
Dua pria berpakaian serba hitam saling bertatapan dengan tajam. Di sebuah gudang nan gelap gulita dan minim cahaya. Kedua pria itu sama-sama memiliki mata keemasan dan tajam seperti serigala. Daru tersenyum remeh. “Sekarang lu bakalan ngilang kek debu untuk yang kedua kalinya, Daff.“ ucap Daru menyeringai.
Daffin pun langsung menyerang Daru dan mencekiknya dengan kuat. Jari-jemari Daffin memanjang dengan kuku yang sangat tajam. “Serahin mutiara salju itu ke gue,“ ucap Daffin. Daru sempat terkejut. Cengkeraman Daffin lebih kuat dari biasanya. Bahkan, Daffin bisa mengangkat tubuh Daru hanya dengan cekikannya saja.
Dulu Daffin itu lemah. Entah apa yang membuat Daffin bisa menjadi sekuat itu, batin Daru. “Euukkhh,“ pekik Daru memegang tangan Daffin supaya dia mau melepaskan cengkeramannya. “Mati pun gu-gue ngg-ak ba-kal-an ngasih tau lu,“ ucap Daru. Daffin berang. Ia pun langsung melempar Daru dengan keras hingga tubuh Daru menabrak tembok sampai retak.
Daru menegang dadanya yang terasa sesak, karna baru saja punggungnya menghantam tembok. “Uhuk,“ Daru terbatuk-batuk. “Kalo ampe lu nggak ngasih mutiara salju itu ke gue dalam seminggu. Lu bakalan mampus di tangan gue.“ ucap Daffin ketus. Lalu, ia pun menghilang seperti angin. “Sialan!“ batin Daru geram.
“Cut! Good job!“ ucap si sutradara bertepuk tangan. Sungguh acting Daffin dan Daru itu amat sangat luar biasa. Padahal mereka bukan aktor senior. Lagi-lagi Daffin duduk sambil mengipas-ngipasi matanya dengan tangan karna merasa sedikit perih dan mengganjal. “Nih,“ seru Daru melempar obat tetes mata ke Daffin. Daffin pun menangkapnya dengan tepat tanpa meleset sedikit pun, apa lagi terjatuh. “Gue jamin langsung sembuh. Gue dibawain ma bibi gue dari luar negri.“ ucap Daru. Lalu, pergi begitu saja.
Daffin mencebikkan bibir kesal. Namun, pada akhirnya obat tetes mata itu ia teteskan ke kedua matanya. Hah, dingin sekali, segar, batin Daffin. Daffin segera ganti baju di lokasi syuting, karna ia harus berangkat kuliah sebentar lagi. Hoodie merah dan celana kain longgar di atas mata kaki menjadi pilihan Daffin—juga anting rantai dengan bandul berbentuk jarum kompas.
Saat ini baru jam 12 siang. Itu artinya Daffin selesai kuliah sekitar jam 5 sore. Tiba di kampus ia disambut oleh banyak penggemar. Daffin menunduk memohon maaf kepada semua orang karna ia harus buru-buru masuk kelas. “Hei Jo!!!“ seru Daffin berlagak sok gaul. Juan geleng-geleng kepala. “Lu udah ngerjain tugas belum?“ seru Juan. “Hah?“ gumam Daffin mendadak hilang ingatan. “Tugas apaan?“ tanya Daffin. Seingat Daffin hari ini tidak ada tugas apapun. Hm, kalau tidak salah besok atau lusa, batin Daffin.
“Kelar idup lu,“ seru Juan. Heh, cobaan apa lagi ini? Kenapa ada tugas kuliah yang terlupakan oleh Daffin? Sial! Mata kuliah pertama, Chris lah yang mengajar. Chris itu sungguh tidak berperikemanusiaan. Bisa-bisa Daffin nanti menjadi santapan hangat Chris. Uh, menyebalkan, batin Daffin. “Selamat siang,“ seru Chris saat pertama kali masuk ke dalam kelas. Seperti biasa Chris tatap satu per satu murid di kelas ini. Disana ada Daffin ternyata, batin Chris. Tapi, Chris cuma menoleh saja tanpa ekspresi apapun. Tuh orang bener-bener deh, batin Daffin.
Chris mengajar masih dengan stelan jas kantor. Tentu saja karna Chris tidak ada waktu untuk sekedar berganti pakaian. Selesai mengajar pun, dia akan langsung kembali ke kantor lagi. Hanya saja jas bagian luar tidak ia kenakan. “Silahkan kumpulkan tugas kalian ke depan,“ ucap Chris dingin sambil membetulkan kacamata dengan tatapan super duper datar.
Oh tuhan, bagaimana ini? Jangan sampai Daffin dipermalukan di kelas ini. “Masih kurang satu. Siapa yang belum ngumpul?“ ucap Chris. Semua murid di kelas ini diam. Suasana hening. “Sa-saya Pak.“ sahut Daffin gugup. Chris menghela nafas. Begundal itu niat kuliah atau tidak sih?, batin Chris. Taunya cuma acting saja. Jalan-jalan, nongkrong, belanja, dan lain-lain. “Kamu duduk disitu. Nggak usah keluar dari sini.“ ucap Chris. Huh, Daffin menghembuskan nafas lega. Untung saja Chris hari ini terlihat berbaik hati, batin Daffin tersenyum samar. “Tapi..“ ucap Chris menggantungkan perkataannya. Hah? Ta-tapi? Duh, kalau sudah ada kata tapi, pasti ada sesuatu yang tidak beres, batin Daffin. Lihatlah tatapan tajam Chris itu. Uh, ingin rasanya Daffin mencongkel kedua matanya itu.
“Selama dua minggu ini kamu harus bantu-bantu perpustakaan dan kantor. Jadi, jangan sia-siain waktu istirahat kamu. Kalau ketauan saya kamu melanggar aturan, saya akan tambah hukuman kamu, Daffin.“ ucap Chris. Benar, kan? Bahwa, Chris itu amat sangat tidak berperikemanusiaan?
Daffin berdiri di ruang kantor beberapa dosen. Ini entah benar-benar kantor atau kebun binatang. Seperti tidak ada perbedaannya sama sekali. Daffin menghela nafas berat. “Kerjain sana cepetan,“ seru Chris memerintah. Chris berdiri di ambang pintu memantau Daffin dari sini. “Ngapain lu Chris berdiri disini?“ seru Tristan. “Tuh,“ sahut Chris menunjuk ke arah Daffin dengan menggerakkan dagunya sedikit. “Murid lu kenapa? Aktor loh dia, masa lu gituin?“ cerca Tristan. “Harus Tris. Kalo nggak gitu nggak bakalan disiplin dia.“ ucap Chris serius. Chris selalu serius akan perkataannya. Mau itu Daffin atau siapapun, kalau tugas tidak dikumpulkan tepat waktu, akan Chris berikan hukuman.
Kantor Chris adalah kantor terakhir yang akan Daffin rapikan. Chris otomatis langsung mengunci pintu kantornya sendiri rapat-rapat. Chris berdiri di balik pintu itu sambil bersedekap di dada. “Kamu nggak ada kapok-kapoknya Daff?“ seru Chris. Daffin mendengus kesal. Ia pun memutar badan. “Nggak.“ sahut Daffin ketus. “Kuliah itu yang serius.“ ucap Chris menasihati. “Terserah gue lah.“ ucap Daffin ketus.
Chris berjalan ke arah Daffin dengan tatapan aneh. Hm, tatapan seperti ingin memangsa mungkin? Kenapa Chris menatap Daffin seperti itu?, batin Daffin. “Kamu.. Makin nakal ya, Daffin?“ ucap Chris membuat Daffin menelan ludah susah payah. “Ka-kamu mau ngapain, Chris?“ tanya Daffin sedikit takut. Sampai-sampai Daffin terduduk di atas meja. Uh? Kenapa Chris malah berjalan ke arah lemari? Daffin melihat Chris seperti mengambil sesuatu. Tali?, batin Daffin. Untuk apa Chris mengambil seutas tali dari lemari itu?
Benda apa lagi itu? Mengapa benda di tangan Chris berbentuk seperti pisang? “Daffin..“ seru Chris. Chris mendekati Daffin lalu memutar badannya hingga memunggungi Chris. Chris pun mengangkat tangan Daffin ke belakang dengan tali itu. “Ch-chris? Ka-mu ma-mau ngapain?“ tanya Daffin mulai panik. “Mau main bentar sayang~“ ucap Chris seduktif tepat di telinga Daffin. Chris jilati kuping Daffin dengan lembut. Sial! Chris menyerang bagian terlemah dan tersensitif Daffin.
Daffin tidak bisa berontak karna kedua tangannya terikat. “Ummhhhh Chrihhss,“ gumam Daffin melenguh. Mulut Daffin bahkan sampai terbuka sedikit dan mengeluarkan suara-suara aneh. Chris melepaskan celana yang Daffin kenakan—termasuk dalaman. Uh, dua labu itu terlihat kencang dan kenyal. Chris remas sebentar sebelum ia melakukan hal lain lebih dan lebih. Daffin dijamin akan berteriak kenikmatan.
“Ch-chris i-ini di kampus. Na-nanti ada yang liat,“ ucap Daffin cemas. Masih jelas diingatan Daffin kasus beberapa bulan lalu. Melisa sengaja merekam kemesraan Chris dan Daffin di kantor. “Mas nggak bakalan ceroboh lagi sayang~“ ucap Chris memutar badan Daffin hingga kini ia pun saling berhadap-hadapan. Chris cium kedua mata Daffin bergantian. Uh, ciuman di mata, Daffin sangat suka. Jujur saja perlakuan kecil nan romantis ini membuat Daffin merasa lebih dicintai. “Mas..“ gumam Daffin seolah terbuai akan tatapan cinta itu.
Chris mencium bibir itu pelan dan lembut. Lalu, ia miringkan kepala ke kiri dan ke kanan. Daffin tidak bisa apa-apa selain diam saja. Lihat? Bagaimana Daffin bisa bergerak? Kedua tangannya saja diikat oleh Chris. Daffin pun membuka mulut sedikit sehingga memudahkan Chris untuk menjamah seluruh rongga mulut Daffin. Chris dekap tubuh itu sambil mengelus punggungnya sensual.
__ADS_1
“Mahhsss mmhhhh,“ gumam Daffin merasa pasokan oksigen semakin menipis. Ciuman lembut ini. Daffin jatuh cinta dan rasanya membuat diri ini gila. Gairah Daffin semakin meningkat. Oh tuhan, Daffin ingin lebih dari ini. Chris tatap sebentar kedua mata itu. Wajah Daffin sudah sangat memerah sekali. Tatapan cinta Daffin ini sungguh membuat Chris semakin tidak ingin melepas Daffin sampai kapanpun. Nafas Chris memburu.
Chris cium lagi bibir itu dengan lembut. Ini memang bukanlah ciuman yang seluar itu namun cukup membuat gairah Chris dan Daffin meningkat. Sambil berciuman, Chris perlahan-lahan memasukkan benda lentur berbentuk pisang itu ke dalam lubang Daffin. Chris tekan tombol kecil di bagian atas. Sesuatu di dalam sana bergetar-getar, membuat Daffin melenguh terus-menerus. “Mahss ngghhh,“ gumam Daffin meletakkan wajahnya di pundak Chris. Sungguh tubuh Daffin kian melemas. Chris tekan lagi tombol disitu dan di luar dugaan Daffin, getaran itu semakin hebat.
“Ngghh ngghh ah ah ah mahhsss aahh aahh u-udaah ngghh mhhh aahhhh aahhhh sstt aahhh,“ gumam Daffin sudah tidak kuat lagi. Chris menahan tubuh Daffin supaya tidak oleng. Chris tau Daffin sudah berada di puncak gairah. Inilah kesempatan bagi Chris untuk membuat Daffin meneriaki namanya.
Chris duduk kan Daffin di atas meja. Lalu, ia tekuk kedua kaki Daffin dan membukanya lebar-lebar. Chris tarik benda itu dari lubang Daffin. “Uh,“ gumam Daffin. “Pep-pelan pelan mahs,“ gumam Daffin lirih. “Umh!“ pekik Daffin mendongakkan kepala sambil mengernyitkan alis saat Chris mendorong pelan pinggulnya. “Mahs, perih mahs aahhh,“ gumam Daffin. Tentu saja karna karna Chris memasukkan sang adik ke dalam sana tanpa pelumas sedikitpun. Kurang lebih sudah 15 menit, Chris menghujam miliknya keluar masuk dari lubang itu. Saat Daffin berkata ia ingin keluar. Chris pun cepat-cepat menekan ujung kepala adik Daffin, supaya cairan itu tertahan. “Mas mau kita keluarin barengan sayang~“ ucap Chris. Daffin sungguh benar-benar tersiksa. Ini sungguh sangat gila, karna Chris malah menekan bagian ujung miliknya dengan ibu jari.
“Keluarin sayang,“ ucap Chris mempercepat gerakan pinggulnya. “Uh uh aaahh ah ah ah ah aaahhh aahhh ssttt mahhsss uuuh ahhh ah ah ngggh,“ gumam Daffin. Chris dan Daffin pun menyemburkan cairan putih itu bersama-sama. Baru saja Daffin keluar, Chris malah langsung mengulum miliknya itu, dan rasanya? Sangat-sangat membuat tubuh ini bergetar hebat dan serasa berada di langit ketujuh. Dibilang perih memang perih. Tapi, di sisi lain juga sangat nikmat sekali.
Selesai salat jum'at bersama di masjid, Gilang dan James ingin makan siang sebentar. Hm, Kira-kira makanan di kaki lima mana yang terlihat sangat lezat, ya?, batin James. “Kamu mau makan apa, hm?“ tanya James sambil mengendarai mobilnya pelan, karna James harus melihat satu per satu stand food di pinggir jalan. “Terserah,“ sahut Gilang tanpa menoleh. Gilang cuma asyik bermain gadget.
“Jangan bilang kamu nonton begituan lagi Gilang?“ seru James membuat Gilang tertohok. “Trus kenapa? Lagian kalo aku nonton begituan lagi kenapa? Masalah?“ ucap Gilang protes meskipun sebenarnya saat ini ia sedang menonton siaran TV lokal saja yang memuat akan berita-berita tentang perkembangan bisnis dan saham. Disana juga ada laporan, bahwa saham dari perusahaan yang dipimpin oleh James meningkat pesat. Perusahaan James digadang-gadang akan masuk ke dalam tiga besar perusahan paling berpengaruh di dunia. Hm, hebat juga suami gue ini?, batin Gilang tersenyum samar. Eh? Gilang pun cepat-cepat merubah ekspresinya kembali seperti semula. Bisa-bisa nanti James salah paham lagi, batin Gilang.
“Ya, nggak masalah sih. Tapi, lumayan juga bisa jadi referensi buat kamu Gilang. Jadi, kamu makin tau gimana caranya nungging yang bener. Ya nggak?“
“Hah?“
Uh, James si iblis cerdik ini, ingin Gilang memberikan bogeman manis di wajah tampannya itu. Eh? Jangan, jangan, kalau wajah tampan James babak belur, nasib Gilang bagaimana? Gilang tidak ingin menyakiti suami sendiri sampai sebegitunya. Eh? Suami? Gilang pun menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. “Mesum banget kamu Jim. Ck, rese!“ ucap Gilang sebal. “Kamu yang mulai duluan. Kok malah aku yang dibilang rese? Tapi, aku bener, kan?“ ucap James. Gilang mendengus. “Duuhh istri Mas Jimmy udah gede, ya? Hahahahahaha,“ goda James sambil tertawa terbahak-bahak. Gilang pun mendeliki. Ia menatap James dengan tatapan membunuh. Huh, dasar James, kalau saja bukan suami sendiri, sudah pasti akan Gilang tendang sedari tadi.
“Jim,“
“Hm?“
“Ntar nobar, yuk?“
“Nobar apaan?“
“Drama korea terbaru, Where The Moon Rises,“
“Alur ceritanya gimana emang?“ tanya James sambil makan kerupuk.
“Tentang kerajaan gitu~ Jelasnya sih aku kurang tau. Ya, ntar malem nobar aja langsung biar tau.“
“Hm gitu~“
__ADS_1
“Jim, nanti abis dari sini ke alfa dulu, ya? Mau beli sesuatu,“
“Beli apaan emang? Jangan-jangan beli itu, ya???? Hmmm kek aku nggak tau aja Gilang~“
Hah, Gilang menghela nafas. Otak kalau sudah dipenuhi hal-hal kotor, memang susah untuk diajak kompromi, ya? Semua hal pasti akan ditanggapi dengan pemikiran mesum. Uh, punya suami kok gini amat?, batin Gilang. Lihatlah keusilan James saat ini yang menatap Gilang dengan tatapan seolah-olah ia sedang bergairah. “Udah Jim, malu-maluin aja ah,“ ucap Gilang protes.
“Mau beli apa sih?“ seru James saat ia dan Gilang tiba di alfa. Gilang mengelilingi area dimana berbagai macam jenis mie instan tertata rapi. “Mau beli mie korea samyang buat nobar,“ sahut Gilang. “Mie indomie aja lebih enak, Gilang,“ ucap James. Saat Gilang mendelik tajam, James pun diam saja. Hadeuh, susah memang kalau punya istri hobi streaming, batin James.
Gilang pun membeli empat bungkus mie samyang dan sebotol cocacola. Hm, ada satu yang kurang, yaitu ayam. Hehehehe, batin Gilang tertawa misterius. “Jim?“ seru Gilang sambil mengedipkan mata beberapa kali. Pasti ini anak ada maunya, batin James seakan sudah tau ada maksud terselubung dari senyuman manis Gilang itu. “Ntar sekalian pulang singgah ke McD dulu, ya? Ya ya ya?“ ucap Gilang manja.
“Hah? Sanggup abisin emang?“
“Kan buat ntar malem? Buat nobar? Kan biar mirip kayak di drama-drama gitu. Di mereka tuh ada istilah chimaek, kepanjangan dari chikin maekju, artinya ayam sama bir. Tapi, kan kita nggak boleh minum bir?“
“Iya trus?“
“Nah, ganti sama cocacola. Samyang nya udah, tinggal ayamnya aja yang belom,“
Dalam hati James benar-benar harus bersabar menghadapi kebiasaan aneh Gilang yang tidak biasa ini. Tapi, bagaimana pun, itu lah Gilang. Semua orang mempunyai hobi dan kesenangan masing-masing. Hm, Kira-kira aku sama aktor-aktor korea yang ada di drama itu, lebih tampakan yang mana, ya? Huh, ya iyalah aku lebih tampan. Buktinya Gilang mau nikah sama aku? Hehehe, batin James.
Gilang dan James duduk lesehan di depan TV sambil menonton drama Where The Moon Rises episode 1. Sambil menonton drama, Gilang sambil memasak mie di depan TV. Jangan khawatir teman-teman, mereka itu pakai kompor listrik. Jadi, tidak perlu bersusah payah membawa tabung gas kemari. “Jim, ambilin keju di kulkas,“ ucap Gilang. James yang saat ini mengenakan celana pendek di atas lutut—serta kaos oblong putih polos pun berdiri. Lalu, berjalan menuju dapur, mengambil keju lembaran di kulkas.
“Jim! Telurnya dua!“ ucap Gilang lagi. James? Huh, sabar-sabar, batin James. Setelah mengambil keju dan telur, James pun duduk di samping Gilang dengan satu tangan yang ia lingkarkan di pinggul Gilang. Gilang terlihat serius menonton drama itu sambil mengelus tangan James yang melingkar di pinggul. Itu scene tersedih di episode 1, saat si tokoh perempuan harus kehilangan seseorang yang dia cintai setelah gugur dalam peperangan. Si tokoh perempuan itu pun mengecup bibir pria itu. Uh, dramatis sekali, batin Gilang.
Gilang menyuapi James mie instan samyang ala korea. James tidak bisa fokus menonton, karna ia sibuk berjibaku dengan laptop. Dilihat dari layar laptop, itu sudah pasti berkaitan dengan kerjaan kantor, batin Gilang. Gilang tidak seposesif itu sehingga ia melarang James bekerja hanya demi menonton drama bersama. Duduk berdua seperti ini saja sudah membuat hati Gilang sangat senang.
“Saham kamu lagi naik loh?“ seru Gilang. “Alhamdulillaah rezeki sayang~“ sahut James seolah tidak mengerti maksud Gilang. Ya, memang benar-benar tidak mengerti. Lalu, James harus bagaimana? “Nggak ada niatan ngasih aku apa gitu?“ ucap Gilang. James pun menoleh. “Mau apa? Biar aku pesenin. Ehem, sepatu LV? Kaos channel? Ato tas hermes? Mau yang mana?“ ucap James malah membuat Gilang sebal. “Tau ah, rese, peka dikit napa,“ ucap Gilang protes. Kalau itu juga Gilang bisa beli sendiri.
“Jangan ngambek~ Aku becanda doang kok,“ ucap James lalu memeluk Gilang. James kecup pipi Gilang mesra. “Sana~“ ucap Gilang berlagak sebal. Tapi, sebenarnya tidak sama sekali. Lihatlah kedua pipi Gilang yang memerah itu. Hm, cukup jelas, bukan? “Iya iya~ Nanti aku atur waktu buat kita liburan berdua. Bulan madu ya sayang??? Hehe muach,“ ucap James mengecup pipi Gilang lagi.
.
.
.
__ADS_1
Fanboy garis keras!!! 🤣🤣🤣 Gue satu serper ama si Gilang hadeuh Gilang Gilang 🤣🤣🤣