
Daffin diminta oleh CEO Hardinata untuk datang ke kantor. Huft, Daffin menghela nafas saat ia berdiri di depan pintu kantor. Jujur saja Daffin malas berhadapan dengan siluman yang satu itu. Ia pun memutar knop pintu. CEO Hardinata berdiri dan mempersilahkan Daffin untuk duduk. “Maaf, saya minta kamu ke kantor tiba-tiba,“ ucap Hardinata. Ia pun duduk di dekat Daffin. “Kamu tau apa alesan saya panggil kamu kesini, Daffin?“ tanya Hardinata. Mana gue tau? Gue bukan cenayang kali, cerutu Daffin dalam hati.
Daffin pun menggelengkan kepala. “Kontrak kamu di MXD sisa 3 bulanan lagi. Gimana? Kamu masih mau lanjut, kan?“ ucap Hardinata percaya diri jikalau Daffin akan melanjutkan kontrak kerja itu lagi. Daffin tersenyum simpul. “Maaf, pak. Tapi, saya nggak bisa lanjutin kontrak kita lagi.“ sahut Daffin mantap. Bodoh. Untuk apa Daffin melanjutkan kontrak kerja dengan orang bodoh seperti Hardinata? Cih! Daffin berdecih kesal.
“Boleh saya tau alesannya Daffin?“ ucap Hardinata. Daffin diam beberapa saat. Ia mencoba memikirkan alasan apa yang sekiranya masuk akal untuk diutarakan. “Saya mau fokus kuliah,“ sahut Daffin. “Itu bukan alesan kamu yang sebenernya, Daffin. Saya tau kamu bohong. Jangan coba-coba nipu saya.“ ucap Hardinata. Daffin tidak boleh lemah di hadapan pria siluman seperti Hardinata ini. Dia terlalu peka. “Emangnya kenapa kalo saya beneran mau fokus kuliah? Nggak boleh?“ ucap Daffin sarkasme. “Jelas-jelas itu bukan alesan yang saya maksud, Daffin.“ ucap Hardinata mulai emosi. Ia sudah berusaha mengintimidasi Daffin. Tapi, Daffin malah terlihat biasa-biasa saja.
Hardinata pun menunjukkan beberapa lembar foto yang ia ambil secara diam-diam. Disana terlihat Daffin sedang jalan berdua dengan seorang pria pada malam hari. Daffin pun melihat foto-foto itu dengan alis berkerut. Hah, Daffin menghela nafas. “Bapak ngawasin saya?“ tanya Daffin. Darimana Hardinata bisa mendapatkan foto-foto ini? Kalau memang ia tidak mengirimkan mata-mata?
“Dia pacar kamu, kan?“ seru Hardinata sarkasme. Daffin diam yang artinya itu adalah sebuah fakta. Hardinata geram. Lalu, ia pun meremas foto-foto itu dan melemparnya ke sembarang arah. “Saya udah peringatan kamu, Daffin. Kalau kamu masih pa—“ kata-kata Hardinata pun langsung dipotong oleh Daffin. “Mau apa? Mau bapak sebarin? Silahkan. Saya sama sekali nggak takut. Bapak mau depak saya darI MXD? Silahkan. Saya lebih seneng lagi kalo itu beneran terjadi.“ ucap Daffin juga tidak kalah emosi.
Daffin tau Hardinata tidak bisa berbuat apa-apa, selain memberi peringatan untuk lebih hati-hati ke depannya. Menyebarluaskan fakta ini ke publik? Cih! Itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. Kecuali kontrak habis dan berita pun tersebar luas. Baru Hardinata bisa terbebas dari rasa malu itu. Dan asal kalian tau, alasan mengapa Hardinata berat melepas Daffin ialah, karna Daffin menjadi salah satu pendapatan terbesar MXD. Heh, jangan salah engkau wahai siluman, gue kagak bakal kemakan bujuk rayu lu, batin Daffin.
Hardinata geram. “Terserah kamu Daffin.“ ucap Hardinata menyerah. Sebelum Daffin keluar dari ruangan ini. Ia pun memutar badan ke belakang saat sampai di ambang pintu. “Kata orang, do'a orang yang sakit hati itu manjur, pak. Dan bapak musti inget satu hal. Suatu saat bapak bakalan sama kek saya. Jatuh cinta sama cowok dan mungkin nikah sama cowok juga.“ ucap Daffin tersenyum miring. Daffin pun keluar dari ruangan ini.
Chris siang ini diundang ke acara ulang tahun salah satu rumah sakit di Jakarta, yang ke 57. Ia juga diajak mengelilingi rumah sakit. Selain itu ia juga merupakan salah satu investor terbesar di rumah sakit ini. “Disini bangsal khusus anak-anak, pak.“ ucap si dirut itu. Chris menyapa anak-anak disana. Mereka berlari-lari bermain bersama teman-teman yang lain. Dalam kondisi kurang sehat pun, mereka bisa tersenyum dan tertawa.
“Nama kamu siapa, nak?“ tanya Chris ke salah satu anak kecil berusia 5 tahunan. Chris berjongkok menyamakan posisi dengan si anak. “Nama aku..“ ucap anak itu tiba-tiba terdiam dan menatap Chris dengan tatapan sendu. Sebelah alis Chris terangkat. “Kamu kenapa? Hm? Kok sedih?“ tanya Chris mengusap pipi anak itu. “Pa-papa..“ gumam anak itu. Chris pun menoleh ke salah satu dokter yang juga ikut berkeliling bersama tadi. Chris meminta penjelasan dokter tersebut mengenai anak ini.
“Nama dia Thomi. Dia harus dirawat disini karna mengidap gagal ginjal, pak.“ ucap dokter itu menjelaskan secara singkat. Tapi, satu hal yang membuat Chris penasaran. Mengapa dia menggumamkan sebutan papa? “Dia tadi manggil papa.. Kira-kira papanya kemana, dok?“ tanya Chris. Thomi terus saja menatap Chris lurus. “Menurut informasi, ayah Thomi baru aja meninggal dunia beberapa waktu lalu, pak.“ sahut dokter itu. Chris langsung terdiam. Thomi persis seperti dirinya. Cuma memiliki seorang ibu saja.
Chris iba. “Kamu belajar yang pinter ya, Thomi?“ ucap Chris mengacak-acak rambut Thomi gemas sambil tersenyum. Chris tidak tahan berlama-lama menatap Thomi. Chris merasa hati ini begitu teriris. Chris saat itu juga harus kehilangan sosok ayah saat Chris sendiri masih seusia Thomi. Saat Chris berdiri dan ingin kembali lanjut berkeliling, tiba-tiba Thomi menarik ujung jas yang Chris kenakan. Chris pun menoleh. “Papa.. Ja-jangan pergi..“ gumam Thomi. “Thomi..“ seru Chris. Ia pun kembali berjongkok. “Nanti om kesini lagi jenguk kamu bareng sama Om Daffin.. Ok?“ ucap Chris. Thomi pun terlihat lega setelah mendengar Chris berkata seperti itu. Seusia Thomi harus kehilangan seorang ayah secepat itu, tentu saja dia akan merasa sangat kehilangan.
Sehabis dari rumah sakit, Chris tidak lantas langsung kembali ke kantor, apalagi pulang ke apartemen. Dia harus ke kampus untuk mengajar satu mata kuliah, yaitu Pengantar Ilmu Hukum untuk mahasiswa/i jurusan hukum. “Sibuk banget ya Pak CEO????“ seru Tristan masuk ke ruangan Chris. Tristan pun duduk di sudut meja kerja Chris. Chris pun menoleh. “Lu bisa nggak jangan gangguin gue mulu? Jangan bilang kalo lu suka sama gue?“ ucap Chris sarkasme. Terkadang Chris merasa curiga dengan Tristan yang selalu saja menempel pada Chris. Memang benar Tristan itu sahabat seperjuangan. Tapi, adakalanya Chris juga merasa seperti itu, curiga kalau-kalau Tristan ada rasa.
“Hah? Lu kok mikir gitu sih?“
“Ya jelaslah. Lu mepet-mepet mulu ama gue. Gimana gue nggak curiga coba?“
“Sahabat sendiri dicurigain. Parah lu.“
“Makanya lu cari pacar kek sana. Biar jangan mepet-mepet ke gue mulu. Kan lu bisa bucin ama dia?“
__ADS_1
“Emang gue elu yang selalu ngabucin.“
“Intinya lu musti punya gebetan minggu ini. Kalo nggak..“
“Kalo nggak apa?“
Chris menatap Tristan dengan tatapan penuh arti. “Elu gue end! Ngerti?! Dah ah gue mau masuk kelas dulu,“ sahut Chris mengambil laptop serta beberapa map khusus berkaitan dengan kelas hari ini tentunya. Chris pun menepuk pundak Tristan memberikan semangat. Semoga Tristan benar-benar mendapatkan seorang partner kencan, batin Chris.“Chris! Chris!“ seru Tristan. Chris sudah keluar dari ruangan ini. Kini tinggal Tristan sendirian. “Tuh orang kalo ngomong parah parah parah,“ gumam Tristan geleng-geleng kepala.
“Lu udah selese syuting?“ tanya Juan. Saat ini Daffin, Juan, dan Malik kumpul-kumpul di kampus seperti biasa. “Belom,“ sahut Daffin sambil menghembuskan asap rokok dari mulut. “Nai udah jarang banget nggak ngumpul bareng kita masa?“ ucap Daffin heran. Ini pasti karna Juan dan Naila belum berbaikan. Juan diam saja. Jujur Juan tidak peduli sama sekali mau Naila ada disini atau tidak. Kalau ditanya kenapa mungkin karna Juan menganggap Naila itu tipikal yang tidak mau menerima kekurangan sahabat sendiri. Jadi, untuk apa Juan memberikan perhatian lebih kepada Naila sebagai sahabat?
“Serah dia lah nggak peduli gue,“ sahut Juan sedikit ketus. “Parah lu, Jo.“ seru Malik. “Gue liat sih dia happy-happy aja temenan sama anak-anak jurusan sebelah,“ ucap Malik. “Dia aja happy, ngapain gue peduli?“ timpal Juan dengan ekspresi datar. Daffin sebal. Ini orang baru atau apa, sih?, batin Daffin. “Demi kesejahteraan dunia persilatan elu ama si Naila baikan dong~“ ucap Daffin. Bugh. Seseorang memukul kepala Daffin dengan sesuatu. Daffin pun mencoba mencari-cari keberadaan orang tersebut. Chris?, gumam Daffin mencebikkan bibir kesal saat ia melihat Chris berjalan agak jauh dari mejanya. “Lu udah baikan sama pakdos?“ tanya Juan. Daffin pun menganggukkan kepala dengan cepat.
“Cepet banget?“ seru Juan sama sekali tidak menyangka. Daffin pun mencebikkan bibir kesal. “Paan lu rese, ya alhamdulillaah napa? hadeuh,“ sahut Daffin memutar bola mata malas. Jam mata kuliah pun selesai. Saatnya Daffin kembali ke lokasi syuting. “Daffin!“ seru seseorang saat Daffin hendak membuka pintu mobil. “Naila?“ seru Daffin terkejut. Tumben sekali Naila menyapa Daffin? Hm, batin Daffin heran. “Gue boleh tanya sesuatu ke lu?“ ucap Naila ragu-ragu.
“Boleh,“ sahut Daffin. “Uhm.. Gue cuman mo nanya apa sebenernya lo udah tau kalo Juan.. Kalo Juan itu.. Suka sama cowok?“ ucap Naila. Daffin menatap Nila sebentar. Lalu, Daffin pun menganggukkan kepala pelan, membenarkan kata-kata Naila tadi. “Heh,“ Naila tersenyum kecut. “Lu tau itu sebelum ato sesudah gue curhat sama lu kalo gue itu suka sama Juan?“ tanya Naila lagi. Jangan sampai elu tau sebelum itu, Daffin, ato gue bakalan marah banget sama lu, batin Naila.
“Sebelum,“ sahut Daffin. Kedua mata Naila setengah membolak setelah mendengar jawaban mengejutkan dari Daffin. “Ke-kenapa lu tega sama gue Daff?“ ucap Naila. Mata Naila terasa panas. Ia mencoba menahan sekuat tenaga supaya bulir-bulir air mata itu tidak berjatuhan. “Lebih baik lu tau sendiri daripada gue yang ngasih tau lu lebih dulu,“
Daffin pun menutup pintu mobil. Lalu, berbicara berdua dengan Naila. “Nai.. Gue tanya kapan gue bikin lu kek orang bodoh? Mikir dong Nai! Kalo gue ngasih tau lu duluan dan lu malah jauhin Juan tanpa Juan tau alesannya apa. Pasti lebih aneh Nai. Mending lu liat semuanya dengan mata kepala lu sendiri daripada dari orang lain, kan? Lagi.. Kalo lu beneran nganggep kita sahabat lu.. Lu nggak bakalan pernah ninggalin kita bahkan di saat kita terjatuh sekalipun.“ ucap Daffin panjang lebar. Naila pun terdiam.
“Dan satu hal lagi Nai. Lu nggak berhak menghakimi Juan. Itu pilihan dia. Sebagai seorang sahabat, lu seharusnya support dia. Bukan jauhin dia.“ ucap Daffin lagi. Ia pun masuk ke dalam mobil. Naila menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. Naila membeku di tempat. Ia pun memilih pulang saja daripada harus berlama-lama disini.
Djaka memberikan arahan kepada bawahannya untuk meningkatkan penjualan produk di bidang elektronik dan kosmetik. Tiba-tiba salah satu di antara mereka bersuara. “Maaf, pak?“ seru Tia. Djaka pun menoleh. “Bapak tau nggak? Tadi saya denger-denger kantor kita bakalan dijadiin tempat syuting gitu loh pak?.“ ucap Tia. “Oh? Gitu? Saya belum ada konfirmasi dari atasan sih. Tunggu tunggu tunggu ini beliau nelpon.“ sahut Djaka.
CEO CHRIS:
“Djaka, saya mau kasih tau, nanti siang kantor kita bakalan dijadiin tempat syuting film sampai satu minggu ke depan. Jadi, nanti tolong kamu handel, ya?“
DJAKA:
“Baik, pak. Siap laksanakan.“
__ADS_1
“Nah, baru aja beliau konfirmasi. Bener kata kamu Tia.“ ucap Djaka. Djaka pun kembali menjelaskan bagaimana cara membuat kemasan produk kosmetik sehingga membuat banyak orang lain tertarik untuk membeli. “Jadi gini, kita bikin wadah yang dimana bisa nipu mata semua orang. Kita tetep menomersatukan kualitas. Tapi, yang orang pikir kan pasti wadahnya yang gede dulu? Nah, jadi, keliatan kek banyak gitu, kan? Disaat mereka mikir ini kok wadahnya gede banget tapi isinya dikit? Dan saat mereka mikir lagi buat berhenti beli produk kita. Mereka pasti mikir beribu-ribu kali dong? Karna apa? Karna kita menghadirkan kosmetik kualitas nomor satu. Ngerti?“ ucap Djaka panjang lebar.
Benar saja. Siang ini kantor tempat Djaka bekerja kedatangan tim produksi film. Djaka juga ikut membantu mengatur set tempat sehingga tidak akan mengganggu karyawan lain saat bekerja. Kedua alis Djaka berkerut. Saat ia melihat Daru dari kejauhan. Djaka pun melangkahkan kaki menghampiri. “Daru?“ seru Djaka. Daru terkesiap. Djaka?, batin Daru sungguh tidak menyangka jikalau dirinya akan bertemu Djaka disini. Hm, untuk apa ya Djaka berada disini? Jangan-jangan dia pemeran figuran di film ini?, batin Daru menaikturunkan alisnya.
“Lu ngapain disini? Lu pemeran figurannya, ya?“ cetus Daru asal bicara saja. Djaka pun menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. “Gue kerja disini,“ sahut Djaka. “Jadi figuran?“ tanya Daru tersenyum remeh. Djaka pun memukul kepala Daru dengan pulpen. “Kalo ngomong tuh jangan asal napa? Gue kerja di kantor ini, Daru. Gue manajer disini.“ sahut Djaka. Daru memutar bola mata malas. “Terserah,“ ucap Daru berlalu begitu saja. Daru malas untuk sekedar bercengkerama dengan iblis satu itu. Huh, lebih baik Daru berbaur dengan kru atau pemeran lain di film ini.
Sambil menikmati makan siang. Djaka sambil melihat acting Daru dari kantin kantor. Daru terlihat sangat keren dan sangar secara bersamaan. Dia cool banget, ganteng juga, batin Djaka tersenyum tipis. “Senyum-senyum sendiri? Kesambet lu ntar,“ seru Serena duduk di samping Djaka. “Nggak lah. Gue lagi liat orang syuting noh.“ ucap Djaka menunjuk ke depan sana dengan dagunya.
“Uhm gitu~“ gumam Serena menganggukkan kepala pelan. “Si Aisyah itu, ya? Lagi booming kan dia? Katanya sih pacaran sama lawan mainnya juga. Siapa tuh namanya errrr Da-Da-Daffin!“ ucap Serena mencoba mengingat-ingat nama Daffin yang serasa di ujung lidah. Djaka tersenyum simpul saja menanggapi perkataan Serena. Djaka malah terus-menerus memandangi Daru dari kejauhan.
Daffin tiba-tiba muncul di belakang Daru. Daru ini suka sekali mencari masalah. Namun, Daffin juga tidak bisa gegabah. Daru bisa saja bekerja sama dengan raja serigala, dan malah membuat Daffin kalah telak jikalau ia melawan tanpa persiapan. “Tunggu aku Jen,“ batin Daffin. Dia, Jennifer, adalah puteri Aisyah, yang saat ini tengah disekap di tempat rahasia. Bahkan, Daffin tidak tau lokasi persisnya dimana. Daru dan raja serigala itu pasti sudah bekerja sama untuk menghilang jejak Jennifer dan mengalihkan bau. Heh, dasar biadab, batin Daffin. Sampai kapanpun tiada maaf di hati Daffin untuk Daru ataupun raja serigala gila itu.
Daru pun memutar badan. Dia tersenyum remeh. “Dimana Jen?“ seru Daffin. Tatapan remeh Daru itu benar-benar membuat kesabaran Daffin diuji. Ingin Daffin menyerang Daru saat ini jua. Tapi, sekali lagi, Daffin tidak boleh gegabah. Daffin yakin Daru tau dimana Jennifer, dan dia adalah kunci dari semua permasalahan ini. “Mutiara salju.. Lu balikin dulu.. Baru gue kasih tau lu dimana Jen.. Heh,“ sahut Daru. Kedua mata Daffin berubah menjadi keemasan. Itu artinya Daffin sudah siap untuk menyerang Daru.
“Hei! Calm down dude!“ seru Daru. Ia pun melangkahkan kaki mendekati Daffin. Ia remas pundak Daffin. Dan ia tatap mata Daffin dalam-dalam dengan tatapan tajam. Ini kesekian kalinya Daru tersenyum remeh kepada Daffin. “Gue kasih lu waktu dua hari, Daff. Kalo lu nggak balikin entu mutiara salju. Gue jamin Jen nggak bakalan selamat. Hahahahaha,“ ucap Daru tertawa jahat. Daru, dia benar-benar seorang iblis, batin Daffin. Ini keputusan sulit bagi Daffin. Mutiara salju? Kalau Daffin memberikan itu kepada Daru, sama saja dengan mempersingkat hidup Daffin. Lebih parah lagi Daffin akan hancur seperti debu, persis seperti 20 tahun silam, menghilang tanpa jejak.
“Cut!“ ucap si sutradara. Daffin pun langsung melepas softlens yang ia kenakan sesaat setelah sutradara berkata cut. Daffin heran mengapa orang-orang di luar sana bisa tahan mengenakan softlens selama berjam-jam lamanya? Huft, Daffin menghela nafas. Ia pun minum air mineral yang diberikan oleh Dimas. “Akh!“ seru Aisyah. Tiba-tiba Aisyah menabrak sesuatu hingga membuat ia terjatuh. Uh, mungkin kaki ku terkilir, batin Aisyah sambil memegangi kakinya yang terasa nyeri.
Daffin yang ingin minum pun tidak jadi minum. Ia refleks berdiri dan menghampiri Aisyah. Ia pun membantu Aisyah bangkit. Namun, tiba-tiba Chris masuk ke dalam kantor. Ia melihat Aisyah dan Daffin begitu mesra. Jelas-jelas itu bukan bagian dari adegan film. Lihatlah sama sekali tidak ada kamera yang menyoroti mereka. Heh, Chris mendengus. Chris sengaja datang kemari, karna ingin melihat Daffin secara langsung. Tapi, apa? Chris malah melihat adegan tidak senonoh.
Daffin membelalakkan mata terkejut. Gawat!, batin Daffin saat ia tidak sengaja melihat tatapan tidak mengenakan dari Chris. Chris pasti cemburu. Dia kan pencemburu akut?, batin Daffin. Huh, nanti sajalah Daffin menjelaskan hal ini kepada Chris. Ia harus membantu Aisyah duduk di bangku terlebih dahulu. “Dim, ambilin sprai di tas gue dong,“ ucap Daffin. Dimas pun mengambilkan sprai pereda nyeri itu, lalu ia berikan kepada Daffin. Sejurus kemudian Daffin pun menyemprotkan sprai itu di pergelangan kaki Aisyah. “Lu tenang aja. Lu masih bisa lanjut syuting, kok. Kalo diliat-liat nggak terlalu parah juga. Lain kali hati-hati.“ ucap Daffin.
Daffin pun berdiri. Aisyah tersipu malu. Lalu, ia pun mendongak dan mengucapkan terima kasih kepada Daffin. “No problem. Gue mo ke toilet dulu.“ ucap Daffin. Sebenarnya Daffin tidak sedang ingin ke toilet, melainkan ingin mencari keberadaan Chris. Daffin celingak celinguk. Jangan sampai ada kru mana pun yang melihat Daffin jalan-jalan kesana kemari. Huh, Daffin menghembuskan nafas lega. Lalu, ia pun masuk ke dalam lift. Saat lift itu terbuka betapa terkejutnya Daffin, saat melihat siapa yang ada di hadapannya. “Mas?“ seru Daffin. Chris menatap Daffin dingin. Keduanya saling bertatapan beberapa saat. “Kamu mau masuk ato nggah sih? Cepetan,“ ucap Chris ketus.
Daffin pun masuk ke dalam. Ia mengerling sesekali dan aura di sekitar Daffin terasa aneh dan ngeri. Lift pun terbuka. Daffin mengikuti kemana Chris melangkah. Oh? Chris membawa Daffin ke ruangan CEO toh?, batin Daffin. “Tadi kamu ngapain?“ seru Chris meminta penjelasan. “Bantu Aisyah~ Dia jatoh tadi trus kakinya keseleo.“ sahut Daffin. Chris tidak lantas langsung membaik. Hati Chris panas. “Mas..“ seru Daffin memeluk Chris dari belakang. Chris itu lebih pendek 6cm dari dirinya. Kalau dipikir-pikir lagi ini serasa Daffin lah yang menjadi pihak si pria. Hihihi, batin Daffin.
.
.
.
__ADS_1
Dukung GKTG menuju 2K likes! Dan COY menuju 1K likes! Jangan lupa like dan favorit ya 😎