
“MERDEKAAAAAAAA,“ seru Daffin menghembuskan nafas lega seolah-olah ia baru keluar dari penjara sekian tahun. Daffin menghirup dalam-dalam udara di sekitar halaman rumahnya sendiri. Uh, Daffin sungguh merindukan kasur spiderman miliknya.
“Merdeka apaan?“ seru Chris.
“Ya karna gue— ehm aku udah nggak tinggal sama mas lagi.“ ucap Daffin tersenyum lebar.
“Siapa bilang?“ ucap Chris.
“Hah?“ gumam Daffin.
Tiba-tiba datang lah seorang supir taksi membawakan beberapa koper kemari. Daffin heran dengan keberadaan koper-koper ini. “Terima kasih banyak ya pak,“ ucap Chris berterima kasih kepada supir tersebut. Bahkan, Chris memberikan uang lebih, sampai-sampai sang supir mengucapkan terima kasih berkali-kali.
“Ini apaan?“ tanya Daffin ketus dengan kedua alis hampir saling bertautan. Chris menghela nafas. Ia mengacuhkan Daffin dan lebih memilih mengetuk pintu. Belum sempat Chris mengetuk pintu, Olivia sudah membukakannya. “Chriiiisssss,“ seru Olivia langsung memeluk Chris dengan erat. “Daffin gimana? Dia nakal nggak?“ tanya Olivia.
Chris melirik Daffin sebentar. Daffin memutar bola mata malas. Daffin itu adalah putera tunggal dari pasangan Nugraha dan Olivia. Tapi, mengapa sang ibu malah memeluk Chris terlebih dahulu? Uh, dasar pilih kasih, batin Daffin.
“Dikit bu,“ ucap Chris tersenyum sambil menyipitkan mata sedikit. “Masuk yuk,“ ucap Olivia mempersilahkan. “Kamu nggak masuk Daff? Mau di luar aja?“ ucap Olivia ketika ia melihat Daffin masih berdiri mematung. Daffin mencebikkan bibir kesal. Dasar Chris, batinnya menggerutu dalam hati.
“Lu kenapa pake acara bawa-bawa koper segala??" protes Daffin sembari duduk di sofa ruang tamu. Olivia langsung memukul pundak sang anak. “Kalo ngomong itu yang sopan dong Daff. Malu-maluin aja.“ tegur sang ibu.
Daffin sebal. “Hmm,“ gumam Daffin. “Maaf mama maaf,“ ucap Daffin. Olivia pun ke belakang untung menyiapkan makan siang di meja. Daffin menatap Chris dengan tatapan yang tajam. “Mas, mas ngapain koper banyak-banyak kek gini? Maksudnya apa?“ tanya Daffin meminta penjelasan.
“Karna mas mau tinggal disinilah. Trus apa lagi? Liburan? Mas nggak punya waktu liburan sayang~ Kamu tau sendiri mas sesibuk apa di kampus.“ sahut Chris. Oh tuhan, kapan penderitaan Daffin akan berakhir? Tinggal dalam satu atap bersama Chris sama saja menghalang-halangi Daffin untuk bergerak lebih lincah lagi. Mengerti maksud Daffin, kan?
“Hah? Mas mau tinggal disini?“ seru Daffin dengan mulut setengah menganga. Daffin terkejut. Bagaimana ceritanya Chris bisa tinggal disini? Bukankah Chris juga sudah mempunyai tempat tinggal mewah? Cih, apa-apaan Chris ini?, batin Daffin.
“Terserah mas lah mau tinggal dimana. Suka-suka mas, bapak sama ibu kamu aja nggak sewot kok,“ ucap Chris. “Ma~“ protes Daffin. “Udah diem. Mama sama papa yang izinin. Lagian mama sama papa nggak perlu izin kamu juga, kan?“ ucap Olivia.
“Iya.. Tapi kan—“
“Nggak ada tapi-tapian,“
Daffin mendengus. Percuma saja ia bersuara disini. Sesiapa pun tidak ada yang ingin mendengar. Biar Daffin nanti berbicara dengan Chris di kamar saja. Daffin harus membicarakan hal ini pada Chris tuntas sampai akar.
Selesai makan siang, Daffin pun ke kamar diikuti oleh Chris di belakang. Daffin membelakangi pintu. Ia berdiri sambil berkacak pinggang. Lagi-lagi Chris berbuat sesuka hati. Egois dan selalu mementingkan kehendak diri sendiri, tanpa mau mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Daffin.
__ADS_1
“Mas,“ seru Daffin. Ia pun memutar badan sambil kedua tangan bersedekap di dada. Chris duduk di pinggiran ranjang sambil menatap lurus ke arah Daffin. Jujur saja saat ini Chris sedikit mengantuk. Ah, dasar perut biadab, batin Chris. Setelah menyantap banyak makanan, rasa kantuk itu pun datang. Bahkan, suara Daffin terdengar agak samar.
“Mas tau nggak? Mas itu egois, hah?“ ucap Daffin ketus dengan mata setengah melotot. “Hm,“ sahut Chris mengiyakan. “Mas kenapa nggak bilang sama aku dulu kalo mo tinggal disini? Kalo aku nggak setuju gimana? Mas, bisa nggak sih hargain privasi aku? Aku juga butuh privasi mas,“
“Hm,“ sahut Chris dengan deheman saja. Ia pun langsung merebahkan diri di atas kasur nan empuk ini. Uh, sungguh surga dunia amat dirasa, batin Chris. Chris tidak mampu lagi menahan rasa kantuk yang mendera. Chris juga tidak peduli lagi dengan Daffin yang terlihat marah-marah padanya. Biarkan sajalah, yang terutama tidur dulu, batin Chris.
“Hah?“ Daffin tidak habis pikir. Bisa-bisanya Chris tertidur di saat-saat genting seperti ini? Oh tuhan, tolong berikanlah Daffin kesabaran lebih untuk menghadapi si hati batu ini. Sudahlah, Daffin juga lelah, daripada ia semakin kesal, lebih baik Daffin bermain game saja.
Satu jam berlalu. Chris terbangun saat telinganya sayup-sayup mendengar suara teriakan seseorang. Ah, ini bukan teriakan orang, melainkan berasal dari TV. Hm, maksudnya game yang tengah dimainkan oleh Daffin di PC.
Chris pun bangkit dari tidurnya lalu duduk sebentar. Ia melihat Daffin tertidur di lantai. Untung saja lantai itu dilapisi oleh karpet berbulu. Sehingga badan Daffin pun tidak akan terasa sakit meskipun tertidur dalam waktu yang cukup lama. Chris turun. “Daff?“ seru Chris. “Hm,“ gumam Daffin dalam tidurnya.
Chris jadi tidak tega untuk membangunkan Daffin sekarang juga. Ia pun menegangkan badan Daffin lalu merebahkannya di atas kasur. Sungguh, Daffin itu berat sekali, batin Chris. Chris sampai geleng-geleng kepala. Chris berpikir memangnya Daffin makan apa saja sampai-sampai badannya bisa seberat ini?
Daffin merubah posisi tidurnya. Tadinya ia miring ke kanan. Namun, sekarang malah miring ke kiri. Chris mengecup pucuk kepala Daffin sayang. Chris pun menaikan selimutnya sedikit. Setidaknya badan Daffin tertutup sedikit supaya tidak terlalu kedinginan karna AC.
Chris pergi berbelanja untuk membeli kebutuhan rumah Daffin yang saat ini sedang habis. Tinggal disana Chris juga tidak ingin makan gratis begitu saja, meskipun keluarga Daffin tidak akan pernah kekurangan sedikit pun. Ini murni balas budi saja.
Sebelum mobil yang dikendarai Chris tiba di depan rumah Daffin. Chris melihat sesosok lelaki berjaket kuning motif bintik-bintik hijau serta celana pendek selutut berwarna krim tengah duduk di depan sebuah mini market. Itu seperti Daffin, batin Chris. Ia pun segera menepikan mobilnya lalu menghampiri lelaki tersebut.
“Ngapain disini???“ tanya Chris. “Lu punya mata, kan? Gue nggak usah jawab pun lu pasti tau gue lagi ngapain.“ sahut Daffin dengan nada sedikit ketus. Daffin masih marah pada Chris rupanya, bahkan sampai mengubah istilah aku kamu menjadi elu gue.
Chris terkekeh pelan melihat Daffin ketus seperti itu. Lihatlah bagaimana mata Daffin terlihat seperti orang yang masih mengantuk. Jangan-jangan Daffin kemari setelah dia bangun tidur?, batin Chris. Hah, ada-ada saja Daffin ini. Chris geleng-geleng kepala.
Chris dan Daffin tiba di rumah. Uh, sepi sekali, kemana Nugraha dan Olivia?, batin Daffin. “Pa? Ma?“ seru Daffin. Hm, tidak ada sahutan sama sekali. “Berangkat kondangan,“ seru Chris. “Hah?! Serius? Kok gitu sih? Masa gue nggak diajak sih, wah, nggak bisa dibiarin ini,“ ucap Daffin kesal.
Chris menatap Daffin heran, mengapa Daffin bisa selesai itu hanya karna ditinggal kondangan? Persis seperti anak kecil saja. Daffin sampai-sampai harus menelepon Nugraha. Daffin protes mengapa dirinya tidak diajak. “Mana papa kepikiran buat ngajakin kamu Daff? Wong biasanya aja kamu nolak kalo diajakin,“ ucap Nugraha di telepon.
Daffin semakin kesal saat ia melihat Chris terlihat menahan tawa. Oh tuhan, harus ditaruh dimana muka tampan Daffin ini, hm? Bisa-bisanya Daffin serasa dipermalukan di depan orang lain. Gelagat Daffin yang ingin mengindari Chris terlihat amat jelas. Oh tuhan, tolong tenggelamkan aku ke dalam dua melon menjuntai satu ini jua, batin Daffin.
“Mas tadi beli seafood sama daging. Kamu mau dimasakin apa?“
“Emangnya lu bisa masak gitu?“
Chris langsung menjitak dahi Daffin. Bagaimana bisa Daffin lupa fakta akan Chris yang pandai memasak? “Bahasanya itu loh yang sopan dikit napa Daff?“ tegur Chris. Daffin mencebikkan bibir kesal. “Kamu lupa? Biasanya yang masak di apartemen siapa? Kamu atau mas?“ tanya Chris membuat Daffin tertohok.
__ADS_1
Sialan Chris ini, batin Daffin. Bisa-bisanya dia memojokkan Daffin dan mempermalukannya sekaligus. “Hm,“ sahut Daffin dengan deheman saja. Chris tertegun. Daffin belum selesai ngambek jua? Sepertinya Chris harus menggunakan cara lain untuk membuat suasana hati Daffin membaik.
Chris berjalan memutar menghampiri Daffin yang duduk di kursi dekat dapur. Chris memang lebih pendek dari Daffin. Tapi, bukan berarti dia kalah kuat. Chris pun mengangkat tubuh Daffin dan mendudukkannya di atas meja dapur. “Ap-apa-apaan lu, hah?!“ ucap Daffin kaget.
Chris mengunci tubuh Daffin dan kedua tangan ia tumpukan di atas meja dapur kiri dan kanan. Chris menatap Daffin lamat-lamat. Hah, Chris rindu sekali ingin kembali menikmati manisnya bibir tipis itu. Daffin menelan ludah susah payah. Ditatap seperti itu oleh Chris membuat tenggorokannya terasa tercekat.
Jantung Daffin mendadak berdegup kencang. Pasokan udara di sekitar seakan menipis. Oh tuhan, ujian apa lagi ini? Daffin terpana saat ibu jari itu mengusap pelan bibirnya. Itu ibu jari Chris. Ah, ucapannya lembut sekali, batin Daffin. Jantung Daffin semakin bergemuruh. Dia berontak ingin dimanjakan. Uh, Jantung atau Daffin yang ingin dimanjakan, sih? Entahlah Daffin tidak tau.
“Daff.. Inget.. Kamu mau sekesel apapun sama mas, tolong, jaga bibir kamu sayang. Jangan pernah panggil mas pake istilah elu gue.“ ucap Chris menasihati. Chris tidak marah. Ia hanya ingin Daffin belajar bijak saat menghadapi tiap masalah. Ini hanya bagian kecil. Daffin bukan hanya seorang kekasih. Chris juga ingin Daffin bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, meskipun Chris sendiri bukanlah orang baik. Chris juga masih memiliki banyak kekurangan.
“Hm,“ sahut Daffin mengangguk pelan diiringi sorot matanya yang mulai menurun. Daffin benar-benar tidak tahan jika dirinya harus bersitatap lama-lama dengan Chris. Jantungnya terus saja berpacu. Uh, Daffin semakin kesal saja.
Chris meraih dagu Daffin hingga kini kedua mata mereka kembali bertemu. Chris kecup pelan bibir itu dan sesekali menggigitnya sedikit, tidak sampai berdarah. Ia kecup bibir itu penuh cinta. Chris juga ingin Daffin merasa disayangi, dihormati, dan tentunya tidak akan merasa dipaksa apalagi dikekang.
Chris melingkarkan tangannya di pinggul Daffin, untuk menahan Daffin supaya dirinya tidak oleng ke belakang. Chris semakin memperdalam ciumannya. Lidah keduanya saling beradu sehingga menimbulkan kecepak basah. “Euummhhh,“ Daffin melenguh saat lidah Chris mulai menjamah lehernya. Kepala Daffin sampai mendongak ke atas merasakan sensasi nan luar biasa ini.
Nafas Daffin naik turun. Nafsu mulai menguasai diri. Daffin menjambak rambut Chris saat lidah Chris mulai menjilati area dada dan dua biji kacang miliknya. Benar, Daffin tanpa ia sadari, kini baju yang ia kenakan terlepas entah dilempar kemana oleh Chris.
Daffin rebahan di atas meja dapur. Ini semakin mempermudah Chris untuk menjamah dirinya. Daffin tidak mengenakan apapun. Chris juga sudah melepas pakaiannya sendiri dan membuka resleting celananya sedikit.
“Ummmhhh Chriiihhhs eungh,“ gumam Daffin memejamkan mata dengan mulut terbuka diiringi suara-suara nan menggairahkan. Chris semakin bersemangat. Posisi kaki Daffin saat ini adalah mengangkang hingga memudahkan lidah Chris untuk menjilati lubang kemerahan itu.
Tubuh Daffin menggelinjang hebat. Ini sungguh amat sangat memabukkan. Tidak hanya itu. Bahkan Chris memasukkan jari-jemarinya di dalam sana sembari mulutnya mengulum adik kecil Daffin yang sudah menegang sempurna.
“Uh ahhh ngghhh Chriihhss ah ah eukh,“ mengurangi panjang itu diiringi keluarnya cairan putih dari ujung kepala sang adik. Bagaimana tidak? Chris terus saja merojok area bawah sana dengan tiga jarinya hingga mengenai prost4t. Spot ternikmat para lelaki. Chris juga sudah tidak tahan lagi. Ia pun mengeluarkan senjata pamungkas dari sarangnya. Ia arahkan miliknya itu di depan ring Daffin.
Uh, sungguh ring kemerah-merahan ini amat menggairahkan. Lihatlah bagaimana ring ini berkedut manja. “Eummh,“ gumam Chris saat ia mencoba memasukkan miliknya ke ring Chris. Meskipun Chris dan Daffin sudah beberapa kali melakukan itu. Tetap saja ring milik Daffin ini masih terasa begitu amat sempit.
“Eummmppph,“ Daffin memekik saat ujung kepala adik Chris mulai masuk, rasanya sungguh luar biasa, terasa panas dan perih sekali seperti dirobek. Chris diamkan sebentar. Ia tatap wajah Daffin yang sudah memerah. Chris tersenyum tipis. Lalu, ia pun mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya maju mundur membuat Daffin yang awalnya kesakitan menjadi keenakan dan kenikmatan.
“Lagiiiih di-si-tuh Chriiihss.. Euunnngg ituh ituh aahhhh eummph,“ gumam Daffin menggigit bibir bagian bawah. Chris juga tidak berhenti melenguh. Tubuh keduanya berkeringat. Chris semakin mempercepat tempo goyangannya. Ungh, ini nikmat sekali, batin Chris.
Posisi Daffin pun berubah dengan tubuh miring ke samping kiri, dengan kaki kanan ia diangkat oleh Chris serta kaki kiri ditekukan. Posisi seperti ini semakin memudahkan Chris untuk merojok semakin dalam. “Chriiiihsss aaah ahhh uh euuungg euuumnh aaaahhhh,“ Lagi-lagi Daffin mengeluarkan cairan putih itu untuk kedua kalinya. Uh, Chris sekuat itu? Bahkan sampai saat ini ia belum keluar sama sekali.
“U-ruht punya kamu sayang,“ ucap Chris. Daffin pun menurut saja. Sial! Adik Daffin kembali menegang saat Daffin menurutnya naik turun dengan tempo cepat diiringi goyangan dari Chris yang juga semakin cepat. “EUUUMMMH AAAAHHHHHHH,“ lolongan panjang itu pun akhirnya terdengar. Chris menyemburkan cairan putih itu di dalam. Pun Daffin menyemburkan cairan putih itu untuk ketiga kalinya. Cairan milik Daffin berceceran dimana-mana. Bahkan di atas meja sudah banyak sekali. “Ahh.. Eummh..“ gumam Daffin. Ia merasa kelelahan. Chris mengecup kening Daffin sayang.
__ADS_1