GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 32


__ADS_3

Seperti muda-mudi pada umumnya. Daffin juga sering berkumpul bersama teman-teman satu kerjaan, kuliah, atau alumni semasa sekolah dulu. Hampir semua orang disini menghisap rokok, kecuali Daffin. “Tumben lu kagak ngisep?“ seru Baron, si pria bermata bulat dengan kulit kuning langsat. Dia adalah teman Daffin semasa SMP dulu. Dia memang bukan anak kuliahan. Tapi, dia anak muda yang saat ini memiliki beberapa usaha kecil-kecilan.


“Lagi pengen ngopi aja,“ sahut Daffin terlihat tidak bersemangat. Hm, aroma Kopi Wamena khas Papua ini sungguh menjadi favorit Daffin saat berkumpul bersama teman atau nongkrong sendirian di Kedai Kopikina ini. Pahit memang. Sepahit hati Daffin. “Lu isep dah biar masalah lu ilang bin selese,“ ucap Baron. Daffin pun menerima sebilah rokok untuk ia hisap. Fiuh, Daffin hembuskan asap rokok itu dari mulut.


“Lu kan sama janda nih, rasanya gimana? Mantep nggak?“ seru Daus ke Firman. “Jangan ditanya, goyangannya mantep cuy, hahahahaha,“ sahut Firman dan semua anak-anak yang berkumpul pun tertawa terbahak-bahak. “Kan janda lebih menggoda??? Eaaakkkkkk,“ ucap Firman bangga. “Gila lu wkwk,“ ucap Daffin. “Lah? Elu emang kagak Daffin? Masih jomblo lu?“ ucap Firman sarkasme. “Baru end gue,“ sahut Daffin. “Pantesan nih anak cemberut macem cewek pms aje hadeuh,“ seru Daus.


“Serah gue lah,“ sahut Daffin. “Lu gimana sama si koko Lim?“ tanya Daus ke Halim. “Gak gimana-gimana. Biasa aja.“ sahut Halim. “Lu ama dia siapa yang di atas? Secara kan dia maco juga kayak lu,“ ucap Daus. “Gue lah. Ogah gue kalo gue yang di bawah.“ sahut Halim. “Kadang sih gue ada mikir buat maen ke hotel ama cowok. Penasaran aja rasanya gimana. Lim, crita dong!“ ucap Baron. “Lu kira gue apaan. Kalo mau tau ya lu coba aja sendiri.“ sahut Halim.


“Intinya kalo lu yang di bawah gue jamin lu bakalan susah jalan. Sakitnya minta ampun. Tapi, kalo udah mentok bakalan ketagihan dah.“ timpal Daffin. Baron, Daus, Firman, dan Halim pun langsung melemparkan pandangannya ke Daffin. “Paan?“ seru Daffin jengah melihat tingkah teman-temannya ini sambil geleng-geleng kepala. “Lu belok ngab?“ tanya Daus. Daffin menatap temannya itu satu per satu. “Hmm.. Gimana ya..“ ucap Daffin membuat mereka semakin penasaran. “Udah lah gue kagak mo bahas. Gue bilang gue kan baru end? Gimana sih lu? Hibur dong,“ ucap Daffin lagi. “Brengsek lu,“ ucap Daus.


“Lim, gue nebeng.“ ucap Daffin saat mereka sudah berada di parkiran. “Gue mau ke tempat nganu dulu lah,“ seru Firman. “Ngapain lu ngab kesitu? Janda lu mo lu kemanain, hah??“ ucap Baron sarkasme. “Cadangan wkwkwk,“ sahut Firman tertawa. “Udah ah gue mo cabut, daaaah,“ ucap Daus masuk ke dalam mobil.


Daffin dan Halim berada dalam satu mobil. Sebelumnya Daffin datang dengan diantar oleh angkutan umum taksi. “Lu sama bf lu kenapa bisa putus emang?“ tanya Halim sambil mata fokus menyetir. “Hah,“ Daffin menghela nafas. “Gue masih mau berkarir, Lim. Jujur aja gue masih belum siap kalo karir gue ancur gara-gara suka sama coklat batangan.“ sahut Daffin. “Lu kan bisa diem-diem aja sama bf lu tanpa lu harus putus ama dia? Sembunyiin dari kantor aja lah. Kalo mo ngedate ya ngedate di rumah.“ ucap Halim sekaligus memberikan nasihat. Halim sangat berbeda pandangan dengan Daffin. Secepat itu Daffin mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih? Padahal kalau dipikir-pikir, masih banyak cara lain untuk mempertahankan hubungan dua hati yang saling mencintai. Tapi, Daffin malah gegabah seperti itu? Hmm, batin Halim amat sangat menyayangkan tindakan Daffin itu.


Pandangan mata itu terlihat begitu setia memandangi pintu gerbang dari atas gedung. Ini sudah jam hampir jam 8 pagi. Tapi, mengapa sama sekali tidak ada tanda-tanda kedatangan Daffin ke kampus?, batin Chris. Chris dan Daffin memang telah berpisah. Namun, sungguh tidak ada niatan dalam hati Chris untuk melupakan Daffin. Sampai kapanpun Daffin sajalah yang mampu merajai hati ini.


Harus bagaimana kah Chris supaya Daffin mau kembali ke sisinya? Chris memejamkan mata sejenak, mencoba meresapi semua rasa yang ada. Ah, lagi dan lagi bayang-bayang akan senyuman Daffin terus saja berputar-putar di benaknya. “Bro,“ seru Tristan. Chris mengerling. “Cepetan, kita udah mo rapat,“ ucap Tristan kemudian. “Trus..“ seru Chris. “Hm? Paan?“ sahut Tristan. “Nggak ada,“ ucap Chris lalu mengambil laptop untuk hadir di ruang rapat nanti.


Setelah rapat di kantor, Chris pun langsung menuju tempat seminar di Gedung DreamHUB, yang berlokasi di Senayan, Jakarta Selatan. Di seminar tersebut Chris menjadi narasumber tentang kiat-kiat para calon mahasiswa/i untuk memilih jurusan saat ingin kuliah nanti—juga sekalian mempromosikan kampus sendiri.


Outfit untuk seminar hari ini ialah kaos putih lengan panjang yang dibalut dengan blazer abu-abu—serta celana hitam panjang. “Silahkan Pak Chris,“ ucap Hanna, selaku penyelenggara seminar hari ini. Chris pun dibimbing menuju podium di atas sana bersama seorang moderator laki-laki yang juga sama-sama mengenakan kacamata seperti dirinya.


Hampir semua orang disini terpana akan ketampanan seorang Chris. Chris terlihat begitu tenang dengan aura yang sangat lembut dan terlihat sangat penyayang tentunya. “Jangan pernah mengikuti trend untuk urusan memilih jurusan. Mau kamu bergelimang harta sekalipun. Tolong sesuaikan dengan minat dan kemampuan diri sendiri..“ ucap Chris di seminar hari ini. Setelah satu jam lebih berbicara di atas podium, selanjutnya ialah sesi makan bersama di hotel terdekat. Disana sudah disediakan berbagai jenis makanan prasmanan untuk semua orang yang hadir di seminar tadi, termasuk Chris sebagai narasumber dan juga pihak penyelenggara.


Chris pun duduk di tempat yang telah disediakan setelah mengambil sepiring Nasi Uduk dan semangkuk kecil Putu Mayang kuah santan gula merah. Hanna terlihat menunjukkan ketertarikannya kepada Chris. Dilihat dari bahasa tubuh, Chris tau Hanna seolah ingin mengenal dirinya lebih. “Barangkali nanti ada seminar di tempat lain, tolong kabari saya ya Pak Chris,“ ucap Hanna. Chris tersenyum tipis dan tidak berlebihan tentunya.


Hah, Daffin sekarang lagi apa, ya?, batin Chris kurang fokus. “Pak Chris?“ seru Hanna. Lamunan Chris pun buyar seketika. “Eh? Iya mba, nanti saya kabarin,“ sahut Chris kembali melanjutkan menyantap makanan di piring. Dalam hati Chris sungguh ingin sekali diri ini mendekap tubuh sang pujaan hati. Tapi, apalah daya, Daffin lebih memilih berpisah. Mungkin ini adalah jalan terbaik untuk masa depan Daffin. Entahlah.

__ADS_1


Gilang menyipitkan mata saat ia melihat sebuah berkas berisi kontrak pekerjaan di atas meja. “James,“ seru Gilang. “Hm?“ sahut James. Kebetulan hari ini adalah hari libur. Ehem, maksudnya libur untuk diri mereka sendiri. Gilang dan James pun menghabiskan waktu di rumah saja. “Kamu serius mau setuju ini kontrak ini? Jangan bilang kalo kamu udah tanda tangan?“ ucap Gilang. “Kenapa emangnya?“ bukannya menjawab James malah bertanya.


“Dia penipu, udah banyak korbannya, dan aku juga hampir ketipu. Ckckck,“ ucap Gilang mencibir lalu meletakkan berkas itu dengan kasar di atas meja. Dia terlihat kesal. James terkekeh melihat tingkah Gilang saat ini. Diam-diam Gilang perhatian sekali kepada James, meskipun dengan hal-hal kecil seperti tadi. “Oh? Jadi, kamu udah mulai perhatian sama saya?“ ucap James membuat Gilang tertohok. Sungguh James tidak bisa untuk tidak tersenyum. Uh, Gilang sangat menggemaskan.


“Hah? Perhatian apanya coba? A-aku cuman mo ngasih tau doang kok. Daripada kamu nanti rugi miliaran, kan?“ sahut Gilang. James pun berdiri mendekati Gilang lalu mendekatkan wajahnya. “Serius? Tapi, saya liatnya nggak gitu loh Gilang?“ ucap James meraih dagu Gilang. “Lepasin,“ ucap Gilang menyingkirkan tangan James dari dagunya dan melemparkan pandangannya ke lain objek.


James semakin mendekat hingga membuat tubuh Gilang benar-benar tersandar di sofa begitu saja. “Ja-james jangan aneh-aneh,“ ucap Gilang. James menyeringai dan mengusap leher Gilang dengan jari telunjuk. Lalu, pelan tapi pasti, ia kecup leher Gilang beberapa detik tanpa ada isapan berarti. Itu pun tidak meninggalkan bekas sama sekali. “Saya sayang kamu Gilang,“ ucap James mengacak-acak rambut Gilang.


“Kamu tenang aja, saya nggak bakalan terima kontrak dia kok. Saya juga udah terima banyak laporan soal penipuan yang mereka lakuin. Kalo nggak jeli bisa kejebak sih. Soalnya mereka kerjanya mulus banget.“ ucap James duduk di samping Gilang sambil membaca-baca tumpukan berkas-berkas di atas meja.


“GO food,“ seru seseorang dari luar. “Gilang, tolong kamu ambilin pesenan di luar dong,“ ucap James tanpa menoleh. Gilang memutar bola mata malas. Dia yang mesen masa gue yang ngambil sih?, batin Gilang menggerutu kesal. “Nih,“ seru Gilang ketus meletakkan bungkusan plastik itu di atas meja sambil misuh-misuh. Hah, James menghela nafas. “Gilang?“ seru James. “Taronya yang bener dong. Kalo nanti kena berkas-berkas kerjaan saya trus ketumpahan gimana?“ ucap James. Gilang tidak mau tau. Dia diam saja tidak menggubris perkataan James sama sekali.


Daffin dan bersama para pemeran film yang lain menghadiri acara konferensi pers di Hotel Santika Kelapa Gading. Disana juga ada banyak wartawan yang akan meliput jalannya konferensi pers nanti. Disini Daffin menjadi pemeran utama pria dan akan dipasangkan dengan seorang pemeran perempuan bernama Aisyah.


Semua pemeran film Lion Heart pun melambaikan tangan sebelum akhirnya duduk di kursi masing-masing. Seorang wartawan pun bertanya kepada Daffin, “Bagaimana perasaan anda bisa bergabung di projek film terbaru Lion Heart musim ini? Daffin?“


Demi karir di atas panggung, Daffin rela mengakhiri hubungannya dengan Chris. Chris.., batin Daffin. Saaf rasa sedih itu mulai menyapa, Daffin pun cepat-cepat mengontrol ekspresinya dan mencoba tersenyum semanis dan seikhlas mungkin, meskipun jauh di dalam sana ia amat sangat sakit dan terluka.


CEO Hardinata bangga melihat Daffin bersedia bergabung di film ini. Hardinata yakin Daffin akan bersinar melalui film kecil ini, merangkak sedikit demi sedikit untuk meraih kesuksesan meskipun harus ada yang dikorbankan. Bukankah saat seseorang ingin meraih apa yang dia inginkan dalam hidup itu harus mengorbankan sesuatu? Benar, kan?


“Lu nggak pantes dateng kesini Daff,“ ucap Juan sarkasme saat ia melihat kedatangan Daffin ke bar. Juan tau Daffin bukan tipe orang yang bisa atau sering datang kemari—atau mungkin memang tidak pernah? Lihatlah minuman bersoda non alkohol yang ia pesan itu. “Gue lagi pusing aja,“ ucap Daffin tersenyum kecut.


Terlihat jelas dari sorot mata Daffin yang nampak sendu itu. “Lu bisa cerita ke gue. But, gue nggak maksa juga sih,“ ucap Juan menawarkan jasa untuk menjadi pendengar yang baik. “Gue lebih tua dari lu Daff. Jelas gue lebih banyak pengalaman hidup. Seenggaknya gue bisa ngurangin beban lu.“ ucap Juan lagi.


Hah, Daffin menghela nafas. Tanpa Daffin sadari. Di ujung sana ada seseorang mengawasi dirinya. Juan memiliki mata yang sangat jeli sehingga ia mampu merasakannya. Orang itu, Chris, meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, memberikan isyarat kepada Juan untuk diam dan tidak memberitahukan apapun kepada Daffin.


“Hai? Boleh kenalan nggak?“ seru seorang gadis datang menyapa Daffin. “Nggak. Lu nggak selevel sama gue. Gue nggak suka cewek murahan. Sana lo!“ ucap Daffin sarkasme. Suasana hati Daffin sedang tidak baik. Ia sama sekali tidak ingin diganggu. Hah, gadis itu rupanya tidak terima, hingga ia pun mencoba membalas Daffin. “Eh! Lu emangnya siapa, hah?! Berani-beraninya ngatain gue kek gitu?!“ hardik gadis itu. Niat hati Daffin ingin mencari ketenangan, ia malah terjebak dengan gadis gila ini.

__ADS_1


“Lu mau tau siapa gue?“ seru Daffin. “Gue putera tinggal keluarga Hernando. Dan lu liat? Gue punya dua kartu hitam. Ini kunci mobil ferrari gue. Jadi, jelas lu nggak pantes buat gue. Pergi.“ ucap Daffin dengan nada mengusir sambil menunjukkan kartu hitam dan kunci mobil. Gadis itu berang hingga ia pun memilih untuk pergi begitu saja sambil ia hen takkan kaki karna marah.


Juan sampai-sampai tercengang melihat perlakuan mengejutkan Daffin ke gadis itu. Juan pikir Daffin itu kalem seperti biasa. Ternyata bisa juga ya marah-marah seperti tadi?—pun sampai memamerkan kekayaan yang ia miliki. Juan antara prihatin dan ingin tertawa. Pasalnya Daffin terlihat sangat lucu sekali. Haha, batin Juan tertawa.


“Gue mo cabut dulu. Thanks minumannya,“ ucap Daffin. Daffin takut semakin ia berlama-lama disini akan semakin banyak gadis aneh yang mendekati dirinya. Cih! Dasar murahan!, batin Daffin. Setelah Daffin keluar dari bar, Chris pun menghampiri meja tempat Daffin duduk tadi. “Dia tadi pesen minuman apa?“ tanya Chris mencoba memastikan Daffin tidak memesan minuman beralkohol. “Dia cuma pesen mocktail aja, pak.“ sahut Juan. Mocktail itu minuman segar non alkohol yang terbuat dari sari buah. Selain mampu menghilangkan dahaga dia juga mengandung vitamin yang sangat tinggi. Chris lega saat ia mendengar dari Juan bahwa Daffin telah memesan mocktail saja. “Juan,“ seru Chris. “Iya Pak?“ sahut Juan. “Tolong infokan apapun mengenai Daffin, karna saya nggak bisa stay 24 jam jagain dia.“ ucap Chris. Juan tersenyum tipis. “Baik, pak.“ sahut Juan.


“Kalian tuh kenapa sih?“ batin Juan geleng-geleng kepala. Juan merogoh hp di saku celananya. Dari Yoga. “Kamu pulang jam berapa?“ tanya Yoga dari seberang sana. “Jam 10 malam keknya.“ sahut Juan. “Oh~ Gitu?“ ucap Yoga langsung memutuskan sambungan telepon sepihak. Juan sampai kaget karna Yoga memutuskan sambungan telepon begitu saja tanpa ada ucapan-ucapan manis terlebih dahulu seperti, udah dulu ya sayang, nanti lagi ya sayang. Tapi, ini apa? Juan geleng-geleng kepala.


“Kamu beneran udah pisah sama Chris, Daff?“ seru Nugraha saat ia dan sekeluarga makan malam bersama. Daffin diam sebentar. “Iya pa,“ sahut Daffin datar dan singkat. “Boleh kasih tau papa alesannya?“ tanya Nugraha lagi. Daffin pun meletakkan sendoknya di atas meja. Lalu, ia tatap kedua mata sang ayah. “Daffin.. Masih pengen ngejar karir Daffin, pa. Daffin belum siap kalo job Daffin di dunia modeling, iklan, film itu ilang gara-gara Daffin jalin hubungan sama sesama.“ sahut Daffin.


Hah, Nugraha menghela nafas, lalu bersender di kursi. “Kali ini papa tim Chris loh Daff?“ ucap Nugraha. “Emangnya kenapa, pa?“ tanya Daffin heran. Apa maksud Nugraha mendukung Chris dengan mengatakan kalau beliau berasa di tim Chris?, batin Daffin. “Karna kamu lebih milih kehilangan orang yang kamu sayang demi karir, Daff. Harta bisa dicari.“ ucap Nugraha. “Bukan itu maksud Daffin pa..“ Daffin berusaha membela diri. Ini bukan perkara nominal uang yang akan ia dapat, melainkan cita-citanya yang ingin berkarir di dunia hiburan.


“Udah lah, papa cuma bisa do'ain semoga kamu nggak nyesel dan semoga ini keputusan terbaik buat kamu.“ ucap Nugraha. Benar, mungkin ini yang sudah dipikirkan matang-matang oleh Daffin. Nugraha juga tidak bisa memaksa Daffin untuk bertahan. Hanya saja Nugraha amat sangat menyayangkan hal itu. Berpisah demi karir? Menurut Nugraha itu adalah tindakan terkonyol dalam hidup.


Entah mengapa kata-kata Nugraha sedikit banyak begitu menusuk hati. Biarlah Daffin merasakan sakit ini sebentar. Toh, seiring waktu berlalu rasa sakit ini akan memudar dengan sendirinya, meskipun Daffin sendiri tidak tau sampai kapan rasa sakit ini akan berakhir.


Di apartemen Chris duduk di atas ranjang dalam suasana kamar yang gelap gulita. Ia ditemani oleh lampu tidur saja dan cahaya laptop. Chris melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10:30. Hm, Daffin masih belum tidur kan jam segini?, batin Chris. Chris berniat ingin mengirimi Daffin sms singkat. Ia pun meraih hp di samping nakas. “Jangan lupa minum vitamin.“ tulis Chris. Terlihat basa-basi memang. Tapi, tidak apa-apa, Chris hanya ingin mengobati rasa rindu di dada. Tring. Hp Chris berdering. Ah, itu balasan sms dari Daffin. “Hm 🙂“ balas Daffin singkat ditambah emotikon tersenyum tipis.


“Tolong bilang ke mama, saya mau gabung,“ ucap Chris di telepon ke seseorang. Chris memutuskan untuk bergabung di perusahaan sang ibu dan membantu pekerjaan sang ibu nanti disana. Semua ini tentu demi Daffin. Kalau Daffin khawatir akan karirnya yang meredup, itu artinya Chris harus menjadi lebih kuat untuk melindungi Daffin. “Tunggu mas, Daffin.“ batin Chris bertekad kuat dalam hati. Sebulan senyum tipis pun terukir di bibirnya.


.


.


.


Masih ditunggu permohonan maaf ats karya saya ARES chapter ke - 45 yang kamu jiplak di novel kamu berjudul *** di chapter 15 bagian akhir. Jangan sampai perbuatan kamu itu berbalik ke diri kamu sendiri dan malah lebih dari apa yang kamu lakuin ke saya.

__ADS_1


__ADS_2