
"Sayang, buka mata kamu," pinta Mirza.
Perlahan, Lila membuka matanya.
Mirza menyodorkan sebatang coklat kepada Lila. "Laila Putri Devano, "𝘸𝘪𝘭𝘭 𝘠𝘰𝘶 𝘮𝘢𝘳𝘳𝘺, 𝘔𝘦?" ucap Mirza lembut, seraya tersenyum manis pada gadis cantik berhijab biru laut yang menambah keanggunan wajah Lila.
Lila membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. "Bang Mirza melamar Lila?" tanya Lila dengan perasaan yang membuncah bahagia, mendapatkan kejutan manis yang Lila yakini pasti tanpa persiapan tersebut.
Sebab, jika Mirza mempersiapkan semuanya, tak mungkin seorang Mirza Daniar Alamsyah melamar seorang gadis hanya dengan sebatang coklat.
Namun, Lila tetap terharu dengan apa yang dilakukan Mirza saat ini. Bukan apa yang diberikan Mirza untuk melamar dirinya, tetapi kesungguhan pemuda tampan itu yang terpancar dari sorot mata kebiruan milik Mirza yang menawan, yang membuat hati Lila semakin tertawan.
Mirza mengangguk pasti. "Maaf, hanya dengan sebatang coklat," ucap Mirza.
Lila tersenyum, ia kemudian menerima coklat tersebut dengan perasaan gugup. "Tak mengapa, aku suka coklat," balas Lila. "Tetapi aku lebih suka sama yang memberi coklat," lanjutnya tersipu malu, membuat Mirza semakin gemas ingin memeluk dan menciumi gadis cantik itu sepanjang waktu.
"Abang enggak dengar, Sayang. Coba, ulangi lagi apa yang kamu katakan tadi," pinta Mirza agar Lila mengulang perkataannya.
Lila mengerucutkan bibir, tetapi mau mengulang juga. "Aku lebih suka sama yang ngasih coklat ini, Abang Sayang."
Mirza tersenyum lebar dan kemudian mengacak lembut puncak kepala Lila. "Calon istri sholehah, pandai membuat hatiku bahagia tiada tara," puji Mirza.
"Aamiin ...," ucap Lila mengaminkan, semoga dirinya benar-benar bisa menjadi istri yang sholehah seperti harapan pemuda tampan yang telah membuat hatinya berbunga-bunga.
"Abang mau kita di sini, terus?" tanya Lila karena Mirza tak kunjung menjalankan mobilnya kembali, tetapi malah sibuk menatap dirinya.
"Jalan, dong. Kita 'kan mau lihat rumah impian masa kecil Ibu Suri," balas Mirza.
"Ya, ayo, Bang! Buruan jalan!" ajak Lila. "Keburu sore, nanti aku pulangnya kemalaman lagi," rajuk Lila.
"Kalau kemalaman, nginap di rumah abang lagi," saran Mirza dengan santainya, sambil mulai menjalankan kendaraannya perlahan, meninggalkan area parkir sebuah pertokoan.
Lila menggeleng. "Sungkan, Bang," balas Lila.
"Kenapa sungkan? Biasanya tanpa abang ajak, kalian pada nyelonong ke rumah dan nginap?" tanya Mirza tak mengerti.
"Ya beda, Bang. Kalau kemarin-kemarin itu 'kan, kita sahabatan. Sekarang 'kan, ceritanya dah lain, Bang. Jadi ya, sungkan aja. Bedalah pokoknya," terang Lila yang tak bisa menjelaskan bagaimana rasanya.
Mirza mengernyit, tak mengerti apa yang dirasakan Lila. "Ya, udah. Kita sebentar aja nanti di sana," ucap Mirza akhirnya.
Mirza terus melajukan kendaraannya menuju komplek perumahan elite, dimana hunian impian mereka berdua sedang dikerjakan oleh timnya Om Ilham.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, tibalah mereka di komplek yang tak jauh dari hunian keluarga Antonio.
Rupanya, di sana ada Daddy Rehan yang sedang memantau pekerjaan pembangunan rumah tersebut. Ada juga Opa Alvian yang menyempatkan untuk singgah, sebelum beliau pulang ke kediamannya yang tidak begitu jauh tersebut.
__ADS_1
Mirza dan Lila yang segera turun dari mobil, langsung menghampiri kedua orang tua tersebut.
"Assalamu'alaikum, Dad, Opa," sapa Mirza.
"Wa'alaikumsalam," balas Daddy Rehan dan Opa Alvian, dengan kompak.
Mirza kemudian menyalami daddy dan opanya dengan takdzim, yang diikuti oleh Lila.
"Om Ilham-nya mana, Dad?" tanya Mirza.
"Tuh, di sebelah sana sama Om Alex dan papanya Lila. Lagi nego sama yang punya tanah belakang," balas Daddy Rehan.
"Daddy mau ambil kapling lagi di sini? Untuk apa?" tanya Mirza.
"Iya, Bang," balas Daddy Rehan. "Tadi Om Devan yang bilang kalau Kak Lila pengin punya kebun buah seperti di halaman samping kediaman Kakek Zarkasyi, makanya Daddy mau beli tanah yang di belakang itu khusus untuk kebun buah," terang Daddy Rehan.
"Benar seperti itu, Kak Lila?" tanya Daddy Rehan memastikan.
Lila mengangguk seraya tersenyum, tersipu malu.
"Sayang, tapi waktu itu, kamu cuma bilang kalau pengin punya rumah yang halamannya luas," protes Mirza.
"Lah, Abang 'kan enggak nanya, halaman yang luas itu untuk apa aja," balas Lila. "Kalau Abang tanya, pastilah aku akan menjelaskan secara detail keinginan aku," lanjut Lila.
"Memangnya, halaman luas itu untuk apa aja, Lila?" tanya Opa Alvian yang juga kepo dengan keinginan putri Om Devan itu, yang berbeda dengan keinginan yang lain.
"Lila penginnya di halaman samping ada wahana lengkap untuk bermain anak, Opa. Terus di halaman belakang, selain kolam renang, juga ada banyak kolam ikan gitu, kayak punya Kakek Zar," terang Lila.
Opa Alvian mengangguk-angguk. "Calon istri rumahan dia, kayak istri istri kita," bisik Opa Alvian pada Daddy Rehan.
Daddy Rehan tersenyum, daddy tampan itu mengangguk membenarkan.
"Memangnya, kamu ingin kita memiliki anak yang banyak ya, Sayang? Sampai-sampai, harus dibuatkan wahana permainan?" bisik Mirza bertanya seraya menggoda.
Lila tersenyum dan mengangguk kecil. "Iya, Bang. Ramai dan lucu aja kalau punya banyak anak," balas Lila yang juga berbisik.
"Ayo, kita mulai aja bikinnya dari sekarang!" ajak Mirza tak sabar, hingga lupa memelankan suaranya.
Mirza juga sampai lupa, bahwa di sana ada sang daddy dan juga Opa Alvian.
"Bikin apa, Bang?" tanya Daddy Rehan seraya mengerutkan dahi.
"Hehe ... enggak kok, Dad. Bikin desain wahana permainan," kilah Mirza.
Sementara Lila tersipu malu. "Abang, ih ... suka sembarangan kalau bicara!" protes Lila berbisik.
__ADS_1
"Habisnya, kamu ngajakin bikin anak, Sayang. Ya abang pasti mau, lah," balas Mirza membela diri.
"Eh, siapa yang ngajakin bikin anak?" tanya Lila. "Tadi 'kan, Abang tanya, apakah aku mau punya anak banyak? Ya udah, aku jawab dengan jujur, kan?" Lila mengerucutkan bibir.
Mirza terkekeh senang, melihat sang kekasih hati yang tengah ngambek tapi terlihat semakin menggemaskan.
Mirza kemudian mengusap puncak kepala Lila dengan penuh kasih dan menatap gadis cantik di depannya, dengan tatapan penuh cinta.
"Udah, Rey. Nikahin aja secepatnya." Perkataan Opa Alvian mengurai tatapan mesra Mirza pada Lila.
Sontak, Lila dan Mirza sama-sama menatap Opa Alvian.
"Tanyakan saja pada anaknya, mau apa enggak? Gue sebagai orang tua, ngikutin aja kemauan anak bagaimana? Kalau itu memang baik untuk mereka, ya ayo aja," balas Daddy Rehan.
Mirza dan Lila saling pandang.
"Setuju gue, Rey," balas Opa Alvian.
"Ilham juga setuju, Bang," timpal Om Ilham yang tahu-tahu sudah berada di belakang Mirza, bersama Om Alex dan Om Devan.
"Bagaimana, Bang Mirza?" tanya Om Alex seraya menepuk pundak Mirza.
"Kawin itu enak, lho Bang," timpal Om Ilham, yang langsung mendapat jitakan di kepalanya.
"Aw ... Bang Alex sukanya main jitak aja!" gerutu Om Ilham.
"Bagaimana, Bang Mirza? Play boy sejati, masak ditantangin untuk menikah begitu aja, keder!" cibir Om Devan yang sengaja memancing keberanian Mirza.
Sementara Daddy Rehan hanya tersenyum, seraya menatap putranya.
"Mirza siap kok, Om. Mau nikah sekarang, ayo aja," balas Mirza tegas, ia kemudian menatap Lila.
"Bagaimana, Sayang?"
_____ bersambung _____
🌷🌷🌷🌷🌷
Maaf, yah... kemarin gak jadi up lagi, takutnya nyangkut di pohon tauge 😄
Yuk, sambil nungguin jawaban Lila, mampir di novel keren berikut yah 😍
Judul : Kukira Kau Cinta
Author : Dtyas
__ADS_1