GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 18


__ADS_3

Pelukan Rama yang semakin erat dan menyesakkan itu membuat Kevin sebal dan akhirnya memutar badannya tiba-tiba. Kevin pun terkejut bukan main ketika melihat wajah Rama yang babak belur. ”Muka lu kenapa bisa babak belur gini sih Ram? Siapa yang udah mukul lu, hah?” ucap Kevin dengan raut wajah yang amat sangat khawatir.


Ia pun mematikan kompor terlebih dahulu dan menuntun Rama untuk duduk di sofa. ”Lu tunggu disini. Gue mau ambil P3K dulu.“ ucap Kevin segera menuju kamar dan mengambil P3K di laci.


”Gelut sama siapa sih? Lu nggak ada tampang-tampang tukang berantem deh.” protes Kevin terlihat begitu cemas dan khawatir sambil kedua tangannya membersihkan bagian yang terluka dengan antiseptik.


”Sshhht.” Rama mendesis kesakitan. Ia tidak menyangka kalau lukanya bisa seperih ini.


”Sakit yah? Dikit lagi kok tahan yah?” ucap Kevin mengobati Rama dengan telaten.


Rama tertegun melihat Kevin yang terlihat begitu mengkhawatirkannya. Bahkan, Cindy saja tidak pernah secemas ini padanya ketika ia sedang sakit sekali pun. Respon Cindy? 'Makanya makannya dijaga sayang, jangan makan sembarangan, minum obatnya tepat waktu ya.' seperti itulah responnya.


”Udah.” ucap Kevin setelah selesai membersihkan luka di sudut bibir Rama dan mengoleskannya salep anti memar. Ia pun merapikan kotak P3K yang berantakan. Ketika ia hendak bangkit berdiri, Rama mencegat pergelangan tangannya.


”Hm?“ gumam Kevin dengan kedua alisnya yang terangkat. Rama menatapnya lamat-lamat tanpa berkedip sekali pun. Seakan terhipnotis dengan tatapannya, Kevin malah membeku saja di tempat.


Bibir keduanya pun saling bertemu. Rama tau sudut bibirnya masih terasa perih sekali. Tapi, rasanya rasa perih itu sirna ketika bibirnya mengecup bibir Kevin. Kevin terhanyut. Beberapa detik kemudian Rama seolah tersadar dan segera melepaskan kecupannya itu.


”Maaf.“ ucap Rama merasa bersalah. Ketika Rama hendak memalingkan wajahnya, Kevin pun meraih wajah Rama dan mengecup bibirnya pelan. Entah mengapa Kevin merasakan sensasi yanh berbeda ketika berciuman dengan Rama dan Melisa.


Berciuman dengan Melisa rasanya hambar sekali. Tapi, ketika Kevin berciuman dengan Rama, entah mengapa Kevin seperti merasakan sehuah kasih sayang yang teramat besar disana. Terasa manis sekali.


Rama pun mendorong Kevin perlahan hingga posisi Kevin menjadi rebahan dan Rama yang berada di atasnya. Nafas Kevin terengah-engah ketika ia mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin dengan pandangan mata yang sedikit memburam.


”Eummh nnhh.” lenguhan Kevin pun terdengar ketika lidah Rama menjilati daun telinganya hingga leher sampai-sampai meninggalkan beberapa bekas kemerahan disana.


Keesokan harinya, seperti biasa Rama susah sekali dibangunkan. ”Ram, bangun, air angetnya udah gue siapin. Cepetan mandi, gue mau nyuci.” ucap Kevin lemah lembut. Tidak ada angin tidak ada hujan Kevin tiba-tiba berbicara lemah lembut dan tidak ketus?


”Bentar lagi.” sahut Rama malas semakin menaikkan selimutnya. Kevin yang tadinya lemah lembut pun tiba-tiba berubah menjadi sangar. ”BANGUN WOY KEBO!!!” ucapnya berteriak dengan nada oktaf tertinggi sambil menendang-nendang Rama sampai-sampai Rama hampir saja tersungkur ke lantai.


”Bisa nggak sih kamu tuh jangan kasar? Dasar bar bar.” ucap Rama sambil meyipitkan matanya sebal.


”Gue cuman mau ngejalanin tugas sebagai babu lu yang baik hati dan nggak sombong.”


”Oh? Jadi, kamu ngaku kalau kamu babu saya gitu?“


”Tau, ah! Rese!”


***


”Kok baladonya nggak pedes? Kan saya requestnya yang pedes?” protes Rama di meja makan. Kevin mencebikkan bibirnya sebal lalu meletakkan sendoknya di piring.


”Inget umur.” sahut Kevin geleng-geleng kepala.


”Hubungannya umur sama makanan pedes apa?” tanya Rama berlagak polos sambil menyantap makanannya.


”Nggak ada. Tapi, liat deh itu bibir lu masih luka. Dasar nggak tau diri banget.” sahut Kevin tiba-tiba wajahnya bersemu merah ketika menyebut kata 'bibir'. Kevin jadi salah tingkah dan lebih memilih membersihkan piring serta alat masak yang kotor.

__ADS_1


Di dapur keduanya persis seperti pasangan suami istri. Kevin mencuci piringnya sedangkan Rama mengelapnya sampai kering. ”Serasa kayak punya istri deh Kev.” ucap Rama.


Kevin pun menoleh ke samping. ”Istri dari hongkong.” cibir Kevin.


”Hari ini pulang cepet nggak?” oops Rama keceplosan menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak ia tanyakan. Ia pun meruruki dirinya dalam hati karena sudah bertindak ceroboh.


”Kenapa emang?” sahut Kevin bertanya balik sambil menaik turunkan alisnya pun satu tangan yang berkacak pinggang dan satunya lagi bertumpu di lemari dapur.


”Nggak ada.” jawab Rama datar. Cup! Rama pun segera berlari menuju depan TV setelah mengecup pipi kanan Kevin sekilas. ”RAMAAAAAAAAAAAA!!!!” teriakan Kevin yang maha dahsyat itu pun menggema di seluruh ruangan apartemen sampai-sampai membuat Rama yang duduk di sofa harus menutup kedua telinganya.


Kevin pun membasuh pipinya dengan kasar. Ia mengutuk Rama dengan bibirnya yang komat kamit karena telah mencium pipinya tanpa izin. “Wait wait wait kok gue deg-degan ya?” gumam Kevin menggelengkan kepalanya dengan cepat.


”Jangan kemana-mana, ntar gue usahain pulang cepet.” ucap Kevin sambil memasang sepatunya terburu-buru.


Rama pun menarik hoodie Kevin dan hampir saja membuat Kevin terjungkal ke belakang. Kevin pun menatap Rama kesal. ”Paan si lu ah. Gue buru-buru nih.“ protes Kevin.


”Cium pipi saya dulu.”


”What?”


Kevin pun memijit pelipisnya yang tidak sakit. Kenapa Rama begitu usil akhir-akhir ini? Bahkan, ia terlihat semakin menyebalkan. Cium? Apakah Rama seorang maniak ciuman?


”Ngebantah hukuman jadi babunya tambah satu bulan lagi.” ancam Rama serius. Mau tidak mau Kevin pun segera mengecup pipi Rama lalu berlari keluar begitu saja.


Rama pun menyentuh pipinya yang terasa lembab. Ia tersenyum samar. Ini seperti bukan dirinya. Bagaimana bisa ia meminta Kevin untuk mencium pipinya? Lagi dadanya seperti merasakan gelenyar-gelenyar aneh yang tidak biasa.


***


Sebenarnya Kevin risih. Tapi, ia berusaha bersikap biasa-biasa saja karena tidak ingin menyakiti hati Melisa. Hah, berpositif thinking saja lah. Ah, syukurlah dari sini terlihat teman-teman kampusnya berkumpul di tempat biasa.


”Mel, kita kesana yuk.” ucap Rama.


”Nggak ah.” sahut Melisa membuat Rama heran.


”Ayok biar kita bisa ngumpul bareng.“


”Nggak Kev, gue maunya berdua aja ama lo.”


”Mel, kita udah sering dua-duaan ampe gue jarang ngumpul bareng temen-temen gue.”


”Jadi, lo nyalahin gue?”


”Hah?”


”Oh, jadi gue itu penghalang buat pergaulan lo gitu? Iya?”


”Lo ngomong apaan sih?”

__ADS_1


”Lo sayang nggak sih sama gue Kev?”


”Kok lo ngomongnya gitu sih?”


Sungguh Kevin tidak habis pikir dengan jalan pikiran Melisa yang sama sekali tidak bisa ia mengerti. Seegois itu kah Melisa sampai-sampai melarang dirinya bergaul dengan teman-temannya sendiri?


Dari kejauhan Juan, Malik, Naila, dan Radhika melihat aksi dua sejoli yang sepertinya tengah bertengkar di koridor. Juan melihatnya dengan seksama sambil menikmati ice coffe miliknya. 'Gue harap lu putus ama tuh cewek Kev.' batin Juan.


”Barantemin apaan sih? Serius banget.” celetuk Malik melihat Kevin dan Melisa yang tengah bertengkar persis seperti adegan di ftv-ftv.


”Biasa kali orang pacaran mah berantem.“ timpal Naila.


”Gue nggak mau debat lagi Mel. Terserah lo mau gimana. Gue nggak peduli.” ucap Kevin lalu meninggalkan Melisa sendirian dan menyusul teman-temannya disana. Melisa menghentakkan kakinya kesal. Ia pun merasa telah dipermalukan oleh Kevin.


Tiba-tiba Kevin duduk di antara Juan dan Malik lalu menghempaskan tasnya di ataa meja. Ia pun segera merebut minuman Malik dan meminumnya hingga habis tidak tersisa setetes pun.


”Abis maraton lu? Minum kek orang kesetanan.” tanya Malik sambil geleng-geleng kepala.


“Iya maraton hati wkakakakakakak.” jawab Kevin tertawa.


”Nih.” seru Juan menyodorkan ponselnya dan menampilkan beberapa foto Melisa yang tengah asyik berduaan dengan om-om di sebuah bar.


Naila dan yang lainnya pun terkejut bukan main. Juan meletakkan jari telunjuknya di bibir, mengisyaratkan supaya teman-temannya ini tidak terlalu heboh. ”Kalian jangan ampe nyebarin gosip yang nggak-nggak.“ ucap Juan.


”Kenapa emangnya?” tanya Naila penasaran.


“Kampus kita ngelarang buat nyebarin gosip aneh-aneh apalagi yang berbau asusila. Semuanya diminta bungkam aja biar reputasi kampus kita nggak tercemar.”


”Oh~ Gitu toh.”


”Gue udah tau.” ucap Kevin membuat teman-temannya terkejut.


“Trus masih lu pertahanin juga?” tanya Juan heran.


“Jauh sebelum gue jadian ama dia gue udah tau dia kek gimana. Gue cuma berharap dengan adanya gue buat sayang sama dia tuh bakalan bantu buat ngubah sifat nggak baiknya. Eh, tapi malah sama aja. Gue juga pusing, lama-lama dia tuh kek ngatur-ngatur gue gitu.”


”Udah end aja, ngapain dipertahanin cewek kek gitu.” celetuk Malik.


”Kalo seandainya dia nunjukin perubahan dia ya gue bakalan lanjut. Why not? Kecuali dia emang bebel banget gak berubah-berubah baru deh gue mikir buat end sama dia. Tapi, nunggu timenya pas dulu.“


Bodoh? Tidak! Kevin tidaklah sebodoh itu. Ia bukanlah orang yang bisa mengubah dunia. Tapi, setidaknya ia bisa mengubah dunia seseorang. Di saat orang lain memilih menjalani hubungan karena memang dilandasi perasaan cinta dan sayang, maka berbeda dengan Kevin.


Ia lebih memilih menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak terlalu ia cintai. Baginya cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu bersama. Seiring berjalannya waktu bersama? Tiba-tiba ia teringat akan seseorang. Namun, dengan cepat ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Judul lain COME BACK HOME [BL], BLUE SKY [BL], ARES [BB], JOMBLO AKUT

__ADS_1


__ADS_2