
"Sepertinya, mereka berdua sudah tidak sabar untuk saling memiliki seutuhnya." Opa Alvian kembali mencetuskan gagasan.
"Bang! Jangan memancing keributan dalam rumah tangga kami!" protes Daddy Rehan dan Om Devan dengan kompak karena gara-gara ide Opa Alvian tadi sore, mereka berdua kena semprot istri masing-masing.
Sementara Mirza mengangguk dengan penuh semangat.
Lila hanya sekilas menoleh pada Mirza, sambil menggeleng pelan. Gadis itu kemudian duduk di samping sang mama, yang berhadapan dengan Mirza.
"Bang, tidakkah Bang Mirza ingin mewujudkan pernikahan yang sempurna untuk calon istri Abang?" bisik Daddy Rehan, bertanya pada sang putra.
"Tentu saja Mirza mau, Dad," balas Mirza. "Mirza ingin, pernikahan kami nanti berkesan untuk kami berdua, khususnya untuk Lila," imbuhnya seraya menatap sang daddy.
"Kalau begitu, tidak perlu buru-buru. Bang Mirza bisa mempersiapkan dengan matang, mulai dari sekarang," pungkas Daddy Rehan, yang dibenarkan oleh Mommy Billa dengan mengangguk.
"Benar, Bang Mirza. Pernikahan itu kalau bisa sekali seumur hidup, maka Bang Mirza harus mempersiapkannya dengan matang," timpal Mommy Billa.
"Padahal dulu, pernikahan kita juga dadakan ya, Mom. Tapi sangat berkesan, bukan?" bisik Daddy Rehan, yang membuat Mommy Billa cemberut.
"Daddy sih, enggak kira-kira kasih kejutannya. Bilangnya cuma mau silaturahim, tapi malah langsung menikahi mommy," protes Mommy Billa, pura-pura merajuk.
"Ehm ...," suara dehaman Kakek Ilyas, selaku sesepuh dari keluarga Mirza menghentikan bisik-bisik Daddy Rehan dan Mommy Billa.
Kakek berusia senja tetapi masih terlihat bugar itu mulai berbicara dan menjelaskan maksud kedatangan keluarga besarnya, yaitu untuk mengkhitbah Lila.
"Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa antara Nak Mirza dan Nak Lila sudah sejak kecil menjalin hubungan persahabatan. Dan sekarang mereka berdua tengah menjalin hubungan yang lebih serius," sejenak Kakek Ilyas menatap sang cucu.
"Kedatangan kami kemari untuk menemani Mirza, yang hendak meminta restu pada Nak Devan dan Nak Lusi," lanjut Kakek Ilyas.
"Jadi, silahkan biar Mirza, cucu saya itu yang menyampaikan sendiri keinginannya," imbuh Kakek Ilyas, seraya menunjuk Mirza.
Mirza mengangguk, pemuda tampan itu kemudian menatap kedua orang tua Lila seraya tersenyum sopan.
Sebelum mulai berbicara, Mirza juga menatap sang daddy dan Mommy seraya berbisik. "Dad, Mom, restui Mirza untuk mengkhitbah Lila."
Daddy Rehan tak mampu berkata-kata, beliau hanya menepuk pundak Mirza untuk memberikan dukungan.
Sementara sang mommy tersenyum lembut. "Kami pasti merestui niat baik Abang dan akan selalu mendo'akan kebaikan untuk Bang Mirza dan Kak Lila," tutur Mommy Billa.
Mirza menarik napas panjang, menata hati dan pikiran agar lisannya lancar mengucapkan kalimat yang akan ia sampaikan pada kedua orang tua Lila.
"Pa, Ma. Benar, apa yang disampaikan oleh Kakek barusan," ucap Mirza. "Mirza memang berniat untuk mengkhitbah dan akan menikahi Dik Laila Putri secepatnya, untuk itu Mirza memohon restu dari Papa dan Mama," pinta Mirza dengan lancar.
Om Devan nampak mengangguk-anggukkan kepala, sementara Tante Lusi tersenyum bahagia seraya mengelus punggung tangan putrinya.
"Apakah, Papa dan Mama merestui Mirza untuk menikahi Dik Lila?" tanya Mirza kemudian.
__ADS_1
"Bang Mirza, selaku orang tua, tentu kami akan memberikan restu jika itu memang baik untuk putri kami," balas Om Devan.
"Namun, semua papa kembalikan pada Kak Lila," lanjutnya seraya menatap sang putri.
Lila menatap Mirza sekilas dan tersenyum manis, tetapi kemudian buru-buru menunduk.
"Silahkan, Bang Mirza. Sampaikan sendiri keinginan Bang Mirza pada putri papa," titah Om Devan.
"Lila, ini memang bukan yang pertama aku memintamu untuk menjadi istriku. Tetapi di hadapan keluarga besar kita, ijinkan aku untuk meminta kembali." Sejenak Mirza menghentikan ucapannya, ia tatap netra Lila, yang juga tengah menatapnya.
"Laila Putri Devano ... jika mengarungi derasnya waktu selama ini kita berdua mampu, maukah kamu untuk menjadikan kebersamaan ini menjadi selamanya? Maukah kamu menghabiskan sisa usia, bersamaku? Karena aku mencintaimu." Mirza menatap Lila dengan tatapan dalam.
"Be my wife, Laila Putri!" pinta Mirza.
Netra Lila nampak berkaca-kaca, gadis itu merasa sangat bahagia.
Semua yang berada di sana pun turut berbahagia dan salut mendengar pernyataan cinta Mirza, cinta yang diawali dari sebuah persahabatan yang tulus.
Namun, keseriusan dan kebahagiaan tersebut berubah menjadi canda tawa kala Om Ilham nyeletuk.
"Bang Mirza memang jago ngerayu, pantesan aja pacarnya banyak."
"Ham!" sergah Nenek Lin.
Lila melirik Mirza, sementara Mirza hanya bisa mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
Mirza mengerutkan kening. "Opa, kenapa harus ada syarat segala?" bisik Mirza protes.
"Benar Kak Lila, sebaiknya Kak Lila meminta sesuatu sebagai syarat agar Bang Mirza sungguh-sungguh dengan pernikahannya nanti," timpal Om Ilham, yang langsung mendapatkan cubitan dari istrinya.
"Jangan ngajarin yang aneh-aneh, Ham! Kamu pikir, Mirza enggak serius sama, Lila!" semprot Daddy Rehan pada adik iparnya itu.
Om Ilham hanya tersenyum tengil.
"Bang Vian juga, suka sekali memberikan ide yang enggak benar!" protes Daddy Rehan pada Opa Alvian.
Opa Alvian terkekeh pelan.
"Kamu itu lho, Dik! Acara serius kayak gini, masih aja dibuat candaan!" omel Nenek Lin pada adik satu-satunya itu.
"Ilham juga, ngaco saja bicaranya dari tadi!" Nenek Lin menatap tajam pada putra bungsunya.
"Rasain!" ledek Om Alex yang tak ikut-ikutan jadi perusuh, seraya menatap Opa Alvian dan Om Ilham dengan senyuman mengejek.
Daddy Rehan hendak ikut menimpali kembali, tetapi Mommy Billa buru-buru mencegah.
__ADS_1
"Dad ... sudah," bisik Mommy Billa seraya menggeleng.
Hening, sejenak menyapa ruang tamu kediaman keluarga Devano.
"Bagaimana, Kak Lila?" tanya Mommy Billa, mengurai keheningan.
Lila kembali menatap Mirza, gadis cantik itu mengangguk. "Iya, Bang. Lila mau. Asal, Bang Mirza penuhi syarat yang sudah kita sepakati tadi," balas Lila.
Mirza tersenyum lega. "Alhamdulillahirobbil'aalamiin," ucap syukur Mirza seraya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
"Bang Mirza, syaratnya apaan?" tanya Om Ilham, yang mulai kepo.
Mirza mencebik. "Om kepo," balas Mirza singkat.
Om Ilham pun menjadi bahan tertawaan saudara-saudaranya.
Acaranya lanjut ramah tamah, mereka yang sudah terbiasa berkumpul kini kembali berkumpul, tetapi dengan acara yang berbeda.
Canda dan tawa pun mulai terdengar.
"Ayo, kita makan malam dulu!" ajak sang tuan rumah setelah beberapa saat mereka bercengkrama.
Mirza memberikan kode pada Lila, agar tetap tinggal.
Sementara keluarga yang lain kemudian pindah, menuju ruang makan yang luas. Ruang makan yang luasnya hampir sama dengan ruang makan di kediaman keluarga Alamsyah.
"Tiara, tunggu sini!" panggil Lila pada Tiara, yang hendak mengikuti Lili masuk ke dalam.
Mirza mengerutkan dahi.
"Bang Ronald, duduk sini dulu, Bang," pinta Lila, kala Ronald melintas bersama sang papa dan Damian, hendak menuju ruang makan.
"Bang, kita kenalkan Tiara sama Bang Ronald sekarang aja, ya," pinta Lila.
"Oh, iya, ya," balas Mirza yang baru paham maksud Lila.
Tiara kemudian duduk di samping Lila, sementara Ronald duduk di samping Mirza.
"Bang Ronald, kenalkan, ini teman Lila namanya Tiara," ucap Lila seraya menunjuk Ronald.
"Ra, dia cowok yang aku maksud tadi," bisik Lila.
Ronald menatap intens Tiara, dahinya mengernyit dalam.
Begitupun dengan Tiara, yang memindai wajah Ronald yang seperti tak asing baginya.
__ADS_1
"Bang Robert ... ?"
____ bersambung ____