GURU KU TERNYATA G

GURU KU TERNYATA G
GURU KU TERNYATA G 29


__ADS_3

Chris menatap keluar jendela. Ia berdiri di balik jendela kantor yang tidak terlalu lebar sambil menikmati secangkir teh hangat. Saat ini hujan deras mengguyur ibukota jakarta. Namun, perasaan Chris mendadak tidak enak. Kedua matanya menyipit saat melihat Daffin berlari keluar kampus. Dia terlihat terburu-buru.


Dari atas gedung, tepatnya dari jendela kantor Chris berada sekarang, ia melihat Daffin dijemput oleh seseorang. “Siapa?“ batin Chris. Daripada semakin penasaran lebih baik Chris mengirim sms pada Daffin. “Tadi mas liat kamu dijemput. Dijemput sama siapa?“ begitulah isi sms yang Chris kirim.


Chris pandangi ponselnya, tidak ada notifikasi pesan sms diterima, itu artinya ponsel Daffin dalam keadaan mati. Dada Chris bergejolak. Ia pun mencoba menelepon Daffin beberapa kali, namun nihil, ponsel Daffin dalam keadaan mati.


“Semoga dia baik-baik aja,“ batin Chris. Mungkin ini hanya perasaan Chris saja. Ah, sudahlah, lebih baik Chris menyibukkan diri dengan hal lain.


Dimas menjemput Daffin di kampus setelah Daffin dikabari, bahwa pihak MXD Ent, kantor yang menaungi dirinya meminta Daffin untuk segera bertemu. “Tumben mo ketemu ama gue? Kenapa emang?“ tanya Daffin saat mereka masih dalam perjalanan. “Tar dah lu tau sendiri,“ sahut Dimas. Entah mengapa raut muka Dimas terlihat muram.


Perasaan Daffin juga mendadak gusar tanpa sebab. Tiba di kantor Daffin langsung ke ruangan CEO MXD Ent, Hardinata. “Gimana kabar kamu Daff?“ tanya Hardinata. “Biasa aja, pak.“ sahut Daffin singkat. “Minum dulu,“ ucap Hardinata. Sebagai pembuka tentu meminum seteguk air itu adalah hal wajib sebelum membicarakan sebuah masalah. Benar, kan?


“Udah punya pacar Daff? Saya liat kamu akhir-akhir ini ceria banget?“ ucap Hardinata. Daffin diam. Ia menatap Hardinata sebentar lalu kembali menunduk. Perkataan Putra kemarin kembali terngiang. Jangan malu untuk mengakui hubungan sendiri. “Iya Pak, ada,“ sahut Daffin.


Hardinata tersenyum simpul. Ia pun memberikan beberapa lembar foto. Dada Daffin mencelos melihat foto-foto ini. Darimana Hardinata mendapatkan foto-foto ini?, batin Daffin. Lalu, apa maksud Hardinata menunjukkannya pada Daffin?


Daffin menelan ludah susah payah. “Saya nggak larang kamu pacaran sama siapa aja. Cewek ato cowok. Tapi, Daffin, kalo kamu mau makin naikin karir kamu.. Saya saranin jangan terjun ke lembah yang bisa ngancurin karir kamu sendiri. Kamu masih muda Daffin. Perjalanan kamu masih panjang.“


“Gini.. Kamu sebenernya dapet project film. Ini emang bukan film besar. Tapi, bisa bantu karir kamu makin naik. Cuman.. Demi nama baik kantor kita dan terutama film yang bakalan kamu peranin nanti sampai film itu rilis, saya mohon kerja samanya Daffin. Kamu ngerti maksud saya, kan?“


Daffin diam. Ia serasa dihantam oleh dua bom atom sekaligus. Hah, Daffin bingung, mau memilih jalan apa? Usia Daffin masih sangat muda, yaitu 18 tahun. “Kamu nggak harus mutusin sekarang. Saya kasih kamu waktu dua hari.“ ucap Hardinata.


Daffin berdiri di luar pintu ruangan Hardinata. Kepala Daffin mendadak pusing. Ia memejamkan mata sejenak. “Chris..“ gumam Daffin. Pulang ke rumah Daffin duduk di ruangan tengah. Biasanya Daffin langsung ke kamar. Kali ini tidak. Ia ingin menunggu Chris pulang.


Daffin menyenderkan tubuhnya di sofa sambil memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Ia berada di dua persimpangan jalan. Kalau seandainya Daffin memilih egois untuk memilih tetap melanjutkan hubungan ini, tentu Daffin akan kehilangan kesempatan besar untuk perjalanan karirnya sendiri. Sedangkan kalau ia memilih karir, itu berarti Daffin harus siap berpisah dengan Chris.


“Lagi nunggu Chris, ya?“ tanya Olivia duduk di samping Daffin sembari meraih remote TV di meja untuk menyalakan TV. “Hm,“ sahut Daffin telihat lesu dan tidak bersemangat. “Kok mukanya ditekuk gitu sih?“ tanya Olivia. Daffin pasti sedang tidak baik-baik saja, batin Olivia.

__ADS_1


“Tugas kuliah lagi numpuk ma, makanya Daffin pusing banget,“ sahut Daffin berbohong. “Makanya kamu tuh belajar yang serius. Calon suami kamu kan dosen? Coba minta ajarin lah~“ ucap Olivia. Hah, calon suami, entahlah, Daffin juga tidak yakin. Kepala Daffin seperti dikerumuni oleh ribuan semut. Uh, rasanya ingin pecah, batin Daffin.


Daffin hampir saja tertidur di sofa. Chris terkejut melihat Daffin duduk masih dengan mengenakan pakaian saat di kampus tadi. “Baru pulang mas?“ tanya Daffin. Ia pun langsung berdiri menyambut Chris. Ia kecup pipi Chris, membuat Chris sendiri heran. Sungguh hal ini amat sangat tidak biasa.


Chris melihat kedua pipi Daffin memerah. Daffin tersipu malu. Tapi, sorot mata Daffin seolah memancarkan kesedihan, entahlah, Chris juga tidak tau. “Udah makan?“ tanya Chris. Chris dan Daffin berjalan beriringan ke kamar. Daffin langsung mengunci pintu kamar. Tentu saja karna Daffin tidak ingin sesiapa pun mendengar percakapan antara dirinya dan Chris.


“Mas,“ seru Daffin. Jantung Daffin berdegup kencang saat kedua matanya menatap kedua bola mata hitam itu lamat-lamat. Daffin sudah tidak tahan lagi. Ia pun mengecup bibir itu mesra. Chris meraih pinggul Daffin sehingga kini keduanya berhimpitan. Chris dan Daffin berciuman dengan liar. Tangan Chris juga tidak tinggal diam. Ia remas labu Daffin di belakang sana dengan kuat sehingga membuat Daffin melenguh.


Chris dan Daffin pun bermesraan dan saling menumpahkan hasrat masing-masing. “AH AH AH CHRIIIHHSS TERUUUHHHSSS EUNG AH AH AAAAAH,“ suara Daffin selalu membuat Chris jatuh cinta setiap saat. Chris bahagia saat Daffin menyebut namanya saat miliknya menghujam dalam-dalam ke lubang Daffin.


Chris dan Daffin tidur tanpa mengenakan apapun setelah melakukan 'itu' selama lebih dari satu jam. Daffin memeluk Chris dengan erat seolah-olah Chris bisa lepas kapan saja. Chris kecup pucuk kepala Daffin. “Tangannya jangan nakal,“ tegur Chris saat dirasanya Daffin meraba-raba adiknya yang sudah tertidur itu.


Daffin memunggungi Chris hingga Chris pun memeluk Daffin dari belakang. Daffin tersenyum jahat. “Daff.. Nanti bangun lagi bahaya..“ tegur Chris saat tangan Daffin masih saja mengurut adik kecilnya. Yes, berhasil!, batin Daffin saat ia berhasil membuat adik Chris yang tadinya tertidur kembali bangun.


Sore ini Daffin usil sekali. Ia malah mengarahkan adik Chris yang memegang itu ke lubang miliknya. “Euumph,“ gumam Daffin. Perutnya terasa penuh. Uh, rupanya Daffin masih belum merasa puas. “Nakal kamu ya Daff~“ ucap Chris dengan nafas memburu karna nafsu.


Suara gelas terjatuh dan pecah pun terdengar. James langsung mematikan sambungan telepon. Lalu, segera berlari menuju kamar. “GILANG!“ seru James saat ia melihat Gilang berusaha meraih gelas di nakas, namun tidak berhasil.


Kondisi Gilang saat ini kurang baik. Gilang demam dan flu. “Haaaciiiss,“ Gilang bersin. Gilang sakit keesokan harinya tepat setelah malam itu James merenggut mahkota Gilang. Uh, bukankah itu memang tak James? Benar, kan?


James menghela nafas. Obat Gilang di nakas rupanya masih utuh. “Kamu nggak minum obatnya?“ tanya James. Gilang mendengus. Ia diam seribu bahasa. Gilang lebih baik diam daripada harus berbicara dengan iblis berwujud manusia seperti James ini. Hah, kalau Gilang ingat kejadian malam lusa kemarin, sungguh itu adalah mimpi buruk. Lubang Gilang sampai-sampai harus diolesi salep. Dasar James brengsek!, batin Gilang.


James mengambil secangkir air putih di sudut kamar. Lalu, ia duduk kembali di pinggiran ranjang. Gilang benar-benar keras kepala. James pun bahkan sampai geleng-geleng kepala. Dibiarkan malah menjadi. Lebih baik James bertindak lebih untuk meruntuhkan kekeraskepalaan Gilang dalam bentuk apapun.


James mengulum sebutir obat penurun demam dan pereda flu. Ia pun memutar badan Gilang paksa sehingga kini keduanya saling berhadapan. James langsung mengecup bibir Gilang dan mentransfer obat yang ada di dalam mulutnya. Lidah James melesak masuk untuk menekan obat tersebut supaya tidak dimuntahkan oleh Gilang.


Gilang terpaksa langsung menelan obat tersebut. Ia pun melotot tajam ke arah James. PLETAK. James menjitak dahi Gilang gemas. “Kalo mau mukulin saya sembuh dulu. Minum obat. Udah sakit masih aja belagu.“ ucap James sarkasme. Gilang mencebikkan bibir kesal.

__ADS_1


Gilang membuang muka sembari rebahan di atas kasur. Huh, mengapa James masih ada disini jua?, batin Gilang. James menggenggam tangan Gilang. Cincin putih itu nampak bersinar. James kecup mesra tangan itu dengan mata terpejam. Satu hal yang James syukuri sampai saat ini. Gilang tidak sekalipun melepas cincin yang terpasang di jari manisnya.


“Besok mau temenin saya ke masjid?“ tanya James. Untuk apa James ke masjid? Dia kan non muslim?, batin Gilang. Gilang menoleh dengan tatapan penuh tanya. James tersenyum tipis. Semoga kabar bahagia ini mampu membuat Gilang lebih peduli lagi, dan tentunya perlahan-lahan mampu mencintai James.


“Saya mutusin buat masuk islam.“ ucap James terdengar tulus sekali. James ingin masuk islam? Tapi, kenapa tiba-tiba sekali? Gilang hampir saja ingin menyunggingkan senyuman di bibir. Namun, ia urungkan. Gilang menatap James lamat-lamat. Jujur saja Gilang senang mendengar James ingin masuk islam. Tapi, Gilang tidak ingin mengekspresikan kebahagiaannya itu terlalu jelas. Bisa-bisa nanti James malah kegeeran, batin Gilang.


Chris dan Daffin makan siang di sebuah restoran. Chris terlihat lahap menyantap makanan yang sudah dipesan. Namun, Chris heran saat ia menoleh ke depan, mengapa piring Daffin hampir tidak disentuh sama sekali? “Daff?“ seru Chris. “Hah?“ gumam Daffin seolah baru tersadar dari lamunannya.


“Kamu nggak enak badan? Kalo nggak enak badan kita pulang aja, hm?“ ucap Chris. “Hm.. Nggak kok mas..“ sahut Daffin. Sorot mata Daffin terlihat sendu. Daffin mungkin sedang badmood atau ada masalah, pikir Chris. “Kalau kamu ada masalah, cerita sama mas Daff,“ ucap Chris. Lalu, mengusap bibirnya dengan sapu tangan.


Bibir Daffin bergetar. Ia bingung harus memulai dari mana. Jujur Daffin sama sekali tidak ingin melukai hati Chris. Tapi, Daffin juga belum siap jika karirnya harus hancur di usia muda. Daffin juga ingin menyecap kesuksesan seperti orang-orang pada umumnya. Daffin sudah bertindak benar, bukan?


Lidah Daffin terasa kelu. “Ma-maafin aku mas,“ seru Daffin dengan mata berkaca-kaca. Daffin tidak kuat jika ia harus berkata jujur. “Kenapa sayang? Hm? Kamu ada kesel sama mas? Kalo mas ada salah bilang,“ ucap Chris lemah lembut sambil satu tangannya mengusap pipi Daffin.


“Mas, keknya.. Aku nggak bisa lanjutin hubungan kita lagi..“ ucap Daffin kemudian. Chris menarik tangannya dari pipi Daffin. Chris tidak salah dengar, kan? “Daff?“ seru Chris. “Maksud kamu apa? Kamu mau ngeprank mas?“ tanya Chris. Mungkin Daffin sedang ingin menguji Chris.


Daffin menggeleng-gelengkan kepala. Sudut mata Daffin berair. Dadanya terasa sesak. Begitupun Chris. “Maafin aku mas,“ ucap Daffin. Hanya satu kalimat itu saja yang mampu ia ucapkan. Kedua alis Chris saling bertautan. “Kamu jangan bercanda Daff. Selama ini kita baik-baik aja. Tapi, kenapa kamu tiba-tiba ngomong kek gini sama mas?“ ucap Chris. Berharap Daffin mungkin hanya salah bicara atau sedang pusing karna sebentar lagi ujian kampus akan dilaksanakan.


“Mas, a-aku nggak mau karir aku hancur mas,“ ucap Daffin. Hah, ini seperti sebuah dejavu, Lagi-lagi seseorang yang amat sangat Chris cintai lebih memilih karir. Chris tersenyum kecut. “Kita pulang aja,“ ucap Chris dingin.


Chris dan Daffin pun pulang dari restoran tersebut. Selama perjalanan menuju rumah mereka saling diam tidak berbicara sepatah kata pun. Saat tidur bersama pun, mereka saling memunggungi satu sama lain. Dini hari Chris terbangun. Ia mengemasi pakaiannya sendiri. Setelah selesai berkemas, ia pandangi wajah Daffin yang terlelap. “Mas sayang kamu Daffin.. Mas bakalan tunggu kamu ampe kamu siap kembali sama mas lagi.. Maafin mas sayang..“ ucap Chris lirih. Ia pun mengecup kening Daffin diiringi tetesan air mata yang jatuh. Chris pun pergi tanpa memberitahu Daffin sama sekali.


Pagi hari saat Daffin membuka mata dan terbangun dari tidurnya. Ia menyentuh pipinya yang sedikit basah. Ini air mata, gumam Daffin. Daffin heran dari mana datangnya air mata ini. Ia lihat ke samping, tidak ada keberadaan Chris disini. “Mas?“ seru Daffin.


Daffin pun bangun mencari-cari keberadaan Chris di seluruh sudut ruangan. Ia menuruni anak tangga. “Mas Chris mana?“ tanya Daffin pada Olivia yang saat ini tengah sibuk berada di dapur. “Pulang,“ sahut Olivia. Olivia sungguh tidak tega melihat Chris pagi dini hari ini meminta izin pulang dari rumah ini. Olivia juga tidak ingin bertanya lebih lanjut. Raut muka Chris juga terlihat tidak terlalu baik. Daffin pun kembali ke kamar. Ia membongkar isi lemari dan sama sekali tidak melihat pakaian Chris sehelai pun disana. Chris sudah pergi.


Daffin mundur, ia pun terduduk di pinggiran ranjang. Kini hubungannya dengan Chris sudah berakhir. Dada Daffin terasa sesak. Ia memejamkan mata sejenak. Semua kenangan bersama Chris kembali berputar-putar di kepalanya. Daffin menitikkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2