
Hardinata terbangun pada dini hari; ia berada di satu ranjang bersama Tristan; kalau boleh jujur—ia benar-benar merasa kotor. Bagaimana bisa ia sendiri bahkan tidak dapat lepas dari kungkungan seorang Tristan? Tubuh ini telah dipenuhi oleh bekas kemerahan; tidak satu pun tertinggal oleh jangkauan bibir itu; jijik, itu lah perasaan yang tergambar saat ini.
Hardinata tidak ingin berada di sini lebih lama lagi. Ia pun meminta seseorang untuk menjemput dirinya. Dini hari ini jua; ia meninggalkan apartemen Tristan; dan memutuskan untuk pergi ke sebuah pedesaan di Malang. Ia pun menyerahkan semua pekerjaan di kantor kepada sang sekretaris, karna ia berencana untuk cuti selama dua minggu—atau lebih—yang intinya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Segelas Virgin Pina Colada—campuran antara: jus nanas, krim kelapa, dan rum pun selesai dibuat, dan disajikan ke dalam gelas snifter; sebuah gelas dengan batang pendek dan mangkuk yang besar—sehingga memungkinkan orang lain mengaduk minuman yang ia minum. “Virgin Pina Colada,“ seru Juan menyajikan minuman cocktail itu kepada Herman, sang paman.
Bagaimana cara Herman bisa tau Juan bekerja di sini? Tentu saja dari bibir Pandu—yang suka sesumbar di mana-mana itu—hingga seluruh keluarga pun tau; dan membuat Herman menyelidiki kehidupan pribadi Juan. “Kalo kamu butuh kerjaan, kamu bisa kerja di kantor om, Juan. Jangan malu-maluin keluarga,“ ucap Herman. Juan tersenyum pahit. Selama hampir tiga tahun ini; Juan hidup dengan tenang; tapi kehidupannya malah terusik dengan kehadiran keluarga lama.
“Malu-maluin keluarga? Maaf, tapi anda bukan siapa-siapa saya lagi, Pak Herman.“ ucap Juan sarkasme. “Kamu itu masih—“ Kata-kata Herman pun langsung dipotong oleh Juan. “Jangan lupa, saya udah dicoret dari kartu keluarga. Jadi, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Saya mohon Pak Herman, tolong jangan ganggu hidup saya. Saya udah bahagia.“ ucap Juan menegaskan.
Herman pun meminum minuman yang ia pesan tadi. Juan ini berpendirian teguh; persis seperti sang ayah, Gio; tidak mudah goyah bagaimana pun badai menerjang. “Kalo kamu mau jadi CEO di kantor, om bisa bantu, Juan.“ ucap Herman lagi. Entah mengapa hal ini terdengar seperti Herman tengah merendahkan Juan. Juan pun mulai emosi. “Pak Herman Lim. Tolong habisin minuman anda dan segera pergi dari sini.“ ucap Juan. Herman dan Juan pun saling bertatapan—seakan-akan ada aliran listrik di sana.
Chris bangun lebih dulu dari Daffin. Surai rambut nan lembut itu; ia elus dengan pelan dan penuh kasih sayang; Daffin terlalu berharga untuk dikasari. Uhm, kecuali saat di atas ranjang, batin Chris. Kalau hal itu memang bisa menjadi pengecualian. “Met pagi sayang,“ ucap Chris sembari mengusap pipi Daffin. “Bangun, ya? Kita mandi bareng trus ngopi di bawah,“ ucap Chris lagi. “Eumh,“ gumam Daffin mendusel-duselkan kepalanya di dada Chris; memeluk Chris dengan erat.
“Hm? Bangun~ Nanti mas masukin lagi, gimana? Mau?“ ucap Chris. “Jangan~ Bentar lagi lima menit,“ gumam Daffin dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Chris sedang ingin usil. Ia pun memasukkan satu jarinya ke dalam lubang itu. Kebetulan saat ini keduanya masih tidak mengenakan apapun. “Ngghh mahs jangan ja-ihl ahh,“ gumam Daffin masih dengan mata terpejam. Chris terkekeh geli. Chris pun iseng dan malah semakin merojok lubang itu dalam-dalam. “Ugh, mahs aaahhh ssstt eummhh,“ gumam Daffin mengerutkan alis. Sesuatu terasa basah di perut Chris. Chris pun membuka selimut. Daffin keluar, batin Chris saat ia melihat cairan putih kental itu di atas sprai—hingga mengenai perut.
“Tuh, kan? Keluar lagi mas? Ih, nyebelin banget,“
“Salah siapa coba dibangunin malah nggak bangun? Cepetan~ Mandi~ Kita ngopi,“
Daffin pun bangun dengan malas. Kalau saja bukan suami sendiri; Daffin pasti sudah akan marah-marah. Uh, perih di lubang itu juga sedikit banyak membuat Daffin sedang tidak bersemangat untuk marah-marah. Kali ini biarkan saja, batin Daffin. Menu makanan buffet dan secangkir kopi robusta di pagi hari; hm, sungguh pagi yang sangat menyenangkan; terlebih ditemani oleh suami tercinta.
Bisa dibilang jenis kopi robusta ini adalah favorit Daffin. Dia bercitarasa khas; mulai dari: pahit, rendah gula, dan beraroma kacang-kacangan. Selain itu; saat kopi ini diseduh dengan suhu air yang sangat panas; sensasi aroma seperti ban terbakar akan terasa—juga cenderung lebih kental, karna mengandung kafein yang cukup tinggi. Daffin sengaja meminta pelayan di sini untuk menambahkan susu cair—supaya kopi yang disantap tidak terlalu kental.
“Oh iya mas,“ seru Daffin. Chris pun menoleh. “Boleh nggak aku buka usaha kafe semi bar gitu?“ tanya Daffin sembari menaruh cangkir itu di atas meja. Kedua alis Chris berkerut. “Siapa yang handel? Kamu nggak punya latar belakang paham masalah kopi-kopian atau minuman,“ sahut Chris sembari menyesap latte. “Kan bisa belajar mas?“ ucap Daffin. “Lagian aku punya temen kuliah—yang kerja di bar gitu. Dia pasti paham lah masalah ginian,“ ucap Daffin lagi menjelaskan. Semoga saja Chris setuju, batin Daffin penuh harap. Daffin juga tidak bisa terlalu mengharapkan dunia keartisan. Job sepi; dan Daffin juga butuh kesibukan.
“Gini aja deh, mas kasih kamu jalan tengah,“ ucap Chris. “Hm? Jalan tengah kek gimana?“ tanya Daffin masih belum paham. “Kamu, ikut kursus dulu. Belajar masalah bikin kopi, trus cara bedain jenis-jenis kopi, intinya seputar kopi lah,“ sahut Chris. Hm, benar juga kata Chris, batin Daffin menganggukkan kepala.
Chris pun kembali bekerja seperti biasa. Chris mencari-cari kertas berisi kontrak kerja yang ia buat kemarin lusa. “Di mana, ya?“ gumam Chris tidak menemukan selembaran kertas itu di mana-mana. “Di apartemen deh keknya,“ gumam Chris lagi. Chris pun langsung bergegas kembali ke apartemen. “Daff,“ seru Chris saat ia tiba di apartemen. “Uhm? Kenapa? Kok pulang?“ cerca Daffin terkejut melihat kepulangan Chris—yang tiba-tiba.
__ADS_1
“Mas, lagi mau cari kertas putih gitu. Itu kontrak kerja mas. Hari ini musti dipake.“ ucap Chris. Daffin pun membantu Chris mencari kertas yang dimaksud. Seluruh ruang kerja Chris pun bahkan sudah digeledah. Nihil. Kertas itu sama sekali tidak ada. Huft, Chris menghela nafas sambil berkacak pinggang. Ke mana lagi coba? Masa ilang, sih?, gumam Chris heran.
“Daff, coba kamu inget-inget lagi. Kamu ada nggak sengaja buang kertas itu nggak? Pas kamu lagi beres-beres?“ tanya Chris. Entah mengapa Daffin merasa suasana hati Chris sedang tidak baik. Daffin pun mencoba mengingat-ingatnya kembali. Kemarin lusa, ya? Hm, gumam Daffin nampak berpikir keras. “I-itu..,“ gumam Daffin saat ia teringat; kala itu ia tidak sengaja melihat selembaran kertas warna putih. Tapi, karna Daffin menganggap itu sampah, jadi ia buang ke tong sampah.
Duh, gimana nih?, batin Daffin. “Kenapa? Gimana? Inget?“ tanya Chris penuh penekanan. Daffin menelan ludah melihat kilatan mata Chris—yang tajam itu. “Jangan bilang kalo kamu udah buang kertas itu, Daffin?“ cetus Chris menebak. “I-iya mas,“ sahut Daffin dengan suara agak sedikit bergetar karna takut; rahang Chris pun mengeras. Ia geram.
PLAK! Chris menampar pipi Daffin dengan sangat keras. “Kamu tau nggak? Kontrak itu penting banget, Daffin. Itu kontrak puluhan miliar.“ ucap Chris melotot marah. Daffin membelalakkan mata terkejut sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Chris barusan nampar aku?, batin Daffin. “Ma-maaf mas, a-aku beneran nggak tau,“ ucap Daffin. “Percuma kamu minta, Daff. Kertas itu nggak bakalan balik lagi.“ ucap Chris.
“Minggir,“ ucap Chris dingin; mendorong tubuh Daffin ke samping; hingga tubuh Daffin pur bergeser beberapa langkah ke samping. Chris memutuskan untuk kembali ke kantor. Daffin termenung di sofa. Chris, ta-tadi itu benaran Chris, kan?, batin Daffin. Kenapa Chris bisa setega itu menampar Daffin? Ehem, Daffin berdeham; menahan sesak di dada. Ini adalah pertama kalinya Chris bersikap kasar; malahan sangat sangat kasar.
Setelah Chris pergi; Daffin pun keluar dari ruang kerja Chris; dan berjalan menuju dapur mengambil es batu. Lalu, ia letakkan es batu itu di sebuah kain; ia ikat kuat-kuat; untuk ditempelkan di pipi kirinya yang memar. “Lu tahan Daff lu pasti tahan,“ gumam Daffin terus saja merapalkan kalimat itu di bibir—supaya ia tidak menitikkan air mata sedih. Beberapa saat kemudian; air mata itu pun luruh jua. Daffin tidak mampu membendungnya lagi.
Daru menganga lebar. Didin, sang ayah benar-benar pulang ke rumah—mengenakan seragam tentara. Djaka pun mencium tangan Didin. Sesuai permintaan Didin kemarin; Djaka menginap di sini satu malam; Djaka juga cuti sehari dari kantor. “Kenapa bengong kamu, hah? Orang tua pulang itu disambut. Cium tangan. Bukannya malah diem, kek orang bodoh aja kamu.“ ucap Didin ketus kepada Daru. Daru pun mencium tangan Didin. “Senyum, Da. Papa nggak suka ya liat kamu cemberut kek gitu. Papa pulang demi kamu.“ ucap Didin tegas. Daru pun berusaha tersenyum; meski dipaksakan.
“Ma, udah telpon Cecep belom? Suruh ke sini,“ tanya Didin. Mendengar nama Cecep; Daru langsung menciut. Cecep itu saudara Didin. Dia sama kejamnya dengan Didin. “Udah, pa~ Lagi di jalan katanya,“ sahut Idah dari dapur. Djaka mengulum senyum saat melihat Daru bisa sebegitu takutnya kepada seseorang bernama Cecep; terlebih kepada ayahnya sendiri.
Didin dan Djaka berbicara panjang lebar berdua; Didin bercerita tentang dunia kemiliteran; sedangkan Djaka bercerita tentang bagaimana ia bekerja di perusahaan yang sama selama kurang lebih sembilan tahun. Hingga pada akhirnya Djaka dipindahtugaskan ke Jakarta. Di sini Daru seolah dianggap cuma patung saja. Daru mendengus pelan.
“Nah, itu om, masa Daru mau dinikahin sama cowok sih? Ya ampun kek nggak ada cewek lain aja ckckck,“ timpal Daru. “Om lagi ngomong sama papa kamu, Da. Bukan sama kamu.“ ucap Cecep. Daru memberengut; memantulkan bibir. “Si Djaka ngebet. Langsung pulang aku, Cep. Beneran deh asli. Djak, kamu serius mau nikahin si Daru?“ ucap Didin sekaligus bertanya. “Iya om, saya serius,“ sahut Djaka mantap. “Bangsat lu!“ ucap Daru memberikan tatapan membunuh ke Djaka. “DARU!“ tegur Didin berteriak.
Cecep dan Didin saling berbisik-bisik. “Djaka, kita ngobrol bertiga di ruang kerja,“ ucap Didin. Daru pun bersender di sofa sambil menghembuskan nafas berat setelah tiga orang pria—yang amat sangat menyebalkan itu. “Da,“ seru Idah menemani Daru duduk di sofa. “Mama seneng? Udah ngancurin hidup, Daru? Ngatur Daru seenaknya. Karna mama tau, Daru nggak bakalan bisa bilang nggak ke papa. Ini yang mama maksud supaya Daru bahagia? Hah? Gitu, ma?“ ucap Daru marah.
“Daru nggak bakalan maafin mama sama papa seumur hidup, Daru, ma.“ ucap Daru. “Daru!“ seru Didin. “Berani kamu ngomong kek gitu sama mama kamu sendiri, hah?! Anak macam apa kamu?!“ ucap Didin marah dengan wajah merah padam. Daru pun menoleh. Kedua mata Daru memerah. Dalam hati ia geram hingga kedua tangannya mengepal kuat. Idah berdiri; meminta Didin untuk mengendalikan diri.
Daru tersenyum pahit. Ia tatap satu per satu semua orang yang ada di sini. “Daru capek, pa.“ ucap Daru melesat ke kamar. Ia pun menyalakan musik sekeras-kerasnya—hingga terdengar sampai luar. “Udah, pa. Biarin Daru tenang dulu,“ ucap Idah. Saat Didin ingin menghampiri Daru ke dalam kamar. Djaka memandangi kamar Daru dalam-dalam. “Maaf,“ batin Djaka.
Hardinata telah tiba di Kampoeng Goenoeng, Malang; beberapa jam yang lalu. “Eyang Putri? Eyang Kakung? Assalamu'alaikum,“ seru Hardinata sembari mengucapkan salam. Sepasang suami istri tua renta itu pun menyambut kedatangan Hardinata. “Hardi!“ seru Eyang Putri menciumi wajah Hardinata. “Wa'alaikumussalam, masuk nak masuk,“ ucapnya.
“Kenapa kamu ke sini nggak bilang-bilang, Har?“ tanya Tasmirah. Hardinata pun tersenyum. “Kangen sama eyang, lah~“ sahut Hardinata. “Hardi mau tinggal di sini dua mingguan ya, Eyang?“ ucap Hardinata tiba-tiba. Tasmirah memandangi wajah Hardinata. Bahkan ia datang tanpa membawa pakaian sehelai pun. Pasti Hardinata sangat sangat terburu-buru, batin Tasmirah.
__ADS_1
Tasmirah tau; Hardinata menahan sesuatu dalam diri. Sorot mata sendu itu; Tasmirah tidak buta; untuk tau kesedihan dan kegalauan sang cucu. Sedari kecil Hardinata itu pantang bercerita kepada kedua orang tuanya sendiri; saat ia mengalami kesulitan apapun. Satu-satunya tempat mengadu nya ialah Karno dan Tasmirah. “Sini duduk deket eyang,“ ucap Tasmirah. Hardinata pun mendekat.
“Kamu ada masalah apa, Le? Cerita sama eyang,“ ucap Tasmirah. Hardinata mendadak tersenyum kecut. Ia menundukkan kepala. “Le?“ seru Tasmirah lagi. “Eyang.. Ma-maafin Hardi..“ ucap Hardinata meminta maaf. Suara Hardinata sedikit bergetar. “Kenapa, Le? Kenapa kamu minta maaf? Kamu sama sekali nggak salah, Le,“ ucap Tasmirah. “Har-Hardi..“ gumam Hardinata; tenggorokannya serasa tercekat.
“Pelan-pelan, Le,“ ucap Tasmirah. Hardinata pun menceritakan semua hal yang ia alami selama ini—juga kejadian tadi malam—yang di mana ia telah disentuh oleh Tristan. Hardinata bercucuran air mata. Tasmirah mencoba menenangkan sang cucu. “Le.. Sing sabar yo, Le.. Bisa jadi dia beneran sayang sama kamu, Le,“ ucap Tasmirah; meskipun tidak dibenarkan; Tasmirah juga tidak ingin menyalahkan. Karna Tasmirah tau; hati dan perasaan adalah dua hal yang tidak bisa dipaksakan.
Karno dan Tasmirah pun memberi beberapa petuah kepada Hardinata. “Le, jangan sampai kamu benci sama dia, Le. Hati kamu harus bersih. Kamu bicarain lagi nanti sama dia, maksud dia itu apa? Selesein masalah kamu baik-baik, Le. Jangan lari dari masalah. Masalah itu makin guede kalo kamu lari, Le.“ ucap Tasmirah menasihati. Hardinata pun tersenyum; ia juga menghembuskan nafas lega setelah menerima banyak nasihat dari Karno dan Tasmirah—mengadu kepada tetua di keluarga; memang adalah keputusan terbaik.
“Sayang,“ seru Chris mengecup kening Daffin; saat Daffin menyambut kepulangan Chris. Daffin tersenyum tipis; saat mendapat perlakuan manis dari Chris. Daffin pun meraih tas kerja itu dari tangan Chris, lalu menaruhnya di dalam kamar. Daffin membisu. Chris menghela nafas. Keknya aku udah keterlaluan sama Daffin, batin Chris.
Chris pun menghampiri Daffin ke dapur setelah duduk beberapa menit di sofa. Ia dekap tubuh Daffin dari belakang. “Maafin mas sayang, mas tadi udah emosi sama kamu,“ ucap Chris. Daffin yang tengah mengaduk secangkir teh hangat itu pun terhenti seketika. Daffin terisak sedikit; mengingat kembali kejadian tadi pagi. Chris pun memutar badan Daffin. Ia tatap Daffin lamat-lamat sembari mengusap pipi itu lembut.
Chris kecup tangan Daffin dengan mata terpejam dan penuh perasaan. Lama sekali ia mengecup tangan itu. Daffin, aku mungkin nggak bisa jamin nggak akan gitu lagi ke kamu. Tapi, jujur aku nggak mau kehilangan kamu sedetik pun, Daffin, batin Chris membuka mata. Daffin tertegun. Benar, saat kita mencintai orang lain dengan tulus, pasti kita akan memaafkan orang yang kita cintai dengan mudah—sekali pun dia pernah menyakiti kita. Pernikahan mana tanpa ada ujian di dalamnya? Benar, kan?
Daffin pun memeluk Chris dengan melingkarkan tangannya di leher Chris. Chris elus punggung Daffin lembut sambil membisikan kata-kata cinta. “Mau maen lagi nggak sayang? Hm? Di depan TV?“ goda Chris. Daffin membenamkan wajahnya di ceruk leher Chris dengan manja. “Nggak mau~ Capek tau!“ sahut Daffin mendusel-duselkan kepalanya di sana.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi; Chris pun membantu Daffin—menyajikan piring-piring di atas meja. Di sana ada gurame goreng dan sambal ulek. Sederhana; tapi menjadi terasa lebih nikmat saat kita memakannya bersama dengan orang yang kita sayang. “Daff,“ seru Chris. “Hm?“ sahut Daffin sembari mengambil lauk di piring. “Ntar kamu coba bikin sambel khas banjar, deh. Dulu mas pernah dikirimin sama temen yang dari Banjarmasin gitu, Daff. Itu sambelnya asli enak banget. Beerrr nambah terus,“ ucap Chris.
“Pernah baca sih. Itu sambelnya pake limau kuwit gitu. Ntar deh aku coba cari di pasar ntar,“ ucap Daffin. Hm, ngomong-ngomong sejak kapan ya aku bisa masak kek gini? Padahal dulu mah nggak ada tampang-tampang bisa masak, aneh, batin Daffin. Selesai mencuci piring; Daffin pun membawa beberapa jenis buah-buahan ke depan TV. Paling pas itu dimakan setelah makan makanan utama. “Daff mangganya Daff mangga,“ ucap Chris. Daffin iris daging mangga itu, lalu menyuapinya langsung ke mulut Chris.
Chris mengernyitkan alis. “Kenapa kenapa?“ tanya Daffin. “Asem dikit, Daff,“ sahut Chris. Daffin pun mencicipi sepotong mangga yang ia kupas barusan. Benar, rasanya asam, batin Daffin. “Diboongin seratus persen ini mah, mas. Padahal ibunya bilang manis. Tau-taunya asem,“ ucap Daffin sebal. “Tapi, punya aku manis kan sayang?“ goda Chris mengedipkan mata beberapa kali. “Paan si ah,“ ucap Daffin sebal; langsung memasukkan sepotong mangga ke mulut Chris.
“Saatnya tidur!“ seru Daffin langsung merendahkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Chris menutup pintu kamar sebentar. Sebelum tidur; Chris mengoleskan serum dulu di wajahnya. Baru setelah itu ia pun rebahan di samping Daffin. “Sini sayang mas olesin ke muka kamu juga,“ ucap Chris mengaplikasikan serum ke wajah Daffin. Sedangkan Daffin asyik berselancar di sosial media instagram.
“Eh? Emang bisa? Aku masih 18 taun loh mas~“ ucap Daffin tanpa menoleh. “Bisa /lah~ Ini tuh produknya dijamin aman. Kulit mas sensitif, makanya mas musti cari produk serum yang bisa dipake remaja sama dewasa gitu sayang~“ sahut Chris. “Tapi, muka kamu nggak ada jerawat ato flek sama sekali, tuh? Sensitif dari mananya coba?“ ucap Daffin. “Kan mas perawatan juga? Gimana sih,“ sahut Chris.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tebar likes di CRUSH ON YOU [BL] ampe 1,5K! Mohon maaf lama up ye lagi minim ide 🤭