
Mirza dan Lila yang ditinggal hanya berdua, masih saling melempar senyum hingga beberapa saat lamanya.
"La, kamu 'kan udah hampir dua tahun π§π³π¦π¦. Enggak pengin apa, mencoba hubungan baru?" tanya Mirza.
Lila menggeleng. "Belum, Za. Lila masih trauma, rasanya kayak baru kemarin," balas Lila.
Mirza mengangguk-anggukkan kepala. "Iya juga, sih. Kurang ajar memang tuh cowok, main cium-cium pipi kamu sembarangan!" geram Mirza yang teringat kejadian kala itu, saat π’π―π―πͺπ·π¦π³π΄π’π³πΊ dua tahun Lila dan Juan berpacaran.
Sore itu, mereka berlima termasuk Juan, sedang nonton bioskop tanpa Lili karena saudari kembar Lila tersebut baru saja melahirkan.
Seperti biasa, Mirza yang selalu siaga melindungi Nezia dan Lila jika sahabat wanitanya itu sedang berduaan dengan sang kekasih, melihat langsung kejadian ketika Juan tengah mencuri ciuman di pipi Lila pada saat tayangan film di layar bioskop sedang berlangsung.
Lila langsung menampar pacar kurang ajarnya itu, sementara Mirza merangsek maju ke bangku Juan dan menghadiahi putra salah satu pejabat di kementrian itu dengan bogem mentah tepat di wajah manis Juan.
Juan mengaduh, hingga membuat suasana di dalam gedung yang kedap suara itu menjadi gaduh. Lila langsung memeluk Mirza dan mencegah sahabatnya itu agar tidak bertindak lebih jauh.
Bukan untuk melindungi Juan, tetapi karena Lila tidak ingin Mirza mendapatkan masalah nantinya. Lagipula, tamparan dari Lila, tonjokan dari Mirza dan tinju dari Attar yang langsung bergerak cepat begitu mengetahui bahwa Juan kurang ajar sama sahabatnya, sudah cukup membuat Juan jera.
"Za, hai ... malah melamun," Suara lembut Lila membuyarkan lamunan Mirza.
"Mirza teringat kejadian sewaktu di gedung bioskop itu, La," balas Mirza. "Harusnya saat itu, kamu enggak perlu mencegah Mirza untuk membuat wajah laki-laki mesum itu babak belur, La!" Mirza nampak terbawa emosi.
"Ya, Lila enggak mau lah, Za, kamu kena masalah dan berurusan dengan hukum," balas Lila.
"Sudah, jangan di ingat-ingat. Toh kita juga sudah menamparnya rame-rame, 'kan? Di tempat umum pula, pasti malu banget dia!" lanjut Lila, mencoba menenangkan sang sahabat.
"Iya, sih. Tetapi tetap masih kurang, La. Gara-gara dia, pipi kamu jadi enggak π·πͺπ³π¨πͺπ― lagi, 'kan?" Mirza menatap Lila dengan dalam.
"Hem .... " balas Lila hanya dengan gumaman, seraya mengelus pipi kanannya yang pernah dicium oleh sang mantan.
"Padahal 'kan, Mirza yang menjaga kamu dari orok. Eh, malah cowok lain yang merasakan duluan!" gerutu Mirza tak jelas, membuat Lila mengernyitkan kening.
"Bicara apa kamu, Za?" tanya Lila.
"Eh, enggak kok," balas Mirza sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Pipi kamu 'kan, juga udah enggak π·πͺπ³π¨πͺπ―, Za. Iya, kan?" tanya Lila memastikan.
"Tahu darimana kamu? Dari Tiara tadi, ya?"
Lila mengangguk.
"Iya nih, sialan banget tuh cewek. Baru dua kali jalan, udah berani mencium cowok! Enggak banget deh, cewek kayak gitu?" sungut Mirza yang tiba-tiba terbawa emosi.
Masih teringat di benak Mirza, kala malam itu jalan sama Tiara dan gadis berhijab teman satu jurusan Lila tersebut kemudian meminta untuk diantarkan pulang.
__ADS_1
Setibanya di depan rumah Tiara dan ketika gadis itu hendak turun dari mobil Mirza, dengan tiba-tiba Tiara mencium pipi Mirza sambil berkata. "Aku milikmu, Za. Kapanpun kamu mau, aku siap."
Mirza yang terkejut, langsung mendorong tubuh Tiara hingga menatap pintu. "Turun dari mobilku sekarang dan setelah ini, anggap saja bahwa diantar kita tidak pernah saling mengenal!" tegas Mirza.
"Za," panggil Lila lembut, menyadarkan Mirza dari lamunannya.
"Iya, ada apa?" tanya Mirza.
"Pulang, yuk!" ajak Lila.
"Bentar lagi, La. Jarang-jarang 'kan, kita bisa berdua seperti ini?" tolak Mirza.
"Eh, mau pesan minum lagi, enggak?" tawar Mirza.
Lila menggeleng. "Udah cukup."
"La, memangnya kriteria cowok idaman kamu yang seperti apa, La?" tanya Mirza tiba-tiba.
"Eh, apa?" tanya Lila terkejut.
"Calon suami idaman kamu, seperti apa, Laila Putri Devano?" ulang Mirza seraya menyebutkan nama lengkap Lila.
"Enggak muluk-muluk, sih. Yang penting baik, sayang sama Lila dan bisa menjadi imam bagi keluarga kecil kami kelak," balas Lila seraya tersenyum.
"Kalau kamu, Za? Pasti yang cantik, 'kan? Pacar kamu 'kan, cantik-cantik," tebak Lila.
"Sesimpel itu?" tanya Lila tak percaya.
"Iya, La. Sesimpel itu tetapi sampai sekarang, Mirza juga belum bisa menemukannya. Apalagi kalau Mirza minta yang muluk-muluk?" balas Mirza seraya menatap Lila dengan tatapan dalam.
Sejenak hening menyapa meja mereka berdua, hanya terdengar sayup-sayup suara merdu dari vokalis home band yang melantunkan sebuah lagu tentang cinta secara ππͺπ·π¦ di dalam kafe.
Sebuah lagu dari singel milik group band Drive yang digawangi Anji sebagai vokalis,Β 'Akulah Dia' yang dirilis sekitar tahun 2010. Lagu yang mengisahkan tentang mimpi-mimpi dua anak manusia, tentunya mimpi yang berhubungan dengan cinta.
'Tak pernah berhenti mencari cinta
Selalu saja ada yang tak kamu suka
Terlalu jauh engkau melihat
Coba rasakan yang ada di sekitarmu'
'Sesungguhnya dia ada di dekatmu
Tapi kau tak pernah menyadari itu
__ADS_1
Dia selalu menunggumu
Untuk nyatakan cinta'
'Sesungguhnya dia adalah diriku
Lebih dari sekedar teman dekatmu
Berhentilah mencari
Karena kau telah menemukannya'
Kedua sahabat itu mendengarkan lagu tersebut dengan seksama dan kemudian saling pandang, mereka berdua kemudian sama-sama tersenyum.
"Kalian merasa enggak sih, Mirza, Lila. Kalau lagu tadi, menyindir kalian berdua?" tanya Arjuna yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka. Arjuna kemudian duduk di samping Mirza.
"Bang Juna, ngagetin aja!" protes Mirza sambil meninju pelan lengan Arjuna.
"Segitunya ya, Za. Kamu menikmati lagu tadi. Sampai enggak dengar saat aku tanya," ledek Arjuna.
Mirza hanya tersenyum.
"Barusan Bang Juna mengatakan, kalau lagu tadi menyindir kami. Menyindir gimana, maksud Bang Juna?" tanya Lila tak mengerti.
"Iya, itukan menceritakan dua orang sahabat yang sama-sama sedang mencari cinta sejati. Padahal orang yang dicari ke sana kemari ternyata sangat dekat, setelah beberapa lama barulah mereka menyadari jika mereka telah saling jatuh cinta," balas Arjuna panjang lebar.
"Kita 'kan enggak saling jatuh cinta ya, Za?" balas Lila, yang bertanya pada Mirza.
"Mungkin saat ini belum, La. Tetapi siapa tahu, 'kan? Jodoh, rizqi dan maut 'kan, rahasia Illahi?" ucap Arjuna bijak.
Lila dan Mirza mengangguk kompak.
"Itu memang benar, sih," ucap Mirza membenarkan. "Tapi ya, entahlah," lanjutnya.
"Pulang yuk, Za! Udah sore, nih," ajak Lila kembali.
Keduanya pun beranjak. "Oke Bang Juna, terimakasih untuk gratisannya," ucap MIrza. "Kami balik dulu," pamit Mirza kemudian.
"Jangan lupa, besok siang datang," pinta Arjuna, yang dijawab Mirza dan Lila dengan anggukan kepala.
Mereka berdua bergegas meninggalkan kafe tersebut, untuk menuju kediaman neneknya Mirza karena setiap πΈπ¦π¦π¬π¦π―π₯ mereka semua selalu berkumpul di sana.
"Mau langsung pulang ke rumah nenek atau mau dianterin kemana dulu, La?" tanya Mirza setelah mereka berdua berada di dalam mobil.
"Langsung pulang saja ya, Za. Udah sore banget nih, takut kejebak macet," balas Lila.
__ADS_1
"Siap, Ibu Suri," balas Mirza sembari tersenyum manis, yang membuat Lila mengerutkan kening.
_____ bersambung _____