Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Di Gelandang ke KUA


__ADS_3

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke kampus untuk menyelesaikan beberapa urusan yang belum beres, Mirza dan Lila mampir dulu ke rumah orang tua Lila untuk berpamitan.


Mirza harus tetap menjelaskan pada kedua orang tua Lila, mengapa akhirnya Mirza tidak jadi mengantar Lila pulang semalam, meski Mommy Billa sudah memintakan ijin untuk Lila kepada mamanya langsung.


Setibanya di kediaman megah keluarga Devano, kehadiran Lila disambut oleh sang mama yang sedang merawat tanaman kesayangannya.


Ya, Tante Lusi adalah wanita yang suka rumahnya ada banyak tanaman hias. Sehingga Om Devan membuatkan taman khusus untuk sang istri tercinta di halaman depan, halaman samping dan bahkan di halaman belakang kediamannya juga dibuat taman bunga.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Lila dan Mirza berbarengan.


"Wa'alaikumsalam," balas Tante Lusi yang langsung mencuci tangan dan kemudian mengeringkannya, sebelum menyalami Mirza dan juga sang putri.


"Maaf, Tante. Semalam, Lila akhirnya menginap di rumah," ucap Mirza dengan tersenyum sopan.


"Tidak mengapa, Bang. Mommy bang Mirza sudah telepon tante semalam," balas Tante Lusi seraya menepuk lembut punggung kokoh Mirza.


"Kalian sudah sarapan, belum?" tanya Tante Lusi kemudian.


"Sudah kok, Ma," balas Lila yang mewakili Mirza.


"Kalian masuk dulu, yuk!" ajak Tante Lusi. "Papa belum berangkat, kok," imbuhnya mengisyaratkan, agar Mirza menemui papanya Lila terlebih dahulu.


Mirza mengangguk, pemuda tampan itu kemudian mengikuti langkah sang calon mama mertua, bersama Lila yang berjalan di sisinya. Tante Lusi membawa mereka ke ruang keluarga yang luas dan nyaman.


"Silahkan duduk dulu, Bang Mirza," titah Tante Lusi.


Baru saja Mirza hendak duduk, Om Devan yang baru saja keluar dari kamar, terkejut melihat kedatangan sang putri tercinta bersama Mirza.


"Kapan pulang, Kak?" tanya Om Devan yang langsung mendekati sang putri.


"Mereka berdua baru saja nyampai, Pa," balas sang istri mewakili Mirza dan juga putrinya.


Lila kemudian salim sama sang papa dan mencium kedua pipi papanya seperti biasa. Mirza pun ikut menyalami Om Devan dan mencium punggung tangan sang calon ayah mertua dengan takdzim.


"Om, maaf. Semalam, Mirza tidak jadi mengantar Lila pulang," ulang Mirza seperti yang dikatakannya pada Tante Lusi.


"Iya, Bang Mirza. Tak mengapa," balas Om Devan. "Ayo, duduk!" titah Om Devan yang sepertinya hendak mengajak Mirza untuk berbicara.


Mirza kemudian duduk, mengikuti papanya Lila. Mereka berdua duduk saling berhadapan.

__ADS_1


"Begini, Kak Lila, Bang Mirza. Kemarin itu, Ronald sangat marah sekali begitu Nenek Rahmi tidak membujuk Kak Lila agar mau menikah dengan Ronald," tutur Om Devan memulai ceritanya.


"Lantas, Om Rusman meminta tolong sama papa agar ikut membujuk Ronald," lanjut Om Devan yang sejenak menghentikan ceritanya.


"Apa Papa berhasil, membujuk Bang Ronald?" tanya Lila penasaran.


Om Devan menggeleng. "Belum, Kak. Dia bahkan minta sama papa, agar dicarikan jodoh orang sini. Ronald minta yang kalem seperti Kakak," balas Om Devan yang menjelaskan kriteria yang diinginkan Ronald.


"Minta yang kalem?" tanya Mirza seraya mengernyitkan kening.


Om Devan mengangguk. "Benar, Bang. Om sendiri juga bingung, masak orang macam Ronald meminta istri yang kriterianya seperti itu? Ya mana ada yang mau, kalau dia sendiri masih berperilaku menyimpang?" Om Devan terdengar mempertanyakan keinginan Ronald yang dinilai berlebihan dan mengada-ada.


"Ya, siapa tahu saja ada 'kan, Pa? Kita 'kan enggak pernah tahu, jodoh seseorang itu seperti apa? Itu semua rahasia Illahi, Pa," tutur Tante Lusi dengan bijak.


"Iya, Mama benar." Om Devan mengangguk setuju. "Tapi itu bagi orang yang mau berusaha untuk memperbaiki diri 'kan, Ma. Lah kalau si Ronald, kemarin saja dia kayak yang merasa sama sekali tidak bersalah!"


"Tetapi terakhir, dia mengakui kesalahannya kok, Pa. Saat Papa lagi masuk ke dalam untuk menemui Bu Rahmi," tutur Tante Lusi menjelaskan.


"Oh iya, baguslah kalau begitu," balas Om Devan. "Apa Mama, yang berbicara dengan dia?" tanya Om Devan kemudian.


Tante Lusi mengangguk. "Iya, Pa. Mama sempat berbicara cukup banyak sama Ronald," balas Tante Lusi. "Intinya, dia itu kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua, Pa, terutama mamanya. Catherine hanya menuruti semua keinginan Ronald tanpa pernah bertanya, itu untuk apa? Catherine juga tidak pernah memantau pergaulan Ronald, apalagi menayangkan apa yang diinginkan putranya itu," terang Tante Lusi.


"Lantas, Bang Ronald-nya mau janji untuk berubah enggak, Ma?" tanya Lila.


Tante Lusi mengangguk. "Iya, Kak. Dia janji, jika ada wanita yang mau dijadikan sebagai istrinya dan bisa membimbing Ronald," balas Tante Lusi.


Lila mengangguk dan tersenyum.


"Kenapa kamu senyum-senyum gitu, Sayang? Jangan bilang, kalau kamu mau jadi calon istri Ronald dan berusaha untuk merubah dia menjadi lebih baik?" tanya Mirza seraya menoleh ke arah Lila yang duduk di sampingnya, dengan nada penuh kecemburuan.


Om Devan dan Tante Lusi mengernyitkan kening, sedetik kemudian keduanya tersenyum.


"Dia 𝘫𝘦𝘰𝘭𝘦𝘰𝘢𝘴 sama putri kita," bisik Tante Lusi pada sang suami.


Om Devan mengangguk. "Itu artinya, Mirza benar-benar cinta sama putri kita, Ma," balas Om Devan yang juga berbisik.


"Iya, Lila mau. Kenapa, Bang?" balas Lila yang sengaja menggoda.


Om Devan dan Tante Lusi saling pandang, mendengar jawaban yang diberikan putrinya untuk Mirza.

__ADS_1


"Apa lagi yang direncanakan putri kita ya, Pa?" bisik Tante Lusi bertanya.


Om Devan hanya mengedikkan baju karena papanya Lila itupun tidak tahu, apa yang direncanakan sang putri.


"Terus, artinya ciuman pipi semalam, apa La?" bisik Mirza. "Aku bahkan, sampai enggak bisa tidur loh," lanjut Mirza menatap dalam manik hitam Lila.


Mendengar perkataan Mirza, Lila tersenyum lebar.


"Kok malah senyum-senyum lagi!" protes Mirza, masih dengan berbisik.


"Lila juga enggak bisa tidur kali, Bang," balas Lila lirih, hampir tak terdengar oleh Mirza, meski jarak keduanya sangat dekat.


"Kalian berdua kok malah pacaran di depan papa dan mama!" tegur Om Devan, menyudahi tatapan intens Mirza yang terus tertuju pada Lila.


"Enggak kok, Pa. Bang Mirza hanya klarifikasi," elak Lila.


"Terus, maksud dari jawaban Kak Lila tadi apa?" tanya Tante Lusi yang mewakili rasa penasaran dari sang suami dan juga Mirza.


Lila tersenyum mengingat percakapannya dengan salah seorang teman satu jurusan kala itu, ketika mereka berdua bertemu dengan Mirza di area parkir kampus.


"Tuh, kan. Senyum-senyum lagi!" kembali Mirza protes karena Lila mempermainkan dan mengaduk-aduk perasaannya.


"Jangan sampai aku menciummu seperti yang kamu lakukan semalam padaku, di depan mama dan papa kamu. Karena aku yakin, setelah ini kita pasti akan langsung di gelandang ke KUA." Mirza tersenyum seringai.


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


One ... berhasil. Mau lanjut enggak? πŸ₯°


Moga bisa lanjut lagi nanti, yah..


Yuk, sambil nungguin Bang Mirza dan Ibu Suri-nya up kembali ...


Mampir ke novel keren ini yah 😍


Karya Author hebat ; Lena Latihan


Judul karya ; Gadis Bogor

__ADS_1



__ADS_2