GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 28


__ADS_3

Chris duduk di samping Daffin. Chris usap surai rambut itu penuh cinta dan kasih sayang. Hah, rasanya sudah seperti mimpi saja, memadu kasih dengan sesama lelaki, apa lagi lelaki itu adalah Daffin. Chris pun mengecup kening Daffin lalu ia usap lagi surai rambut itu. Persis seperti ingin menidurkan seorang anak kecil.


Daffin merubah posisi rebahannya ke samping lalu memeluk pinggul Chris. “Mau tidur~“ ucap Daffin manja. Haha, Chris tertawa dalam hati. “Tidur aja, mas temenin,“ sahut Chris. Daffin pun membuka mata lalu mendongak ke atas menatap Chris. Daffin menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuk, meminta Chris untuk mengecup bibirnya.


“Manja,“ ucap Chris.


“Biarin,“ sahut Daffin.


Chris pun memberikan satu kecupan di bibir. “Lagi~“ pinta Daffin. Satu kecupan di bibir pun kembali mendarat sempurna. Namun, di luar dugaan Daffin menahan leher Chris, hingga membuat kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman yang dalam. Lidah keduanya saling beradu.


Daffin ingin dimanja rupanya, batin Chris. Saat posisi mereka berciuman adalah miring ke samping dan saling berhadap-hadapan. Chris menelusupkan tangannya ke bawah sana. Ia masukkan satu jarinya ke dalam lubang itu. Daffin terperanjat. Ia kaget.


Meskipun lubang itu sering dirojok, entah jari-jemarinya atau adik kecil Chris yang masuk, tetap saja terasa perih. Tapi, tunggu, sebentar lagi Chris mencapai spot ter nikmat seorang pria di dalam sana. “Eungh!“ Daffin menggelinjang dengan nafas tidak beraturan saat Chris menemukan spot yang dimaksud.


Tidak ingin kalah Daffin pun menelusupkan tangannya ke bawah sana lalu mengeluarkan adik kecil Chris dari sarang. Sudah menegang rupanya, batin Daffin. Lidah bergumul, Chris merokok lubang itu dengan ketiga jarinya, pun Daffin yang mengurut hingga meremas adik kecil Chris. Sungguh serangan dari tiga arah ini membuat keduanya melenguh hebat.


“EUMH! AAAAAHHHHHH,“ Chris dan Daffin pun sama-sama mencapai puncak kenikmatan. Saat ini keduanya hanya ingin bermain dengan cara seperti ini saja dan tanpa memasukkan adik Chris ke lubang Daffin sama sekali.


“Mas, jalan-jalan yuk,“ ucap Daffin mengajak Chris penuh harap. Dengan harapan semoga Chris mau diajak. Awas saja kalau Chris berani menolak. Huh, Daffin berjanji tidak akan memberi jatah secuil pun. “Hm? Jalan-jalan? Kemana?“ sahut Chris sembari mata menatap layar laptop.


“Kemana aja~ Kan malam minggu?“


“Di rumah aja,“


“Ih! Bosen ah di rumah mulu,“


“Mas lagi banyak kerjaan, bentar lagi ujian kampus, mas musti prepare ini itu.“


Chris jujur apa adanya. Dia tidak berbohong perihal dirinya yang tengah sibuk mempersiapkan ujian semester untuk murid-muridnya di kampus nanti. Daffin mendengus kesal. Ia pun berdiri lalu membuka almari dan mengambil jaket serta topi.


“Mau kemana?“


“Bukan urusan lu,“


Kalau sudah begini panggilan sayang pun berubah menjadi elu gue. “Daff, Daffin..“ seru Chris. Daffin tidak menghiraukannya sama sekali. Chris pun mengambil kacamata di nakas lalu menyusul Daffin ke bawah. “Daff, sayang,“ seru Chris. Daffin acuh dan berjalan begitu saja.

__ADS_1


“Kenapa lagi itu Chris?“ tanya Nugraha duduk di ruang tengah sambil membaca koran. “Ngambek, pak. Soalnya saya nolak dia ajakin jalan-jalan, pak.“ sahut Chris. “Badan udah segede itu pake ngambekan segala. Daff, sama Chrisnya awas loh jangan sering-sering ngambek. Digondol nanti tau rasa.“ teriak Olivia dari dalam.


“NGGAK PEDULI,“ sahut Daffin berteriak dari luar. “Pamit dulu ya pak bu,“ ucap Chris berpamitan. Nugraha dan Olivia melihat Chris dan Daffin terlihat adu mulut dari balik jendela. “Persis kek mama dulu, suka ngambekan, dikit-dikit ngambek dikit-dikit ngambek,“ ucap Nugraha. Olivia mencebikkan bibir kesal.


Chris mengendarai mobil dan sepanjang perjalanan Daffin diam saja sembari pandangan mata ia lemparkan keluar jendela. Chris beberapa kali ingin menggenggam tangan Daffin. Namun, Daffin selalu saja mengindahkannya. Sepertinya Chris sudah bermain api.


Tiba di Kota Tua, Daffin pun turun tanpa mempedulikan Chris di sampingnya. Turun dari mobil lalu mencari-cari keberadaan Daffin. Cepat sekali Daffin menghilang, batin Chris. Sorot mata Chris pun menangkap seorang pria tengah bercakap-cakap dengan Daffin. Oh tuhan, Daffin sampai tertawa terbahak-bahak, bertos ria, bahkan sampai menepuk lengan pria itu beberapa kali.


Hati Chris panas. Daffin terlihat mesra sekali dengan pria itu. Chris pun menghampiri. Ia tidak ingin semakin dibakar api cemburu. Sial, pria ini sangat tampan, batin Chris. Chris menatap pria itu datar. Pria itu memiliki rahang tirus, mata sipit dengan sorot mata tajam, alis yang dikeruk berbentuk garis di bagian tengah, serta tindikan di ujung kening. Hm, keren, itulah kesan pertama dari Chris.


“Mas kesana,“ ucap Chris dingin. Chris tidak tahan melihat Daffin dengan pria itu. Chris memilih untuk jalan-jalan ke depan sana. Barangkali ada kuliner-kuliner enak yang bisa disantap. Daffin menoleh. Daffin tau Chris tengah dibakar api cemburu. “Siapa?“ tanya pria itu. Ya, dia adalah rekan sesama model, Putra.


“Dosen gue,“


“Dosen?“


“Hm,“


“Gue nggak yakin kalo dia cuman dosen doang,“


“Maksud lu?“


Daffin diam. Dasar Putra ini, mengapa dia malah membuka kartu, batin Daffin. Ingin Daffin jujur, takut Putra berpikiran macam-macam. Ingin Daffin mengelak tapi ini adalah fakta. Harus bagaimana? “Lu mah pake acara mikir segala.“ cetus Putra.


“Bisa ngomongin yang lain aja nggak sih? Suka banget lu kepoin orang,“ ucap Daffin mencibir. “Eh Daff, dengerin gue ya, kalo lu beneran sayang ama dia seharusnya lu nggak malu buat jujur tentang hubungan lu ini ke orang lain. Ya lu musti terima konsekuensinya dong? Secara nggak langsung lu udah nyakitin dia tau nggak? Untung aja cowok lu nggak denger,“


“Lu taunya kuliah ama kerja doang sih. Kalo lu liat sekeliling lu tuh, banyak noh yang pacaran ama sejenis. Kenapa? Karna nggak ribet lah~ Beda urusan ama cewek duh ribetnya minta ampun.“


Putra berbicara persis seperti ibu-ibu kompleks yang tengah bergosip. Putra memang dikenal memiliki radar informasi tingkat tinggi. Semua rahasia dia bisa tau. Entahlah darimana ilmu itu bisa dia dapatkan. Daffin juga tidak bisa mengelak lagi. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, benar juga apa yang dikatakan oleh Putra. Seharusnya Daffin tidak perlu menutup-nutupi, apalagi malu di hadapan orang lain. Ini adalah plus minus yang harus Daffin terima.


“Ya udah gue kesana dulu ya,“ ucap Daffin. “Next job bareng bro,“ ucap Putra setengah berteriak. Putra geleng-geleng kepala melihat Daffin yang terkadang terlihat sedikit polos seperti seperti anak baru gede.


“Mas,“ seru Daffin. Daffin menghampiri Chris setengah berlari. Beruntung Chris berjalan dengan pelan sehingga Daffin tidak harus berjalan terlalu jauh. Chris diam. Ia anggap Daffin tidak ada disana. Hm, Daffin menghela nafas. Kini giliran Chris yang merajuk.


“Mas,“ seru Daffin lagi. “Mas ketoprak satu,“ ucap Chris. Ia tidak menggubris seruan Daffin sama sekali. “Mas!“ seru Daffin lagi sedikit lebih keras. Daffin sebal. Chris hanya menoleh saja sedikit lalu kembali fokus melihat penjual ketoprak membuat pesanan yang ia pesan.

__ADS_1


Cup. Daffin mengecup pipi Chris di tempat umum. Uh, semburat merah di kedua pipi Daffin pun terlihat jelas. Daffin tersipu malu. Ia pun membuang muka. Uh, jangan liat kesini Chris, batin Daffin. Chris menoleh dan ia pun tersenyum samar melihat aksi berani Daffin barusan.


“Udah nggak malu lagi nih ceritanya? Nyium-nyium mas di depan umum? Hm?“ seru Chris. Wajah Daffin semakin memerah. “Udah udah jangan ngeledek aku, tuh ketopraknya udah jadi.“ sahut Daffin salah tingkah. Chris tersenyum lalu meraih pinggul Daffin supaya berdempetan dengan dirinya. Uh, sial, jantung Daffin berdegup kencang.


James pulang agak malam. Ia lihat lampu di kamar masih menyala dari luar. Itu artinya Gilang masih belum tidur. Saat James ingin masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba James mendengar suara-suara aneh. Suara itu seperti seorang perempuan tengah melenguh kenikmatan.


James pun memutar knop pintu kamarnya sedikit. Betapa terkejutnya James saat ia melihat Gilang dengan seorang perempuan tengah bermesraan. Gilang menghujam kan adik kecilnya itu ke dalam sana berkali-kali dengan tempo cepat, membuat tubuh perempuan itu menggelinjang hebat.


Hati James panas. Gilang sudah keterlaluan. James harus bertindak. Kali ini ia tidak boleh diam lagi. James pun masuk ke dalam. Perempuan itu langsung terduduk saat ia melihat sosok pria bertubuh tinggi dengan stelan jas lengkap itu berdiri di dekat pintu. Sorot mata pria itu tajam setajam Elang. Perempuan itu merasa sorot mata itu seolah-olah mencabik-cabik tubuhnya. Sangat mengerikan. “Keluar,“ ucap James dingin pada perempuan itu.


Perempuan itu pun langsung keluar dari kamar setelah mengenakan pakaiannya kembali sembarangan. James langsung mengunci pintu kamar. Ia melihat Gilang duduk di atas ranjang tidak mengenakan apapun. Baik, biar James memberikan pelajaran pada Gilang kali ini.


“Selama ini saya udah diam Gilang sama sikap kamu. Saya pikir kamu bakalan sadar. Tapi, saya salah, kamu malah menjadi-jadi.“ ucap James. Gilang sama sekali tidak terintimidasi dengan tatapan itu. Cih! Memangnya James siapa?, batin Gilang.


James naik ke atas ranjang. Ia pun mendekati Gilang. Heh, Gilang tersenyum miring. Memangnya James bisa apa? James menyentuh dagu Gilang. Namun, langsung Gilang tepis begitu saja. Gilang tidak sudi disentuh oleh pria seperti James sedikit saja. Haram bagi James menyentuhnya barang secuil.


“EUKH!“ Gilang memekik saat tiba-tiba seperti ada sesuatu menusuk lubang di bawah sana. Oh tuhan, ini perih sekali, batin Gilang. Namun, perlahan rasa sakit itu tergantikan oleh rasa nikmat. Gilang tidak tau ini apa, yang jelas ia merasa kenikmatan sekali.


“Lu ap-pa-ihn hah hah hah ah ah eung,“ cairan putih itu pun menyembur dengan deras keluar dari ujung kepala sang adik. Nafas Gilang naik turun. “Jari saya,“ sahut James santai. “Malam ini kamu harus saya kasih pelajaran, Gilang.“ ucap James.


James melepaskan pakaian yang ia kenakan. Kedua mata Gilang membola saat James menindih badannya lalu mengecup bibirnya dengan liat dan ganas. Gilang tidak bisa berkutik. James sangat kuat. Brengsek!, batin Gilang.


James bergerak cepat. Ia kalungkan kedua kaki Gilang di pundak. Ia cium bibir Gilang sampai air liurnya menetes. James ingin adik kecilnya yang gemuk dan panjang itu masuk ke dalam sana tanpa Gilang sadari. “AAAAKKKKKKH STOP AH AH EUKH,“ kepala Gilang otomatis mendongak ke atas. Uh, apa yang James lakukan di bawah sana?, batin Gilang. Sialan James ini!


Lubang itu terasa dirobek-robek. Sakit sekaligus perih. Gilang tidak tahan lagi merasakan betapa perihnya hingga rasanya tubuhnya sendiri mati rasa. “Tahan Gilang,“ ucap James. Gilang memejamkan mata. James membelai surai rambut Gilang. Ia belai penuh kasih sayang, lalu ia kecup keningnya.


Satu dua tiga. James pun menggoyangkan pinggulnya maju mundur. “Eung eung ah ah ummhhh aaaaahhh. Lagih euummph dis-it-uhhh Ja-jam aaaaahhh,“ Gilang melenguh tanpa henti. James sengaja mempercepat tempo. James tidak ingin memberikan kesempatan untuk Gilang bicara.


Sial! Kenapa Gilang bisa merasa kenikmatan dan ingin lebih? Sungguh Gilang mengutuk James dalam hati. Juga dirinya yang tanpa sadar meminta James untuk berbuat lebih. Hancur sudah harga diri Gilang di depan James.


“Eung eung eung ah ah ah euuumh aaaaah uh uh eeeuuung,“ Gilang terus menerus mengeluarkan suara-suara nan menggairahkan. James terus menerus menghujam kan miliknya di lubang Gilang. Tubuh Gilang sudah lemas sekali. Cairan putih pun menyembur di mana-mana memenuhi kasur.


James memutar tubuh Gilang sehingga kini posisi Gilang tengkurap. “AAAAAAAHHHHHHHHHH,“ lolongan panjang pun terdengar. Saat James menghentakkan miliknya dengan satu kali hentakan ke dalam sana. Gilang sudah tidak berdaya lagi. Ingin berontak pun tidak bisa. Tubuhnya kian melemas.


“AH AH AH AH UH UUUUH AH JA-JAAM EUUMMPPHH AAAH EUNGH EUNGH HMMPH.“ James berhasil mengenai spot ter nikmat Gilang di dalam sana. Berteriaklah sekencang mungkin Gilang, batin James. James merasa miliknya mulai berkedut. Pertanda ia hendak mencapai puncak kenikmatan.

__ADS_1


James menghentakkan miliknya semakin cepat. “AH AH AH AH AAAAAAAAHHHHHHHHHH,“ itu suara Gilang. Ia kembali menyemburkan cairan putih untuk kesekian kalinya. Begitu pula James. James pun rebahan di samping Gilang. Ia juga sudah lemas sekali.


Gilang menatap James dengan tatapan marah meskipun tatapan itu sedikit lemah. James tau, Gilang marah besar saat ini. Tapi, itu adalah hukuman, James tidak ingin Gilang semakin kurang ajar pada dirinya. “Saya suami kamu Gilang. Tolong jaga sikap.“ ucap James. Ia pun mengecup kening Gilang, meskipun dalam hati Gilang sungguh tidak sudi diperlakukan seperti itu oleh James.


__ADS_2