
Suasana di ruangan itu pun mendadak serius karena baru saja Rama mengatakan kalau ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan. Rama tidak memperdulikan Kevin yang melotot tajam ke arahnya. Tentu, Kevin bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh Rama saat ini.
”Sebelumnya saya mohon maaf kalau kata-kata saya nanti kurang enak buat didenger. Tapi, jauh dari lubuk hati saya, saya sayang dan cinta sama Kevin om tante.” ucap Rama seketika membuat Kevin mendelik tajam.
Bagaimana bisa Rama semudah itu coming out di depan keluarganya tanpa merundingkan hal ini terlebih dahulu sebelumnya dengannya? Bagaimana bisa Rama menentukan semuanya sendiri tanpa melibatkan dirinya?
”Tunggu tunggu maksud kamu apa dulu nih Rama? Sayang Cinta adek kakak gitu apa gimana?” tanya Olivia masih belum memahami perkataan Rama sepenuhnya.
”Saya mau Kevin jadi istri saya tante.” jawab Rama membuat mulut Olivia menganga sempurna. Lalu, dengan jahilnya Nugraha memasukkan potongan kue bolu ke dalam mulut istrinya yang menganga lebar itu.
Olivia pun mengunyah bolu tersebut lalu menelannya susah payah. ”I-istri? Kevin itu cowok loh Ram?“ ucap Olivia tidak habis pikir.
”Hahahahaha ng-nggak kok ma, Rama becanda doang kok hehe jangan percaya yah? Jangan percaya.” celetuk Kevin tertawa garing.
”Saya serius om tante.“ ucap Rama mantap. Kevin mengutuki Rama dalam hatinya karena ia menganggap Rama sudah bertindak gegabah.
”Ngebet banget ya Ram mau punya istri ampe ngejer-ngejer si begundal segala?” cibir Nugraha sambil memakan cemilan yang ada di meja.
“Lu ke kamar gue, gue mau ngomong.” ucap Kevin dingin. Rama menggaruk lehernya yang tidak gatal ketika para tetua memandanginya dengan tatapan kasian.
Di kamar Kevin berdiri di dekat jendela dengan posisi tangan kiri berkacak pinggang dan tangan memijit pelipisnya yang tidak sakit. Ia pun membalikkan badannya ketika Rama masuk lalu menutup pintu kamarnya.
“Lu?!“ seru Kevin geram. Ingin rasanya ia marah-marah dan mengeluarkan semua sumpah serapahnya. Namun, ia mencoba menahannya dengan menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
“Lu kenapa nggak diskusiin dulu sama gue, hah? Jangan seenak udelnya dong kalo mau lakuin sesuatu.“ protes Kevin marah dengan alis yang saling bertautan.
”Saya nggak yakin kamu bakalan dengerin saya kalo pun saya ajak kamu diskusi sebelumnya.“ ucap Rama. “Saya nggak suka ngediemin masalah berlarut-larut Kevin.“ ucap Rama terdengar serius.
”Tapi, gue masih belum ada perasaan apa-apa sama lu Ram.” ucap Kevin membuang muka karena sebal. Kevin berkata jujur dan apa adanya. Ia sama sekali tidak berbohong kalau sebenarnya ia pun masih belum memiliki perasaan apapun pada Rama. Mungkin penyatuan keduanya malam itu hanya karena terbawa suasa saja. Yah, mungkin.. Kevin pun juga tidak terlalu yakin.
Tentu Rama memahami semua kecemasan serta kekhawatiran yang Kevin rasakan. Ia tidak menampik semua itu. Ia tidak menuntut Kevin untuk menerima semua apa yang sudah terjadi. Biarkan waktu saja yang membuat hati Kevin lembut nantinya.
Rama pun memeluk Kevin meskipun Kevin masih membuang muka darinya sambil kedua tangan bersedekap di dada. Sesekali ia kecup pucuk kepala Kevin sayang. Terasa sekali dalam dekapannya dada Kevin yang naik turun karena menahan marah. Sungguh, Rama bersyukur memiliki Kevin di sampingnya yang masih mampu menahan emosinya yang hampir saja meluap ke permukaan.
”Saya sayang kamu Kevin. Saya nggak tau sejak kapan saya ngerasa sesayang ini ke kamu.” ucap Rama lalu mengecup kening Kevin membuat semburat kemerahan muncul di wajah Kevin.
Sebuah ide licik pun terlintas di pikiran Rama. Ia pun menjilat daun telinga Kevin hingga membuatnya semakin kesal diiringi wajahnya yang kian memerah persis seperti udah rebus. Rama meraih dagu Kevin supaya mata keduanya saling bertemu.
__ADS_1
”Kalau saya cium kamu tapi kamu malah dorong saya atau mukul saya berarti kamu beneran nggak ada perasaan apapun ke saya. Tapi, sebaliknya kalau kamu nggak berontak dalam bentuk apapun, itu berarti kamu punya perasaan khusus sama saya. Cinta dan sayang.”
Rama menatap Kevin lamat-lamat. Tidak ada satu pun kebohongan yang bisa Kevim temukan di mata Rama. ”Gue takut Rama.” ucap Kevin lirih. Kevin sendiri tidak tau apa yang sebenarnya membuatnya takut. Hanya saja ada secercah perasaan takut di dalam sana. Takut orang lain mencela orientasinya? Takut semua fasilitasnya ditarik? Takut dimusuhi oleh keluarga dan kerabat dekatnya? Atau.. Takut kehilangan.. Rama?
Rama mengecup keningnya, matanya, hidungnya, rahangnya, lalu bibirnya. Ia pun memejamkan matanya meresapi apa yang terjadi. Rama berharap Kevin tidak memberontak sedikit pun. Rama pun memasukkan lidahnya dan mengabsen seluruh rongga mulut Kevin.
Ia telusupkan satu tangannya ke kaos Kevin dan mengelus punggungnya hingga tangannya pun menemukan sesuatu yang ia cari-cari. ”Ungh.“ lenguh Kevin ketika ia mendapat dua stimulasi sekaligus oleh Rama.
Oh tuhan ini sungguh membuat Kevin tidak berdaya sama sekali. Sapuan lidah Rama di lehernya membuatnya tidak henti-hentinya melenguh. Tiba-tiba Rama menghentikan aksinya hingga membuat Kevin yang nafsunya sudah di ubun-ubun sedikit kecewa.
”Makasih sayang karena kamu punya perasaan yang sama kayak mas.” ucap Rama lemah lembut lalu mengecup mata kanan Kevin. Kevin tertegun. Sesuatu di luar dugaannya telah terjadi. Ia sama sekali tidak berontak ketika Rama mulai menyentuhnya, dan itu artinya ia pun mempunyai perasaan yang sama.
”Kenapa lu bisa yakin kalo gue punya perasaan yang sama kek yang lu rasain?” tanya Kevin dengan kedua tangannya yang melingkar di leher Rama, sedangkan kedua tangan Rama melingkar di pinggang Kevin.
“Sebodoh-bodohnya orang, kalo dia ngerasa kepaksa ngelakuin 'itu' dia pasti bakalan berontak. Andai dia nggak bisa berontak karena lemes seenggaknya dia bakalan berontak dengan cara lain, misalnya gigit lidah sendiri ampe berdarah, atau dia bakalan nendang dan pukul orang itu pake benda tumpul. Tapi, kamu nggak lakuin itu, kan?”
Kevin tertegun. Kalau dipikir-pikir lagi, benar apa yang dikatakan oleh Rama. Seandainya ia menolak atau tidak menyukai 'itu' tentu ia akan berontak dengan cara apapun. Nyatanya Kevin tidak melakukannya sama sekali.
”Kita balik lagi ayok. Papa mama pasti nunggu.” ucap Rama lalu keduanya pun berjalan keluar beriringan.
”Saya om.” jawab Rama.
”Bagus-bagus.” ucap Nugraha sambil menepuk pundak Rama beberapa kali.
”Nggak nyangka mama Ram Ram haduh.” ucap Mayang geleng-geleng kepala. Bukan karena Mayang yang tidak menyetujui keputusan putranya. Hanya saja ia tidak menyangka diam-diam Rama memilih Kevin untuk menjadi pendamping hidupnya. Seorang pria pula.
***
Gilang berkali-kali meneguk air putihnya dengan kasar. Cukup untuk menggambarkan seberapa kesalnya ia saat ini. Gavin sang ayah memintanya untuk menemui seorang partner kencan butanya. Lebih tepatnya ayahnya telah menjodohkannya dengan orang tersebut yang identitasnya sendiri belum ia ketahui.
Tidak ada satu pun yang mampu membantah perkataan Gavin. Siapa pun akan tunduk padanya tanpa terkecuali. Awalnya Gilang menolak keras perjodohan bodoh ini. Namun, lagi-lagi Gavin seolah tau titik kelemahannya, Gavin mengancam akan mencoret Gilang dari hak waris.
Tentu Gilang tidak ingin itu terjadi. Ia sudah mendedikasikan separuh hidupnya untuk belajar dengan keras hingga ia sampai di titik ini, meskipun Gavin masih belum bisa mempercayakan perusahaannya pada Gilang.
Sesaat kemudian seseorang duduk di hadapannya. Gilang masih menunduk dan tidak menoleh sama sekali. Kedua alisnya berkerut ketika orang yang di hadapannya ini terlihat mengenakan stelan jas pria. ”Cewek tomboy?” batinnya.
”Selamat malam Gilang.” ucap orang tersebut seketika membuat Gilang tersentak kaget. Matanya membola ketika mendengar suara yang persis seperti suara seorang pria dewasa. Ia pun mengangkat wajahnya, dan benar saja seorang pria dewasa nan tampan duduk di hadapannya.
__ADS_1
Tunggu dulu, dari mana pria ini tau namanya? Padahal Gilang sendiri sama sekali tidak mengenalnya. ”Maaf Pak, sepertinya anda salah meja.” ucap Gilang berusaha memastikan kalau pria tersebut benar-benar salah meja. ”Saya disini mau ketemu cewek yang jadi partner kencan saya. Jadi, tolong bapak minggir dari sini.“ ucap Gilang dengan nada tidak suka.
Pria itu tersenyum penuh arti. Ia pun menatap Gilang lamat-lamat dan hal itu membuat Gilang semakin risih dan tidak suka. “Partner kencan kamu itu.. Saya.” ucap pria itu tersenyum.
Apa!? Partner kencan Gilang adalah seorang pria? Bagaimana bisa ayahnya menjodohkannya dengan seorang pria? Gilang pun memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali. Sungguh ia tidak tau jalan pikiran Gavin.
Sebuah pesan chat whatsapp pun masuk. Dari Cindy, ”Kakaaaaaaaaak temenin Cindy main yuuuuukkkkk.” Gilang pun membalas pesannya singkat. ”Tunggu.”
Gilang mengerutkan alisnya menatap pria itu dengan tatapan tidak suka dan menahan geram. ”Calm down baby.” ucap pria itu membuat Gilang geli sekaligus jijik.
”Kenalin saya James Alfred Walker. Kamu bisa panggil saya James atau Jimmy.” ucap James memperkenalkan diri dengan gayanya yang cukup berkelas dan tergambar jelas kalau dia bukanlah orang biasa. Gilang membuang muka dan lebih memilih memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanannya.
”Bener ya apa yang Gavin bilang kalo kamu itu keras kepala, begundal, suka berontak, bikin rusuh dan—”
”Udah ngehinanya?”
James tersenyum ketika melihat Gilang yang menatapnya sangar. Biasanya sesuatu yang sangat dibenci akan berakhir dengan cinta. James hanya menunggu perkara waktu saja untuk membalikkan hati Gilang.
”Maaf, saya harus pergi sekarang karena ada urusan lain. Terima kasih makan malamnya.” ucap Gilang bangkit. James mengelap mulutnya sebentar dengan sapu tangan. Lalu, ketika Gilang hendak melewatinya dari samping, James pun menahan tangannya lalu mendongak menatapnya tajam.
”Bukan perilaku yang baik Gilang, kalau kamu pergi gitu aja sementara partner kamu masih duduk disini. Sopan santun kamu dimana, Gilang?” ucap James sarkasme. Gilang menggerakan giginya. Ia benar-benar muak dengan sikap James yang dianggapnya sok bijak.
James pun bangkit lalu meraih tengkuk Gilang dan menciumnya. Otomatis kedua mata Gilang membola sempurna. Gilang berusaha berontak namun James ternyata lebih kuat darinya.
”Kak Gi-gilang?” seru seseorang berdiri membeku tidak jauh dari keduanya. Ia sungguh tidak percaya melihat pemandangan yang ada yang mampu mengiris hatinya dalam-dalam.
”Cindy?” gumam Gilang lalu mendorong James kuat-kuat hingga ia pun mundur beberapa langkah. Gilang pun berusaha mengejar Cindy yang berlari keluar tak tentu arah. ”CINDY!” teriak Gilang sambil mengejarnya diikuti oleh James di belakang.
TIIIINNNNNNN!!!!! Terdengar suara klakson mobil yang mulai mendekat ke arah Cindy. ”AAAAAAAAAAAAA.” teriak Cindy dan brugh tubuhnya pun terpental puluhan meter dari jalan raya. ”CINDY!” teriak Gilang segera berlari menyusul Cindy yang terkapar di aspal dengan darah yang mengucur deras.
”Cin-cin-cindy plis bangun Cin bangun.” ucap Gilang panik dan menarik Cindy ke dalam pangkuannya. Gilang pun memeluk Cindy dengan erat. Ia tidak kuasa menahan air matanya lalu menangis sambil menggumamkan nama Cindy.
”Bangun sayang Cindy, kakak disini, ini kakak Cindy.“ ucap Gilang berusaha mengembalikan kesadaran Cindy sambil menyentuh pipinya.
”Di-dingin kak.” ucap Cindy lirih tidak kuat lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya. James yang melihat kejadian itu pun segera memanggil ambulans.
Tangan Cindy pun meraih pipi Gilang perlahan meskipun sudah tidak berdaya lagi untuk sekedar bergerak sedikit. ”Ma-maafin Cin-dy kak.“ ucap Cindy terbata-bata. “Ci-cindy sayang kakak dan Ra-ma. Lo-love you-uh kak Gilang, Ram-a.” ucap Cindy di saat-saat terakhirnya. Gilang menangis sejadi-jadinya meneriaki nama Cindy. Ia tidak peduli kalau banyak pasang mata yang tengah berkerumun.
__ADS_1