Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Amanah Nenek Rahmi


__ADS_3

"Terus, apanya?" tanya Lila dengan polos.


Mirza memajukan wajah, hingga jarak mereka berdua begitu dekat. "Cium orangnya, bukan lukanya," balas Mirza seraya tersenyum.


Lila tersenyum dan mendorong pelan dada Mirza agar sedikit menjauh. "Belum boleh, Za."


Mirza cemberut, ia memasang wajah mode ngambek. "Tanganku lagi sakit, La. Kata mommy kalau lagi sakit, permintaannya harus dituruti agar lekas sembuh," rajuk Mirza dengan manja, seperti ketika ia bersama sang mommy.


Mirza merasakan kenyamanan yang sama seperti bersama sang mommy, ketika berdekatan dengan Lila, yang tak ia temukan ketika Mirza bersama mantan-mantan pacarnya. Hingga Mirza merasa bebas mengekspresikan keinginan dan tak perlu jaga 𝘪𝘮𝘢𝘨𝘦, bahwa ia adalah pria dewasa.


Lila tersenyum seraya geleng-geleng kepala. "Keinginan kamu absurd, Za. Jadi maaf, aku belum bisa menuruti maumu," balas Lila.


"Terus, bisanya kapan?" tanya Mirza dengan mata berbinar, mendengar kata belum, yang artinya ia memiliki kesempatan.


"Terserah paduka Baginda Raja, maunya kapan," balas Lila lirih, nyaris tak terdengar. Beruntung jarak Mirza masih berdekatan dengan Lila, hingga pemuda tampan itu masih bisa mendengar dengan jelas.


Mirza tersenyum bahagia, mendengar jawaban Lila. "Baik, Ibu Suri. Mari kita 𝘰𝘯 𝘵𝘩𝘦 𝘸𝘢𝘺 ke KUA," ucap Mirza, yang segera menghidupkan kembali mesin mobil sport hitam garang miliknya.


Lila mengerutkan kening. "𝘖𝘯 𝘵𝘩𝘦 𝘸𝘢𝘺 KUA?"


"Yups," balas Mirza dengan yakin, tapi sedetik kemudian terkekeh pelan.


"Enggak, La. Aku enggak mau memaksamu," ucap Mirza. "Silahkan kamu pikirkan dengan matang terlebih dahulu," lanjut Mirza, yang kemudian segera melajukan mobilnya membelah jalanan beraspal untuk meneruskan tujuan mengantar Ibu Suri.


Lila terdiam, ia bukannya belum memiliki jawaban atas pernyataan cinta Mirza, tetapi masih ada satu masalah yang harus ia selesaikan. Meski ada satu masalah lagi yang datang, tetapi Lila tak begitu ambil pusing terhadap masalah baru tersebut.


Hening menemani perjalanan mereka selanjutnya, keduanya tak ada yang bersuara. Lila masih fokus dengan apa yang akan terjadi nanti, jika dirinya bertemu dengan nenek Rahmi yang berada di ICU.


Sementara Mirza, masih membayangkan apa yang dilakukan Lila tadi kepada dirinya. Perhatian Lila kala mengobati luka Mirza, cukup sebagai bukti bahwa pemuda tampan bermata kebiruan itu telah berhasil memenangkan hati sang Ibu Suri, sehingga sepanjang perjalanan, Baginda Raja senyum-senyum seorang diri.


"Kamu kenapa, Za? Kok, senyum-senyum terus?" tanya Lila yang tak sengaja menoleh dan melihat Mirza senyum-senyum sendiri.


"Lagi 𝘩𝘢𝘱𝘱𝘺 aja, bisa jalan berdua sama Ibu Suri," balas Mirza yang kembali cengengesan seperti biasanya.


Lila geleng-geleng kepala, tetapi dalam hati tersenyum.


Tanpa terasa, mobil yang dikendarai Mirza memasuki pintu gerbang yang tinggi menjulang. Pemuda itu kemudian memarkirkan mobilnya, tepat di samping mobil Damian yang sudah berada di sana.


"Abang kamu, di sini tuh, La," ucap Mirza sambil menunjuk mobil Damian.


"Iya, mau ikut ke rumah sakit mungkin," tebak Lila.


Mereka berdua kemudian segera turun dan berjalan beriringan masuk ke dalam rumah seraya mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikilumsalam," balas Damian yang langsung keluar menuju ruang tamu.


"Eh, Za. Masuk, yuk!" ajak Damian, begitu melihat Mirza.


"Nunggu di sini aja kali, Bang," tolak Mirza dengan halus. "Katanya, mau pada buru-buru ke rumah sakit, kan?" tanya Mirza memastikan.


"Iya, benar, Za. Kami nungguin kalian memang," balas Damian.


"Kalian sudah datang?" tanya sang mama yang baru saja keluar bersama papanya Lila.

__ADS_1


"Iya, Tante," balas Mirza yang langsung menyalami sahabat sang mommy dengan takdzim. Mirza kemudian menyalami sahabat daddy-nya dan mencium punggung tangan Om Devan.


"Kalian sudah makan, belum?" tanya Tante Lusi kemudian.


"Sudah, Tante. Tadi sewaktu Om Dev telepon Lila, kami sedang makan siang di kafe," balas Mirza dengan sopan.


Lila mengangguk, membenarkan.


"Ya sudah, kalau begitu kita berangkat sekarang," ajak Om Devan pada semuanya.


"Mirza, juga ...." Lila menjeda ucapannya.


"Iya, Mirza juga ikut. Ayo, Za!" ajak Om Devan pada putra sahabatnya tersebut.


Mirza nampak bingung, tetapi beranjak juga dan mengikuti langkah kedua orang tua serta abangnya Lila.


"Bang, kami ikut mobil Abang, ya?" pinta Tante Lusi.


Damian mengangguk dan kemudian membukakan pintu mobil untuk sang mama.


"Kak Lila, temani Mirza saja, ya?" titah sang mama sebelum masuk ke dalam mobil putra pertamanya..


Lila mengangguk.


Om Devan menyusul masuk ke dalam mobil Damian dan duduk di samping sang istri


Mirza dengan sigap segera membukakan pintu mobil untuk sang Ibu Suri. "Silahkan masuk, Ibu Suri," ucap Mirza seraya membungkukkan sedikit badannya, layaknya punggawa kerajaan yang bertugas menjaga dan mengawal Permaisuri Raja.


Lila tersenyum lebar, senyum yang menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih.


"Tapi kamu suka, kan?" goda Mirza sambil memainkan kedua alisnya.


"Biasa aja, tuh," balas Lila. "Pantas aja, ya. Pacarnya banyak," lanjut Lila.


"Cie ... kamu cemburu, ya?" Mirza semakin menggoda Lila.


"Udah, ah ... godain terus dari tadi," rajuk Lila yang membuat Mirza menjadi gemas dan ingin mencubit pipi Lila yang merona merah.


"Boleh nyubit dikit gak, sih? Gemes aku sama kamu," ucap Mirza yang gemas sendiri seraya menyugar kasar rambutnya, membuat tatanan rambut Mirza menjadi amburadul tetapi justru semakin terlihat seksi.


Sejenak Lila terpesona menatap Mirza.


"Aku tampan 'kan, La?" tanya Mirza yang membuyarkan lamunan Lila.


"Dih, ge-er banget, sih," balas Lila sambil membuang muka keluar jendela kaca, karena tak ingin Mirza melihat wajahnya yang semakin merona bak kepiting rebus, merah dan menggiurkan untuk di cium.


"Jadi, kita gimana, nih? Mau di sini aja, apa mau jalan?" tanya Mirza sengaja agar Lila kembali menoleh ke arahnya.


Benar saja, Lila langsung menoleh dan kemudian melihat ke arah gerbang.


"Ayo, jalan, Za! Nanti kita ketinggalan jauh," ajak Lila, setelah melihat mobil sang abang keluar dari pintu gerbang.


"Siap, Ibu Suri," balas Mirza yang segera melajukan kembali mobilnya melewati jalan yang tadi telah ia lalui, menyusul mobil Damian yang sudah jalan terlebih dahulu.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Mereka telah tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruang tunggu, yang ada di samping ruang ICU sesuai petunjuk dari Om Rusman.


Om Devan terlihat memeluk teman lamanya tersebut, begitupun dengan Tante Lusi yang memeluk mamanya Ronald. Hanya ada kedua orang tua Ronald tersebut, yang menunggui Nenek Rahmi di rumah sakit.


Sementara Ronald sendiri tak kelihatan batang hidungnya karena Ronald, masih dalam pemeriksaan pihak yang berwajib, terkait masalah tindak asusila yang dilakukannya di dalam diskotik.


"Maafkan aku, Dev," ucap Om Rusman yang merasa tak enak hati pada Om Devan.


Papanya Lila tersebut tak dapat berkata apa-apa, Om Devan hanya menepuk-nepuk punggung Om Rusman untuk memberikan semangat.


"Ibu, bagaimana kondisinya?" tanya Om Devan kemudian.


Om Rusman menghela napas panjang. "Ibu tadi sempat berbicara, tapi sekarang tidak sadarkan diri lagi," balas Om Rusman.


"Dev, duduk dulu, yuk," ajak Om Rusman, yang menuntun Om Devan untuk duduk di bangku panjang.


Tante Lusi dan Mamanya Ronald juga ikut duduk di sana. Sementara Damian, Lila dan Mirza, duduk di bangku yang lain, yang agak jauh dari para orang tua, tetapi masih bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Jadi begini, Dev," ucap Om Rusman yang akan memulai pembicaraan seriusnya.


"Ibu kena serangan jantung begitu mendengar kabar tentang Ronald ...." Om Rusman menjeda sejenak ucapannya dan tatapannya menerawang jauh, Om Rusman pun tak pernah tahu kalau ternyata sang putra berperilaku demikian.


"Bagaimana ya, Dev. Ngomongnya sama kamu." Om Rusman nampak bingung untuk menyampaikan pesan sang ibu.


"Katakan saja, Rus. Ada apa?" tanya Om Devan yang juga penasaran.


Kembali Om Rusman menghela napas panjang.


"Aku juga baru tahu, Dev, kalau ternyata putraku tak sebaik yang aku pikir," ucap Om Rusman. "Aku jadi enggak enak untuk menyampaikan ini sama kamu, Dev," lanjutnya seraya menatap Om Devan.


"Tapi aku harus menyampaikan karena ini amanah dan aku, aku takut jika ini adalah amanah terakhir," imbuh Om Rusman yang wajahnya kembali mendung.


"Iya, Rus. Amanah apa, itu?" desak Om Devan.


Lila, Mirza dan Damian juga ikut tegang, menunggu apa yang akan disampaikan oleh Om Rusman.


Begitupun dengan tante Lusi yang duduk di samping sang suami, wanita cantik itu sampai menggenggam erat tangan Om Devan, sebab merasa khawatir jika yang akan di dengarnya adalah kabar yang tidak mengenakkan.


"Tadi ibu sempat berpesan, agar Ronald segera dinikahkan dengan putrimu agar anak kurang ajar itu bisa berubah," pungkas Om Rusman.


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Malam bestie 🤗


Yang uwu uwu besok lagi yah... pengantar tidurnya kabar yang tidak menyenangkan, agar kalian mimpi buruk 😄🤭🙏🙏


Yuk, mampir lagi di novel kece punya temanku.


Karya author keren ; Tie Tik 😍

__ADS_1


Judul : Sosialita



__ADS_2