
Sementara Olivia ke dapur mengambil minuman dan cemilan, mata Melisa tidak henti-hentinya menelisik seluruh ruangan rumah Kevin yang tentunya tidak sebanding dengan rumahnya yang berukuran sangar kecil dan sesak.
”Cih! Enak banget ya Kevin punya ortu kaya raya gini. Coba gue? Boro-boro.” batin Melisa tersenyum kecut.
”Namanya siapa?” tanya Olivia lemah lembut dan keibuan sekali setelah datang membawa minuman dan cemilan.
”Melisa tante, panggil Mel aja.“ jawab Melisa pelan.
”Beruntung banget Kevin punya pacar kayak kamu hehe soalnya sopan banget.“ puji Olivia membuat Melisa tersipu malu.
Tidak ada kecurigaan apapun yang Olivia lihat dari sosok Melisa, yang ia lihat malah sosok Melisa yang begitu ramah, sopan santun, yang tentunya sifat seperti ini sudah jarang sekali dimiliki oleh anak muda jaman sekarang.
”Silahkan diminum Mel.” ucap Olivia mempersilahkan dan Melisa pun segera meminum jus mangga serta mencicipi kue bolu yang begitu lembut dan lezat sekali.
”Oh iya tante, Kevin kemana? Kok dari tadi nggak keliatan? Soalnya beberapa hari ini dia izin ngampus katanya sakit.” ucap Melisa.
”Hah? Kevin sakit?” sahut Olivia terkejut dengan kedua alisnya yang hampir saling bertautan. “Duh itu anak dasar deh. Sakit aja nggak ngasih tau mama ato papanya. Pantesan perasaan tante kemaren itu nggak enak.” ucap Olivia sedikit sebal sekaligus kecewa.
”Eh? Tante nggak tau kalo Kevin sakit? Dia nggak di rumah ya tante?“ cerca Melisa penuh rasa ingin tau. Bagaimana bisa ibunya tidak mengetahui keadaan anaknya sendiri? Kemana Kevin sebenarnya?
”Dia tinggal bareng sama dosen kampusnya. Katanya sih kalah tarohan maen basket hahaha jadi yang kalah bakalan disuruh-suruh gitu sama yang menang. Ada-ada aja dia mah bikin tarohan mau-maunya gali lubang sendiri wkwkwk.” ucap Olivia menjelaskan sambil tertawa renyah.
Melisa pun sedikit kecewa karena tidak ada Kevin disana melainkan ibunya saja yang menyambutnya. Ia tidak ingin hubungannya dengan Kevin harus kandas hanya gara-gara pertengkaran kecil beberapa waktu lalu. Melisa pun tidak kehabisan akal. Ia memberanikan diri untuk menanyakan alamat dosen tersebut.
”Uhm Mel boleh tau alamatnya dimana nggak tante? Biar Mel bisa kesana jenguk Kevin.” tanya Melisa hati-hati. Olivia pun dengan senang hati memberi tau alamat lengkap apartemen Rama. Mata Melisa setengah membola ketika ia melihat alamat lengkap apartemen dosen tersebut, yaitu Setiabudi Sky Garden yang berlokasi di CBD Kuningan.
Siapakah gerangan dosen kampusnya yang bisa tinggal di kawasan elit seperti CBD ini? Ia pun dihantui rasa penasaran hingga kembali memberanikan diri untuk bertanya. ”Dosen yang mana ya tante?”
”Rama Aditya jurusan Hukum dan Ekonomi.” lagi-lagi Melisa dibuat tercengang dengan fakta baru yang ia ketahui. Melisa bukanlah orang yang buta perihal barang-barang branded, mulai dari pakaian, aksesoris, sampai kendaraan bermotor.
Setaunya Rama tidak pernah memakai pakaian bermerk. Cenderung selalu memakai kemeja biasa saja. Sepatu pun biasa saja sama seperti yang orang lain pakai pada umumnya. Mobil? Jangan ditanya. Bahkan, mobilnya saja Honda Brio biasa, yang tentunya jauh dari kata mewah.
Melisa sungguh tidak menyangka kalau diam-diam Rama merupakan orang dari kalangan elit yang kaya raya. Benar apa kata orang, jangan menilai seseorang dari covernya saja.
”Uhm kalau gitu Mel permisi dulu ya tante? Takutnya kesorean soalnya sekalian mau mampir jenguk Kevin dulu. Makasih banyak tante jamuannya.” ucap Melisa lalu menyalami tangan Olivia.
”Sama-sama. Hati-hati ya Mel.” ucap Olivia.
***
”Gila gila gila sadis banget nih dosen? Wow kapan coba gue bisa tinggal di tempat ginian?” ucap Melisa mengagumi area halaman apartemen tersebut yang begitu luas, bersih, dan tertata rapi. Bahkan, rata-rata mobil yang terparkir adalah mobil mewah seperti BMW, SPORT, MERCY dan lainnya yang tidak bisa ia sebutkan satu per satu.
Ia pun menangkap sosok dua orang pria yang baru saja turun dari sebuah mobil dengan seabrek kantong belanjaan. Keduanya terlihat begitu mesra mengalahkan kemesraannya dengan Melisa. Kevin terlihat seperti anak kecil yang tidak diberi permen. Ngambek entah karena apa.
__ADS_1
”Kevin!” seru Melisa menyusul keduanya. Kevin pun kaget bukan main. Bagaimana bisa Melisa menyusulnya kesini? Tau dari mana dia kalau Kevin tinggal bersama Rama di apartemen ini? Jangan-jangan rahasia keduanya telah terbongkar?
Melisa langsung berhambur ke pelukan Kevin. ”Lu kemana aja? Gue kangen tau!” ucap Melisa memeluk Kevin dengan erat. Kevin pun langsung melirik Rama dan Rama hanya mengangguk saja seolah paham akan sesuatu.
Kevin membalas pelukan Melisa sedikit kaku. Entahlah ia sama sekali tidak merasakan getaran-getara tertentu ketika Melisa memeluknya. Bahkan, ketika ia merasakan sesuatu yang terasa kenyal menyentuh dada bidangnya.
”Mas duluan dulu. Kamu ajak Melisa ke dalem ya.” ucap Rama lalu segera meninggalkan keduanya masuk ke dalam.
”Gue kangen sama lu Kev kangen banget. Lu kok susah banget sih dihubungin? Lu udah nggak sayang sama gue lagi? Sorry Kev maafin gue, gue tau waktu itu gue salah, plis maafin gue ya?” cerca Melisa.
”Kita ke dalem aja biar enak ngobrolnya.” ucap Kevin terkesan mengabaikan Melisa. Dalam hati Melisa begitu kesal dengan sikap acuh Kevin. Namun, ia samarkan semuanya dengan senyuman manisnya yang bak peri dari langit.
”Mau minum apa Mel?” tanya Kevin basa basi.
”Nggak usah Kev gue udah minum banyak tadi wkwk.” jawab Melisa tersenyum. Nyali Melisa sedikit menciut ketika Rama menatapnya tajam. Ia pun menunduk, berusaha untuk tidak bertemu pandang.
”Tolong bikinin mas kopi trus anterin ke ruang kerja mas ya.” pinta Rama sambil mengacak-acak rambut Kevin lalu tersenyum lembut penuh arti. Melisa yang melihat interaksi keduanya pun heran. Bisa-bisanya keduanya terlihat seperti sepasang kekasih? Sementara mereka sama-sama seorang pria?
”Tunggu bentar Mel. Gue mau bikinin dia kopi dulu. Tunggu yah? ” ucap Kevin segera pergi menuju dapur. Setelah selesai membuat secangkir kopi, ia pun segera mengantarkannya ke ruang kerja Rama.
”Nih kopi lu.” ucap Kevin ketus. ”Inget! 10 hari lagi masa kerja gue abis. Awas kalo lu nggak abisin kopinya.” ucap Kevin lagi. Namun, sejurus kemudian Rama menarik pergelangan tangannya hingga membuatnya terduduk di pangkuan Rama.
Tanpa babibu Rama pun mengecup kedua biji kacang milik Kevin. ”Inget, jangan kasar sama cewek. Sana.” ucap Rama memperingatkan dengan nada seperti mengusir yang membuat Kevin cukup kesal.
Ia pun kembali duduk di sofa menemani Melisa disana. ”Gimana lu bisa tau gue disini?” tanya Kevin sambil menenggak minuman soda kaleng.
“Yakin khawatir sama gue?” tanya Kevin sambil menaik turunkan alisnya.
“Hah? Uhm ya iyalah gue khawatir makanya gua dateng kesini.” jawab Melisa sedikit tergagap karena gugup.
”Kenapa? Ada yang lu sembunyiin dari gue?” tanya Kevin sarkas ketika melihat gelagat aneh Melisa yang semakin gugup ketika berbicara dengannya.
Kevin pun mengambil sebuah amplop di laci mejanya lalu memberikannya pada Melisa. ”Hm? Ini apaan Kev?” tanya Melisa penasaran dengan amplop berwarna coklat itu.
”Buka aja.” ucap Kevin.
Melisa membuka amplop tersebut dan seketika matanya pun membola dengan mulut yang sedikit terbuka tidak percaya. Dari mana Kevin bisa mendafatkan foto-foto dirinya yang sedang berkencan dengan beberapa orang pria?
Tubuhnya pun membeku. ”Ke-kev gu-gue bisa jelasin semuanya.” ucap Melisa tergagap.
”Mel, gue sayang sama lu bukan karena lu cantik. Bukan karena lu yang jadi bunganya kampus. Gue berpikir dengan gue sayang sama lu dan pacaran sama lu, lu bakalan berubah dan bakalan ninggalin kerjaan lu yang haram itu. Berapa banyak keluarga yang hancur gara-gara lu Mel?”
”Cuman gara-gara obsesi lu yang mau hidup mewah dan jadi orang kaya lu malah ngorbanin harga diri lu sendiri? Banyak cara kalo lu mau kaya, gue bisa kasih lu kerjaan.”
__ADS_1
Melisa tersenyum kecut. Melisa merasa dirinya telah direndahkan oleh Kevin dengan mengatakan ingin menawarinya pekerjaan yang lebih baik. ”Lu ngerendahin gue?” ucap Melisa menebak kalau Kevin benar-benar ingin merendahkannya.
”Gue nggak pernah mikir buat ngerendahin lu. Justru gue mau bantu lu buat bisa hidup di jalan yang lurus Mel.”
”Heh.” Melisa mendengus. ”Hidup di jalan lurus? Emang hidup lu udah lurus gitu pake ngatur hidup orang segala?”
”Gue emang nggak bisa ngubah dunia. Tapi, seenggaknya gue bisa ngubah dunia elu.”
Melisa tetap berada pada kekerasan kepalaannya yang tidak ingin memahami maksud baik Kevin. Ia beranggapan kalau Kevin justru telah merendahkannya bukan ingin membuat hidupnya lurus. ”Kalo gue mau ngerendahin lu, udah dari kemaren gue sebarin foto-foto lu Mel.”
Harus pakai alasan apa lagi Melisa berada disini? Ia sudah tertangkap basah oleh kekasihnya sendiri. ”Maafin gue Mel. ” ucap Kevin memegang tangan Melisa. Melisa pun segera menariknya dengan kasar lalu beranjak dari sana menuju ambang pintu.
”Kita putus.” ucap Melisa. Ia benar-benar sudah muak dengan semua keadaan yang telah menyudutkannya dalam-dalam. Melisa berjalan keluar apartemen hingga sampai ke lift. Tidak ada tanda-tanda Kevin mengejarnya.
”Heh.” Melisa pun mendengus kesal. Ia merasa sudah kalah pintar dari Kevin dan disini dirinya lah yang paling bodoh.
Rama pun keluar dari ruang kerjanya dan melihat Kevin termenung disana. ”Udah selese?” tanya Rama bersender di ambang pintu. ”Hm.” sahut Kevin berdehem saja.
”Ya udah kalo gitu kamu siap-siap dulu. Saya mau beres-beres di ruang kerja dulu baru kita otw.” ucap Rama.
”Kemana?”
”Pulang.”
”Pulang kemana?”
”Ya ke rumah lah, nggak kangen apa sama mama sama papa?” sahut Rama geleng-geleng kepala lalu masuk ke dalam lagi.
***
”Duh anak mama pinter.” ucap Olivia menciumi wajah sang anak layaknya menciumi anak kecil ketika Kevin masuk ke dalam bersama Rama.
”Ih mama rese ah, lagian Kevin udah gede, sixpack, tinggi, model pula masa diciumin kek anak kecil gitu sih.” protes Kevin cemberut.
”Buat mama kamu tuh masih anak mama yang kecil unyu trus minta di puk puk gitu. ” ucap Olivia memberikan puk puk di pinggang Kevin sambil tersenyum.
”Lah? Tumben pada ngumpul?” tanya Kevin ketika melihat ada ibunya Kevin dan ayahanya sendiri.
”Emang silaturrahmi musti tumben-tumbenan gitu?” tanya Olivia geleng-geleng kepala melihat tingkah sang anak.
”Papa nggak kerja?” tanya Kevin.
”Nggak.” jawab Nugraha sambil fokus ke gadgetnya tanpa menoleh sedikit pun ke Kevin.
__ADS_1
***
Judul lain COME BACK HOME [BL], BLUE SKY [BL], ARES [BB], JOMBLO AKUT