GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 57


__ADS_3

Juan pun tiba di Balai Sudirman. Pernikahan di sini cukup meriah. Juan pun masuk ke dalam meski ia sendiri tidak memiliki undangan resmi. Ia berdiri mematung lama sekali sambil memandang dua orang mempelai pria di depan sana. Saat suasana tidak lagi terlalu ramai seperti tadi. Barulah ia mulai melangkahkan kaki maju ke depan. Hingga pandangan mata Herman dan Juan pun saling bertemu. “Juan?“ gumam Herman. Lalu, ia pun langsung turun dari pelaminan; menghampiri Juan.


“Om, bisa om jelasin ke aku? Kenapa.. Kenapa om malah nikah sama cowok hari ini?“ ucap Juan sekaligus bertanya. Juan terlihat sangat marah, meski ia mencoba menahannya sebisa mungkin. “Maaf, maafin om, Juan. Om lakuin semua ini demi kamu, dan demi buat bisa keluar dari sana. Om muak, om muak tiap kali denger mereka ngehina kamu. Om marah, tiap kali liat mereka ketawa seolah tanpa beban, dan seolah kamu nggak pernah ada di sana. Maafin om, Juan,“ sahut Herman panjang lebar.


Juan bingung; apakah ia harus marah atau tidak. Di satu sisi dulu Herman lah—yang paling keras suaranya, tatkala menentang hubungannya dengan Yoga. Tapi, di sisi lain, entah bagaimana ceritanya jalan pikiran Herman mulai berubah, dan mengatakan bahwa dirinya melakukan semua ini demi Juan—pun supaya bisa keluar dari lingkaran kehidupan nan memuakkan itu. Efan pun ikut turun ke bawah. Sejurus kemudian; kedua mata Juan berkaca-kaca. Ia marah kepada dirinya sendiri. “Om, nggak perlu berkorban demi aku. Toh, aku nggak bakalan peduli,“ ucap Juan menatap Herman dengan mata memerah. Herman pun tersenyum tipis. “Kalo kamu nggak peduli, kamu nggak bakalan dateng ke sini, Juan,“ ucap Herman.


Gilang langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Hah, capek, batin Gilang sambil menghela nafas. Dia baru saja pulang setelah seharian bekerja. James geleng-geleng kepala, lalu memukul labu itu dengan tas kerja. “Bangun, mandi, trus salat. Kamu belum salat, kan?“ ucap James menegur. “Baru jam empat sore~“ ucap Gilang sambil memejamkan mata. James berdiri di hadapan Gilang sambil berkacak pinggang. “Keburu maghrib sayang~ Kalo makin ditelatin ntar pahalanya makin kecil, mau kamu?“ ucap James terdengar seperti sedang berceramah.


Gilang pun langsung duduk, dan menatap James dengan tatapan kesal, lalu melesat ke kamar sambil misuh-misuh—pun membuat James terkekeh. Gemesin banget kamu, Gilang?, batin James—pun ke kamar jua. Gilang dan James mandi bersama. Hal ini bertujuan supaya mereka bisa menyingkat waktu untuk salat bersama. Tentu saja James lah yang menjadi imam salat. Hebat, kan? Setelah selesai salat ashar; mereka biasa santai di pinggiran kolam renang ditemani secangkir teh longjing. Kolam renang? Bagaimana bisa? Bukankan ini apartemen di lantai tengah? Heh, asal kalian tau, ini adalah apartemen senilai 28 miliar. Jadi, wajar saja jikalau fasilitas di sini sangat lah lengkap.


“Gilang? Uhm, gimana kalo kita bikin dede di sini? Udah seminggu lebih nggak begituan,“ ucap James. Gilang pun menatap James dengan tatapan membunuh. Bisa-bisanya James berpikiran seperti itu di sore hari. Huft, Gilang pun menghela nafas. “Coba aja kalo berani,“ sahut Gilang menantang. Eh? Cobain aja kalo berani? Jadi, Gilang mau aku inisiatif duluan? Hm, boleh juga, batin James menganggukkan kepala pelan. Beberapa saat kemudian; James menyentuh pipi Gilang, lalu mengusapnya dengan lembut. Cup. Ia kecup pipi Gilang dengan mata terpejam. Setelah itu, ia pun membuka mata, lalu menatap Gilang lamat-lamat.


“Nggak kerasa kita udah sembilan bulan nikah ya sayang?“ ucap James. Hah, rasanya seperti baru kemarin saja ia menikahi Gilang, dan sekarang sudah sembilan bulan berlalu. James pun tersenyum penuh arti. Gilang tertegun melihat senyuman James, hingga membuat semburat merah di kedua pipinya terlihat jelas. Gilang sampai tidak sadar, jikalau tangan kanan James sudah meremas-remas si jagoan. James pun mencium pundak Gilang. Tangan kanan Gilang bertumpu di lantai. Sedangkan tangan kirinya menahan lengan James—yang semakin liar memijit si jagoan.


“Ngghh,“ gumam Gilang mendongakkan kepala dengan mata terpejam. Bibir keduanya pun bertemu. James mengulum dua biji kacang itu dari luar kaos—yang dikenakan oleh Gilang. “Eummhh,“ gumam Gilang mengerutkan alis; menahan rasa geli. Dua biji kacang itu pun terlihat sudah menegang. James tatap wajah Gilang yang sangat memerah itu. Gilang mengulurkan tangan; menyentuh pipi James. Namun, James malah mencium tangan Gilang, lalu mengecup jari-jemarinya satu per satu. Begitu saja sudah membuat perasaan Gilang tidak karuan.


Perlahan tapi pasti. Gilang rebahan di pinggir kolam. James lah yang memegang kendali. James sengaja terdiam agak lama sambil memandangi wajah sang istri. Uh, istri ku menggoda banget, batin James. Entah memang karna kesal atau sedang bergairah, dan ingin lebih. Gilang meminta James untuk cepat bergerak. Bukan cuma diam sambil menatap dirinya seperti itu. “Kenapa? Nggak sabar?“ ucap James menyeringai. Gilang pun langsung memutar kepalanya ke samping karna tersipu malu. “Nyebelin,“ cicit Gilang.


James angkat satu kaki Gilang, lalu ia kecup jari-jemarinya, pergelangan kaki, lutut, hingga p a h a. “Nghhh ahhh ahhhh,“ gumam Gilang merasa tubuh ini mulai menggila. James mengulum si jagoan seperti mengulum permen sembari memasukkan jari tengah ke dalam sana. “Ji-Jihm aahhh nggh nggh hah aaahhh,“ gumam Gilang blingsatan tidak karuan. Kepala Gilang terasa pusing sekali. Pun tubuh Gilang otomatis terangkat sedikit sembari memegang lengan James dengan kuat. Demi menahan perih dan rasa nikmat, saat si jagoan James berhasil melesak masuk sepenuhnya.


Gilang menekuk lututnya, dan membukanya lebar-lebar. Sebelum James menggerakkan pinggulnya, ia pun mengulum bibir Gilang terlebih dahulu. “Ngh ngh ngh aahh ahh Jihhm eungh hah hah Jihhm ssstt sa-sak-iht aahhh ngghh,“ gumam Gilang mengaduh kesakitan. Saat James menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat. “Jihm! Ngghh ah ah ah ah ah haah ssttt eunnhhh,“ gumam Gilang lagi dengan keras. Terlebih saat si jagoan James berhasil merojok spot paling sensitif di dalam sana, yaitu tatpros.


Daffin gelisah. Saat ia memejamkan mata, dan berusaha untuk terlelap di malam hari. Semua kenangan bersama Chris seolah berputar-putar tanpa henti. Ia juga teringat bagaimana hangatnya tangan Chris; memeluk dirinya saat tertidur. Pun saat bibir itu mengecup keningnya dengan penuh cinta dan perasaan. Daffin gusar sembari memegang kepalanya yang terasa ingin pecah. Dua minggu sudah ia memutuskan untuk berpisah dengan Chris. Dan selama satu minggu ini pula Chris menghilang bagai ditelan bumi. Dia tidak lagi terlihat mengajar di kampus.

__ADS_1


Semakin dipikirkan kepala Daffin semakin ingin pecah. Ia pun beranjak dari kasur menuju saklar lampu di dinding dekat pintu. Seluruh ruangan kamar pun jadi terang benderang. Lalu, ia pun duduk di meja belajar, dan membuka laci; mengambil album foto yang masih tersimpan dengan baik. Itu adalah album foto pernikahan dirinya dan Chris. Ia buka album foto tersebut, dan melihat satu per satu foto yang ada di sana. Hati Daffin terasa begitu perih. Terlebih saat ia sadar, bahwa kini ia telah sendiri tanpa seorang Chris yang menggenggam tangannya dengan erat.


Lihat lah foto-foto itu. Tatapan Chris begitu mendalam. “Mas, kamu lagi ngapain di sana?“ gumam Daffin menitikkan air mata tanpa ia sadari. Daffin tau bahwa Chris telah menyakiti dirinya. Tapi, tetap saja hati dan pikiran ini cuma terpusat pada satu sosok pria, yaitu Chris. Daffin pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis tersedu-sedu. “Mas Chris,“ gumam Daffin. Cinta memang mampu mengikis semua rasa sakit. Seberapapun sakit dan perihnya ketika Chris menyakiti tubuhnya; cinta di hati ini seolah mampu mengobati semua rasa sakit itu.


Suasana hati Daffin sedang tidak bagus. Ia juga tidak bisa menyetir dalam kondisi seperti ini. Ia pun meminta Dimas menjemputnya ke rumah; untuk mengantar dirinya ke mana saja; asalkan mampu membuat suasana hati Daffin menjadi lebih baik. “Tumben mood lu jelek?“ celetuk Dimas saat sedang menyetir. Daffin pun menghela nafas berat. “Lu kira mood gue bakalan bagus gitu? Sementara gue baru aja cere sama suami gue sendiri,“ sahut Daffin. Lalu, ia pun membuka jendela mobil sedikit, dan merokok. “Trus lu mau gue nganter lu ke mana?“ tanya Dimas. “Terserah. Gue nggak tau,“ sahut Daffin.


Dimas pun membawa Daffin ke Blok M Square. Di sana adalah jalanan dengan perpaduan dinding berwarna biru dan kuning—serta dua buah kontainer. Biasanya di sana selalu ada perkumpulan anak muda—yang suka mencover dance Idol asal Korea. Daffin pun turun dari mobil. Kontan ia pun langsung menjadi pusat perhatian. Tentu saja karna ia adalah seorang artis sekaligus selebgram. Para fans pun mulai mengerumuni Daffin. Daffin menyunggingkan senyuman terbaik, meski berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini. “Selfie dong kak,“ ucap salah seorang gadis. Daffin melayani mereka dengan senang hati.


“Boleh gabung nggak, nih?“ tanya Daffin. “Boleh banget lah bro,“ sahut salah satu di antara mereka sambil bersalaman ala pria. Daffin pun ikut bergabung bersama para dancer lain untuk mengcover salah satu lagi BTS berjudul fake love, dan Daffin mengambil bagian lead dancer, yaitu Jungkook. Semua orang berteriak mengatakan fake love saat tiba pada bagian reff. Terlebih saat Daffin mengangkat kaos hitamnya sedikit, dan membuat para gadis histeris. Selain dance cover, di sana juga ada song cover. Daffin juga ikut menyanyikan sebuah lagu bergenre ballad, dengan judul 'See You Again'—yang dinyanyikan oleh solois asal Korea, yaitu Han Seungwoo.


“Geuttaen deo saranghaedo doelkkayo. Ttak han beonman deo uri hamkke hal su itgireul. Geujeo sarangeul haetdeon—Bolehkah aku mencintai mu lebih dalam? Aku berharap kita bisa bersama sekali lagi. Aku selalu mencintai—“ Daffin berada pada bagian terakhir di lagu ini, dan dia juga begitu menghayati lagu tersebut. Lagu ini benar-benar menggambarkan bagaimana perasaan Daffin saat ini—yang berharap bisa bertemu dengan dia sekali lagi. Beberapa orang sampai menitikkan air mata. Setelah mendengar Daffin menyanyi dengan penghayatan yang sangat dalam. Lalu, semua orang pun memberikan tepuk tangan. “Terima kasih,“ ucap Daffin kemudian.


Jauh di ujung sana. Chris berdiri menonton penampilan live Daffin di antara para penonton lain. Chris tidak terlalu mengerti lagu apa—yang sedang Daffin nyanyikan. Tapi, yang pasti, Chris merasakan perih yang amat sangat, saat bibir Daffin melantunkan lagu tersebut. Di sana juga ada Ganendra. Seorang produser yang dulu pernah makan malam bersama Chris dan Daffin. Terlintas di pikiran Ganendra untuk mendiskusikan karir solois Daffin dengan Hardinata nanti. Karna menurut Ganendra; Daffin itu multitalenta, dan amat sangat disayangkan. Jikalau talenta seperti itu tidak dimanfaatkan sebaik mungkin.


“Berita? Berita apa?“ tanya Tia tidak tau menau sama sekali. “Berita kalo bokap lu penyuka sesama jenis,“ sahut Aina dengan tatapan mengejek. Cih! Buat apa orang seperti Tia bekerja di kantor ini? Dia itu anak dari seorang pria penyuka sesama jenis. Pria berpenyakit!, batin Aina sinis. Suasana pun mendadak hening. Tia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Semua orang menatap dirinya dengan tatapan jijik dan merendahkan. “Kalo gue jadi lu. Gue pasti udah kehilangan muka, Ti,“ ucap Aina. Tia pun mencoba memeriksa grup chat terlebih dahulu.


Benar saja. Grup chat tersebut sangat penuh sampai ratusan notifikasi. Tia merasa kian terpojok. Sial! Juan, papa, gara-gara kalian aku dibikin malu satu kantor, batin Tia. Saat melihat foto Juan dan Yoga di salah satu restoran. Foto tersebut menujukkan betapa mesranya mereka—yang di mana Juan mengusap sudut bibir Yoga—pun ada video saat mereka makan bersama. “Kenapa pada ngumpul di meja Tia? Aina, kamu nggak kerja?“ seru Djaka. Aina pun memberikan senyuman terbaik kepada GM mereka. “Uhm, itu, pak. Lagi bahas berita di grup yang lagi rame,“ sahut Aina.


“Berita apa?“


“Itu.. Papa Tia ternyata penyuka sesama jenis, dan pacaran sama anak kuliahan,“


Djaka pun mengerling ke arah Tia. Tia telihat membeku, takut, dan gemetar. Djaka pun menghembuskan nafas berat. “Dengerin kata-kata saya baik-baik. Jangan ampe kalian buli Tia. Kalo ampe ketauan buli dia, gaji kalian saya potong nanti. Kenapa? Salah kalo papa dia suka sama cowok, hah? Kalian tau? CEO kita juga nikah sama artis cowok. Saya? Saya juga suka sama cowok, dan pacaran sama artis cowok juga. Temen istrinya Pak CEO. Kenapa? Salah?“ ucap Djaka panjang lebar. Semua orang pun terdiam membisu.

__ADS_1


“Aina, kembali ke meja kamu sendiri. Inget, saya ngawasin kalian semua, ya? CCTV banyak. Jadi orang jangan seenaknya menghakimi privasi orang lain. Urus urusan kalian sendiri. Jangan ngurusin urusan orang lain. Fokus kerja fokus naik jabatan. Ngerti?“ ucap Djaka sarkasme. Semua orang pun bekerja normal seperti biasa, setelah mendapat ultimatum dari Djaka. “Tia, kalo ada apa-apa lapor ke saya. Satu lagi jangan ampe kamu benci sama ortu kamu sendiri. Kerja yang fokus,“ ucap Djaka lagi menasihati. Lalu, ia pun kembali ke ruangannya sendiri.


Daru sedang mengerjakan tugas kuliah di kamar. Samar-samar ia mendengar suara sang ibu—yang sedang berbicara dengan seseorang. Hah, pasti itu Djaka si bangsat itu, batin Daru. Daru pun bersiap-siap ingin keluar. Lebih baik jalan-jalan ke mana saja, daripada harus bertemu dengan Djaka. Setelah memasang jaket jeans biru langit. Ia pun keluar dari kamar. Hah, benar saja, ternyata memang Djaka, batin Daru menatap Djaka sinis. “Daru? Kamu mau ke mana?“ seru Idah sembari meletakkan secangkir teh di atas meja.


Di balik topi hitam yang ia kenakan. Ia pun mengerling. “Mau jalan-jalan,“ sahut Daru dingin. “Da! Ini ada Djaka, masa kamu mau jalan keluar, sih? Salaman dulu sama om kamu,“ ucap Idah. Daru menggertakan gigi. “Dia bukan om aku, dan aku nggak punya om kek dia,“ sahut Daru. Daru pun keluar rumah, dan sialnya di sana ada Didi—yang baru saja pulang sehabis bertugas di kantor kemiliteran. “Mau ke mana kamu?“ tanya Didin dingin dan terlihat sangar. “Jalan-jalan,“ sahut Daru ketus sembari meraih helm. Belum sempat ia memasang helm, Didin pun bersuara.


“Berani kamu jalan keluar. Papa nggak bakalan ijinin kamu injek rumah ini lagi, Daru,“ ucap Didin memperingatkan. Daru sudah menahan emosi di dalam d a d a sedari tadi. Lalu, ia pun melempar helmnya hingga terhempas sangat keras dan pecah. Ia juga menendang motornya hingga terjatuh. Ia sangat marah dan emosi. Cih! Sialan!, batin Daru. Ia pun kembali masuk ke dalam sambil misuh-misuh. Ia melepas sepatu, dan melemparnya ke sembarang arah. “Daru!“ seru Idah tidak habis pikir dengan sikap berontak Daru yang amat sangat tidak sopan itu.


Djaka pun mengikuti Daru masuk ke dalam kamar. “Puas? Hm?“ ucap Daru ketus. Djaka diam sambil menatap Daru. Da, apa nggak ada sedikit aja rasa di hati kamu buat om? Kenapa kamu benci banget sama om, Daru?, batin Djaka. “Kenapa lu malah diem aja bangsat! Heh, tega lu,“ ucap Daru dengan mata melotot tajam. “Da,“ gumam Djaka, lalu mengunci pintu kamar Daru. “Kenapa kamu benci banget sama om? Hm? Tolong jelasin ke om, om udah ngapain kamu ampe segitunya kamu ke om, Da?“ ucap Djaka. “Karna gue benci sama lu. Pergi dari sini, dan dari hidup gue. Pergi lu ampe mata gue nggak bakalan liat lu lagi seumur hidup gue. Pergi!“ ucap Daru berteriak.


“Maaf, tapi om nggak bakalan nyerah ampe kapanpun, Da,“ ucap Djaka. Tatapan mata Djaka berubah seketika. Dingin dan tajam. Ehem, Mudah-mudahan acting aku ngikutin tokoh utama CEO yang dingin di komik nggak ketauan. Demi Daru!, batin Djaka. Djaka pun melepas dasinya, lalu membuka kemejanya, dan nampak lah pahatan perutnya—yang tidak terlalu atletis itu. Djaka menatap Daru dengan tatapan dingin sedingis es—pun seolah ingin memangsanya. “Jangan deket-deket. Kalo lu berani, gue bakalan lemparin kipas angin portabel ini ke kepala lu ampe bedarah,“ ucap Daru mengancam. Saat Djaka semakin mendekat.


“Kamar kamu nggak kedap suara, kan?“ tanya Djaka dingin sembari memegang dasi di tangan sebelah kiri. Dalam sekejap; Djaka yang lembut dan konyol itu pun berubah menjadi sangat menakutkan. Eh? Jadi, acting aku berhasil, nih? Daru aja ampe mundur kek gitu? Hahahaha, batin Djaka. Hampir saja Djaka ingin tertawa. Namun, ia mencoba menahannya sebisa mungkin. “Gue bilang jangan deket-deket!“ ucap Daru ketus. Daru sampai terduduk di atas kasur. “Kenapa? Takut? Heh,“ ucap Djaka tersenyum miring sambil menyentuh dagu Daru.


Daru pun memalingkan wajahnya. Sial!, batin Daru. Sejurus kemudian; Daru membelalakkan mata, karna Djaka menjilat kupingnya. Saat Daru ingin mencoba memukul Djaka—pun Djaka berhasil dengan sigap menahan tangan Daru. “Kamu harus dikasih pelajaran, Da. Biar nurut,“ ucap Djaka. Di luar kamar; Didin dan Idah menguping. “Pa, Dja-Djaka nggak diapa-apain Daru kan, pa?“ ucap Idah cemas. “Dengerin aja, ma~ Pasti mama tau siapa yang kalah siapa yang menang hehe,“ sahut Didin.


Beberapa saat kemudian. Djaka berhasil menjinakkan Daru. Daru memunggungi Djaka dengan posisi lutut menyentuh kasur. Djaka berhasil mendorong pinggulnya hingga membuat si jagoan melesak masuk sepenuhnya. Pun Djaka sengaja memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke mulut Daru hingga kedua jari itu pun dibasahi oleh air liur Daru. “Nghh aahhh ah ah ah ah aaahhh mmhhh ah ah ah ah stop aahhhh ugh aahhh,“ gumam Daru. Djaka pun mencoba memutar tubuh Daru menghadap cermin, dalam posisi si jagoan masih berada di dalam. “Liat ke cermin, Da,“ ucap Djaka, lalu mengulum k u p i n g Daru. I-ini gue? Ke-kenapa gue keliatan kek gitu? Gue nggak bisa gerak lagi, gue lemes, batin Daru.


.


.


.

__ADS_1


PENDING BEBERAPA HARI KARNA NUNGGU LIKES 50+ DULU DI CHAP 56-57


__ADS_2