
Setelah membersihkan diri, ia pun membuka almari, tiada sudah pakaian sang kekasih, yang biasanya bergantungan dengan indah. Sudahlah. Ini adalah keputusan terbaik. Berada dalam sebuah hubungan yang dianggap tabu oleh orang lain memang memiliki resiko tinggi.
Kesedihan ini pasti akan berlalu. Daffin hanya membutuhkan waktu saja. Ya, semoga cepat berlalu, batin Daffin. Ia pun bersiap-siap kuliah sampai harus melewatkan sarapan pagi. Sang ibu menegur namun Daffin seolah terburu-buru. Entahlah, batin Daffin.
Di pinggir jalan sorot mata Daffin tidak sengaja melihat Melisa berdiri. Mungkin dia sedang menunggu bis atau angkutan umum lain, batin Daffin. Daffin pun meminggirkan mobilnya lalu ia bunyikan klaksonnya. Daffin membuka kaca mobil, “Mel?“ seru Daffin. Melisa terkejut. Untuk apa Daffin menghampiri dirinya? “Lu mau ngampus?“ tanya Daffin. Melisa diam sesaat. Sudah lama sekali ia tidak berbicara dengan Daffin seperti ini. “Hm,“ sahut Melisa menganggukkan kepala pelan.
“Bareng gue aja,“ ucap Daffin. “I-itu..“ gumam Melisa. “Sorry Daff, gu-gue udah dijemput,“ sahut Melisa. Jangan sampai Daffin bertanya lebih lanjut, batin Melisa. Melisa tidak ingin Daffin tau lebih banyak lagi tentang dirinya. “Oh? Gitu? Gue duluan yah,“ ucap Daffin.
Daffin melihat raut muka Melisa terlihat gelisah. Mungkin Melisa menyembunyikan sesuatu dari Daffin. Entahlah Daffin juga tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Urusan diri sendiri saja sudah cukup banyak. Sangat tidak mungkin jika Daffin menambah-nambah masalah lagi. Huh, Daffin menggeleng-gelengkan kepala.
Melisa menghembuskan nafas lega. Beruntung Daffin sudah pergi, karna tidak lama setelah itu sebuah mobil hitam metalik pun datang menjemput dirinya. Seorang pria dewasa menampakkan wajahnya di balik kaca mobil yang terbuka. Dia tersenyum. Pun Melisa ikut tersenyum.
Dalam perjalanan menuju kampus, pria itu meraba-raba paha Melisa. Melisa diam saja. Melisa sudah biasa seperti ini, melayani seorang pria hidung belang, dengan bayaran tinggi tentunya. Pria itu menyingkap rok yang Melisa kenakan. Tangannya semakin ke dalam dan membuka sedikit celana d4l4m Melisa. Satu jarinya ia masukkan ke dalam lubang Melisa. Sambil menyetir pria itu sambil memainkan jarinya di dalam sana. Nafas Melisa mulai tidak teratur. Ia pun melenguh sambil menggigit bibir bagian bawah.
Protes? Itu tidak akan mungkin, karna Melisa sudah dibayar. Setelah membuat Melisa mencapai puncak kenikmatannya yang pertama, tangan pria itu pun memasukkan tangannya di balik kemeja yang Melisa kenakan. Pria itu meremas dua melon Melisa.
“Masukin jari kamu kesana, Mel.“ ucap pria itu. Sambil tangan pria itu meremas melon Melisa. Satu hari Melisa sendiri ia masukan ke lubang miliknya sendiri. “Eumh,“ Melisa kembali mengeluarkan cairan bening itu di bawah sana.
“Juan!“ seru Daffin selepas ia turun dari mobil. Disana ada juga ada Juan yang baru datang sambil menenteng tas di pundak. “Gue denger lu disiram kopi. Gimana critanya sih?? Baru bahas sekarang gue yaela telat,“ ucap Daffin. “Biasa Daff, lu jangan kepo-kepo banget dah takut gue jadinya wkwk,“ sahut Juan.
“Eh, lu tau nggak? Si Nai suka sama lu,“ ucap Daffin. “Hah?“ seru Juan mengernyitkan alis. Naila menyukai Juan? “Lu tau darimana?“ Juan tidak percaya. Pasalnya Naila sama sekali tidak menunjukkan gerak-gerik menyukai dirinya. Lalu, bagaimana bisa Naila begitu? Hm, Juan heran.
“Nai sering curhat ama gue,“
“Oh gitu~“
“Kok oh gitu? Naila cantik loh? Lu nggak mau ama dia?“
“Cantik sih~ Tapi..“
“Tapi?“
“Gue udah punya pacar,“
“Masa? Lu nggak ada tampang-tampang punya pacar deh. Kan kerjaan lu kuliah trus kerja udah gitu doang. Kapan emang lu bisa pacaran?“
“Dih ngeremehin gue. Sriusan~ Malah gue tinggal bareng ama dia.“
“Lu morotin tante-tante ya??“
__ADS_1
Daffin menatap Juan curiga. Bahkan kedua mata Daffin menyipit. Juan menghela nafas. Daffin ini pedas juga ya kalau bicara?, batin Juan. Mungkin Daffin bercanda. Juan sebenarnya juga tidak tersinggung. “Eh? Pak Dosen?“ seru Juan.
Chris tersenyum tipis. Chris menatap Daffin sebentar. Sedangkan Daffin terdiam seribu bahasa. “Good luck besok ya,“ ucap Chris memberikan semangat pada muridnya itu kalau besok sudah ujian semester. Chris pun berlalu begitu saja. Daffin termenung. “Heh!“ seru Juan menyenggol lengan Daffin. “Hah?“ gumam Daffin lamunannya pun seketika buyar.
“Lu mah jadi anak jangan bandel-bandel banget napa? Ada dosen lu kacangin dasar,“ ucap Juan sebal. “Suka-suka gue,“ sahut Daffin acuh tak acuh. Daffin dan Juan pun masuk ke dalam ruang kuliah. Seperti biasa mereka duduk bersebelahan.
Sorot mata Chris telihat tidak bersahabat saat ia memasuki ruangan Daffin. Chris tatap satu per satu muridnya. “Tugas udah kalian kerjain?“ tanya Chris. Semua murid diam. Chris terlihat sangat mengerikan saat ini. “Silahkan keluar dari ruangan ini bagi yang nggak ngerjain tugas.“ ucap Chris dingin. Chris tidak ingin ruangannya dipenuhi oleh murid-murid pemalas.
Beberapa murid pun turun lalu keluar dari rusngan ini. “Kumpulin tugas kalian.“ ucap Chris dingin. Sebagian murid yang lain maju ke depan mengumpulkan tugas kuliah yang sudah dikerjakan dengan perasaan takut. “Nilai C harus keluar dari ruangan ini juga.“ ucap Chris.
“Tumben pakdos galak ya?? Nyeremin banget,“
“Iya bener liat tuh mukanya udah kek awan mendung,“
“Pelit nilai pula dasar ih rese,“
Ucap beberapa orang murid di ruangan ini. Chris memeriksa tugas-tugas mereka secara kilat. “Lima orang dapet nilai C. Dan yang saya sebutin tolong keluar dari ruangan ini.“ ucap Chris lagi. Jantung mereka berdegup dengan kencang. Lima orang? Semoga itu bukan Daffin, batin Daffin.
Chris menatap murid-murid di depan sana sebentar. Ia pun mulai menyebutkan satu per satu nama yang mendapatkan nilai C di mata kuliah yang ia ajarkan. “Elsa, Tia, Daffin, Mario, Eka.“ ucap Chris. Daffin menelan ludah susah payah. “Yang disebutkan silahkan keluar dari ruang ini. Cepetan. Saya mau ngajar.“ ucap Chris lagi.
Mereka pun keluar dari ruangan ini dengan perasaan gondok, tidak terkecuali Daffin. Ia menatap Chris sebentar, namun Chris sama sekali tidak menoleh sedikitpun. Huh, batin Daffin sebal. Dasar monster muka dua, batinnya lagi.
Daffin tersenyum kecut. Ia pun membuang puntung rokoknya lalu menginjaknya dengan kasar. “WOY! BENGONG AJA!“ seru Malik. “Muka lo pucet.“ ucap Malik. Daffin tersenyum simpul dengan sedikit dipaksakan. “Lagi ada masalah?“ tanya Malik. “Yah masalah keluarga biasa lah,“ sahut Daffin berkilah.
Saat tiba di parkiran dan saat Daffin hendak masuk ke dalam mobil. Ia tidak sengaja melihat Chris berjalan dengan seorang dosen perempuan. Keduanya terlihat mesra sambil tertawa terbahak-bahak. Hati Daffin bergemuruh. Hati ini berat seolah terdapat beban berton-ton. Chris dan Daffin saling bertatapan beberapa saat. Tidak ingin semakin tersulut emosi, Daffin pun masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
Saat Daffin tengah menyetir mobil menuju rumah. Tiba-tiba perutnya terasa perih dan melilit. Ia sampai berkeringat dingin. “Tenang tenang dikit lagi,“ batin Daffin. Ia mencoba berpikir positif. Sebentar lagi ia akan tiba di rumah. Namun, perutnya semakin melilit, dan Daffin mulai tidak fokus menyetir.
Daffin banting setir ke arah kanan untuk menghindari menabrak seorang nenek-nenek yang berjalan di depan. Mobil Daffin pun menabrak tiang listrik di pinggir jalan. “Chris..“ gumam Daffin sesaat sebelum ia kehilangan kesadaran.
Beberapa orang dari rekan bisnis ikut berhadir di Masjid Istiqlal, Jakarta. Hari ini James memutuskan untuk memeluk agama islam dan mengucap dua kalimat syahadat. Hal ini sudah ia diskusikan matang-matang bersama sang ayah dan seluruh keluarga. Beruntung James didukung oleh keluarga besar, meskipun keluarga besarnya sendiri masih memeluk agama lain.
Disana juga ada Gilang, sang istri, Gavin, dan Idella. Karna ada urusan pribadi, Jeremy berhalangan hadir. Sedangkan keluarga yang lain juga berhalangan hadir lantaran tinggal di kota yang berbeda. Meski begitu James tetap bersyukur. Sang istri mau mendampingi dirinya.
Disana sudah ada seorang ustadz, untuk membimbing James mengucap dua kalimat syahadat. Ini pertama kalinya bagi Gilang melihat seorang non muslim memeluk agama islam. Jantung Gilang mendadak berdegup kencang tanpa sebab.
James terlihat bercahaya saat dia mengenakan gamis putih dan peci putih. Sangat kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih jua. Uh, mengapa James terlihat sangat tampan?, batin Gilang. Gilang sedikit menunduk. Ia tersipu malu tanpa sebab saat James tersenyum kepada setiap orang.
Gavin dan Idella duduk di samping Gilang. Gavin menyenggol lengan Idella, lalu berbisik, “Liat ma, ada yang deg-degan,“ ucap Gavin dengan suara pelan. “Diem pa, nanti Gilang denger trus ngamuk gimana?“ sahut Idella. “Hehehe,“ Gavin malah terkekeh.
__ADS_1
“Bismillahirrahmanirrahim..“ ucap James sebelum ia dibimbing mengucapkan dua kalimat syahadat. Semua orang pun mengucap syukur saat James dengan lancar mengucapkannya. James tidak kuasa menahan air mata haru. Ia langsung memeluk Gavin dan Idella.
“Selamet ya James,“ ucap Idella pun ikut menitikkan air mata. “Papa jangan nangis juga,“ ucap James melihat sudut mata Gavin yang agak memerah. “Lu jangan manggil gue papa geli gue Jim, njii—“ ucap Gavin. Ia langsung mendapat cubitan dari Idella. Dasar Gavin, di saat-saat seperti, masih sempat-sempatnya mengumpat, batin Idella geleng-geleng kepala.
Giliran Gilang yang James hampiri. Kedua pipi Gilang merona. Uh, James sangat dekat sekali, sehingga Gilang mampu dengan jelas melihat seluruh pahatan wajah tampan itu. “Nggak ngucapin selamet buat saya?“ ucap James tersenyum. Gilang malah diam dengan bola mata melirik ke kiri dan ke kanan. Gilang gugup.
James terkekeh. Ia pun meraih tangan Gilang supaya Gilang mencium tangannya sebagai seorang istri. Kontan Gilang membola karna terkejut. Ia menelan ludah susah payah. “Cium tangannya,“ ucap James. Mau tidak mau Gilang pun mencium tangan James. Lalu, James mencium kedua pipi dan kening Gilang.
“LU?!“ seru Gilang pelan. Ia melihat ke kiri dan ke kanan. Semua orang nampak tersenyum melihat interaksi Gilang dan James. “Malu-maluin aja,“ ucap Gilang pelan. Lalu, menundukkan kepala malu. Bagaimana Gilang tidak malu? James mencium kedua pipi serta keningnya di hadapan banyak orang.
Sesaat sebelum pergi meninggalkan masjid. Gilang dan James sekeluarga berfoto bersama. Setelah berfoto bersama satu keluarga. James meminta mertuanya untuk memotret dirinya dan Gilang berdua. Diam-diam James itu suka bersua foto. Di luar masjid. James melihat ke kiri dan ke kanan. Huh, James menghembuskan nafas lega. Bersyukur tidak ada orang yang lewat disini.
“Uhm.. Ma.. Tolong fotoin sekali lagi hehe,“ ucap James. Gilang memutar bola mata malas. “Tadi kan udah?“ protes Gilang. James tidak peduli. Ia pun menatap Gilang lamat-lamat. Tatapan penuh cinta dan kasih sayang yang teramat tulus. James mengecup tangan Gilang mesra. “Satu dua tiga,“ ucap Idella memberikan aba-aba. Gilang terdiam saat James mencium tangannya mesra.
Coba kalian bayangkan. Saat ini James mengenakan gamis dan peci putih. Berfoto sambil mengecup tangan sang istri dengan mesra. Uhm, aneh, kan?, batin Gilang. Gilang tidak tau lagi harus merespon bagaimana. Setelah difoto Gilang langsung menarik tangannya kembali.
Gilang dan James berada dalam satu mobil. Sedangkan Gavin dan Idella berada di mobil yang berbeda. “Mau kemana lagi sih?“ tanya Gilang malas. “Mau cari makan,“ sahut James mengendarai mobilnya pelan. Ia mencari-cari pedagang kaki lima, yang menjual makanan yang sekiranya menggugah selera.
“Itu dia!“ seru James saat ia melihat ada spanduk bertuliskan Sate Madura. Ia pun menepikan mobilnya. “Mau ikut saya turun nggak?“ tanya James. Gilang diam saja tanpa menoleh ataupun menyahut sama sekali. James tersenyum lalu ia pun turun dari mobil.
“Satenya 20 tusuk ya mas komplit sama lontongnya.“ ucap James. “Siap,“ sahut si penjual. James tersenyum sembari menundukkan kepala kepada setiap orang yang lewat. James memang dikenal ramah terhadap orang lain.
“Coba liat coba liat tuuuh disana ampuuun adem banget liatnya. Udah ganteng pake gamis. Duh jodoh orang tapi,“ ucap salah seorang gadis.
“Bule kan ya itu? Tapi, pas gue lewat tadi ngomong indonya lancar banget malah,“
“Lah iya emang bule sih keknya, brewoknya aja coba liat maco bingits,“
Kedua alis Gilang langsung berkerut saat ia melempar pandangannya keluar jendela, dan melihat banyak para gadis yang lewat terkagum-kagum melihat ketampanan James. Gilang pun mendadak turun dari mobil. Ia lihat kiri kanan depan belakang. Benar saja. Mereka terlihat berbisik. Sudah pasti mereka sedang membicarakan James. Huh, lihat saja bagaimana mata gadis-gadis itu menatap kagum.
“Gilang?“ seru James. “Kenapa?“ tanya James. Ia lihat raut muka Gilang terlihat muram, kesal, bercampur marah. Entahlah James juga tidak tau. “Sumpek,“ sahut Gilang ketus. James pun semakin heran, raut muka Gilang semakin tidak enak dipandang, ada apa ini?
“Kenapa sih? Kok mukanya gitu?“ tanya James penasaran. “Gak, gue cuman rese aja. Lu liat dah tuh cewek-cewek dari ujung ampe ujung pada liatin lu. Rese gue.“ ucap Gilang posesif tanpa ia sadari. James mengulum senyum. Biarkan Gilang tenggelam dalam rasa cemburu yang ia sendiri tidak sadari. “Oh gitu~ Biarin aja lah cuman diliatin doang,“ ucap James.
Gilang semakin sebal dan mencebikkan bibirnya kesal. Bahkan kedua tangan Gilang bersedekap di dada. “Gilang Gilang,“ batin James. “Berapa mas?“ tanya James saat si penjual memberikan sate yang ia pesan. “45 aja mas,“
“Ini uangnya ya mas makasih.“
“Sip sama-sama mas,“
__ADS_1
Gilang dan James pun menyeberang jalan setelah melirik ke kiri dan ke kanan tidak ada mobil. Di dalam mobil James pun berkata, “Udah biarin aja, ini saya udah di mobil nggak ada yang liatin lagi,“ ucap James. Kenapa kata-kata James secara tidak langsung seolah mengatai Gilang tengah cemburu? Uh, menyebalkan. “Gue gak peduli,“ sahut Gilang ketus.