
Dua pria itu memasang kuda kuda berpedang,sedangkan Anclois hanya berdiri tegak dan fokus melihat kedepan.
Dua pria itu maju dengan cepat dan mengayunkan pedangnya ke bawah dengan melompat ke Anclois.
Anclois hanya diam,saat pedang itu mendekati dirinya,dengan tangan kosong dia menahan pedang itu.
Tanpa tanganya terluka,Anclois mampu meletakkan pedang itu dan mengancurkanya.
Saat bagian ujung pedang itu hancur,Anclois melepaskan pegangan di pedang itu lalu mundur kebelakang.
"Terimalah tinjuku yang akan membuat perut mu sakit berminggu minggu"
Aura keemasan muncul di kepalan tangan Anclois,dia maju seperti kilat dan menghantam dua pria itu di bagian perut hingga zirahnya hancur.
Terlihat kain pakaian yang mereka kenakan juga robek dan meninggalkan bekas pukulan di perut.
Mereka terlempar naik ke atas hingga keluar banyak darah dari mulut mereka.
Godrina pun menutupi mata Orvina saat Anclois memukul mereka berdua Dengan berkata pada adik angkatnya.
"Jangan dilihat,itu sangat mengerikkan"
Orvina pun hanya terdiam mendengar suara teriakan Anclois saat setelah memukul mereka.
"Pergilah kau sialan!!"
Anclois pun terbang memasuki perpustakaan lewat jendela dan lanjut membaca buku lagi.
Orvina dan Godrina mendekati Anclois dan mengujinya.
Anclois hanya tersenyum dan terlihat penuh harga diri menyuruh mereka untuk diam dan melanjutkan membaca buku.
Beralih ke Alviers yang ada di ruangan pribadinya sedang membaca informasi yang dikirim oleh Lodgas.
Alviers melihat denah yang digambar dengan teknik yang bagus,Alviers melihat disana terdapat rumah besar yang dihuni oleh keluarga utama
Lalu ada sebuah istana kecil dengan menara tinggi,tempat untuk empat penatua dan para penegak hukum keluarga.
Dan juga lima kediaman keluarga Vassal serta empat pos pertahanan dan menara pengintaian di empat arah kediaman.
Lalu Fermund membuka catatan tentang identitas orang orang itu,setelah Alviers melihat semua catatan identitas itu,dia sudah menemukan dalangnya,yakni sang patriark.
__ADS_1
Saat Alviers membuka buka beberapa kertas itu,mencari sesiatu yang lain,terdapat gulungan yang diikat oleh pita diantara kertas itu.
Alviers membukanya dan dia membaca informasi tentang dirinya.
"Penyelidikan untuk menemukan orang misterius?,apa mereka benar benar akan mencari semua anggota Chaos Servant yang membasmi kultus?" Kata Alviers
Saat dia merapihkan dan menumpuk kertas berisi informasi itu,Vasnela masuk dan mengantar seorang pria untuk bertemu dengan Alviers.
"Tuanku,ada yang ingin bertemu" kata Vasnela
Seketika dari pintu datang pria berziarah merah dengan pedang hitam besar di punggungnya.
"Tuanku,aku menghadap kepadamu"
Alviers pun mengenalinya dan berkata "Kau salah satu orang dari empat kuda hitam Chaos Servant"
Pria itu menunduk dan tersenyum mendengar tuanya yang mengenali dirinya.
"Katakan padaku,kenapa kau kemari"
Pria itu pun menjelaskan Anclois yang menyerang dua bawahannya.
Dan dia ingin membalas kekalahannya dengan mengadakan pertandingan adil sesuai izin sage agung,karena Anclois adalah ibu kandung dari anak angkat Alviers.
"Dan kalian berdua akan bertarung di arena ibukota dengan pertarungan yang jujur dan adil."
Alviers menatap Vasnela dan berkata "siapkan arena ibukota untuk pertarungan,dan beritajan semua rakyat untuk menonton pertarungan mereka berdua"
Vasnela menunduk dan pergi,sementara pria itu berterima kasih dan undur diri setelahnya.
Alviers berdiri dari kursinya dan berjalan jalan sambil menemukan putrinya yang selalu bersama Godrina.
Dia berteleportasi ke perpustakaan dan melihat mereka membaca dengan tenang.
Suara langkah kaki Alviers terdengar dan mereka yang mendengarnya langsung menoleh melihatnya.
"Sage agung,kenapa anda berada disini?" Tanya Anclois
Alviers mendekat Anclois dan berkata "besok kau akan ditantang bertarung dengan pria berzirah merah"
Anclois pun teringat akan dua pria berzirah merah yang baru saja dibayarnya.
__ADS_1
"Dia menantangmu karena sua bawahanya,dia hendak membalas kekalahan bawahanya dengan bertarung denganmu"
Anclois pun mengepalkan tangan dan bersemangat.
"Bailkah sage agung,akan kuhantam perutnya juga seperti dua bawahanya tadi"
"Biarkan dia tahu jika melawanku,hanya ada kekalahan bagi mereka"
Alviers mengangguk angguk sembari tersenyum lalu berkata "bagus,baguus"
Orvina pun menghampiri ayahnya,dia hendak mengatakan sesuatu pada ayahnya.
Alviers pun menggendongnya dan mengizinkan dia mengatakan sesuatu.
"Ayah,bibi hanya kesal dengan dua orang yang nakal itu,mereka mengganggu waktu tenang bibi untuk membaca buku dan berani tidak sopan pada bibi saat bibi bertanya baik baik kepada mereka"
Alviers yang mendengar putrinya pun berkata "putriku,mereka memang salah,namun mereka juga ksatria yang menanggung malu karena dikalahkan oleh wanita"
Anclois pun mendekatinya Orvina yang sedang digendong oleh Alviers,dia pun menjrlaskan sesuatu pada Orvina
"Tuan putri kecilku,ayahmu benar,mereka bisa meminta maaf untuk kesalahan mereka,namun mereka juga punya harga diri"
Orvina pun tak paham dengan kata harga diri,dia pun bertanya soal itu.
"Ayaah,apa itu harga diri?"
Alviers membalas pertanyaan putrinya "mungkin jika kamu sudah bertumbuh besar,maka kamu pasti tahu apa itu harga diri"
Orvina pun hanya terdiam dalam gendongan ayahnya,lalu Anclois tersenyum padanya dan melanjutkan membaca buku.
Alviers juga menurunkannya dan menyuruhnya bermain dengan kakak angkatnya.
Sementara itu di ibukota kekaisaran,empat penguasa negara hadir dan berkumpul bersama membicarakan informasi mengenai ornganisasi tujuh bintang itu.
Sekarang kaisar berjalan me depan dan melihat tiga kereta kuda beserta prajurit pengawal yang menjaga mereka.
Sri paus,raja serta pangeran itu turun dari kuda dan berjalan maju bersama dia pengawalnya.
"Aku,Vortus Nerail,kaisar kesembilan dari kekaisaran Thorenvis,menyambut kalian semua"
Kaisar itu berdiri di depan pintu masuk istananya menyambut tiga sekutunya dengan tangan yang terangkat direntangkan.
__ADS_1
Sri paus itu datang bersama dua ksatria putih undan berkata "terimakasih atas sambutanmu kaisar,kami sudah datang"
Raja Bauthismor dan pangeran Arinfred yang berada di belakang sri paus tersenyum pada kaisar.