GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 34


__ADS_3

Daffin berkumpul bersama teman-teman di kampus seperti biasa. Satu hal yang membuat Daffin bertanya-tanya, mengapa Chris jarang terlihat sekarang? Kemarin Daffin tidak sengaja bertemu dan melihat Chris berkeliling mall dengan stelan jas lengkap. Hm, Kira-kira kenapa, ya?, batin Daffin.


“Eh eh eh lu lu pada tau nggak? Pakdos Chris kemana? Soalnya beliau nggak ngajar di kelas gue lagi. Tapi, Kadang-kadang gue liat sih.“ seru Malik tiba-tiba datang dan duduk di samping Daffin. Juan menatap Daffin sebentar. “Pakdos Chris udah gabung di perusahaan keluarga, makanya jarang ngajar,“ sahut Juan merasa tidak enak dengan Daffin.


Hm, jadi begitu?, batin Daffin. Pada akhirnya semua pertanyaan di dalam benak Daffin pun terjawab. Tapi, kenapa semua ini terkesan tiba-tiba sekali, ya? Seingat Daffin selama ia bersama Chris dulu, tidak pernah terdengar akan Chris yang ingin bergabung di perusahaan. Bahkan, Chris selalu sibuk mempersiapkan materi untuk mengajar setiap harinya.


“Nai Nai! Sini!“ seru Malik saat ia tidak sengaja melihat Naila lewat. Dari kejauhan Naila menatap mereka sinis. Daffin dan Juan juga melihat akan hal itu. Tapi, Naila malah mendengus dan pergi begitu saja. “Nai kenapa?“ tanya Daffin. “Dia nggak sengaja liat gue ciuman sama Mas Yoga,“ sahut Juan. “Dian suka sama lu, Jo?“ seru Malik. Juan pun menganggukkan kepala sambil minum kopi susu.


“Trus lu nggak ngejer dia apa gimana gitu? Coba jelasin lah,“ ucap Daffin. Juan berpikir sebentar. Hm, menjelaskan semuanya pada Naila, ya? “Gue nggak ada kewajiban ngejelasin apapun ke dia.“ sahut Juan terdengar tidak mempermasalahkan hal itu. Tentu saja Juan memiliki pandangan berbeda. Baginya terserah bagaimana orang lain menilai. Tidak perlu menunjukkan seberapa diri ini baik dan benar di hadapan orang lain. Sahabat akan selalu menerima kekurangan sahabatnya lain. Percuma saja memberikan penjelasan. Toh, orang seperti itu pasti keras kepala dan tidak mudah menerima.


“Eh Daff,“ seru Malik. Daffin pun menaikkan sebelah alisnya. “Paan?“ sahut Daffin. “Lu ama tuh aktris ada hubungan apaan?“ tanya Malik tiba-tiba. Kedua alis Daffin berkerut seketika. “Gue nggak ada hubungan apa-apa sama tuh cewek?“ sahut Daffin. “Srius? Tapi, di tiktok sama youtube banyak yang ngeship lu berdua. Kok lu bisa-bisanya mesra-mesraan sama dia sih? Kek orang pacaran aja tau,“ ucap Malik menjelaskan panjang lebar.


“Itu cuman kontrak kerja aja. Lu tau kan gimana taktik perfilman buat naikin rating? Otomatis gue dituntut mesra lah ma lawan main gue. Gila kali gue pacaran ma cewek begituan.“ ucap Daffin. Diam-diam Juan mengirimi Chris pesan singkat. Ia mengatakan kalau saat ini dirinya tengah berkumpul bersama Daffin. Dan Daffin berkata, bahwa antara Aisyah dan Daffin tidak ada hubungan apa-apa. Semuanya murni karna tuntutan pekerjaan.


Sesaat setelah selesai mandi dengan handuk masih melingkar di pinggul, Chris duduk di pinggiran ranjang, lalu mencoba mengecek hp nya sendiri. Barangkali ada chat atau telepon penting masuk. Uh, benar saja, ini dari Juan. Dia memberitahukan Chris bahwa di antara Aisyah dan Daffin itu tidak ada hubungan apa-apa. Chris tersenyum tipis.


Hari ini Chris tetap masuk bekerja meskipun hari ini adalah hari minggu. Jadi, karna ini adalah akhir pekan, semua orang yang memang diharuskan bekerja Chris bebaskan untuk memakai pakaian non formal apa saja, asalkan rapi. Chris mengenakan kemeja hitam biasa tanpa dasi. Lalu, ia gulung lengan kemeja itu hingga ke sikut. Chris mengenakan celana kain warna coklat muda.


Siang ini Chris akan meninjau kinerja lapangan di beberapa kantor cabang serta pembangunan rumah sakit dan perhotelan. Chris sudah bersiap-siap. Dan saat ia memegang gagang pintu mobil, tiba-tiba Lili datang menghampiri sambil memegang pergelangan tangan Chris. “Lili mau ikut, boleh, ya?“ seru Lili. Si gadis manja ini. Haha, batin Chris tertawa. “Boleh, tapi jangan minta pulang gara-gara bosen, ya?“ ucap Chris. Lili pun menganggukkan kepala. Ia berjanji tidak akan mengganggu Chris, apa lagi sampai meminta pulang.


“Kuliah kamu gimana, Li?“ tanya Chris saat keduanya masih dalam perjalanan. Lili mengerling. Lalu, ia kembali fokus melihat ke depan jalan sana. “Biasa aja, kak. Bosenin malah,“ sahut Lili terlihat kesal. “Loh? Kok gitu?“ tanya Chris penasaran. “Dosennya itu loh kak, udah jelek, botak, judes. Hadeuh resein emang,“ ucap Lili membuat Chris terkekeh. “Hati-hati kualat. Gitu-gitu dia yang bikin orang pada pinter,“ ucap Chris menasihati. Lili tidak peduli, karna memang dosen yang satu itu sangat sangat menyebalkan.


“Udah nyampe,“ seru Chris. Chris dan Lili pun turun dari mobil. “Kamu tunggu di kantin kantor aja, ya?“ ucap Chris. Chris tidak mungkin mengajak Lili berkeliling untuk memantau kinerja orang-orang disini, termasuk mengecek semua pendapatan bersih di kantor ini. Bisa-bisa banyak orang yang akan salah paham, batin Chris. “Iya kak,“ sahut Lili.


Suara Chris di lantai tiga menggema di seluruh ruangan itu. Chris marah-marah. Chris memperingatkan kepada seluruh karyawan untuk selalu datang ke kantor tepat waktu. Melihat catatan kehadiran di absen finger print, masih banyak karyawan yang datang terlambat. Dan mereka masih digaji semestinya? Hah, ini sungguh tidak masuk akal, bukan?, batin Chris. Ekor mata Chris mulai menajam. Semua orang menunduk malu.


“Camkan kata-kata saya. Kalian itu kerja disini terima gaji. Untung saya nggak potong gaji kalian. Jangan samakan posisi kalian sama atasan. Ngerti nggak? Atasan telat ato bahkan dateng siang ya itu terserah dia. Kalian harus tau lah posisi kalian sendiri itu apa. Perlu saya ulangi lagi, hah?“ ucap Chris. Semua orang menunduk malu setelah ditegur seperti itu oleh Chris. “Maafkan kami, pak.“ ucap mereka meminta maaf. “Di luar sana masih banyak yang mau kerja disini. Kalo kalian masih mau kerja disini, coba profesional sedikit. Jangan dikit-dikit kerjaannya nongkrong.“ ucap Chris ketus. Lalu, segera pergi dari lantai tiga menuju lantai-lantai berikutnya.


Chris telah bergabung di kantor sekitar kurang lebih satu bulan. Dan kalian tau? Chris memberikan tekanan lebih banyak dibandingkan atasan yang sebelumnya, Bu Mayang. Kalau Bu Mayang pasti akan berkata seperti ini, “Asal kerjaan kalian selesai tepat waktu,“. Jadi, telat datang sekalipun tidak akan masalah. Kali ini berbeda, Chris lebih ketat lagi dalam menerapkan aturan, bahkan dia tidak terima kalau ada karyawan yang sengaja atau tidak sengaja datang terlambat. Chris memberikan ancaman potong gaji sampai pemecatan tanpa hormat.


“Kerja kok pada males-malesan sih? Hadeuh ckckck,“ batin Chris. Setelah lelah berkeliling di beberapa kantor cabang. Hm, ini juga sudah sangat sore sekali, hampir maghrib malah. Chris mengajak Lili makan bersama di rumah makan Daging Laut, berlokasi di Cilandak, Jakarta Selatan. Setelah memesan beberapa menu seperti, Lobster Madu, Fruit Salad, Italian Salad, dan Latte, Chris mulai berjibaku dengan ipad putihnya. Ia memantau beberapa pekerjaan kantor dari sana.

__ADS_1


Lili diam saja sambil menikmati jus yang dipesan lebih dulu tadi. Ingin Lili mengajak Chris bicara, tapi dia juga tidak enak hati, takut kalau-kalau mengganggu Chris. Lili berpikir mungkin Chris akan mengajaknya bicara terlebih dahulu. Tapi, apalah daya, Chris malah sibuk mengurusi pekerjaannya. Uh, Lili jadi kesal.


“Hai bro!“ seru seorang pria yang mengenakan kemeja lengan pendek bermotif serta celana pendek selutut. Di bibir juga ada tindikan berbentuk cincin. “Agung?“ seru Chris langsung meletakkan ipad di atas meja. “Beneran lu nih? Gabung aja disini,“ ucap Chris setelah ia berpelukan ala pria dengan pria yang bernama Agung itu. Si Agung rupanya adalah teman seperjuangan Chris dulu. Bisa dibilang dia dulu itu bukanlah orang berada. Jualan keliling demi menghidupi diri sendiri—juga keluarga dan tentunya untuk membayar biaya kuliah juga. Namun, sekarang semua itu berbalik. Agung telah menjadi seorang pebisnis sukses, meskipun usaha yang ia rintis tidak sebesar milik Chris.


Agung dan Chris malah asyik bercakap-cakap berdua. Ya, mau bagaimana lagi, mereka berdua sudah lama sekali tidak bersua. Dan hari ini adalah momen yang sangat berharga, bisa bertemu dengan teman lama. Lili? Jangan tanyakan dia bagaimana. Sudah pasti dia kesal sekali karna merasa telah diabaikan oleh Chris. Huh, apa-apaan si Agung ini? Mengganggu saja, batin Lili.


“Cewek lu?“


“Bukan, ponakan gue dia,“


“Kenalin lah,“


“Coba aja wkwk,“


Dalam hati Lili amat sangat berharap jikalau Chris akan menyebut dirinya sebagai seorang kekasih atau seseorang yang lebih dekat dibandingkan status sebagai ponakan. Tapi, nyatanya apa? Chris malah dengan bangganya menyebut Lili sebagai ponakan sendiri. Lagi Chris malah mau memperkenalkan Agung dengan dirinya. Iyuh, nggak banget, batin Lili. Lili akui Agung itu cukup atletis dan manis, meskipun tidak terlalu tampan. Tapi, tetap saja Lili tidak suka.


Sudah hampir setengah tahun Chris dan Daffin berpisah. Bahkan, Daffin sudah melewati ujian semester satu. Daffin juga semakin terkenal. Film Lion Heart yang ia bintangi meraih kesuksesan besar, dan bahkan saat ini ia sedang syuting untuk season dua. Gosip pun beredar semakin luas, banyak yang berasumsi bahwa Aisyah dan Daffin memiliki hubungan khusus. Keduanya seringkali tertangkap kamera dan terlihat sangat mesra. Berpegangan tangan dan menonton film bersama di bioskop.


Daffin terluka di bagian pelipis dan kaki. Ia pun langsung dilarikan ke rumah sakit dengan ambulan. Pun syuting harus dihentikan untuk sementara. Berita kecelakaan di lokasi syuting ini pun menyebar dengan cepat. Bahkan, ada seorang pengguna sosial media mengunggah sebuah video yang dimana Daffin tidak sadarkan diri saat masuk ke dalam rumah sakit dan tubuhnya di dorong dengan brankar oleh beberapa suster.


Berita ini juga sampai di telinga Chris. Ia langsung membatalkan rapat hari ini. Dan lebih memilih menyusul Daffin ke rumah sakit. Kalau sampai dilarikan ke rumah sakit, berarti keadaan Daffin memang cukup parah. Chris mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tiba di rumah sakit, ia langsung masuk ke dalam. Disini juga banyak sekali wartawan yang datang tidak diundang. Mereka meliput tanpa memperdulikan privasi orang lain. Sungguh miris. Sebelum Chris benar-benar masuk ke dalam, ia pun meminta pihak rumah sakit untuk mengusir wartawan-wartawan itu dari sini. Chris mengancam akan menuntut siapa saja yang menyebarkan berita hoax mengenai Daffin.


Chris mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Semoga Daffin tidak apa-apa, batin Chris cemas. Kamu bisa bertahan sayang, batin Chris lagi. “Chris!“ seru Olivia. Dia datang bersama Nugraha. “Da-Daffin gimana?“ tanya Olivia terlihat panik sekali. “Masih di ruang operasi tante, kita do'ain yang terbaik buat Daffin,“ sahut Chris. Lutut Olivia lemas. Ia hampir saja terjatuh kalau saja Nugraha tidak menahan tubuhnya. “Kita duduk dulu ma,“ ucap Nugraha. Olivia tidak kuasa menahan tangis.


Sutradara film itu dan Dimas pun datang. Nugraha berdiri. Ia memarahi si sutradara bodoh itu. “Kamu apain anak saya, hah?!“ seru Nugraha ketus tepat di depan wajah si sutradara. “Mohon maaf, pak. Ini murni kelalaian kami. Dan kami akan bertanggung jawab atas insiden ini, pak.“


“Kamu kira kamu bisa bikin anak saya sadar, hah!? Kalo kamu nggak bisa prioritasin keselamatan para pemain. Nggak usah bikin film begituan!“


“Mohon maaf sebelumnya, pak. Sebelum syuting kami selalu briefing dan mengecek keamanan lokasi 2-3X. Jadi, itu sudah sesuai standar. Ya, meskipun kami nggak bisa menyangkal, kalau ke depannya mungkin bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.“


“Om Nugraha, tolong tenang dulu om, kita tunggu ampe operasi selese dulu trus Daffin sadarkan diri. Baru kita bahas ini lagi. Lebih baik kita berdo'a buat keselamatan Daffin di dalam sana.“ celetuk Chris mencoba mencairkan suasana. Mau baku hantam disini pun tidak akan ada gunanya. Toh, semuanya sudah terjadi.

__ADS_1


Setelah selesai operasi, Daffin pun dimasukkan ke dalam ruang PACU, ruangan khusus untuk merawat orang-orang pasca operasi, sebelum nanti dipindahkan ke bangsal kalau kondisi Daffin sudah stabil. Hati Chris hancur melihat Daffin tidak berdaya di atas kasur rumah sakit, apa lagi di mulut Daffin terpasang selang oksigen. Olivia saja tidak henti-hentinya menangis melihat keadaan puteranya.


“Biar saya aja yang ke dalem dulu ya om?“ ucap Chris. Melihat kondisi Olivia yang belum stabil emosinya, amat sangat tidak disarankan menjenguk Daffin di dalam. Itulah mengapa Chris meminta dirinya untuk masuk ke dalam lebih dulu. Tenggorokan Chris terasa tercekat. Lihatlah Daffin belum sadarkan diri. “Daffin? Sayang?“ seru Chris menggenggam tangan Daffin yang terasa hangat. “Cepet bangun, ya?“ ucap Chris lagi lirih.


Chris usap tangan Daffin lalu ia kecup lama sekali. Lalu, ia kecup kening Daffin yang diperban itu. Sudut mata Daffin meneteskan air mata, mungkin dia merasakan sesuatu di alam bawah sadarnya. “Mas nunggu kamu disini, mas mau kita kayak dulu lagi, Daffin.“ ucap Chris penuh harap. Daffin belum jua sadarkan diri meskipun ini sudah pagi. Chris tertidur di samping brankar sambil menggenggam tangan Daffin erat.


“Sus, tolong air hangat sama handuk ya?“ pinta Chris pada seorang suster yang mengecek keadaan Daffin. “Iya Pak, tunggu sebentar,“ ucap suster itu. Chris pun mengelap tangan Daffin dengan air hangat—juga pipi dan leher. Intinya area mana saja yang bisa dijangkau. Chris juga sengaja membeli bunga lavender dan ditaruh di atas nakas. Chris ingin aroma lavender ini mampu membuat Daffin lebih rileks lagi dan cepat sadar tentunya.


“Sarapan dulu Chris,“ seru Nugraha dari ambang pintu. Sedari tadi malam Chris memang belum makan apa-apa. Dengan kondisi Daffin yang seperti ini, rasanya sama tidak ada nafsu makan sama sekali. Chris lebih memilih fokus untuk merawat Daffin sampai dia sadarkan diri. Tiba-tiba Chris merasa tangannya digenggam oleh Daffin meskipun terasa lemah dan tidak erat sama sekali. “Sayang?“ seru Chris. Daffin sudah sadar?, batin Chris.


Daffin memang belum membuka mata sama sekali. Namun, bibirnya seperti menggumamkan sesuatu. “Ch-ch-ri-ihs..“ gumam Daffin samar. Chris tidak mampu mendengarnya dengan jelas. Chris pun mendekatkan wajahnya. “Ini mas sayang, hm?“ seru Chris sambil mengusap pucuk kepala Daffin.


“Eumh,“ gumam Daffin. Mata ini kenapa terasa berat sekali untuk dibuka sedikit saja? Kepala Daffin juga terasa agak berat. Mungkin ini pengaruh obat bius atau luka jahitan di pelipis? Entahlah.. Chris menggenggam tangan Daffin semakin erat. “Bangun Daffin, ini mas,“ ucap Chris penuh harap. Mata Daffin bergetar. Mungkin dia berusaha untuk bangun.


Chris kecup tangan itu—pun ia usap terus menerus pucuk kepalanya penuh kasih sayang dan cinta. “Ma-hs,“ gumam Daffin saat matanya mulai terbuka perlahan, meskipun masih belum sepenuhnya terbuka. “Iya, ini mas,“ sahut Chris senang bukan main. Mengetahui akan hal itu, Chris meminta Nugraha untuk memanggil seorang dokter.


Setelah diperiksa kondisi Daffin terbilang cukup stabil dan mungkin akan segera dipindahkan ke bangsal siang atau sore nanti. Olivia juga amat sangat bahagia. Ia kecup kening Daffin. “Om, saya permisi mau duduk di sofa dulu, ya?“ ucap Chris. Jujur saja saat ini kedua mata Chris terasa berat sekali, karna mengantuk. Semalaman Chris tidak tidur, kalau tidur pun sekedar memejamkan mata saja. Chris takut terjadi apa-apa pada Daffin.


Chris pun duduk di sofa dengan kedua tangan bersedekap di dada. Ia pejamkan mata sejenak dan beberapa saat kemudian ia pun terlelap. Daffin menoleh ke samping. Chris terlihat sangat lelah, batin Daffin. Hah, ini sudah hampir 6 bulan, ya? Sudah lama sekali Daffin tidak melihat Chris sedekat ini. Bahkan, dia rela bergadang sepanjang malam demi dirinya.


Beberapa hari pun telah berlalu. Kondisi Daffin juga semakin membaik. Chris bahkan harus libur bekerja dan mengajar demi Daffin. “Kenapa? Ada yang sakit?“ tanya Chris saat ia lihat Daffin tengah menatapnya lurus. “Nggak,“ sahut Daffin lirih sambil menggelengkan kepala pelan. Jelas sekali Daffin seperti menahan tangis. “Mau jalan-jalan keluar?“ tanya Chris. Daffin menggeleng-gelengkan kepala lalu menunduk.


Hah, Chris menghela nafas. “Bilang sama mas, Daffin. Hm? Kamu ada masalah? Kepalanya masih sakit?“ cerca Chris sambil menggenggam tangan Daffin dan menatapnya lamat-lamat. “M-m-mas,“ seru Daffin. Mata Daffin semakin berkaca-kaca. Daffin juga menelan ludah susah payah. “Maafin aku mas,“ ucap Daffin kemudian. Tangisnya pun pecah. Sungguh Daffin tidak sanggup lagi menahan sesak di dada.


Chris pun mendekap tubuh itu. Ini baru 5 hari. Tapi, tubuh Daffin serasa lebih kurus dari biasanya. “Kamu nggak salah sayang, ampe kapanpun, kamu tetep kesayangan mas.“ ucap Chris sambil mengelus punggung Daffin. “Percaya sama mas Daffin. Kamu bakalan baik-baik aja. Mas bakalan lindungin kamu.“ ucap Chris membuat tangisan Daffin semakin menjadi. “Maafin aku mas hiks hiks hiks,“ ucap Daffin lirih. “Udah.. Mas disini.. Jangan nangis lagi.. Hm?“ ucap Chris berusaha menenangkan Daffin.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa baca, like, dan favoritkan judul yang lain, ya! ARES [BL], COME BACK HOME [BL], CRUSH ON YOU [BL], GURU KU TERNYATA G, & LION HEART [BL]. Mari dukung salah satu favorit kamu supaya bisa masuk 500 besar!!!


__ADS_2