
Yovi berdeham untuk menarik kembali perhatian Lila dari pandangan gadis cantik di sebelahnya, yang masih terus mengikuti kemana langkah kaki Mirza menjauh.
"Ehem ...."
Lila menoleh ke samping kanan dan tersenyum pada Yovi.
"Neng, tentang permintaanku tadi," ucap Yovi. "Bagaimana? Apa aku masih memiliki kesempatan itu?" ulang Yovi bertanya.
Lila terdiam dan kemudian menatap jauh ke depan. Ia tak menyangka, hanya dalam waktu setengah hari, secara tidak langsung Lila telah dilamar oleh dua pemuda baik.
Yang satu pemuda ganteng, yang dulu pernah mengisi hati Lila dan membuat hatinya serasa berbunga-bunga. Sementara yang satu lagi, sahabat dekat yang tampan rupawan dan akhir-akhir ini sering hadir dalam mimpi indah Lila.
Siapakah yang akan Ia pilih, jika keduanya sama-sama menunjukkan keseriusannya? Yovi dengan segala kebaikan dan kesahajaannya, dan Mirza dengan kemapanan finansial serta kasih sayang tulus yang telah ia tunjukkan selama ini.
"Neng, jika Neng Geulis masih ragu untuk menjawab, tak mengapa, jangan dijawab sekarang. Neng Geulis bisa memberi jawaban nanti, menjelang kita wisuda," ucap Yovi setelah beberapa saat menanti, tetapi Lila masih terdiam.
"Jika Neng Lila bersedia, kita akan menikah secepatnya dan aku akan memboyong Neng Lila ke Bandung. Aku sudah membeli rumah di komplek yang sama dengan hunian Bang Malik," lanjut Yovi.
Ya, Yovi juga mengenal baik saudara-saudara Lila dan gengnya karena kedekatan mereka dulu.
"Sebenarnya, Lila ...." Belum sempat Lila meneruskan ucapannya, suara panitia kembali terdengar yang menyuruh mereka semua untuk berkumpul di depan.
"Pikirkan dulu aja, Neng," pinta Yovi, yang kemudian segera mengajak Lila untuk berkumpul bersama yang lain.
πΈπΈπΈ
Mirza, Lila dan yang lain saat ini tengah menikmati makan siang di sebuah kafe resto di luar kampus. Mereka memutuskan untuk makan di luar, karena gladi bersih berakhir lebih cepat dari perkiraan, sehingga mereka tidak perlu sampai sore di kampus.
Tadinya, Yovi juga mengajak Lila untuk makan siang bersama, tetapi gadis cantik berhijab biru navy itu menolak dengan alasan sudah ada janji sama sahabat-sahabatnya.
Yovi yang memang sudah tahu betul persahabatan Lila, Mirza dan yang lain pun bisa menerima alasan Lila dan sama sekali tak menaruh rasa curiga, kala dengan posesif Mirza mengajak Lila untuk makan siang di luar.
Mirza menggandeng tangan Lila yang tertutup blouse lengan panjang, sehingga kulit mereka berdua tak bersentuhan.
"Tadi gimana pertemuan sama mantan, La?" tanya Nezia sengaja menekankan nama mantan, seraya melirik Mirza ketika mereka tengah menikmati hidangan makan siang.
Mirza pura-pura cuek menikmati makanan di mangkuknya, padahal ia memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan jawaban Lila.
"Ya, begitulah Nez. Hanya ngobrol biasa aja, sih," balas Lila yang belum ingin jujur pada sahabat-sahabatnya.
"Oh, jadi tadi saudari kembarku yang cantik ini ketemu sama Kak Yovi, ya? Gimana-gimana, deg-degan, enggak?" tanya Lili antusias seraya memegang dada Lila.
Mirza sekilas melirik tangan Lili yang menempel di dada milik Lila yang ukurannya ideal tersebut, tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Mungkin pas di tangan Mirza, begitu kira-kira apa yang dipikirkan Mirza.
__ADS_1
Mirza menghela napas panjang, untuk menetralisir degup jantungnya yang tiba-tiba iramanya tak beraturan dan temponya menjadi lebih cepat.
Pemuda itu segera mengalihkan pandangannya dari tangan Lili, bukan tangan Lili tapi tepatnya dari dada Lila. Ia kemudian menikmati makannya kembali.
"Li, apaan, sih!" protes Lila seraya menepis tangan Lili. "Biasa aja, kok," jawab Lila mencoba untuk jujur dengan perasaannya.
"Abang setuju, La. Kalau Lila menerima Kak Yovi," ucap Attar, yang juga sama seperti Nezia, sekadar ingin membuat Mirza cemburu.
Mirza melirik tajam omnya tersebut, membuat Attar yang juga memperhatikan Mirza terkekeh.
"Emang enak. Kebakaran jenggot kan, kamu?" ledek Attar berbisik, yang membuat Mirza semakin kesal pada Attar.
"Iya, benar. Lili juga setuju banget," timpal Lili.
Mirza kembali menghela napas panjang. 'Apa aku jujur aja ya, sama mereka?' batin Mirza.
Mirza menatap Lila dari tempatnya duduk, yang berada tepat di hadapan Lila dan hanya berbatas meja panjang. Di saat yang sama, Lila juga tengah menatap Mirza dan Lila nampak menggeleng pelan.
Mirza yang masih galau berinisiatif untuk mengirimkan pesan pada Lila, buru-buru ia meletakkan sendok dan garpu dan kemudian mengetikkan sesuatu untuk Lila.
"Kenapa, La? Kenapa aku belum boleh mengatakan pada mereka?" Mirza langsung mengirimkan pesan tesebut ke nomor Ibu Suri.
Lila terlihat membaca pesan Mirza dan kemudian mengetik balasan. "Jangan dulu, sampai aku benar-benar yakin dengan jawaban yang akan aku berikan padamu, Za."
"Abaikan aja, Za. Mereka paling cuma bercanda." Pesan susulan dari Lila, yang membuat hati Mirza sedikit tenang.
"Yaelah, orangnya di depan mata pakai chat-chatan segala!" tegur Nezia yang ternyata sedari tadi mengamati Mirza dan Lila.
"Hah, yang benar, Nez?" tanya Lili yang dari tadi asyik makan bakso.
"Coba-coba, lihat sini." Lili hendak merebut ponsel Lila, tetapi dengan sigap Lila menyembunyikan ponselnya.
Sementara Mirza hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa kalian berdua, sudah jadian?" tebak Attar berbisik.
"Do'akan saja, Bang," balas Mirza yang juga berbisik.
Usai makan, mereka masih melanjutkan obrolan sambil menikmati minuman, ketika tiba-tiba terdengar ponsel Lila berdering.
"Orangnya di depan mata, Bang. Enggak perlu pakai telepon, langsung bicara aja!" tegur Nezia pada abangnya karena kebetulan Mirza juga sedang memegang ponsel.
"Bukan abang, Nez," ucap Mirza sambil menunjukkan ponselnya pada Nezia.
__ADS_1
Ternyata, Mirza sedang membuka pesan dari sang daddy yang menginformasikan berita tertangkapnya Ronald yang sedang melakukan tindak asusila dengan seorang wanita penghibur di diskotik.
"Ini papa kok, yang telepon," ucap Lila mengklarifikasi.
"Di loud speaker aja, Kak," pinta Lili yang mendekat pada saudari kembarnya.
Lila kemudian menerima telepon dari sang papa dan mengaktifkan mode ππ°π’π₯ π΄π±π¦π’π¬π¦π³.
"Halo, Kak. Assalamu'alaikum," ucap. salam sang papa.
"Wa'alaikumsalam, Pa," balas Lila dan Lili kompak.
"Kakak dimana? Lagi sama Adik, ya? Sama yang lain juga, tidak?" tanya Om Devan.
"Iya, Pa. Ini kami lagi ngumpul," balas Lili mewakili sang kakak.
Lila cemberut. "Siapa yang di tanya, siapa yang jawab?" gerutu Lila, membuat Om Devan terkekeh di seberang sana.
"Kak, Kakak pulang sekarang, ya. Minta antar sama Mirza aja, biar cepat," titah sang papa.
"Siap, Om," balas Mirza sigap.
"ππ°π°π₯ ππ°πΊ," puji Om Devan, membuat Mirza tersenyum menatap Lila.
"Memangnya, ada apa, Pa?" tanya Lila penasaran.
"Neneknya Ronald, masuk ICU dan Om Rusman ingin bertemu dengan kita di rumah sakit," balas sang papa.
"ICU?" Lila mengerutkan kening. "Bukannya tadi pagi Bang Ronald bilang, kalau neneknya hanya dirawat di rumah?" tanya Lila penasaran.
"Tadi pagi itu akal-akalan si Ronald saja," balas Om Devan.
_____ bersambung _____
Selamat malam bestie,,, masih setia 'kan, sama bang Mirza.
Bang Mirza akan up lagi besok yah, sambil nunggu... yuk mampir di cerita temanku yang super kece π
Judul : Cinta Berselimut Dendam
Karya : Ocybasoaci
__ADS_1