
Mirza dan Lila segera masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada kedua orang tua Lila yang pagi ini menyambut hangat kedatangan Mirza, putra daddy Rehan yang terkenal playboy itu kemudian segera melajukan mobil meninggalkan halaman kediaman Om Devan.
"La, apa yang akan kamu ceritakan tadi ada hubungannya dengan putra teman papa kamu?" tanya Mirza setelah beberapa saat mobil sport miliknya melaju membelah jalanan beraspal yang padat di ibukota.
Lila mengangguk sembari memutar leher ke kanan, menatap Mirza. "Iya, Za. Namanya Ronald," balas Lila dengan mengatakan yang sebenarnya.
"Kenapa dengan Ronald?" tanya Mirza penasaran.
"Nanti siang, dia ngajakin Lila nonton," balas Lila yang masih menoleh ke arah Mirza.
Mirza nampak berpikir serius.
"Lila bersedia, tetapi dengan mengajukan syarat untuk ngajakin kalian semua," lanjut Lila.
Mirza mengangguk-angguk. "Bagus itu, La. Jangan sampai kejadian seperti dua tahun yang lalu itu terulang," balas Mirza. "Bioskop itu bisa jadi tempat yang menyenangkan bagi keluarga untuk mencari hiburan tetapi tak jarang, bioskop juga dimanfaatkan oleh pasangan kekasih untuk berbuat mesum," imbuh Mirza.
Lila mengangguk membenarkan.
"Ya udah, kamu ๐ด๐ฉare aja di group kita biar bang Attar dan Nezia juga bersiap," saran Mirza.
Lila patuh, gadis cantik berhijab biru laut motif polkadot itu segera menuliskan sesuatu di group chat gengnya. "Assalamu'alaikum, ๐ฆ๐ท๐ฆ๐ณ๐บ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐บ. Nanti siang usai urusan di kampus, temani Lila nonton, ya? Cowok yang semalam dikenalkan papa sama Lila, ngajakin nonton."
Baru beberapa detik mengirimkan pesan, Nezia langsung menanggapi. "La, beneran kamu mau kencang sama cowok yang baru saja kamu kenal?"
"Iya," balas Lila singkat padat dan jelas.
"Ih, enggak banget sih kamu! Kami-kami 'kan, berharapnya kamu sama bang Mirza!" protes Nezia.
Lila tersenyum membaca tulisan Nezia. 'Sepertinya, aku juga mulai berharap begitu, Nez,' batin Lila, gadis berhijab itu kemudian memutar bola matanya ke kanan, melirik Mirza.
"Betul tuh, apa yang dikatakan Inez," timpal Attar yang baru saja bergabung.
Lila semakin lebar mengembangkan senyumnya.
"Nih si bang Mirza-nya mana lagi, kok enggak nongol-nongol?" tanya Nezia.
"Udah berangkat kali, tadi 'kan dia telepon abang katanya mau jemput Lila dulu," balas Attar.
Lila langsung menjawab. "Iya, dia lagi nyetir. Kami udah berangkat ke kampus."
"Kok senyum-senyum dari tadi, ada apa, La? Bang Attar dan Nezia udah baca?" tanya Mirza yang keheranan saat melirik gadis di sampingnya dan melihat Lila senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Eh, i-iya, Za. Mereka sudah baca kok, nanti bisa kamu lihat sendiri di group chat," balas Lila yang tiba-tiba menjadi gugup. Lila kemudian menyimpan kembali ponselnya di dalam tas.
Mirza mengambil ponsel miliknya dengan tangan kiri dan kemudian memberikan pada Lila, "tolong bacain, Mirza 'kan lagi nyetir," pinta Mirza yang membuat kening Lila mengernyit dalam.
"Baca nanti sajalah," tolak Lila seraya menepis pelan tangan Mirza yang menyodorkan ponsel.
Mirza memasukkan kembali ponsel ke dalam saku baju. "Kalau gitu, bacain aja dari ponsel kamu. Isinya sama, kan?" pinta dan tanya Mirza seraya tersenyum menggoda, sebab Mirza udah bisa menebak, pasti kedua saudaranya itu membahas tentang dirinya dan Lila.
"Iya, iya. Lila bacain," balas Lila akhirnya mengalah. Lila kemudian mengambil kembali ponsel yang telah ia masukkan ke dalam tas dan membacakan dari awal chat di group gengnya barusan untuk Mirza.
Mirza tersenyum melihat Lila begitu patuh padanya. "Benar-benar calon Ibu Suri yang baik dan baginda raja tak perlu lagi mencari permaisuri di luaran sana," gumam Mirza lirih yang hampir tak terdengar oleh rungu Lila.
Lila buru-buru menutup ponsel dan membuang pandangan ke arah jendela kaca mobil untuk melihat keluar, agar Mirza tak melihat seulas senyuman yang terkembang manis di bibir tipisnya.
Meski samar, Lila masih bisa mendengar dengan jelas tadi apa yang diucapkan Mirza dan itu membuat hati Lila berbunga-bunga.
Tak berapa lama, mobil sport mewah yang dikendarai Mirza memasuki area kampus. Pemuda yang banyak digandrungi oleh cewek-cewek di kampus itu mengedarkan pandangan, mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobilnya.
Setelah mendapatkan tempat parkir dan memarkirkan mobil dengan benar, Mirza segera turun yang diikuti oleh Lila. Mereka berdua berjalan bersisihan menuju gedung rektorat karena keduanya kebetulan memiliki tujuan yang sama.
๐ธ๐ธ๐ธ
Lila yang memang sudah menunggu kedatangan Ronald segera masuk ke dalam mobil pemuda yang baru dikenalnya semalam, setelah memberikan kode pada Mirza dan sahabat yang lain untuk segera mengikuti mobil Ronald.
Mirza yang memang selalu siaga jika ada sahabat wanitanya jalan bareng sama seorang laki-laki, apalagi kali ini sahabat itu adalah Lila, dengan sigap langsung memacu mobilnya mengikuti mobil Ronald yang membawa Ibu Suri Mirza.
Attar juga segera melajukan mobilnya, mengikuti dari belakang bersama Nezia.
Ketiga mobil mewah tersebut melaju beriringan, memecah jalanan padat ibu kota. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, mereka tiba di gedung bioskop yang mereka tuju. Gedung bioskop yang berada di kawasan Mall terbesar di pusat kota Jakarta.
Ronald yang sampai terlebih dahulu, segera turun dan kemudian berlari kecil memutari mobil hendak membukakan pintu untuk Lila, tetapi gadis cantik itu keburu turun terlebih dahulu.
Lila tak ingin memberikan harapan lebih pada Ronald karena kini, ia telah yakin hatinya berlabuh kemana.
Namun, Lila juga harus tetap bersikap baik, meski ia tahu Ronald bukan tipe pemuda baik-baik. Hal itu semata demi untuk menjaga hubungan baik antara sang papa dengan orang tua Ronald.
Ronald nampak sedikit kecewa, terlebih ketika ia hendak menggandeng tangan Lila untuk memasuki bangunan bertingkat di hadapannya, tetapi Lila lebih memilih bergandengan tangan dengan Nezia.
Ronald mencoba untuk tersenyum dan tetap bersikap baik, sesuai nasehat sang papa dan juga neneknya.
"Son, cewek Indonesia itu beda sama cewek-cewek di negara kita. Jaga sikapmu dan tekan egomu, jika kamu benar-benar ingin bisa mendapatkan hati putrinya Om Devan," nasehat Om Rusman pada putranya.
__ADS_1
"Benar apa kata papamu, kamu juga harus memiliki stok sabar yang banyak jika ingin menaklukkan gadis di sini. Mereka itu jinak-jinak Merpati, agak susah untuk di dekati," timpal sang nenek.
Ronald tersenyum mengingat pesan kedua orang tua berbeda generasi tersebut, dalam hati ia membenarkan. 'Lila memang lain, dia beda sama cewek-cewek di sana,' gumam Ronald dalam hati, sambil berjalan mengekor langkah Lila dan Nezia menuju resto karena mereka hendak makan siang terlebih dahulu.
Sementara Mirza yang siaga penuh, berjalan bersama Attar di belakang Ronald. Kedua pemuda itu pun berjalan dalam diam dan tak ingin menjalin komunikasi terlebih dahulu dengan Ronald.
Mereka berlima segera memesan makanan sesuai selera masing-masing, setelah mendapatkan tempat duduk di sudut yang menghadap ke taman bermain anak.
Ya, mereka makan di restoran cepat saji yang bersebelahan dengan wahana permainan anak.
Ronald yang duduk di bangku tepat di sebelah Lila berbisik. "Nanti jika kita udah menikah, kamu maunya kita punya anak berapa, Cantik?"
Lila sekilas menoleh ke arah Ronald, gadis itu mengernyitkan kening dengan dalam. "Kejauhan itu, Bang. Aku belum berpikir ke arah sana," balas Lila yang juga berbisik.
"Harus mulai dipikirkan, Cantik. Bukankah kita akan segera menikah?" pinta dan tanya Ronald penuh penegasan.
Mereka berdua masih berbicara dengan berbisik.
Lila menggeleng. "Aku enggak mau terburu-buru, kita belum saling mengenal," tolak Lila.
Ronald menghela napas panjang, petuah sang papa dan neneknya kembali terngiang. 'Sabar Ronald, pada saatnya nanti gadis ini akan bertekuk lutut dan mengemis untuk kamu nikahi.' Pemuda blasteran itu tersenyum ๐ด๐ฎ๐ช๐ณ๐ฌ, terlintas rencana di benaknya untuk mewujudkan keinginan memiliki Lila.
"Tetapi orang tua kita telah sepakat, bulan depan kita akan bertunangan!" tegas Ronald.
"Yang sudah menikah saja bisa bercerai, apalagi kita yang baru mau bertunangan. Bisa saja 'kan, batal di tengah jalan?" balas Lila yang juga penuh penegasan.
Mirza yang sedari tadi melirik ke arah mereka berdua berdeham, membuat Lila segera menggeser bangkunya sedikit menjauh dari Ronald.
Ronald kemudian menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Cemburu, ya?" ledek Attar dengan berbisik pada sang keponakan yang terlihat tak seperti biasa.
"Biasa aja," balas Mirza pura-pura santai, menutupi perasaan yang sebenarnya.
"Alah, masih aja kamu tutup-tutupi. Udah lah, Za. Kami semua udah tahu kali, kalau sikap dan perhatian kamu sama Lila tuh beda sama yang lain," cibir Attar, masih dengan berbisik.
Mirza meneguk minuman dinginnya, untuk mendinginkan hati yang mulai terbakar api cemburu melihat Ibu Suri berdekatan dengan cowok lain tepat di depan matanya.
'Lila, kenapa kamu duduknya harus dekat-dekat bule kampung itu, sih!' geram Mirza dalam hati.
_____ bersambung _____
__ADS_1