Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Ke KUA Sekarang?


__ADS_3

Mirza semakin mendekat hingga ke sisi ranjang, ia pandangi wajah Lila yang bersemu merah karena malu, takut dan marah bercampur menjadi satu.


"Bang, aku tadi cuma bercanda, Bang," mohon Lila, yang ketakutan sendiri.


Mirza tersenyum tengil, ia masih tetap pada posisinya yang berdiri di sisi ranjang dan tatapannya terus tertuju tepat pada netra hitam Lila.


Jantung Lila berdebar kencang, ia tak tahu apa yang akan di perbuat oleh Mirza kepada dirinya. Akankah Mirza benar-benar tidak mampu mengendalikan diri dan ....


Segala kemungkinan itu berputar-putar di kepala Lila, hingga membuat Lila semakin cemas. Antara berdebar senang berdekatan dengan Mirza, juga rasa takut karena kini mereka hanya berdua saja di dalam kamar yang tertutup.


Tanpa Lila sadari, air mata menetes dari sudut netranya dan mengalir melewati kening karena posisi Lila yang rebahan.


Mirza terkejut melihat air mata Lila, ia kemudian membungkuk untuk mengusap air mata gadis cantik yang telah mengisi penuh hati Mirza hingga tak ada lagi tempat untuk gadis lain.


Lembut, Mirza mengusap air mata Lila dengan ibu jarinya. "Hai, kenapa menangis? Apa kamu pikir, aku akan memperkosa mu, Cantik?" goda Mirza.


Membuat hati Lila merasa sedikit lega. 'Huff ... syukurlah, Bang Mirza masih bisa berpikir waras,' bisik Lila dalam hati.


"Bang, aku mau mandi," ucap Lila agar Mirza menyingkir dan memberinya ruang untuk bangkit dari ranjang.


Mirza tersenyum manis, masih dengan posisinya semula. Ia bukannya minggir agar Lila bisa bangkit, tetapi Mirza malah semakin mendekatkan wajahnya.


"La, semakin aku memandang wajahmu, aku semakin gemas di buatnya. Pipimu yang bersemu merah, membuat aku ingin mencubit. Dan bibirmu yang ranum ...." Mirza menjeda ucapannya.


Pemuda tampan itu menelan saliva dan sekuat hati menahan diri. Menahan gejolak hatinya yang meronta, yang menginginkan lebih dari hanya sekadar berdekatan seperti ini dengan sang pujaan hati.


Sementara Lila semakin mengkerut, ia gigit bibir bawah untuk menahan tangis yang hampir meledak. Lila pun takut, takut tidak dapat menolak jika pemuda tampan yang saat ini tengah menatap wajahnya dengan intens, meminta sesuatu.


"La, kalau hanya cium dikit, boleh kali, ya?" pinta Mirza yang semakin mendekatkan wajah.


Napas hangat Mirza kini menyapu lembut pipi Lila, membuat gadis cantik itu meremang. Lila menahan napas, mencoba untuk tetap menjaga kewarasannya.


"Bang, ki-kita, kita belum boleh melakukan apapun, Bang," ucap Lila terbata.


Mirza memejamkan mata dan langsung menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Lila. "Segeralah mandi, Sayang. Sebelum aku berubah pikiran," titah Mirza.


Lila buru-buru beringsut dan kemudian segera beranjak menuju kamar mandi, ia sampai lupa tidak mengambil baju ganti dari dalam almari.

__ADS_1


Ya, baju-baju Lila, Lili dan juga Nezia, sebagian sengaja ditinggal di dalam almari tersebut karena mereka bertiga memang sering menginap di kediaman keluarga Alamsyah.


Begitu pun sebaliknya, sebagian pakaian Mirza juga tersimpan di dalam kamar di kediaman keluarga Devano.


Lila mandi dengan cepat karena waktu maghrib akan segera tiba. Sementara Mirza, setelah memastikan bahwa Lila masuk ke dalam kamar mandi, ia pun segera bangkit dan keluar dari kamar Lila tersebut.


Mirza yang berjalan menuju ke kamarnya tersenyum seraya geleng-geleng kepala sendiri, ia tak habis pikir dengan isi kepalanya barusan.


"Dia memang beda," gumam Mirza sambil mengamati wajahnya sendiri yang tengah tersenyum dari balik pantulan cermin di dalam kamarnya.


"Setiap kali berdekatan dengan Lila, aku selalu ingin menyentuh gadis itu. Padahal dulu sama cewek-cewek yang lain, rasanya tidak seperti ini. Aku sama sekali tidak ada rasa dan tidak penasaran ingin menyentuh meski mereka menyodorkan diri," lanjut Mirza yang berbicara pada bayangannya sendiri.


"Aku harus pastikan, Lila secepatnya menyelesaikan urusan dengan Kak Yovi agar aku bisa segera meminangnya," pungkas Mirza dengan senyuman yang merekah.


Mirza buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, agar ia tidak telat untuk ikut sholat maghrib berjamaah bersama keluarganya.


Mirza telah rapi, ia mengenakan baju koko dan sarung, lengkap dengan paci hitam yang bertengger di kepala. Pemuda itu terlihat semakin tampan dan aura positifnya memancar begitu kuat.


Tepat di saat Mirza membuka pintu kamarnya, Lila pun membuka pintu kamar yang ia tempati. Keduanya saling menatap dan saling melempar senyum mesra.


'Tunggu-tunggu, dia 'kan memang tampan sejak lahir, tapi mengapa aku baru menyadarinya sekarang ya?' tanya Lila pada diri sendiri, ia pun kemudian geleng-geleng kepala.


"Kenapa, Sayang?" tanya Mirza yang tiba-tiba saja telah berada di dekat Lila dan hal itu membuat Lila terkejut.


"MasyaAllah, Abang ... ngagetin aja, sih!" protes Lila dengan manja.


"Cie ... Abang sama Kak Lila udah pacaran, ya? Hayo, sejak kapan, Bang?" goda Iqbal bertanya, yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang Mirza.


"Manggilnya, Sayang sama Abang. Duh, mesra sekali. Iqbal jadi pengin deh, punya yang di sayang," lanjut Iqbal yang ngelantur, seraya tersenyum jahil.


Lila tersipu karena ketahuan sama Iqbal, sementara Mirza hanya mencebik.


"Ini kalau Om Attar dan Mbak Nezia tahu, bakal seru pasti. Iqbal akan kasih tahu mereka, ah ...." imbuh Iqbal yang semakin menjadi.


"Eh, jangan dulu, Dik!" cegah Lila panik. "Biar kami sendiri yang menyampaikan pada mereka," lanjut Lila yang tak ingin kedua sahabatnya itu menjadi salah mengira.


"Iya, iya, Kak Lila Sayang. π˜‹π˜°π˜―'𝘡 𝘸𝘰𝘳𝘳𝘺, Iqbal meskipun jahil tapi amanah, setia dan penuh kasih," balas Iqbal yang mempromosikan diri sendiri, seraya terkekeh pelan.

__ADS_1


"Udah, udah. Ngelantur kemana-mana kalau bicara," cegah Mirza. "Sana turun, buruan adzan!" titah Mirza kemudian, pada adik sepupunya yang jahil itu.


"Kak Lila ...," sapa Maira dan Maida yang baru saja keluar dari kamarnya. Mereka berdua sudah mengenakan mukenanya.


"Kak Lila nginap di sini?" tanya Maida.


Lila menggeleng. "Tidak, Dik. Nanti kakak pulang," balas Lila, yang langsung memeluk kedua adik kembar Mirza.


"Nginap sini aja ya, Kak. Kita udah lama enggak ngrumpi bareng, kan?" rajuk Maira.


Lila hanya tersenyum seraya menatap Mirza, sementara Mirza mengangguk. "Nanti kita minta ijin sama mama dan papa kamu," ucap Mirza.


"Asyik!" seru Maida dan Maira yang terlihat senang.


"Udah sana, buruan pada turun!" titah Mirza pada adik-adiknya. "Dik, udah masuk maghrib ini!" Mirza menatap Iqbal, seraya mengingatkan kembali adik sepupunya itu untuk segera adzan.


"Siap, Abang Sayang. Tapi nanti cerita ya, sama Iqbal," pinta Iqbal yang langsung melesat menuruni anak tangga, untuk menuju ke musholla keluarga di halaman belakang, yang diikuti oleh Maira dan Maida.


"Ayo, Sayang!" ajak Mirza.


"Kemana, Bang?" tanya Lila yang gagal fokus, entah kerena pesona Mirza atau karena di ledekin sama Iqbal tadi.


"Ya ke musholla dong, Laila Sayang ... memangnya mau kemana? Mau, Abang ajak ke KUA sekarang?" goda Mirza bertanya.


Wajah Lila langsung merona merah.


_____ bersambung _____


Alhamdulillah, akhirnya bisa up kembali πŸ˜‡


Monggo, sambil nunggu Bang Mirza up.


Mampir di novel keren karya author kece : Yanktie Ino 😍


BETWEEN QATAR AND JOGJA


__ADS_1


__ADS_2