Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Tebar Pesona


__ADS_3

Waktu terus bergulir, hubungan Mirza dan Lila semakin terlihat mesra hingga membuat Iqbal merasa iri karena keinginannya untuk meminang sang kekasih hati, Nirina, yang belum lama ini ia pacari, ditentang oleh sang ayah.


"Bang, jangan nempel-nempel melulu napa!" protes Iqbal, kala ia ikut gabung bersama geng abangnya itu nongkrong di kafe milik Adam.


"Kak Lila 'kan calon istri abang," balas Mirza, "Kenapa memangnya, Bro? Pengin, ya?" tanya Mirza seraya tersenyum menggoda.


"Jangan gitu, Bang," bisik Lila.


"Iya, Sayang. Abang cuma bercanda, kok," balas Mirza yang juga berbisik, membuat Iqbal semakin gemas melihat kedekatan keduanya.


"Kuliah dulu yang benar," lanjut Mirza menasehati. "Udah ada pandangan belum, mau kuliah dimana?" tanya Mirza kemudian.


Iqbal menggeleng. "Masih bingung, Bang. Kemarin ada tawaran beasiswa dari Australia dan dari sini juga ada dua, tapi Iqbal masih bingung mau pilih yang mana," balas Iqbal.


"Katanya, mau ikut kemana Nirina kuliah?" tanya Nezia mengingatkan.


"Iya, sih. Dia rencana di kampus Pelita, bareng sama Kak Maida dan Kak Mayra," balas Iqbal.


"Ya udah, kamu ikut aja ke Pelita. Di sana juga bagus kok, jurusan arsiteknya. Sekalian kamu jaga kedua kakakmu itu, Bro," saran Mirza.


"Hem, bener tuh. Seperti kami berdua yang jagain tiga gadis cantik," timpal Attar.


"Jagain gimana, Bang?" tanya Iqbal seraya cemberut. "Yang ada nih, Iqbal yang dibuat pusing sama ulah mereka berdua. Yang satu centil dan cerewetnya minta ampun, yang satu pendiem tapi kalau udah kasih petuah gak berhenti-henti. Panjang kayak rel kereta api dan gak ada akhir," balas Iqbal panjang lebar.


Perkataan Iqbal membuat mereka semua terkekeh karena Mayra dan Maida, memang dua pribadi yang berbeda.


"Iqbal kadang iri deh, Bang, sama kalian semua. Bang Malik, Kak Malika dan yang lain, persahabatan dan persaudaraannya seru. Bang Mirza dan kalian semuanya, juga sama. Lah Iqbal, apes banget deh kayaknya, masak cuma sama dua kembar itu," gerutu Iqbal.


"Terima nasib aja, Dik," sahut Lili, yang kali ini bisa ikut gabung bersama gengnya karena sang suami sedang ada acara ke luar kota.


"Kak Lili, ih. Enggak 𝘧𝘳𝘪𝘦𝘯𝘥 banget, sih!" protes Iqbal.


"Udah, enggak usah cemberut gitu. Besok sekolah masuk agak siang, 'kan? Mau enggak, bobok tempat kakak? Temani kakak gitu, biar kakak enggak kesepian," pinta Lili.


"Mau-mau, Kak," balas Iqbal dengan penuh semangat karena Lili suka royal pada Iqbal.


"Wah, kita juga mau, dong," pinta Nezia. "Bang, kita nginep di rumah Lili ramai-ramai, yuk!" ajak Nezia pada Attar dan Mirza.


"Boleh-boleh, nostalgia kita. Sudah lama 'kan, kita enggak nginep di sana," balas Attar.


"Bang Mirza, mau 'kan?" tanya Nezia.


Mirza menoleh ke arah Lila.


"Jangan tanya Bang Mirza, tanyanya pada Kak Lila. Kalau Kak Lila mau, pasti Bang Mirza langsung oke. Bang Mirza 'kan pengikut aliran bucin," sindir Iqbal seraya melirik Mirza.


Mirza hanya tersenyum.

__ADS_1


"Kakakku tersayang pasti mau, dong. Kak Lila 'kan kangen sama Naya," ucap Lili.


Lila mengangguk setuju.


"𝘠𝘦𝘴, ramai-ramai kita," ucap Lili dengan senang. "Yuk, cabut! Aku mau belanja dulu untuk 𝘱𝘢𝘳𝘵𝘺 nanti malam," lanjut Lili yang langsung beranjak.


"Kalian duluan aja, deh. Nanti kami berdua nyusul," tolak Mirza yang masih ingin berduaan dengan Lila.


"Bang, enggak enak, ah! Kita 'kan datang kesini sama-sama, masak iya keluarnya enggak barengan," protes Lila.


"Udah, enggak apa-apa Kakakku Sayang," ucap Lili penuh pengertian.


"Kami juga mau belanja dulu, nanti kalian langsung ke rumah, ya," pinta Lili.


"Siip," balas Mirza singkat.


Mereka berempat segera berlalu meninggalkan Mirza dan Lila, yang masih ingin menikmati kebersamaan hanya berdua saja.


"Sayang, mau nambah minum enggak?" tawar Mirza.


"Boleh, Bang. Jus sirsak aja, pengin yang seger-seger," balas Lila.


Mirza segera memanggil 𝘸𝘢𝘪𝘵𝘦𝘳𝘴 dan memesan dua jus buah untuk mereka berdua.


"Sayang, aku ke toilet bentar ya," pamit Mirza, yang segera berlalu meninggalkan Lila seorang diri.


Mirza bukannya ke toilet, tetapi ia berjalan menuju panggung tempat 𝘩𝘰𝘮𝘦 𝘣𝘢𝘯𝘥 kafe tersebut mempersembahkan lagu-lagu cinta nan romantis untuk para pengunjung kafe.


Terdengar intro sebuah lagu yang sangat familiar, lagu romantis yang dinyanyikan oleh Tiara Andini bersama Arsy Widianto. Lagu yang berjudul 'Cintanya Aku' yang diciptakan oleh ayah dari sang vokalis Arsy Widianto yaitu Yovie Widianto, seorang pianis sekaligus musikus handal tanah air.


'Tergetar aku tepat di hadapanmu


Debar jantungku berdetak saat kugenggam tanganmu


Beruntung aku kini dapatkan cintamu


Yang tercantik di hatiku sejak awal ku bertemu'


Usai menyanyikan satu bait lagu tersebut, Mirza menghampiri meja Lila yang nampak tersenyum bahagia mendengar lagu tersebut dinyanyikan oleh sang pujaan hati untuk dirinya.


"Ayo, nyanyi!" ajak Mirza yang menggandeng tangan Lila menuju panggung.


Mau tak mau, Lila pun ikut bernyanyi karena lagu tersebut memang dinyanyikan secara 𝘥𝘶𝘦𝘵.


'Janji padaku jangan kau lukai


Hati seperti kisah yang lalu'

__ADS_1


Suara Lila yang menyanyikan sebait pendek dari lagu tersebut, terdengar merdu. Membuat Mirza tersenyum seraya menatap mesra Lila. Mirza kemudian kembali bernyanyi.


'Kau bukan cinta pertamaku


Namun aku berharap


Mulai hari ini saat ini


Engkau cintanya aku'


'Yang kurasakan denganmu semua berbeda


Kekasih yang baik hati kini ada di sampingku'


'Janji padaku jangan ada lagi


Hati yang lain selain aku'


'Kau bukan cinta pertamaku


Namun aku berharap


Mulai hari ini saat ini


Engkau cintanya aku'


'Jangan pernah ragukan kesetiaan hatiku


Ku tak inginkan bila ini terbagi cinta'


'Engkau cintanya aku'


Mereka berdua menyanyikan lagu duet tersebut dengan apik, hingga membuat semua pengunjung bertepuk tangan.


Lila tersenyum malu. "Udah, ah. Yuk, turun!" ajak Lila.


Tiba-tiba ada seorang gadis yang naik ke panggung sambil memberikan sekuntum bunga pada Mirza. "Mas, kalau Masnya udah putus sama Mbak yang itu, aku mau kok, jadi pacarnya Mas," ucap gadis itu terang-terangan yang langsung mendapatkan sorakan dari pengunjung yang masih melihat ke arah panggung.


Sementara Lila langsung menatap Mirza. "Ayo, turun!" ajaknya. "Atau masih mau tebar pesona sama gadis-gadis itu!" Tatapan Lila begitu tajam.


Mirza malah tersenyum, ia terlihat senang dan sangat menikmati kecemburuan Lila. "Kamu makin menggemaskan kalau sedang cemburu seperti ini, Sayang," bisik Mirza yang sudah berada di dekat Lila.


"Mana ada, orang cemburu menggemaskan!" Lila cemberut. "Lagian, Lila enggak cemburu, kok," sangkal Lila.


Mirza semakin terkekeh senang.


_____ bersambung _____

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


Sabar ya, Lila ... Bang Mirza bukan tebar pesona tapi memang sudah mempesona dari sananya ☺


__ADS_2