
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Itu artinya satu jam lagi Kevin harus segera berangkat ke kampus. Ia bangun pagi-pagi sekali untuk beberes sekaligus memasak sarapan. Namun, tidak ada tanda-tanda Rama akan bangun jua.
Bukan kenapa-napa, Kevin harus segera menyelesaikan cuciannya yang masih menunggu. Ya, menunggu Rama selesai membersihkan diri, supaya bisa sekalian mencuci pakaian yang dikenakannya selama tidur semalaman.
”RAMAAAA BANGUN WUOOOOOIY.” teriak Kevin yang berhasil membuat Rama menggeliat. Namun, tidak benar-benar bangun dari tidurnya. Kevin menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia lakukan beberapa kali sampai dirasa ia sudah cukup sabar untuk menghadapi Rama yang masih saja tertidur pulas.
”Bangun bangun mandi sarapan, gue ada kuliah pagi. Jadi, biar gue sekalian nyuci baju trus nyuci piring. Cepetan ah.” ucap Kevin menyenggol-nyenggol tubuh Rama dengan kakinya sambil kedua tangan bersedekap di dada.
Rama berusaha bangun dan menunggu semua nyawanya terkumpul. ”Cepetan tar gue telat. Lu musti nganterin gue, kan?”
”Hm.” sahut Rama seadanya lalu segera ke kamar mandi.
Sambil menunggu Rama selesai mandi, Kevin beberes kamar tidurnya bersama Rama yang terlihat berantakan sekali. Kevin bersyukur karena Rama menggunakan vacum cleaner bukan sapu biasa yang bisa-bisa membuat seluruh persendiannya pegal karena harus membersihkan apartemen sebesar ini.
”Gue tunggu di meja makan. Cepetan G-P-L!” teriak Kevin dari luar dengan mengeja per huruf kata 'GPL'.
Rama tersenyum ketika ia melihat kamarnya yang terlihat begitu rapi dan bersih setelah keluar dari kamar mandi. Lagi-lagi perasaan seperti memiliki seorang istri yang begitu perhatian pun menghinggapi hatinya.
”Nggak nggak no no no.” gumam Rama menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lihatlah di meja makan seseorang telah menunggu dirinya dan menyiapkan beberapa masakan untuk sarapan. Cindy saja tidak pernah memperlakukannya semanis ini. Jangankan memasak, menyalakan kompor saja dia tidak berani.
”Kalo laper kamu bisa makan duluan, nggak usah nungguin saya.” ucap Rama.
”Gini-gini gue tipe orang yang masih menjunjung tinggi kesopanan. So makan abisin jangan protes.” sahut Kevin.
”Kev, nanti masakin balado kentang lagi yah? Tapi, pedesin lagi.”
”Hah? Situ siapa nyuruh-nyuruh gue seenaknya? Kalo mau masak sendiri.”
”Ssstt! Ngelanggar ditambah satu bulan lagi loh. Mau?”
Kevin memutar bola matanya malas, masa bodoh saja dengan semua ocehan si pak dosen yang menyebalkan ini. Ia pun geleng-geleng kepala saja lalu fokus menyantap hidangan yang ada.
Ponsel Kevin bergetar pertanda ada sms masuk. Seketika ia pun tersenyum sumringah ketika membaca sms tersebut yang berisi kalau dirinya minggu depan memiliki jadwal pemotretan untuk beberapa majalah fashion dan kosmetik.
”Kenapa senyam senyum sendiri?” tanya Rama ketika melihat Kevin senyam senyum sendiri sambil mengelap mulutnya dengan sapu tangan.
”Bukan urusan lu.” jawab Kevin sedikit ketus.
__ADS_1
Tanpa babibu Kevin pun segera turun mobil tanpa sepatah kata pun. Para gadis tidak henti-hentinya meneriaki namanya dan memuja muji dirinya. Ia pun segera melangkahkan kaki menuju ruang kuliah untuk jurusan hukum. Profesi modeling tapi malah kuliah jurusan hukum? Aneh bukan?
”Hai, gue boleh duduk disini nggak?” ucap seorang gadis berwajah chinese sambil tersenyum. Kevin pun melepas earphone dari telinganya.
”Sorry tadi lu ngomong apa ya?” tanya Kevin.
”Gue nanya boleh ato nggak duduk disini.” jawab gadis itu.
”Duduk aja.” jawab Kevin lalu fokus pada ipadnya dan memasang earphonenya kembali.
Gadis itu pun tersenyum dan tanpa ia sadari seseorang tengah menatapnya sinis dari balik pintu kelas. Orang itu mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu segera melewati kelas tersebut.
Setelah kelas berakhir seorang pria pun menghampirinya lalu memperkenalkan diri. ”Hai bro gue Juan.” ucap Juan memperkenalkan diri dengan suara beratnya yang khas.
”Hai juga bro gue Kevin.” ucap Kevin dan keduanya pun saling berjabat tangan ala pria. Meskipun terkadang Kevin terlihat dingin dan tidak bersahabat, tapi sebenarnya Kevin tipe orang yang mudah bergaul dan ramah sekali kalau sudah akrab dan merasa cocok ketika bergaul dengan seseorang.
“Mau keluar bareng nggak? Sekalian aja gitu.“ ajak Juan yang diiyakan oleh Kevin. Gadis di sebelahnya pun tersenyum kaku karena sedari tadi ia merasa diabaikan oleh dua pria keren di sampingnya.
”Nama lu siapa?“ tanya Juan pada gadis itu.
”Gue Naila.” jawabnya tersenyum manis. Sepertinya Naila tipe perempuan yang mudah tersenyum. Terbukti ketika ia berbicara dengan orang lain, ia tidak henti-hentinya tersenyum manis.
Juan terlihat berpikir ketika melihat kantin kampus yang nampak penuh dan sesak. Ia pun mengusulkan untuk ke taman mini dekat kantin di seberang sana. Selain tidak terlalu ramai, disana juga sejuk sekali karena banyak pepohonan rindang.
Setelah menemukan tempat duduk yang pas, mereka bertiga pun saling berbincang ria, kadang mereka bertiga tertawa terbahak-bahak karena membahas seauatu yang lucu.
”Gue kaget banget pas lu berani nendang tuh Sen. Berani juga lu ya, Kev? Haha.” ucap Juan sambil mengaduk-aduk es teh miliknya.
”Bener banget, kok lu bisa-bisanya sih nendang senior Radi? Gak takut di DO duluan napa?” tanya Naila penasaran sambil ngemil keripik singkong.
”Lu pada udah baca beritanya, kan? Gimana gak kesel coba, gue tuh beneran ada pemotretan penting dan rambut gue emang nggak boleh dicukur. Cuman mereka aja yang nggak percayaan. Dikiranya anak plastik apa ampe dicurigain gitu.”
”Haha sabar bro sabar bro setiap perbuatan bakalan dapetin balesan yang setimpal kok wkwkwk.”
Tawa mereka pun seketika terhenti ketika seseorang tiba-tiba duduk di samping Kevin. Juan jelas tidak menyukai perempuan itu karena dia tau siapa dia sebenarnya. Naila tersenyum pada perempuan itu namun dia hanya membalasnya dengan tatapan sinis.
”Uhm,” gumam Melisa malu-malu. Juan muak sekali dengan sikap Melisa yang terlihat begitu polos tapi tidak sepolos aslinya. Bagaimana bisa seorang Kevin memiliki kekasih seperti Melisa? Batin Juan.
”Gini.. Pulang kuliah nanti ada waktu nggak Kev?” tanya Melisa selembut mungkin dan terkesan penuh sopan dan santun.
__ADS_1
”Hm? Kenapa emangnya?” Kevin malah bertanya balik.
”Mau ngedate aja sih.” cicit Naila menunduk malu. Juan memutar bola matanya malas.
Kevin pun menepuk jidatnya. Bagaimana bisa ia lupa untuk mengajak Melisa berkencan? Bahkan, hari minggu pun ia habiskan untuk beberes apartemen, main game, lalu tidur. Seperti itu saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti.
”Bisa kok bisa, apa sih yang nggak buat lu Mel.” ucap Kevin sambil menelusupkan rambut Melisa ke belakang daun telinganya. Melisa pun tersenyum sumringah. Terbesit di pikirannya untuk kembali menaiki mobil mewah milik Kevin dan ditraktir makan makanan di restoran mewah serta diajak shopping ke mall.
”Oh iya Mel kenalin, dia Naila, kalo dia Juan.” ucap Kevin memperkenalkan dua temannya pasa Melisa. Melisa pun membalas jabat tangan Naila dengan senyum tipis yang nampak dipaksakan. Berbeda dengan Naila yang membalasnya dengan senyuman yang manis dan tulus.
Hingga tangannya pun membalas jabat tangan dari Juan. Melisa mengerutkan alisnya ketika memandangi sosok Juan yang nampak sangat familiar. Namun, ia lupa pernah melihat Juan dimana. ”Juan.” ucap Juan dengan nada yang agak dingin.
”Melisa, panggil Mel aja.“ ucap Mel sedikit merasa terintimidasi oleh tatapan tidak mengenakan dari Juan.
”Lu ntar mau masuk club apa, Kev?” tanya Naila.
”Belum tau juga sih~ Club masak aja kali ya? Wkwkwk.” jawab Kevin tertawa jenaka. Melisa menatapnya tidak suka. Bagaimana bisa Kevin tertawa seperti itu di hadapan wanita lain?
”Keknya gue juga mau club masak nih. Kali bisa buka usaha RM gitu kan ya? Kafe ato resto kek.” sahut Juan sambil menghembuskan asap rokok dari hidung dan mulutnya.
Naila tau kalau sedari tadi seniornya Melisa itu menatapnya sinis. Namun, Naila berusaha bersikap biasa-biasa saja seolah tidak terpengaruh sama sekali. Cemburu pada pacar sendiri tentu wajar sekali. Jadi, Naila maklum saja tanpa ada pikiran-pikiran negatif dalam bentuk apapun.
”Tunggu dulu, gue mau ke ruang dosen dulu.“ ucap Kevin tersenyum. Melisa pun menahan lengan Kevin.
”Mau ngapain sih kesana?” tanya Melisa.
”Mau bilang dulu sama Rama kalo gue mau jalan bareng elu. Nanti dia nyariin.“ jawab Kevin membuat Melisa heran sampai-sampai mengerutkan alisnya.
Begini-begini Kevin juga mempunyai sisi baik di samping kepribadiannya yang keras kepala dan bar bar. Sebenci apapun ia dengan seseorang tidak akan pernah membuat tangannya ringan untuk memukul orang lain atau perbuatan buruk lainnya, meskipun terkadang ia sering berbicara ketus, kecuali orang tersebut yang terus saja memancing emosinya.
”Tadi gue ke kampus bareng dia.” ucap Kevin. Lagi-lagi Melisa menahan lengannya.
”Kan bisa di sms aja yang? Hm? Ayooook.”
“Bentar doang Mel, tunggu.”
Melisa pun sebal karena Kevin tidak mendengarkan perkataannya. Bukankah Kevin mempunyai nomor ponsel Rama? Jadi, kenapa harus susah-susah ke kantornya segala hanya untuk sekedar meminta izin? Cih!
***
__ADS_1
Judul lain COME BACK HOMR [BL], ARES [BB], BLUE SKY [BL], JOMBLO AKUT