tiba di Teleskop Observatorium setelah puas menyisiri galeri terowongan. Disana ada beberapa jenis teleskop dengan diameter lensa yang berbeda-beda. Di sini lah saat di mana Tristan melepaskan genggamannya, dan mulai menceritakan asal mulai dibangunnya gedung ini. “Dulu gedung ini tuh dibangun sekitar tahun 1964—digagas langsung oleh presiden pertama Indonesia, yaitu Bapak Ir. Soekarno. Setelah empat tahun dibangun, baru diresmiin trus diserahin deh pengelolaannya ke pemda DKI; sekitar tahun 1968 an,“ ucap Tristan menjelaskan. Sebagai seorang dosen—tentu saja Tristan memiliki pengetahuan yang sangat luas. Tristan memang cuma lulusan S1 saja. Tapi, kecerdasan yang ia miliki setara dengan orang-orang lulusan S2 dan S3.
Tristan pun menoleh saat ia merasa tidak ada tanggapan sama sekali. Tristan terkekeh—rupanya Hardinata tengah melihat bintang-bintang lewat teleskop. Tristan pun melingkarkan tangannya di pinggul Hardinata—melihat bintang-bintang itu di teleskop yang sama; membuat Hardinata tersentak kaget. Indah banget, batin Tristan. Sejurus kemudian Tristan memeluk Hardinata dari belakang, dan mencium pipinya lama sekali. “Jadi, pacar saya aja, ya? Pak CEO?“ seru Tristan meletakkan dagunya di pundak Hardinata. Jujur dalam hati Hardinata merasa agak risih. Pa-pacar? Dia gila ato gimana, sih?, batin Hardinata. Hardinata berusaha mengenyahkan tangan Tristan dari pinggulnya. Namun, Tristan malah menahannya.
Daffin mengendarai mobil sendiri menuju Chief Barbeshop, Jl. Erlangga, Kebayoran Baru. Betul! Daffin ingin mewarnai rambut di salon itu. Daffin pun turun dari mobil dengan outfit kaos putih lengan pendek pure white bertuliskan NOT; celana hitam di atas lutut; kacamata hitam; dan sepatu daddy shoes—tipe sepatu yang membuat kaki si pemakainya akan terlihat lebih besar. Seluang itu seorang Daffin di hari libur kuliah—juga karna ia tidak ada job sama sekali. Setelah media memberitakan pernikahan sejenis antara dirinya dan Chris. Daffin juga tidak ingin angkat bicara; ia lebih membiarkan hal ini menjadi privasinya saja; tidak perlu menjelaskannya secara detail kepada orang lain; terserah bagaimana orang lain menilai. Daffin tidak peduli.
“Bro!!!“ seru Daffin berjabat tangan ala pria dengan temannya, Baron. “Tumben lu ke sini?“ ucap Baron sarkasme. “Lu kan tau sendiri? Gue udah nggak ada job lagi,“ sahut Daffin. “Kasian~“ ucap Baron dengan ekspresi mengejek. Daffin pun merekam kegiatan nyalon di siang hari itu dengan kamera khusus. Daffin berniat membuka kanal YouTube dengan nama Daffin's Daily Life. Daffin meminta Baron untuk mewarnai rambutnya dengan warna lilac—ini adalah salah satu warna rambut terpopuler tahun ini.
“Lu beneran nggak ada job?“ tanya Baron sambil mengecat rambut Daffin. “Beneran,“ sahut Daffin. “Gimana kalo lu jadi model salon gue aja? Maksud gue sekalian buat promosiin salon gue gitu,“ ucap Baron lagi. “Gue takut salon lu jadi sepi,“ ucap Daffin. Baron pun terkekeh. Daffin memang berucap biasa-biaaa saja. Tapi, Baron tau tersirat kekhawatiran di setiap kata yang ia ucapkan. Terlebih kasus Daffin yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan hal layak.
“Rezeki udah ada yang ngatur, Daff,“
“Tetep aja bro,“
“Plis lah, Daff. Bantuin usaha gue napa. Gue emang nggak sanggup bayar lu gede-gede. Tapi, ya, bantuin dikit dong~“
“Bantuin kek gimana emang?“
“Lu jadi model salon gue gitu,“
“Iya iya terserah lu dah. Kalo salon lu sepi gue nggak mau tanggung jawab,“
Daffin pun menjepret beberapa foto pantulan dirinya di cermin dengan tampilan baru—rambut berwarna lilac. Baron ini memang paling top, batin Daffin. Daffin juga meminta Baron menjepret dirinya; Daffin pun berpose ala super model; dan mengupload fotonya ke sosial media instagram. Kontan postingan barunya itu pun menuai pujian dari para fans setia—meskipun tengah sepi job dikarenakan masalah pernikahan sejenisnya itu, Daffin tidak terlihat tertekan sama sekali, dia malah terlihat sangat senang dan bahagia.
__ADS_1
@17levi Gila! Sadis banget nggak sih gantengnya tuh??
@azsm_** Yes! Rambut baru! Ganteng banget! Kangen kamu di TV lagi zeyeng~
@cosmosgirl Gue nggak peduli asli mo dia nikah ama siapa aja, yang jelas dia ganteng and gue kangen dia maen film lagi! Assekk!
Begitulah isi komentar dari para netizen di postingan terbaru Daffin. Tring tring tring. Hp Daffin berdering. Dari Chris. “Ini apa? Kamu ganti warna rambut?“ tanya Chris di aplikasi chat di whatsapp—pun mengirim screenshoot foto terbaru di instagram Daffin. Hm, roman-romannya Chris nggak suka deh kalo aku ngechat rambut, batin Daffin.
DAFFIN:
“Iya mas ku sayang~ Kenapa? Jelek, ya?“
CHRIS:
“Banget,“
DAFFIN:
“Bilang aja ganteng,“
CHRIS:
DAFFIN:
“Kepedean banget,“
CHRIS:
“Harus dong,“
Lama-lama Daffin pun jadi sebal. Ia memutuskan untuk mengakhiri obrolan di chat. Namun, sejurus kemudian muncul panggilan video call dari Chris. “Kenapa nggak bales?“ tanya Chris dari seberang sana. Daffin mencebikkan bibir kesal. “Kesel tau,“ sahut Daffin sambil makan cemilan. “Kamu masih di situ? Nggak pulang?“ tanya Chris lagi. “Nanti, mau ngobrol dulu sama temen,“ sahut Daffin sampai-sampai suara saat ia mengunyah snack itu pun terdengar oleh Chris. “Jorok, Daff,“ tegur Chris.
“Eh, Bar, si Firman masih sama entu janda?“ tanya Daffin sambil minum boba. “Kek lu kagak tau si Firman aja, Daff. Duit Daff duit~“ sahut Baron. “Kenapa nggak nikah aja, sih? Udah klop juga,“ tanya Daffin heran. “Si jandanya sih ngebet ngajakin nikah, trus siap ngasih duit bulanan, rumah, mobil, pokoknya difasilitasi banget lah. Cuman masalahnya kan Firman nggak cinta tuh? Dia cuman mo morotin duitnya aja. Ok lah nikah ya gitu, cuman kan kalo tiba-tiba seandainya dia ketemu sama orang yang benar-benar dia sayang kan malah jadi susah, Daff?“ ucap Baron panjang lebar.
“Bener juga sih~ Jadi bener nih ya janda lebih menggoda? Wkwkwk,“ ucap Daffin tertawa, lalu menyalakan sebatang rokok. Daffin geleng-geleng kepala kala mengingat temannya yang satu itu, Firman. Di tempat lain, Firman tengah mengedit video vlog dari seorang klien yang merupakan seorang youtuber. “Haatcuuuh,“ tiba-tiba Firman bersin tanpa sebab. “Siapa sih yang lagi ngomongin gue? Sirik bin iri dengki pasti tuh orang,“ gumam Firman.
“Gue mo cabut dulu,“ ucap Daffin. Daffin membuang sisa-sisa rokok ke tong sampah; sebelum akhirnya ia pun masuk ke dalam mobil. Daffin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. “Daru?“ gumam Daffin saat ia melihat Daru seperti tengah bertengkar dengan seseorang di depan sebuah kafe. Pria itu hampir saja ingin memukul Daru. Namun, beberapa temannya yang lain mencoba menahannya. Daffin pun menepikan mobilnya.
__ADS_1
Ia pun menghampiri Daru. “Da, lu kenapa? Kok lu berantem?“ tanya Daffin heran hingga kedua alis Daffin hampir saling bertautan. “Temen lu bangsat! Gara-gara temen lu itu gue putus sama pacar gue!“ sahut pria itu ketus. Sebut saja namanya Diki. “Kenapa lu malah nyalahin, Daru? Daru salah apaan emang?“ tanya Daffin. “Mending lu balik aja, Daff. Biar gue yang nyelesein masalah gue sendiri,“ ucap Daru. “Nggak, Da. Lu temen gue, lu sahabat gue, gue nggak bisa balik gitu aja. Gue tau lu nggak salah.“ ucap Daffin.
Diki mendengus. Dua sahabat karib ini benar-benar romantis sekali, ya? Jelas-jelas Daru salah. Kenapa si bangsat ini malah membela?, batin Diki geram. “Pantesan lu belain, Daru! Lu?!—yang nikah sama sesama cowok itu, kan? Cuih!“ ucap Diki sarkasme, lalu meludah ke samping. “Lu berdua sama. Sama-sama bangsat.“ hardik Diki. “Sekali lagi lu ngomong kek gitu, gue ancurin muka lu, Dik.“ ucap Daru emosi. “Pukul aja pukul! Sekali lu pukul gue, lu bakalan lebih ancur dari gue,“ ucap Diki. Daru mengepalkan tangan geram. “Udah Da, kita balik aja,“ ucap Daffin.
“Mau kemana lu, hah?! Kita belum selese!“ ucap Diki berapi-api. “Udah Da, nggak usah didengerin,“ ucap Daffin lagi. Sebelum Daru dan Daffin meninggalkan kafe itu. Daru pun berkata, “Sekali lagi lu nyakitin sahabat gue, Siap-siap aja gue bakalan mukul lu ampe babak belur. Gue nggak peduli, bahkan kalo karir gue ancur,“. Benar, bagi Daru persahabatan itu lebih penting daripada karir. Hancur dalam berkarir bisa dimulai kembali dari nol. Tapi, jikalau persahabatan hancur, jangan harap bisa dibangun kembali dengan mudah.
Saat ia dan Daru berada di mobil yang sama; ia pun meminta penjelasan dari Daru; mengapa Daru bisa bertengkar sampai seperti itu? “Sahabat gue, Daff, si Dita. Gue sering mergokin tuh cowok bangsat selingkuh, Daff. Dan lu tau? Dita selalu nangis-nangis tiap curhat ke gue. Sialnya lagi si Dita malah luluh gitu aja tiap dibujuk rayu ama tuh bangsat. Gue marah lah. Secara gue empati dong, gue nggak mau dia jadi cewek bodoh Daff. Udah tau diselingkuhin, malah tetep dipertahanin. Ya udah, gue kasih lah ke dia bukti-bukti kalo si Diki selingkuh.“ ucap Daru panjang lebar.
Huft, Daffin pun menghela nafas. “Da Da, pahlawan kesiangan lu. Niat nolong malah lu yang apes,“ ucap Daffin. Daru diam saja seribu bahasa. Hm, sepertinya Daffin harus mengajak Daru ke suatu tempat—yang bisa membuat suasa hati Daru menjadi sedikit lebih baik. Hehehehe, batin Daffin tertawa penuh siasat dalam hati.
“Daff, lu gila ato gimana, sih? Lu kira-kira dong kalo mau ngajak gue jalan? Masa lu bawa gue ke Kitchen Magic, sih?“ protes Daru. Daffin cuma nyengir kuda saja. Di sini; Kitchen Magic adalah tempat belajar memasak dari anak-anak hingga dewasa—yang berlokasi di Mal Kasablanka, lantai 2. Tapi, ketahuilah 99% yang belajar kelas memasak di sini adalah anak-anak. Saat ditanya oleh pihak Kitchen Magic mau masuk kelas apa? Daffin pun dengan cepat menjawab, “Kelas anak-anak mba,“ ucap Daffin tersenyum lebar.
Daru meringis. Dalam hati Daru benar-benar malu. Badan sudah sebesar ini malah ikut kelas memasak anak-anak, batin Daru. Saat kelas dimulai, Daru terlihat bermalas-malasan; sedangkan Daffin terlihat begitu sangat bersemangat membuat kue kering dengan berbagai bentuk dan icing warna-warni. “Da, cepetan! Gue udah keluarin duit 500rb buat kita berdua belajar di sini loh, Da!“ seru Daffin. Daru memutar bola mata malas. Percaya lah, saat ini cuma Daffin dan Daru saja peserta yang paling besar dan tinggi. Daru menengok ke kiri dan ke kanan. Semuanya anak-anak, batin Daru.
James menghela nafas panjang; ekor matanya tertuju pada meja kerja Gilang. Ya, Gilang libur bekerja hari ini—mungkin karna dia masih marah kepada James. Huh, itu sudah pasti, batin James. “Maria, tolong kamu ke ruangan saya sebentar,“ ucap James di telepon kantor. Beberapa saat kemudian, seseorang bernama Maria itu pun masuk ke dalam ruangan James. “Saya mau pulang sekarang soalnya ada urusan penting di luar. Tolong kamu urus sisa kerjaan saya di kantor, ya?“ ucap James. Maria pun menganggukkan kepala paham.
Bagaimana pun—James harus menyelesaikan semua kesalahpahaman antara dirinya dan Gilang. Jangan sampai masalah apa saja di dalam rumah tangga dibiarkan membusuk—hingga tercium aromanya ke permukaan. James geleng-geleng kepala. Sebelum pulang; James singgah sebentar membeli beberapa makanan. Perasaan James campur aduk. Semoga Gilang memaafkan dirinya.
“Gilang?“ seru James saat ia tiba di rumah. Sepi, itu lah satu kata yang pas untuk menggambarkan suasana di rumah saat ini. Gilang ke mana?, batin James cemas. “Gilang?“ seru James lagi sembari memeriksa ruangan demi ruangan di rumah. “Gilang! Kamu di mana!? Sayang? Gilang sayang?“ ucap James mulai panik. “Kamar,“ gumam James. Benar, James, belum memeriksa kamar tidur ia dan Gilang. “Gilang! Kami di ma—“ ucap James terhenti seketika saat ia membuka pintu kamar. James tercengang melihat kamar tidur mereka berantakan seperti kapal pecah.
Gilang duduk di lantai lesehan sambil bermain game. Selain sampah-sampah snack berserakan; berkas-berkas pekerjaan di kantor pun berhamburan di mana-mana. Gilang memang libur bekerja di kantor. Tapi, ternyata Gilang juga bekerja secara daring di rumah. Gilang mendengus. Ia pun lebih memilih kembali bermain game beberapa menit lagi; sebelum lanjut menyelesaikan berkas-berkas putih itu; daripada harus meladeni si batu, James.
James pun ikut duduk di sebelah Gilang—meraih satu playstation lagi. James ingin bertaruh dengan Gilang. “Kita taruhan. Liat, siapa yang bakalan menang,“ ucap James. Heh, Gilang pun tersenyum remeh. “Jangan percaya diri. Jelas pake banget kalo aku yang bakalan menang, Jim.“ ucap Gilang percaya diri. “Ehem, ok,“ sahut James. Satu dua tiga; pertandingan sengit antara Gilang dan James pun dimulai. Keduanya memutuskan untuk bermain game mobile lagend.
Gilang melemparkan playstation itu ke sembarang arah dengan perasaan kesal dan marah. Benar, Gilang kalah taruhan. “Gilang,“ seru James. Gilang diam saja dengan rahang yang mengeras. “Sayang~ Maaf~“ ucap James tulus. Heh, maaf? Ayolah Gilang tidak akan mudah ditipu—minta maaf dan mengulanginya kembali di kemudian hari. Siapa yang bisa menjamin? “Gilang—“ ucap James lagi; Gilang pun langsung memotong perkataan James begitu saja. Gilang masih terlihat sangat marah. Lihatlah bagaimana dadanya yang bidang itu naik turun.
“Kamu minta maaf, trus kamu ulangin lagi gitu? Udah berapa kali kamu kek gini, Jim? Kapan kamu bisa ngertiin aku? Tau nggak? Selama ini aku ngalah terus loh, Jim. Tapi, kamu apa? Kamu terus ngulangin kesalahan yang sama. Maaf maaf maaf, cuma maaf yang kamu ucapin ke aku—tanpa ada niat sama sekali buat kamu ngerubah sifat egois kamu itu,“ ucap Gilang panjang lebar. James terenyuh. Kedua mata Gilang memerah. Sebegitu buruk kah aku di mata Gilang? Sebrengsek itu kah aku sebagai seorang suami?, batin James.
Gilang lelah. Selalu saja ia yang harus mengalah. Ia mencoba menghindari tatapan mata James. Ia sedang tidak ingin bersitatap secara langsung. Biarkan James intropeksi diri. James pun mendekap tubuh Gilang. Ia mencoba menenangkan Gilang sembari mengelus punggungnya lembut. “Maafin saya Gilang. Maafin saya karna saya belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu. Maafin saya karna saya udah egois sama kamu. Maafin saya karna saya udah biarin kamu ngalah terus. Gilang.. Saya janji nggak bakalan ulangin kesalahan yang sama lagi. Kalo suatu saat saya ngulangin itu lagi, tolong, kamu pukul saya ampe babak belur. Tolong Gilang. Saya nggak sanggup liat kamu marah ke saya kek gini. Saya sayang sama kamu Gilang. Sayang banget. Tolong..,“ ucap James.
Tangis Gilang pun pecah. Begitu pun James—dia juga ikut-ikutan menitikkan air mata. James amat sangat mencintai Gilang. James tidak ingin kehilangan Gilang. “Kamu jahat, Jim. Kamu jahat hiks,“ ucap Gilang terisak sambil memukul-mukul dada James pelan. “Iya~ Saya jahat~“ sahut James mengecup pucuk kepala Gilang. Sudah, kejadian kemarin dan hari ini benar-benar membuat James merasa sangat tertampar. James bertekad dalam hati untuk tidak membiarkan air mata itu luruh untuk ke sekian kalinya. Jangan sampai. Gilang, saya janji bakalan selalu bikin kamu senyum dan bahagia, batin James.
.
.
.
__ADS_1
UP KEMBALI KALO KESELURUHAN LIKES TOTAL 2,26K!