
Tristan menghadang Chris di depan pintu masuk kampus. Chris baru saja turun dari mobil. Sorot mata Tristan begitu tajam dan penuh amarah. Bugh. Tristan pun langsung meninju Chris; tepat saat Chris mulai mendekat ke sini. Semua orang berteriak dan menutup mulut mereka tidak percaya. Bagaimana seorang dosen seperti Tristan meninju sesama dosen juga? Terlebih itu adalah Chris? Chris pun menoleh sembari menyentuh sudut bibirnya. “Tristan?“ gumam Chris bingun dan heran. Tristan pun mencengkeram kerah kemeja Chris, lalu kembali meninjunya. Tristan benar-benar seperti orang yang sudah kesetanan.
“Cuih!“ Tristan pun meludah. “Lu nggak pantes disebut dosen, Chris. Heh, gue pikir lu udah berubah, ternyata lu masih sama kek dulu, suka nyakitin orang lain,“ ucap Tristan dingin. Chris masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan si Tristan ini. Kedua mata Tristan bahkan sampai melotot-lotot. Dia sangat marah. “Maksud lu apaan, hah? Lu dateng-dateng mukul gue,“ ucap Chris. “Kalo lu nggak bisa bahagian Daffin, mending lu lepasin dia. Pantesan nggak ada yang mau sama lu. Lu nggak pernah buang tempramen lu yang suka mukul dan nyiksa orang yang lu sayang. Untung Cindy nggak nikah sama lu. Gue nggak bisa bayangin gimana menderitanya dia nanti, bangsat,“ ucap Tristan.
Bugh. Tristan kembali meninju Chris; hingga seorang satpam pun mencoba menengahi perkelahian antara dua orang dosen tersebut. Hal ini bukan dikarenakan dirinya—yang memiliki perasaan khusus kepada Daffin, melainkan karna dirinya paling membenci ada orang lain—yang disebut suami malah menyakiti fisik istrinya sendiri tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Tuhan nggak pernah tidur, Chris. Gue yakin Tuhan bakalan bales semua sakit hati Daffin ke lu berkali-kali lipat,“ ucap Tristan mendengus. Chris tersenyum pahit. Dari mana Tristan bisa tau? Setau Chris; Daffin dan Tristan tidak begitu akrab—juga Daffin bukanlah tipikal orang—yang mau menceritakan masalah pribadi ke orang lain.
FLASHBACK ON
Setelah ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Chris. Ia memutuskan untuk keluar rumah jalan-jalan. Bahkan bertekad tidak akan pulang ke apartemen, dan lebih memilih pulang ke rumah kedua orang tuanya saja. Daffin, ia mencoba menghibur diri dengan berkumpul bersama teman-teman seperti: Baron, Daus, Firman, dan Halim. Di Tanamera Caffe di Kebayoran Baru inilah mereka berlima berkumpul sembari berbagi cerita. Entah itu tentang pekerjaan atau dunia perkuliahan. Di sini Halim paling senior alias lebih tua. Tapi, meski begitu dia sama sekali tidak pernah mengandalkan status umur untuk meminta penghormatan dari orang lain.
Tiba-tiba sorot mata Halim mengarah kepada leher dan pergelangan tangan Daffin. Biru?, batin Halim. Chris. Satu nama itu mendadak muncul di benak Halim—pun langsung mengepalkan tangan. Halim berniat ingin memberitahukan hal ini kepada Mayang, ibu Chris. Jangan sampai Chris menyakiti orang lain lebih dari ini. Dan Halim berani bertaruh, bahwa Mayang sama sekali belum mengetahui hal ini. Heh, Halim mendengus dalam hati. “Daff? Tangan lu kenapa?“ cetus Baron. Daffin terlihat sedikit gugup. Pada akhirnya ada orang lain yang menyadari hal itu selain Halim.
“Tadi gue lagi maen sama anak tetangga sebelah apartemen gue. Eh, ditarik-tarik ama dia tangan gue,“ sahut Daffin geleng-geleng kepala. Daffin mencoba tersenyum, meski sorot matanya melukiskan sebuah kesedihan nan teramat besar. “Nah, itu tuh yang bikin gue males maen ama bocil,“ timpal Baron. Daffin pun tersenyum sembari menyesap tangerine latte miliknya. “Job lu sekarang gimana? Udah pulih?“ tanya Daus. Daffin mengedikkan bahu tidak perduli. Dunia keartisan memang seperti itu. Bisa dengan mudahnya naik daun dan meraih kesuksesan. Sebaliknya juga bisa dengan mudah jatuh jauh ke dasar.
“Serius nggak ada job samsek lu?“ ucap Daus sungguh tidak menyangka. “Belum ada~ Tapi, tapi nih, ya? Gue ada dihubungin sama beberapa majalah fashion gitu. Jadi model lah istilahnya. Trus kemaren gue juga ditelpon sama bos gue. Lusa disuruh ke kantor ada yang diobrolin katanya. Gue sih ngarepnya bakalan ada job baru. Kecil-kecilan juga nggak papa,“ sahut Daffin panjang lebar. Semoga Daffin dibanjiri job keartisan dia, daripada ngadepin si muka dua kek Chris itu, batin Halim sembari menyantap Caesar Salad.
Setelah puas foto-foto dengan konsep badboy. Daffin pun memutuskan untuk segera pulang. Hah, mental baja banget dia, batin Halim. Halim begitu memuji kepandaian Daffin dalam menyimpan semua apa yang dia rasa. Bahkan senyumannya begitu sumringah, dan tidak menampakkan adanya kesedihan sama sekali. “Bareng gue aja, Daff,“ ucap Halim. “Gue mo jalan-jalan dulu sekitaran sini, lu duluan aja,“ sahut Daffin. “Gue duluan ya, ngab? Telpon gue kalo lu butuh tebengan,“ ucap Halim, lalu masuk ke dalam mobil.
Setelah jalan terus beberapa saat. Daffin menemukan jajanan kaki lima. Di sana ada berbagai macam jenis makanan seperti: seblak, odading, batagor, dan lain-lain. “Mang, cilornya ya 10rb,“ ucap Daffin—pun menurunkan masker. “Daffin?“ seru Tristan. Daffin pun menoleh. “Eh? Pakdos?“ gumam Daffin. “Sendirian aja kamu? Bapak kira bareng sama Chris?“ ucap Tristan. Daffin pun tersenyum kaku; saat Tristan menyebut nama Chris. “Hm, nggak, pak,“ sahut Daffin. “Daff?“ seru Tristan menatap Daffin dengan tatapan tajam. “Kamu nggak papa?“ tanya Tristan terlihat sedang menahan emosi. “Errr ng-nggak papa, pak. Saya baik-baik aja kok,“ sahut Daffin.
“Tapi, leher kamu..,“ gumam Tristan. Sudah pasti ini adalah ulah Chris, batin Tristan menduga. Daffin terdiam. “Ini gara-gara maen sama anak kec—“ ucap Daffin langsung dipotong oleh Tristan. “Kamu jangan bela orang kek Chris. Dia musti dikasih pelajaran, Daff,“ ucap Tristan dingin. Pak Tirta tau?, batin Daffin heran. Padahal ia sama sekali tidak pernah memberitau siapapun. Tristan paling benci; jikalau ada seorang suami tega menyakiti istri sendiri. Cukup sudah sang ibu dulu menderita; dipukuli oleh ayah sendiri di hadapannya; tatkala ia masih kecil. Dan saat itu ia tidak mampu berbuat apa-apa. Tapi, kali ini, ia tidak ingin membuat orang sebaik Daffin merasakan sakit; seperti apa yang telah dirasakan oleh ibunya dulu. Brengsek, batin Tristan.
FLASHBACK OFF
__ADS_1
Chris dan Daffin berpapasan di koridor. Di sana juga ada Juan. Kenapa Mas Chris babak belur kek gitu?, batin Daffin. “Ke ruangan saya sekarang, Daffin. Saya mau bicara sama kamu,“ ucap Chris dingin, lalu pergi meninggalkan Daffin begitu saja. “Gue mo ke kantor dulu. Lu duluan aja, Jo,“ ucap Daffin. Juan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu, ia pun memeriksa hp nya—yang sedari tadi berdering tanpa henti. Itu adalah chat grup kampus, dan mereka sedang ramai membicarakan perkelahian antara Chris dan Tristan pagi ini.
Dari beberapa cuplikan video. Tristan terlihat sangat murka sambil berkata, “Ternyata lu masih sama kek dulu, suka nyakitin orang lain, kalo lu nggak bisa bahagiain Daffin, mending lu lepasin dia,“. Perasaan Juan jadi tidak enak. Juan pun berinisiatif mengikuti Daffin ke kantor diam-diam. Eh? Pak Tristan?, batin Juan. Saat ia melihat Tristan juga berdiri di depan pintu kantor Chris. Tristan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir; sebagai isyarat supaya Juan tetap diam.
Daffin mencoba berlapang dada, dan membantu mengobati luka Chris. Chris terus menatap Daffin hampir tidak berkedip sama sekali. Daffin tau. Namun, dia cuma berpura-pura tidak tau saja. Setelah selesai mengobati; Chris memegang lengan Daffin; mencoba menahan Daffin supaya dia tidak langsung pergi begitu saja. “Kemaren kenapa kamu nggak pulang?“ tanya Chris dingin. Genggaman tangan Chris di lengan Daffin semakin kuat. “Kan aku udah sms kamu, mas? Kalo aku nginep di rumah mama. Lebih tepatnya aku mau tinggal di rumah mama,“ sahut Daffin.
“Kamu tau mas itu suami kamu, Daffin. Tapi, kenapa kamu malah pulang ke rumah orang tua kamu tanpa mas? Hm? Jangan bikin mas malu di depan orang tua kamu, Daffin,“
“Mas, kalo mas ngerasa malu, tolong ubah sikap mas ke aku. Itu pun kalo mas sadar dan bener-bener mau berubah. Tapi, buat orang kek mas, aku nggak yakin mas bisa berubah secepat itu. Lepasin aku mas,“
Bukannya melepaskan; cengkeraman nya semakin kuat saja; hingga membuat Daffin meringis. Chris marah. Dia sangat emosi. “Mau kamu apa, Daffin?“ tanya Chris. Daffin mengambil sesuatu dari saku celananya. Itu adalah cincin pernikahan. “Maaf, aku mau kita cerai, mas,“ sahut Daffin sembari meletakkan cincin tersebut di atas meja kerja Chris. Kedua alis Chris menukik tajam. “Cerai? Heh,“ gumam Chris tersenyum remeh. “Kamu nggak bisa hidup tanpa mas, Daffin. Kamu mau cerai? Omong kosong! Pake lagi cincin kamu, Daffin,“ ucap Chris ketus.
Hahahahaha, Daffin pun tertawa terbahak-bahak. Sebuah tawa yang terlihat sangat pahit. “Tanpa kamu aku lebih tenang, lebih bahagia, mas. Entah aku yang terlalu cinta buta ato apa, ampe aku sendiri nggak tau kalo sifat asli kamu itu ternyata suka mukul istri sendiri. Lepasin aku mas, dan mulai detik ini kita bukan lagi pasangan suami istri. Kita cerai!“ ucap Daffin sengaja mengeraskan suaranya di bagian akhir. Heh, mau mandang aku sebelah mata? Maaf, aku Daffin, nggak selemah yang kamu pikir, mas, batin Daffin. Sejurus kemudian; Chris pun langsung mendorong Daffin; hingga membuat tubuh Daffin bersentuhan dengan meja dengan sangat keras.
Deru nafasnya kian memburu. Tatapan penuh cinta itu seolah membuat dunia ini cuma milik berdua saja. Hardinata mengalungkan tangannya di leher Tristan—pun Tristan mencium pundaknya sembari meraba area p a h a dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hardinata memejamkan mata; menikmati tiap sentuhan-sentuhan itu; membuat seluruh tubuh merinding, panas, dan tidak bisa berontak barang sedikit pun. Tristan pun mengulum bibirnya, hingga membuat keduanya bertukar air liur.
Tiba-tiba Hardinata pun terbangun dari lelapnya pada dini hari. Sial! Ia telah memimpikan sesuatu yang tidak-tidak. Kenapa aku bisa mimpiin Tristan, dan lagi pas lagi begituan?, batin Hardinata gusar. Ia melirik jam dinding. Baru jam tiga pagi. Ia pun memilih bangun dan keluar dari kamar, lalu ia nyalakan saklar lampu hingga seluruh ruangan di apartemen pun terang benderang. Di ruang depan; ia menonton film ditemani segelas air putih. Sial! Mimpi barusan kembali terngiang-ngiang sampai membuat si jagoan agak sedikit menegang.
Empat jam kemudian. Hardinata bersiap-siap ingin berangkat ke kantor. Sesaat setelah ia membuka pintu. Ia dikejutkan oleh Tristan—yang berdiri sambil senderan di dinding dan kedua tangan bersedekap di d a d a. “Ngapain kamu ke sini?“ tanya Hardinata. “Cuma pengen jemput kamu doang, mau nganterin kamu ngantor,“ sahut Tristan. Kalau dilihat-lihat, sepertinya Tristan telah lama menunggu di sini tanpa memencet bel sama sekali. “Maaf, tapi aku udah ada mobil sendiri. Kamu mendingan pulang aja,“ ucap Hardinata, lalu berlenggang begitu saja.
Tristan pun memberanikan diri menggenggam tangan Hardinata—pun Hardinata langsung mendelik. “Lepasin,“ ucap Hardinata. Heh, emangnya aku anak kecil apa? Pake dituntun pegang tangan segala, batin Hardinata sebal. “Kalo aku lepasin, nanti kamu lari,“ sahut Tristan menatap kedua mata Hardinata dengan membuat wajahnya berdekatan dengan wajah Hardinata. Tristan pun tersenyum penuh arti. Ting. Pintu lift terbuka. Hardinata berjalan lebih dulu, meski dalam posisi tangannya masih digenggam oleh Tristan. Pegangan tangan doang aku bisa seseneng ini? Untung dia lagi anteng banget haha, batin Tristan.
Saat Hardinata ingin berjalan menuju mobil sendiri. Tristan pun langsung menarik pergelangan tangan Hardinata menuju mobil miliknya. Lalu, ia bukakan pintu mobil tersebut untuk Hardinata. Ia memang mendapat tatapan membunuh dari Hardinata. Tapi, tetap saja Hardinata menurut begitu saja. Haha ya iyalah kan dipaksa masuk?, batin Tristan. Di dalam mobil pun Tristan menggenggam tangan Hardinata sepanjang perjalanan menuju kantor. Hardinata membuang muka—berusaha untuk tidak bersitatap dengan Tristan.
__ADS_1
“Perasaan dulu aku jago godain cewek deh ampe aku pacarin juga. Tapi, kali ini kok susah banget, ya? Padahal udah coba keluarin seribu jurus, tetep aja ditolak?“ ucap Tristan membuat Hardinata tertohok. “Paling maennya kurang jauh,“ gumam Hardinata. “Hah? Apa? Kurang jauh? Kurang jauh apanya?“ cerca Tristan. “Bisa lepasin nggak sih,“ ucap Hardinata lama-lama jadi kesal sendiri. Tristan ini tuli ato apa, sih? Cup. Tristan pun memberi kecupan di tangan Hardinata. Kontan Hardinata mendelik. Ia mendengus. Sedangkan Tristan berpura-pura tidak tau saja. “Boleh ikut ke dalem nggak?“ ucap Tristan. Saat telah tiba di depan kantor Hardinata. Hardinata pun turun dari mobil, lalu masuk ke dalam diikuti oleh Tristan di belakang. Tristan iseng; ia sesekali sengaja mencoba melingkarkan tangannya di pinggul Hardinata, namun langsung ditepis. Hingga membuat Tristan mengulum tawa.
Daru sedang menatap beberapa foto di sosial media dengan serius. Hm, serasa kek kenal gue, batin Daru. Foto tersebut tiba-tiba viral dan direpost oleh banyak akun di instagram, twitter, dan facebook. Pertama, sebuah foto—yang di mana dia sedang duduk di sebuah kantin. Kedua, sebuah foto—yang di mana dia sedang ingin naik ke atas motor. Daru sampai harus ngezoom foto tersebut. Bah, ini Djaka?, batin Daru tidak percaya. Bahkan di tiktok ada video kompilasi dalam bentuk gambar saja—yang di mana saat itu Djaka keluar dari sebuah mini market.
Gila gila gila gue kira artis mana. Tinggi banget badannya plus jas yang dia pake pas di badan, puji Daru dalam hati tanpa ia sadari. Ting ting ting. Suara bel rumah pun berbunyi. Daru yang sedang asik rebahan itu pun terpaksa harus beranjak dari sofa. Di rumah pun; pakaian Daru tetap stylish dengan celana panjang hitam, kemeja hitam motif, serta rambut comma hair. Daru langsung menyipitkan mata, tatkala melihat siapa yang datang. “Siapa, Da?“ tanya Udah dari dalam. “Pacar mama nih nyariin,“ sahut Daru meledek.
“Pacar mama apanya? Dasar kamu, Da. Eh? Djaka?“ ucap Idah. Daru tidak perduli. Ia langsung masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintunya. “Da? Lagi ada tamu, masa kamu ngamar, sih? Nggak sopan tau,“ ucap Idah. “Itu tamu mama, bukan tamu aku,“ sahut Daru dari dalam. Idah pangling melihat Djaka saat ini. Dia terlihat lebih cerah dan segar. “Siang ini rencananya aku mau ngajakin Daru keluar, tante. Biar dia sekalian berangkat kuliah, trus aku balik kantor juga,“ ucap Djaka sembari memberikan buah tangan kepada Idah.
“Djak, sama Daru nya yang sabar, ya?“ ucap Idah memberi semangat. Tentu saja Djaka akan terus bersabar. Ini cuma masalah waktu saja sampai saat itu tiba—yang di mana Daru akan jatuh cinta kepada dirinya. “Da? Daru?“ seru Djaka dari luar sembari mengetuk pintu kamar. “Daru? Kamu di dalem?“ seru Djaka lagi, namun tidak ada tanggapan sama sekali dari Daru. Djaka mencoba memutar knop pintu. Tapi, malah dikunci. “Djak, kunci cadangan di laci ada,“ ucap Idah dengan suara pelan.
Djaka pun mengambil kunci cadangan di laci, lalu membuka pintu kamar Daru. Eh? Daru ke mana?, batin Djaka. Saat pintu tersebut berhasil dibuka, tapi malah tidak ada siapa-siapa di kamar. “Daru? Da? Daru?“ seru Djaka mengernyitkan alis. Samar-samar; Djaka mendengar seperti ada suara aneh dari kamar mandi. Hm? Suara apa, ya?, batin Djaka mencoba mendekatkan telinganya ke pintu kamar mandi. Djaka pun menajamkan pendengarannya. “Ssst aahhh aahhh mhhh ngghh aahhh,“ gumam Daru di dalam. Eh? Da-Daru lagi ngapain?, batin Djaka menelan ludah. Djaka mulai panas dingin.
“Daru!“ seru Djaka sesaat setelah memutar knop pintu. Djaka pun membelalakkan mata dengan mulut terbuka lebar. Djaka membeku sambil mengedipkan mata beberapa kali. Daru lagi iloc?, batin Djaka. Saat melihat Daru bersender di dinding kamar mandi sambil memegang si jagoan—yang saat itu tengah menyemburkan cairan putih hingga ke lantai dengan beberapa kali tembakan. Beberapa saat kemudian. Gila! Bangsat! Sial! Gue udah kehilangan muka gue sendiri bangsat bangsat, batin Daru menggerutu. “Keluar, lu!“ ucap Daru ketus sambil mendorong tubuh Djaka.
“Kalo mau iloc jangan lupa ajakin kakak, biar kita bisa main bareng hahahahaha,“ ucap Djaka tertawa lepas. “Keluar lu bangsat! Sana!!“ ucap Daru marah-marah. Daru berusaha mendorong tubuh Djaka keluar. Tapi, Djaka malah menghalangi pintu kamar, dan senderan di sana. “Nah, itu tuh salah satu alesan kamu musti nerima kakak jadi suami kamu. Biar apa? Biar ada yang bisa ngasih servis ke kamu tiap hari hahaha,“ goda Djaka—pun langsung mendapat pukulan dari Daru di pundak.
Hap. Djaka pun berhasil mendekap tubuh Daru dari depan. “Da, kakak janji bakalan berusaha buat jadi suami yang sukses dan bertanggung jawab buat kamu,“ ucap Djaka serius. Tatapan Djaka juga agak sedikit lebih mendalam. “Cih! EGP! Lepasin gue!“ ucap Daru berontak. Djaka semakin mempererat dekapannya, dan menatap Daru dalam-dalam. “Da, meskipun kamu nolak kakak ribuan kali, kakak nggak bakalan nyerah. Bahkan kakak lupa kapan terakhir kakak pacaran, karna selama ini cuma kamu yang ada dipikiran kakak, Da. Kakak bertekad jadi orang sukses, trus kerja siang malem demi bisa dapetin kamu Da suatu saat nanti,“ ucap Djaka panjang lebar dari dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
UP KEMBALI KALO CHAP 54-55 UDAH 50+ LIKES NO DEBAT!