
Malam telah terlewat dan berganti dengan fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur, kedua insan yang baru saja menikah itu masih asyik bergelut di bawah selimut yang tebal sejak tengah malam tadi.
Suara ******* manja sang wanita, terdengar begitu merdu di telinga sang suami hingga membuat pemuda berwajah blasteran dengan netra kebiruan yang menawan itu semakin bersemangat mencumbui istri cantiknya.
Entah ini untuk yang ke berapa kalinya, lenguhan panjang keduanya mengakhiri sesi percintaan mereka berdua yang panas membara.
Keringat membasahi tubuh polos keduanya, meski diluar sana angin fajar berhembus begitu dingin dan menusuk tulang. Tetapi, di dalam kamar yang berpendingin udara itu suasana begitu panas.
Mirza mencium kening sang istri dengan lembut. "π ππ°π·π¦ π π°πΆ, Sayang," bisik Mirza di telinga Lila, membuat wanita cantik yang masih berada di bawah kungkungannya itu tersenyum manis.
"Terimakasih suamiku, aku bahagia banget," ucap Lila dengan netra berbinar.
"Mau tidur dulu?" tanya Mirza.
Lila menggeleng. "Mandi, yuk!" ajak Lila. "Bentar lagi shubuh, enggak enak sama yang lain kalau kita enggak ikut sholat berjama'ah," ucap Lila.
"Enggak apa-apa, Sayang. Mereka pasti bisa ngerti," balas Mirza.
"Kita tidur nanti saja, Bang. Kalau udah sholat shubuh," rengek Lila, kala Mirza malah menjatuhkan tubuhnya dan berbaring di samping tubuh polos Lila.
"Iya, bentar, Sayang. Lima menit," tawar Mirza yang sepertinya kelelahan karena langsung lembur sampai shubuh menjelang.
"Abang sih, udah dibilangin juga rehat dulu. Malah diterus-terusin!" gerutu Lila.
"Habisnya enak sih, Sayang. Kamu juga menrengek minta terus," ledek Mirza seraya terkekeh kecil, sambil memiringkan tubuh menghadap Lila.
Mirza terus memandangi wajah istrinya itu, yang jika dipandang akan merona merah karena merasa malu.
"Eh, enggak ada, ya! Lila enggak minta, kok. Lila cuma bilang cepat, biar Abang cepat selesai," kilah Lila seraya mengerucutkan bibir.
__ADS_1
Membuat Mirza yang sedang menatapnya langsung beringsut dan kembali menyambar bibir tipis nan manis milik sang istri, bibir yang sudah sangat lama ingin ia rasakan. Kini, Mirza telah bebas untuk menikmatinya kapanpun ia mau seperti sekarang ini.
"Abang, udah ah ... ayo, mandi!" Lila segera beringsut begitu Mirza melepaskan ciumannya. Ia masih menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
Baru saja Lila hendak melangkah, ia menjerit kecil. "Aw, sakit!" Lila meringis merasakan ngilu di area intinya.
Mirza buru-buru bangun, membuka selimut yang menutupi tubuh sang istri dan kemudian membopong tubuh ramping Lila menuju kamar mandi.
"Kenapa selimutnya dilepas, Bang. Lila malu!" rajuk Lila seraya menyembunyikan wajah di dada bidang sang suami.
Mirza mendudukkan sang istri di atas closet. "Kenapa mesti malu, Sayang?" tanya Mirza dengan senyumnya yang menggoda. "Aku bahkan sudah melihat dan menyentuh semuanya," goda Mirza.
Lila cemberut. "Udah, Abang keluar dulu sana. Lila mau mandi," usir Lila sambil mendekap dada untuk menyembunyikan assetnya yang telah penuh dengan tanda merah, hasil kreasi Mirza semalam suntuk.
"Kita mandi bersama aja, biar cepat. Tuh, udah terdengar adzan," ucap Mirza yang langsung menghidupkan shower.
Keduanya pun kemudian mandi bersama.
Usai mandi, Mirza segera mengenakan baju koko yang telah disiapkan oleh Lila, lengkap dengan sarung dan peci hitam yang bertengger di kepala.
Lila yang baru selesai mengenakan mukena, terpesona menatap sang suami yang wajahnya terlihat segar dan semakin menawan.
"Ada apa, Sayang? Apa aku sangat tampan?" tanya Mirza penuh percaya diri.
Lila tersenyum seraya menggelengkan kepala. "Percaya diri sekali ya, suamiku ini," ucap Lila.
Mirza terkekeh dan kemudian mengusap puncak kepala sang istri yang telah tertutup mukena.
"Ayo, Cantik! Ke musholla sekarang," ajak Mirza.
__ADS_1
Mirza dan Lila bergegas menuju musholla keluarga di halaman belakang, setibanya di sana semua keluarga sudah berkumpul untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah.
Semua masih berkumpul lengkap, termasuk kedua orang tua Lila.
"Cie, Bang Mirza rambutnya basah," celetuk Iqbal ketika Lila dan Mirza lewat di depan remaja ganteng itu. Membuat semua yang berada di sana, tersenyum.
Wajah Lila langsung merona merah, sementara Mirza tersenyum dengan bangganya.
"Mas Iqbal," tegur sang ayah yang kali ini nampak kalem.
"Cetak berapa gol, Bang?" bisik Iqbal bertanya, rupanya ia masih penasaran.
"Kepo ...." jawab Attar mewakili Mirza, seraya menjitak pelan kening sang keponakan.
"Ih, Bang Attar enggak asyik banget, sih!" gerutu Iqbal.
"Mas, Iqomah. Buruan!" seru sang ayah, kala kakek Ilyas telah bersiap di tempat imam.
Iqbal segera melafadzkan iqomah sebagai penanda bahwa sholat shubuh berjamaah akan dimulai.
Usai sholat shubuh, Mirza segera menggamit sang istri dan membawanya kembali ke dalam kamar pengantin.
Mirza tak perduli, meski Iqbal, Lili, maupun Nezia, mengharapkan agar mereka berdua bisa bergabung bersama saudara yang lain di lantai atas.
"Abang mau main bola, lagi ya?" tanya Iqbal sebelum Mirza menutup pintu kamarnya.
"Ya iyalah, 'kan lagi musim Piala Dunia, Bro," balas Mirza seraya tergelak dan langsung mengunci pintu kamarnya.
πΈπΈπΈπΈπΈ Gooool... π₯°π₯°π₯°
__ADS_1
"