GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 58


__ADS_3

Chris tinggal sendirian di apartemen. Dia hampir tidak pernah keluar dari sini sama sekali, sejak dua mingguan ini. Dia juga bekerja dari dalam apartemen. Kalaupun ada keperluan apa; dia akan menghubungi orang kantor untuk mengantarkan berkas kemari. Tring tring tring. Hp Chris berdering. Itu dari salah seorang mata-mata yang ia sewa. “Maaf, mengganggu, pak. Daffin Hernando ada di Blok M Square, pak,“ ucap orang itu dari seberang sana. Sambungan telepon pun terputus. Chris langsung mengambil masker hitam, topi, dan kunci mobil.


Satu mata Chris memang mengalami kebutaan. Tapi, ketahuilah bahwa hal itu bukan berarti ia tidak bisa menyetir. Cuma dikurangi kecepatan saja. Chris benar-benar merasa sangat senang; mendengar kabar jikalau Daffin baik-baik saja, dan sedang berkumpul bersama teman-temannya. Tiba di Blok M Square. Chris melihat seseorang tengah menyanyikan sebuah lagu. Itu Daffin, batin Chris. Lalu, ia pun mencari tempat yang agak jauh dari tempat di mana Daffin sedang duduk. Di sini saja. Benar. Cukup memandang Daffin dari sini saja, sudah mampu membuat rasa rindu di hati ini sedikit terobati.


Chris tidak mengerti; lagu apa yang sedang Daffin nyanyikan. Tapi, yang pasti lagu itu terdengar sangat mendalam. Entah mengapa perasaan Chris terasa agak perih seperti disayat-sayat. Sungguh rasa rindu di hati ini lebih sakit dari apapun. Chris tersenyum pahit menahan sesak di d a d a. Bahkan kedua mata Chris juga memerah. Daffin, maafin mas, batin Chris. “Chris?“ seru seseorang. Chris pun menoleh. Dia adalah Ganendra. Bagaimana bisa Ganendra mengenali ku? Padahal aku udah make masker hitam?, batin Chris.


“Kenapa kamu di sini aja? Kenapa nggak nyamperin Daffin?“ tanya Ganendra. Chris diam seribu bahasa. Ganendra pun tersenyum penuh arti. “Jangan bilang kalo kamu sama Daffin udah pisah?“ ucap Ganendra tepat sasaran. Chris tersenyum kecut. Jujur ia sudah tidak mampu mengatakan apapun lagi. Ingin ia melangkahkan kaki maju ke depan, lalu berkata, “Daffin, aku datang,“. Tapi, hal itu amat sangat tidak mungkin. Ia tau; ia sadar; bahwa apa yang telah ia lakukan selama ini terhadap Daffin adalah kesalahan besar. Dalam hati kecil Chris; ia berharap dengan amat sangat; supaya Tuhan memberikan satu kesempatan lagi untuk dirinya dan Daffin.


“Chris.. Saat kesempatan kedua nanti dateng buat kamu dan Daffin. Gunain sebaik mungkin, karna nggak akan ada lagi kesempatan ketiga keempat apalagi kelima. Dia itu mandiri, dia nurut sama kamu, dia juga berpendidikan, kurangnya apa Chris? Sampe kamu tega sama dia, hah? Kamu liat aku sekarang. Nurut kamu kenapa aku nggak nikah-nikah ampe sekarang setelah gagal beberapa kali? Karna di masa lalu aku selalu nyia-nyiain kesempatan kedua itu, Chris,“ ucap Ganendra panjang lebar.


“Ganendra.. Tangan aku udah kotor, aku takut Daffin, dia bakalan benci aku seumur hidup dia. Tapi, jujur aku nggak sanggup hidup tanpa dia, Ganendra. Tiap hari aku ketemu cewek cowok yang beda-beda. Tapi, apa? Cuman dia yang bisa bikin aku rasanya kek hampir gila cuma gara-gara mikirin dia,“ ucap Chris merasa sangat bersalah. Daffin begitu dekat, tapi juga sulit untuk dijangkau. Hah, Chris pun menghela nafas berat. Daffin sayang, mas kangen banget, mas kangen banget sama kamu, Daffin, batin Chris. Ganendra pun tersenyum tipis sembari menyentuh pundak Chris; memberi semangat.


Setelah melangsungkan pernikahan dua minggu lalu. Herman tinggal bersama Efan di sebuah perumahan di Jl. Ciuncal, Ciracas, Jakarta Timur. Bangunan rumah ini bisa dibilang tidak terlalu besar; dengan luas 60 meter persegi, dua kamar tidur, dan satu kamar mandi di dekat dapur. Ini adalah salah satu syarat—yang diajukan oleh Efan; jikalau Herman ingin dibantu oleh dirinya, yaitu tinggal di rumah kecil ini bersama. Efan tidak ingin menjatuhkan harga dirinya sendiri, dengan tinggal di rumah super duper mewah, dan megah—yang dimiliki oleh Herman. Efan juga melarang Herman untuk memberinya sejumlah uang. Bisa dibilang ia membantu Herman tanpa meminta balasan dalam apapun.


Tidur pun di kamar yang berbeda. Jujur saja entah itu Efan atau Herman; mereka masih terlihat sangat canggung. Padahal sebelum memutuskan untuk menikah, mereka terlihat seperti sahabat karib, suka bercerita ini dan itu. Tapi, setelah menikah serasa seperti orang yang baru pertama kali kenal. Jangan tanya mereka sudah sejauh mana. Ciuman saja sama sekali tidak pernah. Efan telah tiba di rumah sejak jam tiga sore tadi. Kalau di rumah; sudah pasti berpakaian biasa-biasa saja. Kaos tipis dan celana pendek selutut.


Semangkuk mie instan sedap goreng, plus telur rebus, dan cabai tiga sendok pun sudah siap. Tinggal cari film Jepang yang seru untuk ditonton, lalu ia sambungkan ke TV, supaya bisa lebih puas menonton filmnya. Efan menonton sebuah film—yang ia sendiri tidak tau judulnya apa—yang jelas ini adalah sebuah film yang menceritakan perjuangan seseorang—yang ingin menjadi pebalap sepeda handal. Terdengar suara mobil dari luar. Sudah pasti itu adalah Herman. “Assalamu'alaikum,“ Herman mengucapkan salam sembari melepas sepatu, lalu meletakkannya di atas rak.


“Wa'alaikumussalam,“ sahut Efan. Herman pun duduk lesehan di sebelah Efan. Dia terlihat sangat letih—pun sambil melepas jas, rompi, dan dasi. Lalu, ia lepas kemeja biru langit itu, dan cuma menyisakan kaos oblong tipis saja. Herman menguap. Dia agak sedikit mengantuk. “Jangan tidur sore, nggak bagus,“ ucap Efan menegur, lalu menyantap mie goreng. Efan pun melirik ke jam dinding. “Udah jam empat lewat, Her. Kamu udah salat?“ tanya Efan. Herman melarang Efan memanggil dirinya dengan sebutan mas atau om. Herman cuma ingin dipanggil dengan nama saja.


“Maaf, aku nggak bisa salat, alias nggak tau caranya salat kek gimana,“ sahut Herman merasa tidak enak hati. Efan pun tersenyum. Ia tidak lantas mengejek Herman. Ya, maklum saja, bisa jadi dia dibesarkan di tengah-tengah keluarga—yang memang minim ilmu agama. Bahkan mengajarkannya salat saja tidak. Herman berpikir macam-macam. Pasti di dalam hati Efan, dia ilfil sama aku gegara aku nggak bisa salat? Taunya cari duit aja, batin Herman. “Ntar aku ajarin, tapi kamu mandi dulu, ok?“ ucap Efan kemudian.


Beberapa saat kemudian; sesaat setelah Herman selesai mandi. Efan pun mengajak Herman ke kamar mandi, dan mengajarkannya cara berwudhu. Sebenarnya Efan sudah salat ashar. Tapi, demi ingin mengajarkan Herman salat, ia pun mengulang salatnya kembali. “Her, kamu ikutin gerakan aku, ya?“ ucap Efan sembari membetulkan peci. Efan dan Herman pun salat bersama. Sedangkan Herman pelan-pelan mengikuti gerakan imam, yaitu Efan.

__ADS_1


Tinggal di rumah kecil seperti ini berdua lebih baik daripada tinggal di rumah besar—yang di mana di sana cuma membahas seputar bisnis dan masalah status sosial saja. Herman merasa seolah terlahir kembali. “Kenapa Her? Kok bengong?“ tanya Efan. Jujur sebenarnya Efan canggung dan gugup saat berbicara dengan Herman. Tapi, di sisi lain, ia juga tidak mungkin bersikap terlalu cuek dan pendiam. Huh, dasar Herman, batin Efan. “Ef—“ ucap Herman terhenti seketika. Saat hp Efan berdering tiba-tiba.


Itu panggilan video call dari kedua orang tua Efan: Nurul dan Surya. “Efan, kamu masak apa, nak? Udah makan belom?“ tanya Nurul. “Nggak masak apa-apa, ma. Paling-paling nanti go food aja kalo mau makan mah,“ sahut Efan. Herman sengaja duduk agak menjauh dari Efan. Dia tidak ingin mengganggu kemesraan antara anak dan ibu itu. “Ef? Herman mana?“ tanya Nurul. Saat ia menyadari; Herman tidak ada dalam video call. Efan pun menoleh ke samping. “Her? Sini, vc sama mama,“ seru Efan, lalu meraih pinggul Herman. Herman pun tersentak kaget—pun semburat merah di kedua pipinya samar-samar terlihat.


“Her? Gimana kabar kamu, Her? Efan nggak nakal kan, ya?“ tanya Nurul bercanda. Herman pun tertawa. “Alhamdulillaah baik, ma. Nggak, Efan nggak nakal sama sekali kok,“ sahut Herman. Tanpa Efan sadari ia masih saja melingkarkan tangannya di pinggul Herman. Baru pertama kali ini Herman bisa sedekat ini dengan seorang laki-laki, dan hal itu membuat Herman agak sedikit deg-degan. Terlebih tangan Efan juga sedikit usil memberikan cubitan-cubitan kecil di sana. Setelah selesai video call; Efan langsung melesat ke toilet. Terbesit di pikiran Herman untuk melihat isi hp Efan—yang dia letakkan di lantai.


Herman pun membuka kunci hp tersebut dengan menggesernya ke atas. Lalu, ia buka salah satu aplikasi chat, yaitu whatsapp. Chat teratas dari seorang perempuan bernama Widya. Dari isi chat tersebut; bisa disimpulkan bahwa si Widya ini memiliki perasaan khusus kepada Efan. Tapi, apa jawaban Efan kepada Widya? “Maaf, aku udah punya istri,“ tulis Efan di chat tersebut. Seulas senyum tipis terukir di bibir Herman. Jelas sekali setiap balasan dari Efan; Efan terlihat menjaga jarak dan berusaha cuek. Entah mengapa terdapat secercah perasaan senang di hati. Saat Efan mengatakan dirinya telah memiliki seorang istri. Padahal kalau dilihat dari foto profil, si Widya ini lumayan cantik juga, sih, batin Herman.


Daru mengurung diri di kamar. Daru juga memilih untuk bolos kuliah selama beberapa hari. Entah trauma atau apa. Daru terus saja kepikiran tentang kejadian beberapa hari yang lalu itu—yang di mana ia dinodai oleh Djaka. Keluar kamar pun paling pas mau makan saja. Idah cemas bukan main. Tapi, Didin meminta Idah untuk membiarkannya begitu saja. Daru tidak selemah itu. Bentar lagi paling balik lagi dia, ucap Didin. Daru tiba-tiba teringat; saat Djaka berada di atas, dan ia berada di bawah; ia beberapa kali mengucapkan kata 'lagi lagi lagi'. Saat itu entah mengapa Daru seperti tidak bisa mengontrol bibirnya sendiri.


Daru mengacak-acak rambutnya gusar. Kenapa gue bisa-bisanya minta lagi ke dia? Arrrrgh!, batin Daru sudah tidak tahan lagi, lalu berteriak dengan sangat keras. Seperti biasa; Daru selalu melarikan diri diam-diam lewat jendela. Kalian tau kenapa? Itu karna Daru tidak ingin diinterogasi macam-macam oleh sang ibu ataupun sang ayah. Daru sengaja keluar tanpa masker. Ia dan Daffin sudah janjian di One Belpark Malah. Salah satu mal yang berlokasi di Cilandak, Jakarta Selatan. Daffin menunggu Daru di depan starbucks.


“Gue udah lumutan nungguin lu bangsat,“ ucap Daffin sarkasme. “Gue sibuk banyak kerjaan,“ sahut Daru seolah-olah dia lah orang tersibuk di dunia. Daffin memutar bola mata malas. Daffin mengenakan kaos hitam lengan pendek bertuliskan CHMPS di bagian d a d a, kerah berwarna putih, jeans hitam, serta sepatu berwarna putih. Sedangkan Daru mengenakan kemeja putih, vest bermotif gingham berwarna coklat muda, dan celana putih berbahan kain. Bisa dibilang mereka sama-sama menyukai aksesoris. Lihatlah bagaimana anting-antingan rantai itu bergelantungan dengan indah di telinga mereka. Satu alis Daffin juga dicukur membentuk garis di bagian ujung.


Dan tempat pertama yang akan mereka kunjungi di mal ini ialah Heritage The Factory Outlet. Di sana adalah salah satu sentra pakaian murah meriah di mal ini. Lama-lama banyak para gadis mengerumuni mereka; meminta tanda tangan dan foto bersama. Daffin dan Daru pun dengan senang hati mengabulkan permintaan mereka. Toh, cuma selfie dan tanda tangan saja. Setelah puas berbelanja, dan melayani permintaan fans. Daffin dan Daru selfie berdua dan sendiri-sendiri terlebih dahulu. Barulah mereka ke Solaria - One Belpark Mall untuk mengisi perut.


Daru gugup. Haruskah ia mengatakan hal itu kepada Daffin? Uhm, bisa jadi Daffin punya solusi untuk masalah Daru, kan? “Daff,“ seru Daru ragu-ragu. “Hm?“ sahut Daffin sambil menyeruput es teh lewat sedotan. “Jujur gue takut, Daff,“ ucap Daru kemudian. Daru menelan ludah sambil mengepalkan tangan. “Emang lu takut kenapa? Hah?“ yang Daffin. “Gue.. Gue udah dijebol sama orang gila, Daff,“ sahut Daru. “Pft, hah? Orang gila? Maksud lu? Serius orang gila beneran? Lu abis jalan ke mana emang?“ cerca Daffin. Hampir saja Daffin menyemburkan minuman yang ia minum.


“Djaka, om gue yang bangsat dan gila itu, Daff,“


“Trus?“


“Trus apanya? Nggak ada trus-trusan. Intinya dia yang mau dinikahin ama gue. Lu pikir sendiri aja dah,“

__ADS_1


“Trus lu mau apa?“


“Kasih saran ato apa kek. Kepala gue lagi buntu banget. Gue juga bolos kuliah beberapa hari ini, asli mager gue,“


Hm, saran, ya?, batin Daffin. Tiba-tiba ingatan Daffin berputar kembali ke kenangan tahun lalu—yang di mana hari itu adalah hari pertama ia mengenal Chris, lalu bertanding Basket satu lawan satu. Dulu Daffin begitu amat sangat membenci Chris. Tapi, apa? Kebencian itu malah berubah jadi cinta. Daffin pun tersenyum samar. “Tunggu aja~ Bentar lagi lu suka, cinta, bin bucin kok ama om lu itu,“ ucap Daffin tersenyum misterius. “Bangsat lu. Lu mau do'ain gue masuk ke lembah penderitaan apa gimana? Tega lu, Daff. Salah gue udah minta saran ke lu,“ ucap Daru kesal. Daffin pun menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. “Lu liat aja ntar. Kata-kata gue pasti bener, apalagi lu udah dijebol ama om lu, ya udah lu tinggal nikmatin aja,“ ucap Daffin masa bodoh. Daru pun jadi semakin kesal. Jalan-jalan bukannya refreshing demi membuat hati lebih tenang, malah dibuat emosi.


Hardinata singgah sebentar ke sebuah super market untuk membeli keperluan bulanan, setelah pekerjaan di kantor selesai. Soal urusan belanja seperti ini, pada dasarnya memang tugas seorang perempuan, tapi memangnya mau menyuruh perempuan mana? Hardinata juga tidak memiliki seorang istri. Hm, beli online? Hardinata lebih suka membelinya di tempat secara langsung. Hardinata begitu selektif saat memilih sayuran. Dia harus memastikan, bahwa sayuran yang ia beli nanti itu fresh, dan tidak layu. “Hm, seger, nggak layu, warnanya cerah, masih kenceng pas dipegang. Ok, kamu lulus,“ batin Hardinata saat memilih sayur manis, dan sayuran lain seperti brokoli dan kembang kol.


Hardinata tiba di apartemen dengan penuh barang belanjaan di tangan kiri dan kanan. Di depan pintu; ada Tristan berdiri; dia terlihat sedang menunggu kepulangan Hardinata. “Tristan?“ seru Hardinata. Tristan pun menoleh, dan membetulkan tangannya yang sedari tadi bersedekap di d a d a. “Kamu ngapain di situ?“ tanya Hardinata. Hah, tentu aja aku nungguin kamu, Har~ Kenapa pake ditanya segala, sih? Hm, ngeselin, batin Tristan. “Nungguin kamu,“ sahut Tristan. Hardinata geleng-geleng kepala. Ia terlihat kesulitan saat ingin menekan sandi apartemen, karna barang belanjaan di tangan. Ingin ia taruh di lantai; takut nanti malah berhamburan.


“Sini biar aku bantu pegangin belanjaan kamu,“ ucap Tristan berinisiatif. Hardinata pun memberikan belanjaan di tangan sebelah kanan kepada Tristan, lalu memasukkan sandi apartemen. Setelah pintu terbuka, mereka pun masuk ke dalam. “Kamu mau masak?“ tanya Tristan sembari menaruh barang belanjaan di atas meja kitchen set. “Hm,“ sahut Hardinata dengan deheman saja. Saat ia ingin merapikan belanjaannya sendiri; Tristan pun mencegahnya. “Biar aku yang rapiin sama masak. Kamu duduk aja,“ ucap Tristan.


Hardinata menatap Tristan dengan tatapan ragu dan remeh. Hm, emang dia bisa masak gitu? Dilihat-lihat nih orang nggak ada modelan bisa masak, deh?, batin Hardinata. Tristan pun tertawa. “Hardinata yang terhormat~ Jangan berani-berani remehin aku, aku ini jago masak tau!“ ucap Tristan percaya diri. Hardinata masih belum yakin jua. “Gimana kalo nanti malah gosong? Keasinan? Kemanisan? Kehambaran?“ cerca Hardinata. “Percayain aja sama aku, ok?“ ucap Tristan tersenyum lebar sambil mendorong punggung Hardinata, supaya keluar dari kitchen set.


Pertama-tama; Tristan memanaskan minyak, lalu menumis bawang putih dan bawang merah hingga harum. Kedua; ia masukkan cabai hingga layu. Ketiga; ia masukkan brokoli, garam, merica bubuk, dan gula. Tristan tumis semuanya hingga si brokoli matang. Barulah ia masukkan wortel, dan diaduk hingga rata. Sambil menunggu; Tristan memukul-mukul ayam bagian d a d a hingga pipih, setelah diberi perasan air jeruk nipis. Lalu, ia marinasi ayam tersebut dengan sejumput merica, garam, dan bawang putih bubuk.


Setengah jam kemudian; sepiring tumis brokoli wortel, dan dua piring chicken steak saus enoki itu pun siap. Hardinata tercengang. Ehem, ia pun berdehem. “Jangan seneng dulu, belum tentu rasanya sebagus platingnya,“ ucap Hardinata. Tristan tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya. “Cobain aja. Kamu pasti bakalan ketagihan,“ ucap Tristan sembari melepas celemek, dan menyisir rambutnya dengan jari-jemarinya. Huft, Tristan pun menghela nafas. “Gimana? Enak?“ tanya Tristan, lalu duduk di sebelah Hardinata. Ini sih lebih dari enak, persis kek makanan di restoran, batin Hardinata.


“Ehem, enak kok,“ sahut Hardinata. Tristan pun puas setelah mendapat respon positif dari Hardinata. Tiba-tiba Hardinata ingin bertanya suatu hal kepada Tristan. “Tristan,“ gumam Hardinata, lalu menoleh ke samping. “Kamu nggak capek deketin aku mulu? Kamu tau sendiri, aku udah nolak kamu mentah-mentah,“ ucap Hardinata sekaligus bertanya. “Pernah denger istilah selagi janur kuning belum melengkung nggak? Selama kamu belum ada yang punya, aku bebas dong mau ngejer kamu? Silahkan kamu nolak aku sesuka hati kamu, Har. Karna aku nggak bakalan pernah nyerah,“ sahut Tristan sembari menatap Hardinata tepat di kedua matanya. Hardinata dan Tristan pun saling bertatapan. “Tolong kamu palingin wajah kamu dari aku sekarang, Har. Jujur aku nggak tahan buat nggak nyium kamu. Bibir kamu bikin aku candu,“ ucap Tristan.


.


.

__ADS_1


.


UP KEMBALI KALO CHAP 58-59 UDAH 50+ LIKES


__ADS_2