
Daffin berpakaian serba hitam. Sedangkan Aisyah mengenakan dress putih selutut sambil memegang sebuket bunga. Keduanya memutuskan untuk mengucap janji suci pernikahan tanpa dihadiri oleh tamu undangan, meskipun terhalang restu kedua orang tua. Kedua mata hitam Daffin tiba-tiba berubah menjadi keemasan. Sorot mata tajam itu persis seperti mata seekor srigala.
Daffin pun berjongkok di depan Aisyah. Ia renggang tangan itu lalu ia kecium dengan penuh perasaan. Ia pun mendongakkan kepala menatap lamat-lamat seorang perempuan yang kini telah menjadi istrinya. “Maaf,“ gumam Daffin. Perlahan tapi pasti tubuh Daffin menghilang seperti debu ditiup angin.
“Da-daffin Daffin Daffin!“ Aisyah berteriak saat seluruh tubuh Daffin memudar dari pandangan. Dia menghilang tanpa jejak. Baru saja ia dan Daffin menikah dan bertukar cincin. Tapi, kenapa semua ini harus terjadi pada dirinya? Kaki Aisyah terasa lemas. Ia terduduk di atas rerumputan hijau. Kini semuanya tinggal kenangan saja. Semuanya telah berakhir. Bulir-bulir air mata itu pun berjatuhan dengan deras sambil menggumamkan nama Daffin berkali-kali.
“Cut!“ ucap sutradara. Daffin langsung duduk di kursi setelah menyelesaikan scene terakhir syuting film yang berjudul Lion Heart untuk siang hari ini. Ia mengedipkan mata berkali-kali karna matanya terasa perih, karna ia harus mengenakan softlens. Mata Daffin bahkan sampai berair seperti itu. Ya, Daffin tidak terbiasa mengenakan softlens dalam waktu yang lama.
“Mata lu merah banget, Daff,“ seru Dimas. “Huft,“ Daffin menghela nafas sambil mengusap air mata yang terus saja membasahi matanya. “Musti ke dokter keknya ini Dim. Perih banget.“ ucap Daffin. Setelah adegan tangis-menangis, Aisyah berkumpul bersama kru. Ia berdiri sambil mengusap pipinya yang basah karna air mata. Aisyah sempat mengerling ke arah Daffin beberapa kali.
Pria berbadan tinggi sekaligus tampan seperti Daffin. Sungguh perpaduan yang sempurna. Siapa yang tidak mau dengan pria seperti itu? Kalau itu Aisyah, sudah pasti ia akan menerima Daffin tanpa syarat. Sutradara juga memuji acting perdana Daffin. Meskipun sebagai pemula ia memiliki banyak pengulangan, tetap saja hasil yang sangat bagus itu mengundang kepuasan untuk seluruh kru dan pemeran film ini.
Daffin menguap. Jujur saja Daffin agak sedikit mengantuk. “Gue take lagi jam berapa?“ tanya Daffin ke Dimas. “20 menitan lagi.“ sahut Dimas. “Gue mo tidur dulu. Jangan ganggu gue. Kalo ada yang nyari bilangin gue mo istirahat bentar.“ ucap Daffin berpesan. Hah, lelah singgung diri ini lelah, syuting full selama satu bulan benar-benar menguras tenaga.
“Daffin?“ seru Aisyah. Oh tuhan sungguh iblis macam apa yang mengganggu istirahat Daffin saat ini?, batin Daffin. Ingin sekali diri ini memaki perempuan bernama Aisyah itu. Tapi, Daffin sadar ia maupun Aisyah sama-sama pemeran di film ini. Berbuat rusuh sama saja dengan menjatuhkan nama baik diri sendiri di dunia hiburan ini. “Auto nggak jadi aktor deh gue,“ batin Daffin.
“Eh? Aisyah? Ada apa?“ tanya Daffin tersenyum. Dimas meringis melihat tingkah manis Daffin. Dimas tau Daffin itu, dia cuma berpura-pura bersikap manis saja, alias dalam hati sudah teramat sangat gondok sekali. “Ehm, kamu sakit mata ya, Daff?“ tanya Aisyah terdengar garing dan basa-basi. “Iya, soalnya gue kagak bisa pake lensa mata lama-lama.“ sahut Daffin. Aisyah pun menganggukkan kepala pelan. Secercah rasa khawatir pun hinggap di hati Aisyah dan itu tergambar jelas di wajahnya. “Gue nggak papa kok, Ai. Nggak usah khawatir.“ ucap Daffin.
Tiba-tiba Aisyah jadi deg-degan mendengar Daffin memanggil dirinya dengan sebutan Ai. Semua orang disini selalu memanggil Aisyah dengan sebutan Syah atau nama lengkap sekaligus. Cuma Daffin seorang yang memanggil dirinya dengan sebutan seperti itu. “Nih cewek keknya salting deh,“ batin Dimas.
Saat Aisyah ingin berpamitan duduk di tempat lain. Tiba-tiba suara Daffin menghentikan langkah kaki Aisyah seketika. “Duduk sini aja barengan sama gue. Lagian kita satu tim juga, kan?“ ucap Daffin membuat Aisyah semakin salah tingkah. Gila nih anak, ngomong apaan coba dia?, batin Dimas. Bisa-bisanya Daffin berbicara seperti itu kepada Aisyah.
“Nggak papa nih?“ tanya Aisyah memastikan. “Nggak papa duduk aja,“ ucap Daffin. Daffin bersikap seolah-olah ia sama sekali tidak masalah akan hal itu. Tapi, nyatanya Daffin amat sangat keberatan. Mungkin dia berada di taraf geli? Hm, bisa jadi. “Gue rebahan bentar ya, Ai? Capek banget gue. Hehe,“ ucap Daffin. “Lu istirahat aja. Gue nggak papa kok.“ sahut Aisyah. Uh, kapan lagi Aisyah bisa melihat pemandangan pria tampan bak seorang pangeran ini tertidur manis?
Lihatlah kulit putih bersih nan mulus itu. Aisyah saja mungkin kalah. Bulu matanya juga lentik. Bibir kecil, hidung mancung, serta senyuman yang menawan. Daffin tidur dengan posisi telentang, kaki menopang di atas satu kaki lainnya, dan kedua tangan bersedekap di dada.
Di lain tempat Chris disibukkan dengan berbagai kegiatan di kantor. Chris memutuskan untuk bergabung di perusahaan dan tentu saja Chris langsung diangkat menjadi seorang CEO. Chris juga tidak ingin meninggalkan profesi lama. Jadi, ia akan tetap mengajar di kampus sebagi dosen, hanya saja jam mengajarnya dikurangi. Kalau biasanya dua mata pelajaran sekaligus, makan kali ini menjadi satu mata pelajaran saja.
Hal ini sempat membuat Mayang terkejut bukan main. Pasalnya Chris itu dulu kekeh sekali tidak ingin bergabung. Tapi, sekarang dia malah tiba-tiba menawarkan diri untuk bergabung. Semua ini pasti demi seseorang, yaitu Daffin, batin Mayang. Hah, Mayang menghela nafas saat ia melihat puteranya terlihat sibuk sekali di dalam sana lewat kaca kecil di pintu ruangan Daffin.
“Bu Mayang? Mau saya buatkan teh atau kopi?“ seru seorang OB. “Ah, iya mas, tolong bikinin saya kopi yah. Gulanya dikit aja.“ sahut Mayang. Lalu, ia pun melangkahkan kaki menuju ruangannya sendiri. Kira-kira Chris dan Daffin putus gara-gara apa, ya?, batin Mayang penasaran.
Chris mengunjungi salah satu mall di Jakarta bersama beberapa orang. Disana terlihat banyak sekali alat-alat untuk keperluan syuting. Disini memang ada orang yang sedang syuting film mungkin?, batin Chris. Dibimbing langsung oleh CEO dari mall ini, Chris pun diajak berkeliling. Langkah Chris terhenti seketika ketika ia tidak sengaja berpapasan dengan Daffin. Keduanya saling bertatapan satu sama lain. Ingin Chris langsung memeluk tubuh itu. Tapi, apalah daya, selain Chris tidak lagi berada dalam hubungan seperti itu—ia juga sedang berada di tempat umum.
__ADS_1
Kalian tau penyakit paling berbahaya di dunia ini dan tidak ada obatnya baik itu di apotik ataupun rumah sakit sekalipun? Ialah rasa rindu. Sakit fisik mungkin bisa diobati dengan mudah. Tapi, sakit batin karna kerinduan mendalam itu tidak akan pernah bisa terobati, kecuali bertemu dengan orang yang dirindukan, Daffin.
“Kebetulan disini lagi ada syuting film. Dan ini salah satu aktor utama di film itu.“ ucap sang CEO memperkenalkan Daffin kepada Chris. Si CEO itu memberi isyarat kepada Daffin dengan kepala sedikit menunduk untuk mempersilahkan Daffin memperkenalkan diri kepada Chris. “Selamat sore, Pak Chris. Saya Daffin Hernando. Salam kenal.“ ucap Daffin memperkenalkan diri seolah-olah ia dan Chris baru saja kenal dan pertama kali bertemu.
“Daffin! Giliran lu!“ seru Aisyah dari kejauhan. Daffin pun menoleh sebentar. “Mohon maaf saya permisi dulu,“ ucap Daffin pamit undur diri. Dari kejauhan Chris melihat interaksi Daffin dengan seorang perempuan. Mereka nampak sangat mesra sekali. Bahkan, Daffin tidak henti-hentinya tersenyum manis seolah-olah tidak terjadi apapun. Kalian tau, kan? Kalau Chris itu adalah pria posesif. Ekor matanya mulai menajam, menatap tidak suka pada keduanya. Chris geram.
Di halaman rumah beberapa anggota berkumpul dan barbequean. Chris sebagi tukang panggang memanggang. Disini ada saudara dari pihak ibu, Mba Mimin, dan dua anak beliau Lili dan Setiaji. Bisa dibilang Mba Lili menikah dengan seorang pria keturunan tionghoa. Jadi, memang tidak salah kalau Lili dan Setiaji memiliki kulit putih bersih serta mata yang sipit.
“Ko, bantuin gue sini,“ seru Chris. Setiaji pun menghampiri Chris. Chris bertugas mengipas-ngipasi bara api, sedangkan Setiaji membalik-balikan daging, jagung, dan sate barbeque. “Chris,“ seru Setiaji. “Hm?“ sahut Chris. “Lu tau nggak? Adek gue suka sama lu,“ ucap Setiaji. “Trus?“ sahut Chris ingin tau lebih. “Nggak ada trus-trusan,“ sahut Setiaji mengerling sedikit ke Lili.
“Kenapa nggak lu bilang ke Lili kalo gue suka coklat batangan?“ ucap Chris.
“Lu tau sendiri Lili gimana? Dia nggak mudah percaya. Dia ngira gue boong.“ sahut Setiaji.
“Kalo lu sendiri gimana?“
“Halim?“
“Hm,“
Benar, tiada hari tanpa pertengkaran. Tapi, itulah yang membuat hubungan Halim dan Setiaji bertahan sampai sekarang. Bisa dibilang hubungan mereka sudah terjalin selama kurang lebih 3 tahun. Sungguh bukan waktu yang sedikit.
“Mau makan apa? Seafood?“ tanya James sambil memasang jam tangan di tangan sebelah kiri. Gilang berdiri di ambang pintu sambil kedua tangan bersedekap di dada dan punggung yang ia senderkan di tembok. “Mau mati emang?“ seru Gilang sarkasme. Setelah beberapa bulan menikah, Gilang tau kalau James alergi seafood, bahkan kemarin sempat sampai masuk rumah sakit, karna sesak nafas.
“Oh, jadi udah tau nih? Kalo saya nggak bisa makan gituan?“ goda James sambil mengulum senyum. Ia pun keluar dari kamar diikuti oleh Gilang di belakang. Kebetulan sekali malam ini malam minggu, yang dimana banyak muda-mudi berkeliaran di luar. Gilang dan James? Mereka punya ritual khusus menginap di hotel bintang lima tiap akhir pekan. Hm, aneh memang.
Sambil menyetir James berniat ingin memegang tangan kanan Gilang. Tapi, Gilang malah protes. “Jangan pegang-pegang ah, geli,“ ucap Gilang ketus. “Jangan jaim deh Gilang~ Kita udah sering main di ranjang loh? Coba biar saya hitung satu dua tiga.. Nah! Udah 10X lebih!“ ucap James. Gilang mendeliki tajam. Semburat merah langsung muncul di kedua pipi Gilang. Uh, apa-apa James ini? Berbicara hal-hal yang memalukan seperti itu? Tidak ada topik lain lagi apa?, batin Gilang menggerutu kesal.
“Jangan ngambek~“ ucap James. Gilang terlihat melempar pandangannya keluar jendela. James tau, Gilang itu antara marah dan malu, semuanya bercampur menjadi satu. Lalu, James pun kembali menggenggam tangan Gilang. Ia kecup sekilas. Kali ini Gilang diam saja tidak protes.
Gilang dan James pun singgah di sebuah rumah makan Bebek Kaleyo, berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. “Jim, power bank nya bawa, batere aku low.“ ucap Gilang masuk ke dalam lebih dulu. James membuka pintu mobil lagi, mengambil powerbank di dashboard, memang apa saja kemauan istri harus dituruti, termasuk membawakan powerbank, hahahaha, batin James.
Saat masuk ke dalam sana. James menghampiri Gilang yang menuju meja kasir untuk memberikan list pesanan. “Bebek muda rica 1, bebek muda kremes 1, nasi dua. Jim, kamu mau jus tanpa gula apa gimana? Ato air mineral aja?“ ucap Gilang sekaligus bertanya. “Dua-duanya aja sayang, air mineral sama jus tanpa gula. Saya cari tempat duduk dulu disana.“ ucap James. “Hm,“ sahut Gilang. “Tambah air mineral dua sama jus mangga tapi nggak pake gula ato susu ya mba.“ ucap Gilang. “Siap mas,“ ucap Mba Kasir. “Oh iya mba, bebek muda cabe ijo 1 ya? Tapi, yang ini dibungkus aja nanti mau sekalian dibawa pulang.“ ucap Gilang lagi. Lalu, ia pun menghampiri James yang telah duduk disana sambil bermain dengan ponsel pintar miliknya.
__ADS_1
“Lagi chattan sama siapa Jim? Serius banget?“ tanya Gilang penasaran, karna sedari tadi James terlihat sibuk dengan hp saja. Suara Gilang itu terdengar biasa-biasa saja. Tapi, asal kalian tau, sesungguhnya Gilang itu sedang cemburu. Biasanya Gilang tidak akan segan-segan berbicara ketus atau diam seribu bahasa karna cemburu. “Grup chat kantor. Lagi bahas proyek baru. Kan di hp kamu ada juga?“ sahut James.
“Belum aku aktifin,“ ucap Gilang. Setelah terisi sekitar 5% barulah Gilang mengaktifkan hp nya. Hm, apa benar kata-kata James tadi?, batin Gilang langsung memeriksa riwayat chat di grup. Benar saja. Di grup memang ramai membicarakan mengenai proyek baru. Dalam hati Gilang merasa lega sekali. “Mama?“ batin Gilang saat ia melihat ada chat whatsapp dari Idella.
“Jim?“ seru Gilang saat setelah ia membaca chat dari Idella. James pun menoleh. “Hari kamis kamu sibuk nggak?“ tanya Gilang. “Kenapa emangnya?“ James malah bertanya balik. “Tadi mama ada chat aku, katanya ponakan di kampung mau nikah hari jum'at. Jadi, kita kesana hari kamis, nginep disitu. Pulangnya sabtu ato minggu.“ sahut Gilang menjelaskan. “Gimana? Kamu ada kerjaan nggak hari kamis ntar?“ tanya Gilang.
“Hmm..“ gumam James berpikir sebentar, mencoba mengingat-ingat kembali jadwalnya minggu besok. “Hari kamis sih kalo saya nggak salah inget.. Saya ada pertemuan sama pengusaha singapura..“ ucap James belum menyelesaikan kalimatnya seluruhnya. “Trus? Nggak bisa dong?“ timpal Gilang. “Bisa.. Kan bisa diserahin sama sekretaris aja? Biar dia yang handel,“ ucap James.
“Sekretaris kamu yang cewek itu? Yang kalo pakek rok sengaja diketat-ketatin itu?“ ucap Gilang sarkasme. Siapa lagi memangnya kalau bukan perempuan itu yang James maksud? Cih! Memangnya aku tidak tau apa?, batin Gilang. “Cemburu?“ seru James membuat Gilang tertohok. “Kan kamu tau sendiri interaksi saya sama dia di kantor itu kek gimana?“ ucap James. Gilang masih diam mengalihkan pandangannya dari James.
“Jangan ngambek ah sayang~ Hm? Kita mau makan enak loh disini? Masa kamu ngambek?“ ucap James membujuk Gilang sambil mengusap tangan Gilang.
“Tau ah Jim.“ sahut Gilang ketus.
“Permisi mas, ini pesanannya,“ ucap si pelayan. James pun langsung menarik tangannya dari Gilang dan mempersilahkan pelayan itu menyajikan pesanan keduanya di atas meja. Gilang kalau sudah ngambek, pasti susah sekali dibujuk. Hah, James menghela nafas. Menghadapi pria semuda Gilang memang harus ekstra sabar.
Setelah selesai makan malam di rumah makan Bebek Kaleyo, Gilang dan James langsung melesat menuju InterContinental Hotels Jakarta Pondok Indah. Sambil menenteng bungkusan plastik berisi Bebek Cabai Ijo, James memesan kamar tipe Club InterContinental Suites, sekitar 7,7jt per malam. James check-in untuk tiga hari dua malam.
“Gilang?“ seru James. James taruh bungkusan plastik itu di atas meja. James dekap tubuh tinggi nan atletis itu dari belakang. “Maaf,“ ucap James meminta maaf. Salah atau tidak sebagai suami yang baik tentu James harus meminta maaf terlebih dahulu. “Lepasin Jim, aku gerah,“ ucap Gilang. Duh, aku musti bujuk Gilang bagaimana lagi, ya?, batin James.
James pun memutar badan Gilang. Kini keduanya saling berhadap-hadapan. “Sayang~ Udah ngambeknya, ya? Saya nggak ada hubungan apa-apa sama sekretaris di kantor,“ ucap James menatap Gilang lambat-lamat sambil melingkarkan tangan di pinggul. “Hm?“ seru James. Gilang tau itu. Sangat tau sekali bahwa James tidak ada hubungan apa-apa dengan lelaki atau wanita manapun. Tapi, tetap saja hati ini terasa panas.
“Kalo masih ngambek saya gigit gimana?“ ucap James menggoda sekaligus mengancam. Uh, Gilang tidak mempercayai hal itu. Itu cuma akal-akalan James saja. Tiba-tiba Gilang refleks meremas pundak James. James menjilati area pundak dan leher. Lalu, menggigitnya sampai terdapat bekas kemerahan berbentuk lingkaran gigi. “Jim~ Ngghhhh,“ gumam Gilang saat James mengulum kupingnya. Ini adalah titik ter sensitif Gilang. James selalu saja menyerang bagian itu. “Jim udah mppph!“ ucap Gilang. Namun, mulutnya langsung dibekap oleh bibir James. James hisap dalam-dalam bibir itu lalu menariknya sedikit. “Jimmhhh nggh aahhh udaaah mppphh,“ gumam Gilang. James pun membimbing tubuh keduanya menuju ranjang. James tidak lantas langsunb rebahan begitu saja.
James duduk sambil mendekap tubuh itu dengan menahan punggung bagian belakang. Gilang dan James berciuman dengan liat hingga air liur keduanya yang telah bercampur itu membasahi bibir sampai ke dagu Gilang. Lidah James turun ke dagu, lalu ke jakun, lalu area dada bagian atas. Gilang otomatis mendongak sambil satu tangan menjambak rambut James dan satunya lagi meremas pundak James kuat-kuat.
Sambil menciumi area dada lalu naik lagi ke bibir, James sambil melepas resleting celana Gilang. Hm, sedap sekali, batin James saat tangannya sudah menggengam milik Gilang itu. James mengulum kuping Gilanb dan sesekali menggigit kuat-kuat pundak Gilang sambil tangannya bermain di bawah sana. Setelah dirasa cukup lama melakukan pemanasan, kali ini langsung ke intinya saja. James meminta Gilang untuk menungging, karna ini adalah posisi hubungan suami istri favorit James. Di posisi ini milik James mampu menghujamkan miliknya dalam-dalam. Gilang mendesis berkali-kali sambil meremas sprai. Kepala Gilang menyentuh kasur, sedangkan pinggul menungging indah. “Jiiiimmmmmhhhhh aaahhh,“ teriak Gilang. Suara indah Gilang pun menggema di ruangan ini. Oh, betapa nikmatnya saat milik James dihujamkan dalam-dalam di lubang itu. Saat ujung kepala milik James tepat menyentuh sesuatu di dalam sana. Kontan Gilang pun semakin berteriak dengan kencang. “To-tot-toh-looonngghhhhh aaaahhh ah ah ah ah ah Jiimmmmhhhh,“ teriak Gilang kenikmatan.
James ciumi punggung Gilang yang sudah banyak sekali bekas kemerahan disana. Sambil ia maju-mundurkan pinggulnya. Malam ini Gilang dan James lalui dengan saling mencurahkan perasaan cinta masing-masing. Suara lolongan itu membuat James semakin jatuh cinta, apa lagi saat bibir kemerah-merahan itu meneriaki namanya. “Jimmiiiii aahhhh ah ah ah ah ah jihhmmmm uuh aaaah ah ah nggghhh aahhh,“ suara lolongan dari bibir Gilang pun terdengar panjang dan nyaring. Itu pertanda ia sudah menyemburkan cairan kenikmatan. Malam ini keduanya lalui dengan indah. Saling memadu kasih, menyerap bibir masing-masing, dan tentunya saling memberikan kepuasan lahir dan batin.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa baca juga LION HEART [BL]. Trus like and masukin ke favorit kamu. Satu lagi readers semua, alhamdulillaah masalah saya dengan author lapak sebelah sudah clear ya, meskipun saya tidak menerima permohonan maaf secara langsung, tapi saya hargai usaha dia yang sudah bersedia minta maaf secara terbuka dan menghapus bagian yang telah ditiru sebelumnya. Semoga saya dan kita semua bisa berkarya lebih baik lagi aamiin 🙏🙏🙏