GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 19


__ADS_3

”Gue pulang.” ucap Kevin ketika ia masuk ke dalam mendapati apartemennya nampak sepi. Hanya terdengar suara dentingan jam dinding saja. ”Ram?” panggil Kevin namun Rama tak urung muncul jua.


Tiba-tiba seseorang mendekapnya dari belakang. Kevin sedikit berontak takut kalau-kalau yang mendekapnya ini adalah penjahat. ”Ini saya.” ucap Rama dan Kevin pun menghembuskan nafasnya lega.


Deru nafas Rama terasa sekali di ceruk lehernya hingga membuat Kevin geli. Entah setan dari mana yang mampu membuat Rama lepas kendali. Ia pun menjilati kuping Kevin serta mengecup lehernya kuat-kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan. Bahkan, tanda kemerahan tadi malam masih membekas.


”Ugh.. Stoohhp Rahm shh ngh..” lenguh Kevin tatkala satu tangan Rama memelintir dua biji kacang di depannya secara bergantian hingga membuatnya mengeras seketika.


”Akh!” pekiknya ketika Rama mencubitnya dengan keras. Rama pun semakin menggencarkan aksinya. Ia menelusupkan tangannya ke dalam kain bagian depan milik Kevin dan mengeluarkan adik kecilnya dari sana yang sudah setengah menegang.


”Ugh aahhh... Eummhhh..” tubuh Kevin melemas ketika Rama terus saja menstimulasi adik kecilnya dengan mengurutnya dengan tempo yang pelan lalu cepat hingga membuat lahar putih pun keluar dari sana.


Rama pun menggendong Kevin ala bridal style menuju kamar tidurnya. Ia rebahkan Kevin disana. Lalu, ia lepaskan satu per satu kain milik Kevin. Sebuah maha karya nan indah pun terpampang nyata di depan matanya.


“Ram Ram Ram lu ngapain Rahmm euukhhh emh..“


Rama menjilati ring milik Kevin yang terlihat begitu menggoda. Ia pun memasukkan satu jarinya disana lalu memaju mundurkannya. Ia tambah lagi satu jari dan terus begitu saja sampai tiga jari pun berhasil masuk.


Mata Kevin pun membola diiringi air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Seluruh persendiannya terasa remuk dan kian melemas. Ia sungguh tidak berdaya lagi, apalagi ketika tiga jari Rama berhasil menemukan spot ternikmatnya di ring miliknya sendiri.


Rama mengecup mata Kevin yang basah karena air matanya yang menahan sakit luar biasa. Rama tau itu. Ia pun berusaha membuat Kevin lebih rileks lagi dengan memberikan reaksi pada dua biji kacang miliknya.


Ia kecup kuat-kuat dan sesekali ia gigit hingga membuat Kevin belingsatan. ”SHIT! AAAAKKKKKKGHHH UKH!” pekiknya tidak kuasa menahan tangis ketika adik kecil milik Rama yang lumayan gemuk itu memasuki ringnya.


”Tahan sayang.” ucap Rama mendiamkan adiknya sebentar supaya Kevin terbiasa lalu ia pun mengecup kening Kevin. Kedua mata Kevin yang tadinya tertutup karena tidak kuat lagi menahan sensasi yang ada, tiba-tiba membola sempurna diiringi teriakannya yang keras ketika adik Rama yang gemuk itu merojok ringnya berkali-kali.


Setelah selesai melepas dahaga masing-masing, keduanya pun berbaring dengan selimut yang menutupi hingga ke dada. Kevin berbaring menghadap Rama dengan sebelah tangan Rama yang menjadi bantalnya.


”Gue takut Ram. Lu jahat banget.” ucap Kevin lirih karena ia benar-benar tidak kuat lagi untuk sekedar meninggikan suaranya. Secercah perasaan takut pun menghinggapinya atas apa yang baru saja terjadi.


Rama semakin mengeratkan dekapannya lalu mengecup kening Kevin. ”Ugh.“ Kevin menggigit bibir bagian bawahnya ketika merasakan nyeri di bagian belakangnya. Rupanya adik kecil Rama masih bersarang di dalam sana.


“Iya, saya jahat.” ucap Rama mengecup pucuk kepala Kevin. ”Kita jalan pelan-pelan aja Kevin.” ucap Rama kemudian keduanya pun terlelap.


Beberapa jam kemudian keduanya pun terbangun. Flop! Suara adik Rama yang keluar dari ring Kevin. ”AKH!” pekik Kevin berusaha bangkit. Perutnya lapar sekali. Ia mengambil handuk piyama di lemari lalu memakainya.


Meskipun sakitnya luar biasa, Kevin tetap berusaha menahannya dan berjalan tertatih-tatih menuju dapur. ”Bisa-bisanya gue kebujuk rayu ama tuh cowok ckckck.” gumamnya sambil mengupas bawang putih dan bawang merah.

__ADS_1


Tubuh Kevin oleng ketika rasa perih itu ia rasakan tiap kali ia bergerak. ”Hati-hati.” ucap Rama menahan pinggul Kevin, dan Kevin pun tidak jadi terjatuh. ”Ngapain masak? Kan bisa go food?“ protes Rama.


”Lagi pengen masak sendiri aja.” jawab Kevin.


”Ya udah kamu masak tapi aku pegangin kayak gini. Ntar jatuh, kalo dah jatuh ntar keseleo gimana? Gak bisa main lagi, kan?”


”Bisa nggak sih kalo ngomong tuh jagan mesum? Kek om om pedo tau.“


Bukan Rama namanya kalau ia tidak usil. Sepanjang Kevin memasak ada saja tindakan-tindakan usilnya, seperti mengulum daun telinga Kevin, atau meniilati ceruk lehernya. ”Nghh Rahhmm tangahhnn luuu ahhhh..” Rama meremas adik kecil Kevin dengan posisi dirinya memeluk Kevin dari belakang.


Mulut Kevin pun otomatis terbuka dan berkali-kali mendesis menahan perih ketika jari jemari Rama dengan nakalnya merojok ringnya dan bergerak seperti menggunting di dalam sana.


”Ahhhhhhhhhhh..” lenguhan panjang pun terdengar pertanda lahar putihnya keluar dengan deras. Nafas Kevin terengah-engah. Rama menahan tubuh Kevin yang hendak berontak meskipun tidak seberapa karena sudah pasti tubuhnya kembali melemas.


Entah mengapa hari ini Rama bersemangat sekali. Jujur saja ia tidak pernah seperti ini sebelumnya dengan wanita mana pun. Hanya bersama Kevin lah ia bisa seperti ini. Dalam posisi keduanya yang masih berdiri di dapur, Rama mengarahkan adik kecilnya ke ring milik Kevin.


“Stoohpp udaaaahhh ngh..” aduh Kevin benar-benar tidak berdaya lagi. Rama kembali menggempur ring Kevin dengan adik kecilnya yang gemuk berkali-kali hingga akhirnya ia pun sampai pada pelepasannya. Adik kecilnya yang mulai berkedut itu pun menyemburkan lahar putih di dalam ring Kevin.


Tubuh Kevin pun akhirnya benar-benar limbung dan ia pun kehilangan kesadaran. Rama pun menggendongnya dan merebahkannya di kamar. Ia kecup kening Kevin sayang. Rama pun mengambil sepiring nasi goreng untuknya dan untuk Kevin.


”Kevin.. Bangun.. Makan dulu hm?” ucap Rama.


”Sini biar saya yang suapin.“ ucap Rama lemah lembut. Ia pun membantu Kevin duduk dan bersandar di pundaknya. Rama pun menyuapi Kevin dengan telaten sampai habis tanpa sisa.


Rama mengecup kening Kevin. “Kamu istirahat aja, saya mau cuci piring dulu.” ucap Rama lalu Kevin pun kembali tertidur setelah menghabiskan sepiring nasi goreng.


Pagi-pagi sekali Rama sudah bangun dan duduk di samping Kevin sambil berkutat dengan laptopnya. Meskipun ia libur beberapa hari untuk alasan kesehatan, tetap saja ia harus mengerjakan beberapa pekerjaannya sebagai dosen supaya nanti tidak keteteran.


Kevin tidur dengan posisi tangannya yang melingkar di pinggang Rama. Sudah jam 8 pagi Kevin urung bangun jua. Rama pun menoleh ke samping memandangi Kevin yang tertidur pulas. Ia pun tersenyum simpul ketika melihat banyak bekas kemerahan di tubuh Kevin pertanda hasil karyanya.


Sejak kapan Rama berubah haluan? Ia juga tidak tau. Semuanya terjadi begitu saja tanpa ia ingin atau rencanakan. Melihat Kevin selalu saja membuat wajahnya bersemu merah, jantung berdegup kencang, dan tentunya membangunkan sesuatu yang ada di dalam dirinya.


”Udah bangun Kevin?” tanya Rama ketika melihat Kevin menggeliat sambil mengucek-ngucek matanya. ”Hm.” jawabnya dengan suara sedikit serak khas orang baru bangun tidur. Kevin malu bukan main ketika ia mengingat kembali kejadian tadi malam hingga ia pun menyembunyikan wajahnya di pinggang Rama.


”Hahahaha.” tawa Rama pun pecah membuat Kevin sebal dan mencubit pinggang Rama berkali-kali sampai-sampai membuat Rama mengaduh.


”Jangan bilang sama mama papa dulu.” pinta Kevin masih menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


”Kenapa? Siapa tau langsung dinikahin kalonya kita coming out nanti?” ucap Rama bercanda.


Kevin pun mengangkat wajahnya lalu mendengus kesal. Ia pun bangun dengan posisi duduk di samping Rama. ”Bisa-bisanya lu nodain gue Ram. Dosen apaan lu, hah? Ngajarin mahasiswanya yang jelek-jelek?” cerocos Kevin.


Rama mengangkat sebelah alisnya. ”Siapa? Nggak ada tuh, yang ada mahasiswa/i saya semuanya pada pinter-pinter.“


“Intinya lu udah nodain gue rese ah.” sahut Kevin cemberut dengan kedua alisnya yang saling bertautan.


”Coba saya tanya deh, yang tadi malem teriaknya paling kenceng siapa? More more faster faster deeper dee—” Kevin pun segera menutup mulut Rama dengan kedua tangannya sambil mencebikkan bibirnya kesal.


”Tau ah!” ucap Kevin mendengus. Tiba-tiba matanya membola ketika melihat noda merah di sprai tidurnya. Ia pun menelan ludahnya susah payah. “Ra-Ram i-i-itu apaan?” gumam Kevin cemas mulai berkeringat dingin, pun wajahnya yang mulai memucat.


“Darah.“ jawab Rama dengan wajah tanpa dosanya.


”Da-darah?” gumam Kevin lalu menyentuh bagian belakangnya. Ia pun melihat jarinya yang terdapat noda darah yang telah mengering.


”B*NGS*T!!!” Kevin pun melempari Rama dengan bantal sambil meracau tidak jelas dengan wajah yang merah padam. Lalu, segera menuju kamar mandi.


***


Beberapa hari ini Kevin tidak terlihat hadir di kampus. Setelah bertanya ke beberapa temannya, rupanya Kevin izin sakit. Kevin juga tidak pernah lagi menghubunginya sejak pertengkaran keduanya waktu itu di koridor kampus.


Ingin Melisa menghubungi Kevin terlebih dahulu, namun gengsi. ”Ke rumahnya aja langsung kali ya? “ gumam Melisa. Ia pun bertanya kepada teman-temannya yang mengetahui alamat lengkap tempat Kevin tinggal.


”Segede apa ya rumah Kevin? Pasti mewah banget deh?“ batin Melisa membayangkan betapa besar dan mewahnya rumah yang ditinggali oleh Kevin. Ia pun menaiki taksi untuk mengunjungi rumah Kevin. Mobil? Melisa tidak sekaya itu untuk bisa memiliki sebuah mobil. Hasil dari berkencannya dengan pria-pria kaya beristri dan hidung belang pun ia habiskan untuk perawatan dan membeli barang-barang mewah, seperti tas, jam tangan, sepatu, baju dan lainnya.


Ia pun berdiri di depan rumah yang cukup besar dan sebagian besar rumahnya berdinding kaca yang cukup besar pula. Halamannya pun luas dan asri. Sudah pasti sangat nyaman sekali untuk sekedar bersantai menikmati semilir angin sambil ditemani segelas kopi atau teh.


”Nggak salah emang gue macarin lu Kev.” batinnya tersenyum miring.


TING NONG TING NONG. Melisa tidak sabar untuk segera memasuki rumah bak istana ini sekaligus bertemu dengan pujaan hatinya. Lebih tepatnya ladang uangnya nanti di masa depan.


”Eh? Maaf, siapa ya?” tanya seorang wanita yang terlihat berumur tapi masih muda dan anggun sekali. Sudah pasti beliau ini adalah ibundanya Kevin.


”Uhm saya pacar Kevin tante.” jawab Melisa lemah lembut sedikit menunduk malu.


”Pacar Kevin? Dasar dia itu nggak pernah cerita sama mamanya. Musti dikasih pelajaran tuh anak.“ ucap ibunya berlagak sebal sebenarnya tidak. ”Ayo nak silahkan masuk.”

__ADS_1


***


Judul lain COME BACK HOME [BL], BLUE SKY [BL], ARES [BB], JOMBLO AKUT


__ADS_2