GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 46


__ADS_3

Tiba di rumah, Gilang masuk ke dalam terlebih dahulu dan diikuti oleh James di belakang. “Gilang,“ seru James. Gilang mengacuhkan James. Ia pergi ke kamar berganti pakaian, lalu ia lilitkan sehelai handuk itu di pinggul. Benar, Gilang ingin langsung mandi saja, baru setelah itu beristirahat dan tidur. “Mulai besok aku nggak mau kerja di kantor kamu lagi, Jim.“ ucap Gilang. Jelas sekali jikalau Gilang saat ini sedang marah, karna masih kecewa atas perlakuan James tadi siang di ruang rapat.


Saat Gilang ingin melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi, James pun meraih pinggul Gilang, memeluknya dari belakang. “Lepasin, Jim!“ seru Gilang berontak. Bukan James namanya jika dirinya melepaskan Gilang begitu saja. “Hm? Malem ini maen, ya? Kita udah lama nggak maen sayang,“ seru James seduktif tepat di telinga Gilang. Bisa jadi Gilang marah-marah karna James jarang sekali berinisiatif untuk memanjakan Gilang hingga membuat Gilang berteriak kenikmatan, batin James.


“Jangan macem-macem, Jim, aku lagi nggak mau—aaahhhh,“ sahut Gilang diiringi suara lenguhan saat James meremas milik Gilang dan suara-suara indah itu kontan membuat James semakin bergairah. “Kamu makin..sensitif aja ya, sayang? Udah lama nggak dikeluarin, ya? Hm?“ ucap James menggoda sembari ia jilati kuping Gilang bagian dalam. “Ngghh haaaa aahhh Ji-Jimh,“ gumam Gilang.


Kata orang jikalau ada sepasang semua istri tengah bertengkar hebat, cuma ada satu obat yang paling mujarab untuk membuat keduanya berbaikan kembali, yaitu dengan saling memuaskan satu sama lain. James mendusel-duselkan hidungnya di pundak Gilang sembari mengecupnya beberapa kali. “Uhhh sssttt Jim aahhh Ji-Jihhmm ngh,“ gumam Gilang lagi saat satu tangan James sengaja ditelusupkan ke dalam sana dan bermain-main dengan si kecil, sambil satu tangan lagi memelintir biji kacang itu di sebelah kiri.


James putar badan Gilang. Lalu, ia pun langsung mencium bibir Gilang dengan liar sembari membimbing tubuh itu rebahan telentang di atas ranjang. Sembari memberikan gigitan-gigitan kecil di bibir hingga leher, James melepas celana yang Gilang kenakan hingga terlepas semua. Dan terpampanglah si kecil nan menggoda itu. Bahkan, dia sudah menegang sempurna. “Mmmhhh,“ gumam Gilang saat bibir James terus saja bergerilya di area dada hingga pusar sambil satu jari ia masukkan ke dalam lubang itu.


“Eunghh! Jimh! I-it-it-uh hah lag-lagiih di-disituuuhh aahhhh ah Jihhmmm,“ gumam Gilang membuat James semakin bersemangat merojok bagian itu di dalam sana. Gilang meremas sprai kasur kuat-kuat. Sensasi ini pun bahkan membuat bulir-bulir mutiara itu berjatuhan perlahan. Tubuh Gilang kian melemas. Sentuhan James benar-benar membuat Gilang menggila. Bibir Gilang bergetar saat James memberikan serangan dari tiga arah sekaligus, tangan kanan memelintir dua biji kacang bergantian, tiga jemari tangan kiri bermain-main di dalam sana, dan bibirnya yang setia mengulum dua biji telur itu seperti mengulum permen.


“Haah ah ah ah Jihhmmm udaaah ngghhh nghhh ah ahhhh ssssttt hmmpphhh aahhh ughhh,“ gumam Gilang blingsatan. James usap pipi Gilang lalu ia kecup kedua matanya bergantian. Sungguh air mata cinta ini benar-benar salah satu tanda cinta kasih Gilang untuk James. Betapa rasa cinta itu kian membesar setiap harinya. “Ugh! Jim-miiihhhh aaaarrrrgghhh Jimmmhhh uuuh ah ah ah ngghhh ngh ngh mmhhh Jiimmiiihhh ah ah ah ah ah,“ Gilang berteriak saat James mendorong miliknya secara tiba-tiba hingga miliknya pun berhasil melesak masuk ke dalam sepenuhnya. Dengan ukuran kurang lebih tujuh belas senti meter, tentu saja mampu membuat Gilang berteriak dengan keras sampai menangis-nangis.


“Ji-Jimh pep-pe-lahn pe-lahn sa-sakit Jihmm ugh udahh ampunhnn Jihmm heungghh aahhh uh hah hah hah,“ ucap Gilang sambil terisak menahan perih. James kecup kening Gilang lama sekali. Perlahan-lahan Gilang pun terlihat lebih rileks. Uh, air mata mengalir di pipinya yang memerah seperti udah rebus itu, dia terlihat sangat seksiseksi sekali, batin James. Sebelum James menggerakkan pinggulnya lebih cepat lagi, ia kulum jari-jemari tangan Gilang kirim dan kanan secara bergantian hingga Gilang merasa jari-jemarinya basah oleh air liur James.


“Panggil nama aku sayang~“ ucap James mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan cepat. James tau Gilang sedang kesakitan menahan perih. “JIM-MIIHHH AH AH AH AH AH AAAAHHHHHH,“ teriak Gilang menarik sprai kasur sampai tidak berbentuk lagi. Found it!, batin James menemukan titik ternikmat itu pada akhirnya. Kini rasa perih itu pun tergantikan oleh rasa nikmat—yang tadinya Gilang terisak, kini ia pun memanggil-manggil nama James, dan meminta James untuk merojok bagian itu lagi dan lagi.


“Jiimmhh eh-nahk ngh lagih dorong Jimh lag-ihh aaahhh ah ah ah ah ah unggghhh aaaaahhhhhhhh,“ gumam Gilang—pun pada akhirnya menyemburkan cairan putih itu hingga ke perut. James olesi milik Gilang dengan cairan itu hingga licin. Kini giliran James untuk meraih puncak kenikmatan itu. James itu usil. ia tau jikalau milik Gilang itu masing sangat sensitif. Tapi, malah ia urut naik turun sambil menggoyangkan pinggulnya dengan cepat. “A-aku keluar sayanggh aaaahh enggh hmph,“ ucap James melenguh. Ia pun menyemburkan cairan putih itu di dalam sana.


James kelelahan. Ia pun rebahan di samping Gilang dengan posisi miliknya yang masih tertancap di dalam sana. “Udah tidur sayang?“ tanya James sambil mengusap surai rambut Gilang. “Hmmm belum Jim..“ sahut Gilang pelan dengan suara agak serak. “Kok ngeganjel sih, Jim?“ ucap Gilang dengan kedua alis berkerut. “Masih di dalem sayang~ Aku mau kita tidur kek gini,“ sahut James. Lalu, ia kecup pucuk kepala Gilang sayang.


Terdapat secercah rasa bersalah di relung hati Hardinata yang paling dalam. Hardinata ingat hari itu, hari dimana ia tidak sengaja bertemu dengan Tristan—yang ternyata adalah tutor sang adik, Lia. Tristan bersikap tidak biasa. Dia terlihat kesal tanpa sebab. Padahal Hardinata tidak melakukan apapun hari itu. Hm, kira-kira kenapa, ya?, batin Hardinata heran. Sepanjang hari ini Hardinata agak sedikit kurang fokus karna memikirkan hal ini. Huh, bisa-bisanya gue mikirin orang ampe kek gini banget, batin Hardinata menghela nafas.


Hardinata pun melajukan mobilnya menuju Jl. MT Haryono, tempat dimana Tristan tinggal. Jujur perasaan mengganjal di hati ini membuat Hardinata tidak nyaman. Gue rasa gue musti ngomong ama tuh anak, batin Hardinata. Ia pun tiba di apartemen Tristan. Tring tring tring. Hardinata memencet bel berkali-kali. Tapi, Tristan sama sekali tidak membukakan pintunya. Dia marah ke gue apa gimana sih?, batin Hardinata. Ia pun memencet bel itu lagi dan lagi. “Cari siapa mas?“ seru seorang satpam. Ia pun menoleh. “Uhm, Tri-Tristan, pak.“ sahut Hardinata. “Hm, keknya dia belum pulang deh, pak. Soalnya dia jadi dosen di kampus. Tapi, kalo diliat dari jamnya sih, mungkin bentar lagi pulang, kok.“ ucap si satpam. “Oh~ Gitu ya, pak? Makasih banyak infonya ya, pak?“ ucap Hardinata berterima kasih.


Tristan pun turun dari mobil. Lalu, masuk ke dalam apartemen setelah mengunci mobil terlebih dahulu. Ia pun naik lift menuju lantai lima. “Hm?“ gumam Tristan terkejut saat ia melihat seorang pria seperti sedang menunggu seseorang. “Pak CEO?“ seru Tristan menghampiri. “Ngapain kesini, pak?“ tanya Tristan malas. “Bisa bicara di dalem aja nggak? Malu diliatin orang,“ sahut Hardinata ketus. Tristan mau tidak mau ia pun mempersilahkan Hardinata masuk ke dalam.

__ADS_1


“Cepetan, mau ngomong apa emang?“ tanya Tristan tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Tristan lelah. Ia sedang tidak dalam mood untuk meladeni orang seperti Hardinata saat ini. “Kamu..marah sama saya?“ seru Hardinata ragu-ragu. “Jadi, bapak dateng kesini cuman mau nanyain itu doang?“ tanya Tristan menohok. Hardinata merasa saat ini Tristan sedang tidak bersahabat. Hardinata pun diam. “Kalo nggak ada yang diomongin, silahkan Pak CEO keluar dari apartemen saya sekarang,“ ucap Tristan ketus. Ia pun beranjak dari kursi hendak ke kamar. Saat Tristan melangkahkan kaki beberapa langkah. Langkahnya pun terhenti seketika. Lalu, Hardinata pun bersuara. “Kalo saya punya salah dan ampe bikin kamu marah sama saya kek gini, tolong, bilang ke saya di mana letak kesalahan saya, Tristan. Jujur seharian ini saya nggak fokus kerja.“ ucap Hardinata kemudian.


Heh, Tristan mendengus. Ia pun memutar badan dan menghampiri Hardinata yang masih duduk di sofa. “Kalo iya kenapa?“ tantang Tristan. Hardinata menelan ludah. Ia jadi serba salah. “Seenggaknya kamu kasih tau saya letak kesalahan saya di mana, Tristan.“ ucap Hardinata yang langsung dibalas oleh Tristan. “Kalo saya kasih tau, emang bapak mau ngapain? Minta maaf ato gimana?“ cerca Tristan. “Hah?“ Hardinata cengo. Bagaimana apanya? Memangnya dia mau bagaimana?, batin Hardinata.


“Mau minta maaf atau...“ gumam Tristan mendekatkan wajahnya. Ia usap bibir itu pelan. “Ini?“ gumam Tristan lagi. Kontan Hardinata pun mengenyahkan tangan Tristan dari hadapannya. “Jangan macem-macem, Tris. Saya lagi serius,“ ucap Hardinata. Ia dan Tristan saling bertatapan dengan sorot mata tajam.


“Saya juga lagi serius, pak.“ ucap Tristan tidak mau kalah. Kesabaran Hardinata telah habis. Tristan ini benar-benar tidak bisa diajak bicara, batin Hardinata. Ia pun beranjak dari sofa dan menatap Tristan tajam. “KAMU BISA NGERTIIN SAYA SEDIKIT NGGAK, SIH?! SAYA BILANG KASIH TAU DI MANA LETAK KESALAHAN SAYA. TAPI, APA? KAMU MALAH NGGAK JAWAB SAMA SEKALI! SABAR JUGA ADA BATASNYA TRISTAN! KAMU TAU? SAYA NGGAK BISA FOKUS KERJA GARA-GARA KAMU!“ ucap Hardinata marah-marah.


Tristan tertegun setelah mendengar kemarahan Hardinata. Gara-gara gue?, batin Tristan. Lalu, apa hubungannya dengan Tristan? Huh, jujur saja lah, apa susahnya, dan mari kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh seorang CEO dunia hiburan ini. “Saya marah, karna anda nggak mengakui saya sama sekali, Pak CEO.“ ucap Tristan. Hardinata masih bingung, maksud Tristan ini apa? Mengakui apa? “Mengakui apa maksud kamu, Tristan?“ tanya Hardinata. Tristan memutar bola mata malas. “Pikir aja sendiri,“ sahut Tristan masa bodoh. Ia pun melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Namun, sejurus kemudian Hardinata pun meraih pergelangan tangan Tristan. “Tolong kasih tau saya, Tristan. Mengakui apanya, hah?“ Hardinata mulai kesal.


Hah, Tristan pun menghela nafas. Tristan tatap Hardinata dalam-dalam. Dia terlihat sangat menanti jawaban dari Tristan. “Kalo anda dan saya punya hubungan deket,“ sahut Tristan kemudian. Hardinata pun perlahan melepaskan cengkeraman itu. Jadi, Tristan marah karna itu? Hu-hubungan dekat?, batin Hardinata masih dilanda kebingungan. Ini lebih sulit dari memecahkan sebuah teka-teki di buku. “Maaf,“ ucap Hardinata. Sungguh ia tidak mempunyai solusi lain selain meminta maaf. “Maaf, Pak CEO. Tapi, saya nggak bisa maafin anda. Silahkan anda keluar dari apartemen saya. Sekarang!“ ucap Tristan ketus.


Oh tidak, Hardinata juga ingin tidur nyenyak. Hardinata tidak ingin berada dalam perasaan bersalah yang berkepanjangan. Bisa-bisa Hardinata tidak bisa tidur nantinya. “Ok, jadi saya musti gimana supaya kamu mau maafin saya? Hm?“ tanya Hardinata. Tristan tatap mata itu sebentar sebelum menjawab. “Kalo berani cium bibir saya, saya pasti maafin,“ sahut Tristan.


“Kamu?!“


Tristan tersenyum miring. Sial sial sial!, batin Hardinata geram. Hei, ayolah, gue ini cowok ya, bukan cewek, masa gue nyium cowok sih?, batinnya. “Cepetan, berani nggak?“ goda Tristan. Cih! Ciuman saja, kan? Emangnya gue takut, apa? Lihat, gue pasti berani, batin Hardinata bertekad. Hardinata pun mendekat. Ia memejamkan mata. Lalu, cup, ia kecup bibir Tristan. Hm, cuma menempel saja, tanpa ada pergerakan apapun disana.


Bukan Tristan namanya kalau ia tidak usil. Tristan pun meraih pinggul Hardinata hingga membuat tubuh keduanya saling berhimpitan. Kedua mata Hardinata langsung melebar seolah-olah ingin keluar. “Hmph!“ gumam Hardinata sambil memukul-mukul dada Tristan. Namun, Tristan mencoba menahan tubuh Hardinata sekuat tenaga sampai Hardinata pun menyerah dan tidak ada pemberontakan sama sekali. Saat Hardinata mulai tenang, saat itulah, lidah Tristan melesak masuk ke dalam sana. Ia pun mengecap seluruh isi rongga mulut Hardinata. “Eummhhh ngh,“ gumam Hardinata.


Dua bulan pun telah berlalu. Kontrak antara Daffin dan MXD pun telah berakhir. Hari ini adalah hari yang amag sangat mendebarkan bagi sepasang kekasih Chris dan Daffin—yang dimana mereka akan melangsungkan pernikahan di Grand Ballroom, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Chris dan Daffin berada di ruangan yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk membuat keduanya merasa semakin deg-degan saat bertemu di atas altar nanti.


Setelah selesai dirias dan berganti pakaian. Si penata busana pun memasang veil di kepala Daffin. Ini veil dengan tipe Elbow Length Veil—yang dimana panjang veil ini cuma sampai ke siku saja. Huft, Daffin berkali-kali menghembuskan nafas. Ia gugup. Olivia terharu melihat putera semata wayangnya akan menikah hari ini. Olivia sampai harus mengusap air matanya dengan tisu. “Daff, nanti, kalo udah nikah sama Chris, jangan sering marah-marah sama Chris, ya? Kamu juga musti belajar masak, trus bersih-bersih rumah,“ ucap Olivia. Lagi-lagi ia tidak bisa membendung air mata ini. “Ma..“ seru Daffin. “Mohon restuin Daffin ya, ma?“ ucap Daffin sembari mengusap air mata sang ibu. Uh, beginikah perasaan tiap orang tua saat ingin melepaskan anaknya untuk hidup bersama pasangan hidupnya?


Di Grand Ballroom ini, telah hadir kurang lebih seribu tamu undangan, mulai dari kerabat dekat dan jauh—juga kawanan bisnis serta arisan. Daffin mengenakan stelan jas berwarna broken white. Sedangkan Chris berwarna abu-abu. Di sepanjang altar, Daffin digandeng oleh Nugraha dan Olivia kiri dan kanan. Kedua orang tua Daffin akan mengantarkan Daffin sampai kepada Chris. Daffin berjalan sambil membawa sebuket bunga pengantin. Di sana, di sana ada calon suami gue, batin Daffin. Ia mencoba menahan rasa keterharuan ini, supaya air mata ini tidak luruh begitu saja.


Chris pun mengulurkan tangan menyambut Daffin. Daffin raih uluran tangan Chris itu dengan jantung berdebar-debar. Nugraha dan Olivia pun duduk di kursi yang sudah disediakan di atas altar, khusus untuk orang tua mempelai. Chris gugup bukan main. Hari ini Daffin benar-benar terlihat sangat tampan. Daffin pun menangis setelah keduanya mengucap janji suci pernikahan. Daffin benar-benar tidak bisa lagi membendung air mata haru ini. Setelah saling bertukar cincin, Chris buka veil yang menutupi wajah Daffin itu. Keduanya pun saling bertatapan dan tenggelam dalam perasaan cinta dan haru. Chris kecup bibir Daffin beberapa detik sampai tim fotografer berhasil mengambil gambar. Setelah itu Chris dan Daffin pun duduk di pelaminan.

__ADS_1


Pelaminan pernikahan Chris dan Daffin ini bernuansa keemasan. Di sisi kiri dan kanan terdapat pohon buatan yang menjulang dengan dedaunan berwarna putih—yang mengusung konsep bunga sakura jepang. Di langit-langit terdapat gantungan lampu kristal nan mewah dengan rantai-rantai menjuntai indah. Sedangkan di bagian belakang kursi pelaminan, terdapat bunga-bunga dengan campuran warna merah muda dan putih.


Para tamu undangan pun naik ke atas pelaminan dan bergiliran berfoto serta bersalaman dengan kedua mempelai—juga kedua orang tua mempelai. Dikarnakan Chris tidak memiliki seorang ayah, ia pun diwakilkan oleh kakak tertua dari sang ibu, Mayang. “Chris, ntar malem jangan kenceng-kenceng, pelan-pelan aja~ Asek~“ goda Tristan saat bersalaman dengan Chris. “Bangsat lu. Gue udah bilang, kan? Kita end kalo lu nggak dapet gebetan?“ ucap Chris. Tristan pun tersenyum dengan percaya diri. “Gue dateng bareng gebetan gue, noh di sebelah gue,“ ucap Tristan. Chris pun menoleh tidak percaya. “Hah? Masa? Itu CEO kantor Daffin, ngab.“ ucap Chris saat ia melihat Hardinata bersalaman sembari mengobrol dengan orang tua Daffin. “Masih PDKT ngab~ Do'ain aja lah ehem,“ ucap Tristan. Chris pun terkekeh sambil menepuk pundak Tristan memberikan semangat.


Acara resepsi pernikahan Chris dan Daffin pun selesai hampir jam 12 malam. Jujur saja Daffin sudah pegal-pegal karna kelelahan setelah berdiri berjam-jam di pelaminan, sampai-sampai ia memukul-mukul pundaknya sendiri. Daffin pun menguap. “Nggak mandi dulu mas?“ seru Daffin duduk di pinggiran ranjang saat ia melihat Chris berganti pakaian. “Udah malem, Daff,“ sahut Chris. Daffin mengucek-ngucek mata karna ia sudah sangat mengantuk sekali. Uh, keknya gue mandi besok aja deh, capek banget, batin Daffin sambil meregangkan badan.


Satu dua tiga. Chris pun langsung melompat ke atas kasur—yang di mana Chris berada di atas Daffin. “Mas, ya ampun, minggir mas minggir. Kamu berat banget tau nggak, sih?“ protes Daffin. “Eh, ini tuh malam pernikahan kita sayang~ Masa kamu nggak ngerti sih?“ ucap Chris. “Tau ah~“ sahut Daffin manja. “Ngantuk mas, mau tidur,“ ucap Daffin lagi dengan mata terpejam. “Hm? Mas tinggal bikin kamu melek lagi sayang beres, tunggu,“ ucap Chris.


“Mahs..aahhhhh,“ Daffin melenguh saat Chris menelusupkan tangannya ke bawah sana. Awalnya Chris meremas milik Daffin. Tapi, sejurus kemudian, Chris pun memasukkan satu jarinya ke lubang itu dengan kondisi Daffin masih mengenakan celana. “Ngghh mahs sssttt aaahhhh,“ gumam Daffin lagi. Kedua alis Daffin bahkan sampai berkerut seperti itu saat dua jari Chris bermain-main di dalam sana dengan posisi seperti menggunting.


FLASHBACK ON


Satu minggu lalu. Tristan mencari info lokasi di mana kantor Hardinata berada. Saat ia tau di mana, ia pun langsung ke sana selepas mengajar di kampus. “Permisi, ruangan Pak Hardinata di mana, ya?“ tanya Tristan. Seorang resepsionis pun menunjukkan jalan menuju ruangan CEO Hardinata kepada Tristan tanpa ada perasaan curiga sedikit pun. Karna menurut resepsionis itu penampilan Tristan terlihat sangat berkelas dan meyakinkan. Dia pasti orang penting. Lagi terlihat sangat tampan, batin si resepsionis.


“Selamat sore, Pak CEO?“ seru Tristan tersenyum dengan sebelah alis terangkat. “Ngapain kamu kesini!?“ tanya Hardinata terkejut. Tristan pun mendekat ke meja Hardinata. “Minggu depan nikahannya Chris sama Daffin. Kebetulan Chris itu sahabat saya satu kampus.“ ucap Tristan. “Maaf, itu bukan urusan saya. Lebih baik anda keluar. Sana sana hus hus.“ ucap Hardinata dengan nada mengusir.


“Dateng bareng saya kesana. Ehem, maksud saya dateng kesana sebagai pasangan.“ ucap Tristan to the poin. “Gila kamu, ya?! Cari cowok lain aja sana. Tristan, jangan mentang-mentang kita udah ciuman sekali trus kamu seenaknya sama saya, ya?“ ucap Hardinata ketus dengan mata setengah melotot. Tristan sepertinya harus menggunakan jurus terakhir untuk membujuk Hardinata.


Ia pun menunjukkan sebuah video CCTV kepada Hardinata. Di video itu Hardinata dan Tristan berciuman. “Kalo saya upload ini ke sosial media gimana? Hm?“ ancam Tristan. Hardinata mengepalkan tangan. “Mau kamu apa?“ tanya Hardinata kemudian. “Simpel aja, jadi pasangan saya di nikahannya Chris sama Daffin, ok?“ sahut Tristan tersenyum penuh kemenangan. Hah, Hardinata menghela nafas. Mau tidak mau ia pun harus memenuhi permintaan tidak masuk akal si brengsek Tristan ini.


FLASHBACK OFF


.


.


.

__ADS_1


Baru up lagi kalo likes ampe 40 ya di chap ini!


__ADS_2