GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 47


__ADS_3

Juan dan Yoga saat ini tengah bersih-bersih rumah baru. Benar, Juan dan Yoga pindah ke rumah yang lebih besar lagi di Jl. Subur Pertamina, Jakarta Timur. Hunian baru dua lantai ini memiliki luas tanah kurang lebih 68 meter persegi, dan terdapat: tiga kamar tidur dan tiga kamar mandi. Jangan salah sangka dulu, hunian seharga 930jt ini dibeli dengan sistem cicilan per bulan sekitar kurang lebih 6,5jt. Hal ini pun membuat Juan harus bekerja lebih giat lagi. Soal cicilan, Juan dan Yoga memang berkongsi masing-masing harus menyediakan uang 3,25jt—sedangkan untuk urusan belanja bulanan, semua itu adalah tanggung jawab Juan.


Dompet gue oh dompet gue, andai gue bisa ngepet, batin Juan saat ia meratapi betapa besar pengeluaran tiap bulan. Belum lagi Juan harus membayar biaya kuliah. Huft, Juan menghela nafas. Di sini Juan adalah kepala keluarga. Hm, belum nikah sih~, batin Juan. Itu lah mengapa Juan tidak ingin memanfaatkan Yoga yang notabene memiliki pendapatan berkali-kali lipat lebih tinggi. Gaji Juan di bar sebagai bartender? Cuma 10jt an saja. “Kalo dikurangin sama cicilan trus belanja bulanan, berarti sisa..“ gumam Juan sembari menggerakkan jari-jemari nya untuk menghitung.


“Sisa 5 jeti doang dong?“ gumam Juan lagi. “Kok bengong?“ seru Yoga. Juan pun menoleh. “Nggak ada~“ sahut Juan berkilah. Ia pun mengangkat kardus-kardus itu ke gudang. “Juan, nanti kita jadi ke Taman Situ Lembang, kan?“ seru Yoga berteriak. “Iya mas, tapi abis ini mandi dulu,“ sahut Juan dari dalam gudang.


Setelah membersihkan diri, Juan dan Yoga berniat ingin pergi bertamasya di Taman Situ Lembang, dan makan siang di atas hamparan rumput nan hijau. Uh, beneran keluarga bahagia banget, batin Juan tersenyum samar sambil menyetir. Sebelum itu ia dan Yoga singgah terlebih dahulu di Nagomi Japanese Restaurant, untuk membeli dua box bento yang berisi makanan khas Jepang. Harga per box dibandrol dengan harga 150rb. Karna ini untuk berdua, jadi Juan membeli dua box. Bisa dibilang menu di Bento Nagomi ini lengkap sekali, ada salad, prawn katsu, chicken teriyaki, salmon, oden, chicken karaage, tamagoyaki, dan pickles.


Demi apa? Juan harus mengendarai mobil selama 45 menit untuk bisa sampai ke Taman Situ Lembang. Berhubung liburan semester genap, Juan ingin menghabiskan waktu liburan bersama sang pujaan hati, Yoga. “Kamu udah dengerin lagu House Party - Super Junior belom?“ tanya Yoga sambil main gadget. “Udah di download sih. Tapi, belom diputer,“ sahut Juan. Yoga pun memutar lagu itu di dalam mobil. Juan menggoyang-goyangkan kepala menikmati lagu itu sepanjang perjalanan. Hingga lagu itu pun berganti ke judul berikutnya, yaitu Burn The Floor.


Juan dan Yoga pun tiba. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan mencari tempat yang nyaman untuk duduk. “Di bawah pohon deket danau aja yang,“ seru Yoga menunjuk ke arah pinggiran danau sana. Juan pun menggelar kain di atas rerumputan sebagai alas untuk duduk. Udara disini benar-benar sangat segar sekali, batin Juan. Di Taman ini juga tersedia permainan anak-anak, karna memang banyak anak-anak yang berekreasi di sini. Dan di tengah danau sana terdapat air mancur serta tanaman teratai yang memenuhi perairan di danau ini.


“Uhm, chicken teriyakinya enak banget yang~“ ucap Yoga saat ia menyantap sepotong chicken teriyaki. Uh, perpaduan rasa manis dan asin—serta aroma bawang putih yang kuat ini benar-benar menggoyang lidah. Juan terkekeh. “Pelan-pelan sayang makannya ya ampun~“ ucap Juan sembari mengusap sudut bibir Yoga yang terdapat sisa-sisa saus. “Oh iya mas, kan aku lagi masa libur dua minggu nih?“ seru Juan. Yoga pun menoleh sambil mengunyah makanan. “Trus?“ sahut Yoga. “Aku minta izin buat perpanjang jam kerja. Jadi, aku bakalan kerja dari pagi ampe malem,“ ucap Juan menjelaskan.


Yoga memberengut. “Kalo mas nggak izinin gimana? Mau nurut nggak?“ ucap Yoga terlihat kesal. Pasti cemburu, memangnya apa lagi kalau bukan cemburu?, batin Juan. “Buat nambah-nambah aja mas. Kan lumayan?“ ucap Juan. “Tau ah, terserah,“ ucap Yoga ketus. Ia pun menghabiskan makanan yang masih tersisa sedikit. Sabar Juan sabar, batin Juan merapalkan kalimat itu berkali-kali. Selesai makan siang, kini saatnya Juan dan Yoga bersantai menikmati semilir angin di Taman ini.


“Haaahhh,“ Juan menghembuskan nafas lega saat ia merebahkan kepalanya di atas paha Yoga. Juan tatap Yoga lamat-lamat. “Mas, emangnya kamu kenapa nggak ngizinin aku kerja full?“ tanya Juan penasaran sambil memainkan jari-jemarinya di rambut Yoga. “Waktu buat akunya kapan? Kalo kamu kerja ampe malem masa kita ketemuannya malem doang? Paling-paling abis ngobrol bentar tidur deh,“ sahut Yoga sebal. Juan terkekeh geli. “Ya ampun dua minggu doang mas mas. Ntar kalo aku udah kuliah kek biasa kan kalo nggak ada kelas, cuman di rumah aja? Gimana sih? Kek yang aku kerja begituan tiap hari aja,“ ucap Juan. Yoga menghela nafas. “Terserah~ Nggak mau tau~“ ucap Yoga. Uh, Yoga ini benar-benar menggemaskan saat sedang merajuk. “Hm? Sayangnya Juan lagi ngambek nih? Hehe,“ goda Juan sambil mendusel-duselkan kepalanya di perut Yoga.


FLASHBACK ON


Tiga tahun lalu. Kala itu Setiaji mengantar sang adik, Lili, ke sekolah. Setiaji juga turun dari mobil. Sebagai seorang kakak laki-laki, Setiaji terhitung protektif. Ia juga selalu mengawasi satu per satu siswa dan siswi disini. Jangan sampai Lili berteman dengan berandalan, batin Setiaji. Tiba-tiba Setiaji tidak sengaja melihat seorang siswa berbadan paling tinggi di antara teman-temannya yang lain. Terdapat secercah rasa kagum dan ketertarikan di hati, saat mata ini melihat orang itu tersenyum dan menampakkan kedua lesung pipinya.


“Kak!“ seru Lili. Setiaji tersentak kaget saat Lili berseru memanggil dirinya. “Kok bengong sih? Kakak abis liat apaan?“ tanya Lili melihat-lihat ke depan sana. Tapi, tidak ada apa-apa sama sekali. “Li,“ seru Setiaji. “Hm?“ sahut Lili dengan kedua alis terangkat. “Kamu kenal cowok yang paling tinggi itu nggak?“ tanya Setiaji. “Yang mana?“ Lili balik bertanya. “Tuuuhh,“ sahut Setiaji sambil mengarahkan bibirnya menunjuk ke depan sana.


Lili mengulum senyum. Hm, kalau dilihat-lihat pasti Setiaji suka sama tuh orang, batin Lili. “Ehem! Oh? Itu? Dia tuh paling ganteng, paling populer, paling pinter, paling tinggi, sempurna deh intinya.“ ucap Lili mendefinisikan orang tersebut. Sejurus kemudian Setiaji pun menjitak dahi Lili. “Nama Li nama,“ ucap Setiaji bermaksud ingin mengetahui siapa nama orang itu—yang kata Lili paling tampan, populer, dan pintar.


“Nggak nggak nggak, intinya aku nggak mau ngasih tau ke kakak,“

__ADS_1


“Tinggal kasih tau aja kali, ribet amat, Li?“


“Kakak pasti suka, kan? Kalo kakak suka ya berjuang lah!“


“Paan si ah,“


“Ehem, kebetulan minggu depan ulang tahun sekolah gitu. Nah, semua murid di sekolah ini tuh termasuk alumni bakalan ngumpul rame-rame buat ngerayain. Nurut Lili sih kakak dateng aja ntar minggu depan bareng Lili. Trus kenalan deh. Gimana?“


“Terserah, kakak mau pulang dulu,“


Setiaji pun memutuskan untuk pulang setelah Lili mencium tangannya. Dalam perjalanan pulang, Setiaji merutuki diri sendiri. Kok bisa sih gue di depan adek sendiri nggak bisa jaga imej?, batin Setiaji menggerutu kesal. Dan tiba-tiba pikiran Setiaji dipenuhi oleh si siswa tinggi nan tampan itu. Kontan ia pun cepat-cepat menggelengkan kepala.


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Huh, untung seminggu ini gue bisa sabar, batin Setiaji. Lili datang ke acara HUT SMANSA Jakarta yang ke - 55 bersama Setiaji. Setiaji mengenakan kaos hitam lengan panjang yang ia masukkan ke dalam celana semata kaki berwarna krim—pun sepatu sneakers putih. Lili pun menyapa teman-temannya. Sedangkan Setiaji cuma tersenyum simpul saja.


“Lim!“ seru Lili berbisik setelah menepuk pundak Halim. “Hm? Paan nyet?“ sahut Halim. “Ehem, tuh, kakak gue, Setiaji. Dia mo kenalan sama lu. Lu samperin gih, soalnya dia gengsian hehe,“ ucap Lili berbisik. Halim pun mengerling ke arah Setiaji. “Lu tau kan gue normal? Bangsat banget lu nyet ngenalin gue ma cowok! Kakak lu sendiri lagi,“ ucap Halimi. Lili pun memukul pundak Halim dengan keras sampai-ssmpai Halim mengaduh.


“Dicoba dulu lah. Belom juga dicoba, mana lu tau rasanya? Ya, bisa jadi, kan? Lu bakalan deg deg ser gitu? Hahahaha,“ ucap Lili. Halim memutar bola mata malas. Sahabatnya yang satu ini memang rada-rada. Tapi, pada akhirnya Setiaji pun menuruti kata-kata Lili, dan pindah duduk tepat di sebelah Setiaji. “Hai kak?“ sapa Halim tersenyum lebar. Setiaji pun menoleh ke samping. Setiaji tersentak kaget. Kontan hp yang ia pegang pun langsung terlepas dari tangan.


FLASHBACK OFF


Tepat setelah Halim dan Setiaji masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu. Halim pun langsung mendorong Setiaji ke tembok dan mencium bibirnya dengan liar. Hingga membuat nafas Setiaji terasa semakin sesak. “Eunghhh,“ gumam Setiaji sembari kedua tangan memegang pundak Halim. Tubuh Setiaji bereaksi dengan menggeliat-geliat sedikit saat bibir itu terus saja mengulum bibirnya tanpa ampun hingga air liur pun menetes, mengaliri dagu dan leher.


Halim ciumi leher dan pundak Setiaji hingga membuat kepala Setiaji meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan. “Liihhm aahhh nghhh,“ gumam Setiaji. Halim pun menggendong tubuh Setiaji dengan posisi kedua kaki Setiaji melingkar di pinggul. Halim pun duduk di pinggiran ranjang. Dan Setiaji duduk di pangkuan. “Ngghhh aaahhh Ha-lihm Liiihhmm,“ gumam Setiaji mendongakkan kepala ke atas sambil menggigit bibir sendiri, saat bibir Halim mengulum serta menggigit dua biji kacang itu bergantian.


Satu jam kemudian. Setelah selesai melakukan itu dan menyemburkan benih-benih cinta di dalam lubang surga Setiaji, Halim pun tertidur pulas dengan posisi tengkurap. Sedangkan Setiaji duduk bersender di ranjang sambil mengerjakan tugas kuliah. Saat ini baik Halim ataupun Setiaji tidak mengenakan apapun. Bahkan, bekas kemerahan di seluruh tubuh Setiaji pun terlihat sangat jelas.


“Ssstt duh,“ Setiaji meringis saat ia bergerak sedikit saja. Lubang itu masih terasa sangat perih, sehingga membuat Setiaji kurang nyaman saat duduk. Halim menggeliat. “Jam berapa yang?“ seru Halim dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Bahkan, nyawa Halim masih belum terkumpul semua. “Jam 3,“ sahut Setiaji. Halim pun memeluk Setiaji dengan melingkarkan tangannya di perut. “Masih sakit yang?“ tanya Halim. Halim mendengar Setiaji sesekali meringis kesakitan. “Udah tau pake nanya segala,“ sahut Setiaji. “Nanya doang~“ ucap Halim, lalu ia pun bangun dan duduk sambil mengucek-ngucek mata. “Lu udah mandi belom? Gue mandi duluan, ya?“ ucap Halim lagi. “Duluan aja, gue biar belakangan aja,“ ucap Setiaji. “Mau bareng?“ seru Halim. “Paan si ah, masih sakit tau Lim, cepetan sana mandi,“ ucap Setiaji. Halim pun terkekeh. Ia kecup pucuk kepala Setiaji sekilas, lalu ia pun langsung melesat ke kamar mandi.

__ADS_1


Sebelum berangkat kerja, Djaki ingin mampir terlebih dahulu di tempat pemotretan Daru, di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Djaki membawa satu box bento untuk sarapan Daru nanti. Djaki pun bertanya ke beberapa staff, di mana Daru sekarang berada? “Di ruangan itu mas, masuk aja nggak papa,“ sahut staff itu menunjuk ke ruangan berpintu hijau. Djaki pun masuk ke dalam sana. Di sana Daru terlihat tengah berpose dengan sangat apik. Dia terlihat sangat tampan, batin Djaki tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Daru.


“Good job!“ seru si fotografer. Daru pun beristirahat sebentar. Ngapain sih tuh orang kesini?, batin Daru tidak suka saat ia melihat Djaka berdiri di dekat payung reflector. Daru pun menghampiri. “Da, ini bento buat kamu sarapan,“ ucap Djaka memberikan bungkusan plastik berisi bento, makanan khas Indonesia. Daru pun mengambil bungkusan plastik itu. Ia tersenyum miring. “Lu ngasih gue beginian?“ ucap Daru tersenyum remeh. “Makanan murahan gini gue juga bisa beli kali, om. Haha. Nih, ambil lagi sana! Gue gak sudi makan makanan yang lu bawa!“ ucap Daru sarkasme melempar makanan itu paksa ke Djaka. Beruntung Djaka sigap menangkap makanan itu, sehingga tidak terjatuh berhamburan di lantai.


“Uhm, buat makan siang aja gimana? Kalo kamu nggak mau, kasihin buat staff disini aja,“ ucap Djaka. “Lu makan sendiri. Gue nggak bakalan biarin staff disini makan makanan punya lu,“ ucap Daru ketus. Lalu, ia pun berlalu begitu saja. Huft, Djaka menghela nafas. Entah mengapa Djaka merasa sesak dan tidak enak hati. Sebegitu nyebelinnya kah gue apa gimana?, batin Djaka. Djaka pun keluar dari studio foto ini dengan perasaan kecewa. Daru sempat mengerling sebentar. Cih! Peduli apa gue!?, batin Daru.


Djaka pandangi bento di dalam plastik itu. Susunannya sudah berantakan di dalam sana. Untung aja nggak jatoh, kalo jatoh mubadzir ini. Buat makan siang gue aja dah ntar, batin Djaka. Ia pun melajukan motornya menuju kantor. Djaka melangkahkan kaki dengan cepat saat ia tiba di kantor. Djaka sudah terlambat 15 menit. “Selamat pagi, Pak Djaka. Bapak disuruh ke ruangan Pak Chris langsung, pak.“ ucap Tia. “Selamat pagi, ok. Makasih Mba Tia,“ ucap Djaka berterima kasih. Djaka pun buru-buru naik lift menuju ruangan CEO. Duh, gue nggak bakalan dipecat kan, ya? Gara-gara gue telat 15 menit?, batin Djaka cemas.


Djaka pun berjalan setengah berlari. Ia tidak sempat lagi untuk menyapa orang-orang yang tidak sengaja berpapasan dengan dirinya. “Permisi, pak. Selamat pagi,“ ucap Djaka berhati-hati masuk ke dalam. Jangan bilang kalau CEO Chris mau mengamuk. Djaka pun diam dan harap-harap cemas. “Silahkan duduk,“ ucap Chris tersenyum tipis. “Begini Djaka,“ seru Chris membuka percakapan. Djaka pun semakin dibuat cemas. Oh tuhan, inikah akhir dari karir ku?, batin Djaka.


“Pendapatan perusahaan kita tiap hari makin naik, Djaka. Dan dengan itu saya berniat mau naikin jabatan kamu jadi General Manager. Gimana? Apa kamu keberatan?“ ucap Chris. Na-naik jabatan? I-ini bukan mimpi, kan?, batin Djaka tidak percaya. “Sa-saya nggak di pecat kan, pak?“ tanya Djaka masih belum bisa percaya. Oh ayolah, gaji seorang manager berkisar 15jt an saja, dan jikalau Djaka menjadi seorang General Manager, itu artinya Djaka akan menerima gaji sebesar 25-35jt tiap bulan. Tentu ini berkali-kali lipat lebih besar.


“Kamu mau saya pecat sekarang? Nggak, kan? Pokoknya mulai besok kantor kamu pindah ke lantai ini,“ ucap Chris. “Terima kasih banyak, pak.“ ucap Djaka berterima kasih. Oh tuhan, terima kasih banyak karna engkau telah memberikan hamba rezeki yang tidak terduga-duga, batin Djaka bersyukur. “Oh iya, pak. Mohon maaf sebelumnya kalo saya lancang. Ini saya ada hadiah kecil buat bapak. Mohon maaf juga kalo hadiahnya nggak mahal alias murah meriah. Semoga pernikahan bapak langgeng sampai maut memisahkan ya, pak?“ ucap Djaka memberikan bingkisan itu kepada Chris. Chris pun tersenyum. “Lain kali nggak usah repot-repot, Djaka.“ ucap Chris. “Nggak papa, pak. Memang sudah seharusnya begitu. Kalau begitu saya mohon pamit undur diri dulu ya, pak?“ ucap Djaka keluar dari ruangan ini. Huh, ingin rasanya Djaka berteriak sambil lompat-lompat saking senangnya. Tapi, ia sadar, ini adalah tempat umum.


Djaka pun tiba di depan rumah Daru hampir maghrib. Ia pandangi rumah itu dengan tatapan sendu. Di tangan kanan dan kiri Djaka penuh dengan makanan. Di sana juga ada Kue Rangi kesukaan Daru sedari kecil. “Assalamu'alaikum,“ ucap Daru sembari memencet bel. “Wa'alaikumussalam,“ sahut Idah membukakan pintu. “Eh? Djaka? Masuk masuk,“ ucap Idah mempersilahkan masuk sembari mengikat rambut.


“Banyak banget belanjaan kamu, Ka?“ seru Idah kaget melihat tumpukan bungkusan plastik berisi berbagai macam jenis makanan itu. “Haha edisi lagi seneng karna baru aja naik jabatan, Tante,“ sahut Djaka tersenyum bahagia. “Beneran? Bagus dong, Ka? Tante nunggu kamu jadi CEO ntar,“ ucap Idah ikut senang. Djaka pun tersenyum. “Oh iya tante, ini ada Kue Rangi juga kesukaan Daru,“ ucap Djaka.


“Bentar, tante panggilin dulu,“ ucap Idah. “Nggak usah tante, biar aku aja nyamperin Daru ke kamar,“ Djaka menyelak. Huft, Djaka menghela nafas. Lalu, ia putar knop pintu kamar Daru. “Da?“ seru Djaka sembari membawa sepiring Kue Rangi. Daru pun menoleh. Ia menatap Djaka malas. “Duh, nggak ada bosen-bosennya lu ngintilin gue??“ seru Daru sebal diiringi helaan nafas berat. Ia pun kembali bermain game.


“Om janji ini terakhir kalinya om nyariin kamu,“ ucap Djaka kemudian. Tentu saja itu tidak benar. Djaka tidak akan pernah menyerah terhadap Daru bagaimana pun kerasnya sikap Daru kepada dirinya. Djaka berkata seperti ini lantaran dirinya cuma ingin memancing Daru saja dan berlagak memelas seperti orang yang putus asa. Hehehe bagus juga acting gue, batin Djaka.


Tangan Daru seketika terhenti memainkan playstation itu. Kedua alis Daru berkerut. Suara Djaka terdengar lirih dan putus asa. Daru pun menoleh. Dan di tangan Djaka ada sepiring Kue Rangi kesukaannya. Daru menatap kue itu dengan tatapan berbinar. Djaka terkekeh. “Dimakan, om beliin buat kamu tadi di jalan,“ ucap Djaka. Demi Kue Rangi, Daru pun berusaha mengesampingkan harga diri. Ia ambil sepotong kue itu. Saat separuh dari sepotong kue itu ia makan, Djaka pun bersuara. “Maafin om, Da. Om salah udah maksa kamu buat care ke om—juga maafin semua kesalahan-kesalahan om dulu. Tapi, kamu tenang aja, Da. Om janji, hari ini hari terakhir om nemuin kamu. Jadi, abisin kuenya, ya?“ ucap Djaka tersenyum tipis sembari mengacak-acak rambut Daru gemas. Daru pun berhenti menggigit kue itu. Lalu, mendongak menatap wajah Djaka. Tatapan Djaka sendu—dia terlihat sedih. Cih! Peduli apa gue?, batin Daru.


.


.

__ADS_1


.


Up lagi kalo likes 40 ye!


__ADS_2