
Daru memarkirkan mobilnya sembarangan. Ia tidak peduli mau mobilnya diapakan oleh petugas lalu lintas, lantaran ia telah melanggar peraturan lalu lintas karna ia telah memarkirkan mobil tidak pada tempatnya. Ia pun segera membelah keramaian. “DAFFIN!“ seru Daru. “Dia temen saya pak bu, biar saya yang bawa dia ke RS,“ ucap Daru khawatir bukan main. Daru membuka pintu mobil itu dengan cepat. Ia terkejut melihat melihat Daffin tidak sadarkan diri.
“Plis lu musti kuat Daff,“ batin Daru. Beruntung Daru dapat merasakan Daffin masih bernafas dengan teratur. Daffin terdengar menggumamkan sesuatu. Suara itu terlalu samar. Daru sendiri tidak mampu mendengarnya. Demi keselamatan Daffin, Daru mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Daru mendapat cacian dan makian dari pengendara mobil dan pengendara motor lainnya. Biarkan saja mereka memaki Daru sepuas hati mereka. Saat ini kondisi Daffin menjadi prioritas Daru. Hampir saja Daru ingin menabrak seorang pedagang yang tengah mendorong gerobak dagangannya, namun beruntung Daru berhasil menghindar dan sampai di rumah sakit dengan selamat.
“Keadaan Daffin gimana dok?“ ucap Daru langsung bangkit dari tempat ia duduk saat seorang dokter laki-laki keluar dari ruangan itu. “Untung nggak ada yang serius, cuman patah tulang sama maag kambuh,“ ucap dokter itu. Daru menghembuskan nafas lega. Hah, Daru harus segera menghubungi pihak keluarga.
“Gue nggak abis pikir lu bisa hampir celaka cuman gara-gara nahan perut sakit trus maksain buat tetep nyetir. Kemana prinsip lu dulu yang nggak bakal mau nyetir kalo kondisi lu sendiri kurang bagus sih, Daff?“ ucap Daru geleng-geleng kepala.
“Brengsek lu Daru, gue lagi kek gini lu malah maki-maki gue, gak sopan banget lu aduh,“ seru Daffin ketika ia sadar dari pingsan. Daffin meringis saat ia merasa lehernya sedikit nyeri karna patah tulang. “Syukur deh lu nggak mati. Kalo lu mati kan gue bisa gantiin semua job lu.“ ucap Daru sarkasme.
Ingin tangan ini membekap mulut pedas bak cabai kiloan gram itu dengan kaus kaki. Namun, apalah daya, kondisi Daffin sedang tidak memungkinkan untuk terlalu banyak bergerak. “Daru Daru gue mo makan mo minum. Laper gue.“ ucap Daffin. “Lu makan aja sendiri, gue mo balik,“ sahut Daru ketus, masa bodoh ia harus menuruti permintaan Daffin.
Daru terdiam di tempat saat ia memutar badan, lalu kedua matanya melihat sesosok pria berkacamata berdiri di depan pintu sana. Daru dan pria itu saling bertatapan beberapa saat hingga pada akhirnya pria itu pun pergi dari sana.
“Chris? Nggak masuk?“ seru Nugraha. Chris tersenyum simpul. “Lain kali aja, pak.“ ucap Chris. “Tolong jangan kasih tau Daffin kalo saya kesini,“ ucap Chris lalu meminta izin pulang. Nugraha menatap Chris iba. Ini masalah antara Chris dan Daffin. Sebagai orang tua Nugraha juga tidak bisa ikut campur. Kecuali salah satu di antara mereka mau berbicara.
Nugraha datang sendiri kemari, sedangkan Olivia harus pulang kampung, karna ada urusan mendadak. “Papa ganggu, ya?“ tanya Nugraha setelah masuk ke dalam ruangan Daffin. Nugraha melihat seorang pria muda tengah membantu Daffin makan dan minum. “Selamat sore om,“ sapa Daru. Ia langsung berdiri memberi salam pada Nugraha lalu mencium tangan Nugraha.
“Nama kamu siapa?“ tanya Nugraha. “Daru om,“ sahut Daru. “Daru duduk aja nggak papa,“ ucap Nugraha. Daru pun duduk setelah Nugraha mempersilahkan nya untuk duduk. “Papa lagi mikir buat sita mobil kamu sementara loh Daff,“ ucap Nugraha dengan posisi sebelah tangan berkacak pinggang, dan sebelahnya lagi memijit pelipisnya yang mulai terasa berdenyut.
“Tega banget sih pa,“ protes Daffin. “Kamu juga nggak hati-hati. Kenapa nggak suruh Dimas aja? Kamu kan biasanya nyuruh Dimas nyetir kalo ada apa-apa?“ ucap Nugraha membuat Daffin tertohok. Benar, biasanya, Daffin selalu menghubungi Dimas untuk masalah menggantikan Daffin menyetir, saat kondisi Daffin sedang kurang baik.
“Kata dokter tadi kamu maag, gimana critanya sih, hah?“ ucap Nugraha. Huh, dasar, bukannya anak disayang-sayang, malah dimarah-marahi, batin Daffin sebal. “Minum kopi,“ sahut Daffin berusaha acuh saja. “Tapi udah makan?“ tanya Nugraha. “Belom,“ sahut Daffin lagi, kedua mata Daffin memandangi objek lain, ia berusaha menghindari bersitatap dengan sang ayah. Daffin tau mungkin Nugraha akan marah besar.
“Suka banget kamu Daffin cari gara-gara,“
“Udah ah pa jangan marahin Daffin mulu. Malu tau.“
Sebagai seorang lelaki tentu malu dimarah-marahi seperti ini di hadapan orang lain, apa lagi orang itu adalah, Daru, rival di dunia modeling. Dari paham ia hanyalah teman biasa. Ia juga tidak berada dalam posisi sebagai orang yang benar-benar dibutuhkan oleh Daffin. Mungkin Daffin merasa tidak nyaman, batin Daru. Saat ia berpikir mungkin Daffin risih karna ada dirinya disini.
__ADS_1
Telepon Daru berdering. Dari Mama. Ia diminta untuk segera pulang karna sudah hampir maghrib. “Uhm, om, saya rasa saya harus pamit sekarang,“ ucap Daru. “Cepet banget Daru? Disini aja dulu temenin nih anak bandel,“ ucap Nugraha. Daffin mencebikkan bibir kesal.
Di dalam mobil Chris diam membeku. Ia membuka galeri di ponselnya sendiri. Ia lihat disana ada banyak foto dirinya bersama Daffin. Sungguh hati ini amat sangat rindu. Chris rindu bagaimana bibir keduanya saling menyatu. Pun saat tubuh keduanya saling berbagi kehangatan.
Seorang satpam rumah sakit mengetuk kaca mobilnya. Chris ditegur untuk segera keluar dari jalur parkiran lantaran masih ada beberapa mobil juga ingin keluar. Chris langsung meminta maaf. Tuhan, aku tau ini adalah hubungan terlarang dang engkau benci akan hal ini, sungguh ini adalah rasa dan asa yang aku sendiri tidak bisa hindari, tolong persatukan kami kembali ya tuhan, batin Chris berdo'a.
Sedari tadi Daffin mencoba menghibur diri dengan menonton apapun di youtube. Daffin juga berkali-kali melirik pintu ruangan tempat ia dirawat. Chris nggak dateng sama sekali, batin Daffin. Daffin langsung menutup laptop. Ia menghela nafas panjang. Ia lelah. Hah, apakah tindakan Daffin sudah benar? Entahlah..
Juan dan Yoga memiliki rutinitas aneh. Hm, kalian tau apa? Seminggu sekali mereka selalu menyempatkan diri menginap di sebuah hotel bintang lima tiap akhir pekan. Mereka juga memesan kamar hotel paling mahal. Kalau kalian bertanya kenapa, mungkin karna suasana hotel terkesan lebih romantis. Begitulah menurut Juan dan Yoga.
“Malem ini giliran mas loh,“ ucap Yoga. “Ehem,“ Juan berdehem seolah-olah ia tidak tau dan tidak mengerti maksud Yoga. Ya, Juan dan Yoga berprinsip bahwa di hubungan mereka, mereka tidak boleh egois dalam hal memuaskan pasangan. Bisa dibilang terkadang Juan lah yang berada di bawah, terkadang di atas, sebaliknya Yoga juga terkadang berada di bawah, terkadang di atas.
Malam ini giliran Yoga berada di atas Juan. “Di kamar mandi aja gimana?“ ucap Juan. Juan ingin suasana baru saja. Bagi Juan di atas tempat tidur atau di sofa itu sudah biasa. Juan dan Yoga memang pernah melakukan itu beberapa kali di kamar mandi. Tapi, saking jarangnya bisa dihitung pakai jari.
Saat ini Juan dan Yoga sudah berada di kamar mandi tanpa mengenakan apapun. Yoga memang sudah berkepala empat lebih. Tapi, bentuk badannya masih bagus dan kencang. Hm, mungkin ini karna Yoga sering olahraga di tempat fitness khusus.
Juan dan Yoga berdiri di bawah guyuran shower. Yoga mengecup bibir Juan dengan liar. Satu kaki Juan bertumpu pada bathtub. Sedangkan satunya lagi menginjakkan lantai biasa saja. Posisi seperti ini memberikan kesempatan untuk Yoga memainkan jari-jemarinya di lubang Juan di bawah sana.
“Uh mahhhss,“ gumam Juan saat dua jari jemari Yoga mengobrak-abrik lubangnya dengan posisi menggunting. Yoga maju mundurkan jari-jemarinya dengan cepat sekali. Sedikit kasar memang. Tapi, tetap saja itu membuat Juan terus menerus melenguh menyebut nama Yoga.
Yoga meminta Juan untuk memutar badan sehingga kini Juan memunggungi Yoga dengan tubuhnya yang menempel di dinding kamar mandi. Yoga mengecup punggung Juan tanpa sisa sembari tangannya meremas dua labu di bawah sana. Yoga pun jongkok. Ia buka sedikit labu itu sehingga memperlihatkan lubang nan indah dipandang mata. Yoga jilati lubang itu hingga membuat Juan blingsatan.
“Euuummhh,“ gumam Juan. Lidah Yoga menari-nari di dalam lubang itu. Bibir Juan otomatis terbuka. Setelah puas, Yoga pun meminta Juan menungging dengan kedua tangan bertumpu di bathtub. Dari sini lubang itu semakin jelas terlihat. Yoga membenamkan wajahnya disana dan menjilati dalam-dalan lubang itu.
Oh tuhan, ini sungguh nikmat sekali, batin Juan. “Ma-masuh-kihn maahss cepehtaahn aaahhhh,“ gumam Juan. Lubang itu terasa panas dan perih. Mungkin Yoga memasukkan tiga sampai empat jarinya disana. Yoga terus saja merojok spot ternikmat di ujung sana. Hingga membuat Juan tidak kuasa lagi menahan cairan untuk keluar.
“Mahs mahs mahs keluar lagi keluar lagiiih ah ah aahhh eummh maahsss eungh eungh eungh,“ suara Juan bergetar saat ia merasakan puncak kenikmatan itu untuk kedua kalinya. Juan sudah lemas sekali. Yoga memang paling bisa mempermainkan dirinya dulu sampai terkulai lemas tidak berdaya.
Yoga pun mengarahkan sang adik di permukaan lubang Juan. Ia dorong dengan satu kali hentakan. “Hmmph,“ Yoga mengeram saat ia merasakan betapa sempitnya lubang itu. Yoga menggoyangkan pinggulnya dengan cepat membuat pinggul Juan juga ikut bergoyang.
Tidak puas melakukannya di kamar mandi. Juan dan Yoga melanjutkannya di atas tempat tidur. Posisi Juan duduk di atas. Ia naik turunkan pinggulnya. Di posisi seperti ini sungguh adik Yoga serasa lebih dalam merojok ke dalam sana. Perut Juan terasa penuh sekali. Milik Yoga itu memang tidak terlalu gemuk, tapi panjang sekali, lebih panjang dari milik Juan.
__ADS_1
“Mas mau keluar sayang,“ ucap Yoga. Juan pun semakin mempercepat goyangannya. “Euummhh,“ gumam Yoga saat adiknya mulai berkedut di dalam sana. “AAAHHHHHH,“ Yoga akhirnya menyemburkan cairan putih itu di dalam sana. Tubuh Juan pun ambruk di atas tubuh Yoga.
Permainan belum selesai. Juan rebahan dengan badan miring ke samping. Yoga mengangkat kaki Juan lalu meletakkannya di pundak. Yoga kembali memasukkan adiknya ke dalam lubang itu dan kali ini hentakkannya lebih cepat dan dalam. “Ah ah ah ah mahs pelan-pelan mas uh uh uh maaaaahhhss,“
Keesokan harinya Juan dan Yoga memutuskan untuk jalan-jalan seperti pasangan pada umumnya. Keduanya mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah. Sebuah taman yang sangat terkenal sekali di Jakarta.
Keduanya berjalan sambil berpegangan tangan. Sesekali Juan melingkarkan tangannya di pinggul Yoga. Keduanya pun berselfie ria, mengabadikan momen bersama dimanapun dan kapanpun. “Eh, tunggu dulu, tadi malem direkam nggak?“ ucap Yoga menoleh pada Juan.
“Hm? Apanya?“ seru Juan tidak mengerti maksud Yoga sama sekali. Juan malah asyik menikmati es krim rasa coklat yang ia beli tadi. “Itu.. Pas kita maen tadi malem.. Pasti lupa deh?“ ucap Yoga. “Hah?“ gumam Juan. Duh, mati gue, batin Juan. Juan lupa merekam kegiatan mesra bersama tadi malam. Juan dan Yoga pasangan yang aneh, bukan?
Mereka biasa merekam aktivitas ranjang keduanya sendiri. Hm, bisa dibilang ini sebagai evaluasi saja, karna kerap kali mereka mencoba gaya-gaya baru ketika bermesraan di atas ranjang. “Udah dikasih tau juga tiap hari tiap waktu masih aja lupa,“ protes Yoga. Yoga merajuk. Ia berjalan sendirian lebih dulu. "Sayang? Mas? Mas Yoga sayang? Dengerin aku dulu mas~“ seru Juan mengejar Yoga yang jalannya cepat sekali.
Dari kejauhan Naila melihat seorang pria mirip Juan. Hm, Juan?, batin Naila. “Gue kesana bentar yah?“ ucap Naila pada beberapa temannya. Juan terlihat mengejar-ngejar seorang pria. Tibalah Naila di sebuah anjungan daerah, rumah adat Bengkulu, Bubungan Lima.
Naila menyembunyikan diri di balik tiang rumah adat tersebut. Itu benaran Juan, seru Naila dalam hati. Juan terlihat bertengkar dengan seorang pria dewasa. Siapa pria itu? Mengapa keduanya bertengkar seperti keduanya adalah sepasang kekasih saja?
“Mas,“ seru Juan. Yoga membuang muka. Ini sudah kesekian kalinya Juan lupa. “Kamu tau nggak kenapa aku lupa mulu? Mas.. Coba liat aku sini coba, hm?“ ucap Juan. Juan semakin dibuat gemas. Ia pun meraih pinggul Yoga sehingga kini keduanya berhimpitan. Naila di balik tiang sana membolakan mata. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Juan~ Lepasin~“ ucap Yoga. Juan pun mengecup bibir Yoga. Kontan Yoga pun memukul dada Juan pelan. “Diliatin orang Juan~ Malu ih,“ protes Yoga. “Nggak sayang~“ ucap Juan tersenyum lalu kembali mengecup bibir sang kekasih. Kedua mata Naila langsung terbuka lebar. Pemandangan apa ini?
“Juan..“ seru Naila dengan mata berkaca-kaca. “Naila?“ Juan kaget bukan main. Bagaimana bisa Naila ada disitu? “Gu-gue nggak nyangka kalo lu.. Kalo lu..“ ucap Naila. Naila lun berlari tak tentu arah. “Nai!“ seru Juan berteriak. “Dia siapa?“ tanya Yoga. “Temen kuliah mas,“ sahut Juan. Juan merasa tidak enak hati membiarkan Naila melihat dirinya tengah bermesraan dengan seorang pria. Pasti hati Naila amat sangat terluka.
“Kamu mau ngejer dia?“
“Nggak mas,“
Juan lebih memilih membiarkan Naila pergi begitu saja. Juan tidak mengejar Naila karna ia tidak ingin Naila semakin salah paham. Nanti saja membicarakan hal ini kalau keduanya bertemu di kampus. “Dia suka sama aku mas,“
“Trus kamu terima?“ ucap Yoga. Juan pun menatap Yoga lamat-lamat. Lalu, Juan pun tersenyum manis, “Ngapain? Kan udah punya mas?“ ucap Juan membuat kedua pipi Yoga memerah. Huh, dasar, batin Yoga. “Jangan ngambek lagi~“ ucap Juan.
Saat Juan dan Yoga menjelajahi wahana istana anak-anak, terbesit di pikiran Yoga untuk mengadopsi seorang anak. “Sayang,“ seru Yoga. “Hm?“ sahut Juan. “Kalo kita ngadopsi anak gimana??“ tanya Yoga tiba-tiba. Kontan kedua alis Juan saling bertautan.
__ADS_1
Juan menghela nafas. “Nggak mau?“ tanya Yoga mendadak murung lagi. Yoga itu tipikal pria yang suka sekali merajuk. Jadi, Juan benar-benar harus ekstra sabar. Setiap pasangan tentu memiliki kekurangan masing-masing, kan? “Sayang.. Bukannya aku nggak mau.. Tapi, posisinya kamu sama istri kamu belum cere, kan? Kita juga belum nikah? Aku itu mau kita punya anak di saat kita udah nikah nanti sayang~“
Benar juga apa kata Juan. Bagaimana penilaian orang nanti kalau keduanya mempunyai seorang anak, padahal Yoga sendiri masih terikat hubungan suami istri? Yah, meskipun faktanya mereka sendiri sudah memiliki jalan yang berbeda pula.