Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Bukan Ide yang Bagus


__ADS_3

"Kak, Kak Yovi sudah sadar?" tanya Lila yang kembali mendekat.


Sementara Mirza menghela napas kasar. 'Semoga Kak Yovi tidak salah mengartikan perhatian Lila,' doa Mirza dalam hati.


"Neng Geulis, Sayang," panggil Yovi lirih, yang membuat Lila menatap Mirza dan gadis cantik itu menjadi salah tingkah sendiri.


"Mendekatlah, Sayang. Abang akan temani kamu," bisik Mirza, yang kemudian menekan tombol untuk memanggil petugas, sebelum menemani Lila.


Lila duduk kembali di kursi yang berada di dekat ranjang pasien, sementara Mirza berdiri tepat di belakang Lila sambil tangannya menempel pada punggung Lila seraya mengusapnya dengan lembut.


"Apa yang terjadi padaku, Neng?" tanya Yovi dengan suara yang sangat pelan.


"Kak Yovi mengalami kecelakaan tunggal, itu yang Lila dengar. Tetapi untuk kejadian pastinya, Lila juga belum tahu, Kak," balas Lila sesuai yang ia ketahui.


Yovi terdiam, ia amati wajah cantik Lila dan kemudian pemuda tampan yang tengah terbaring lemah itu tersenyum manis pada Lila.


"Makasih ya, Sayang. Atas perhatian kamu," ucap Yovi yang merasa terharu dengan keberadaan Lila di sampingnya.


Lila hanya tersenyum tipis dan kemudian mendongak, menatap Mirza.


Yovi mengikuti arah pandangan Lila dan kemudian tersenyum pada Mirza. "Makasih ya, Za. Kamu udah mau menemani Lila untuk menjengukku, kalian berdua memang sahabat yang solid," ucap Yovi.


"Em, Kak Yovi, sebenarnya kami berdua ini ...." Ucapan Mirza menggantung di udara, ketika tiba-tiba pintu dibuka dari luar.


"Wah, Mas Yovi sudah sadar. Alhamdulillah ...," ucap Dokter Raharja yang masuk dengan diikuti seorang perawat serta petugas polisi tadi, yang hendak meminta keterangan pada Yovi.


Yovi tersenyum pada Dokter Raharja.


Lila langsung berdiri dan sedikit menjauh, memberikan ruang pada dokter jaga tersebut untuk memeriksa keadaan Yovi.


Dokter Raharja kemudian memeriksa tekanan darah, denyut nadi serta jantung, mata dan anggota tubuh lain dari pasien, yang di catat oleh perawat sebagai rekam medis pasien.


"Apa yang dikeluhkan, Mas Yovi?" tanya Dokter Raharja setelah selesai memeriksa keadaan Yovi.


"Kepala saya, rasanya pusing sekali, Dok. Dan kaki saya, kenapa kaki kanan saya, tidak bisa digerakkan ya, Dok?" tanya Yovi dengan wajah yang nampak sangat khawatir.


Lila yang mendengar pun ikut cemas, sementara Mirza mengerutkan kening dengan dalam.


Dokter Raharja nampak terdiam sejenak, ia seolah ragu untuk menyampaikan langsung apa yang sebenarnya menimpa Yovi.


"Dok, katakan saja, Dok. Kenapa dengan kaki saya?" desak Yovi.

__ADS_1


"Maaf, Mas Yovi. Karena keluarga Anda belum bisa kami hubungi, maka kami akan sampaikan langsung pada Mas Yovi," ucap Dokter Raharja.


"Kecelakaan yang menimpa Anda, selain menyebabkan beberapa luka ringan di tangan dan kepala Mas Yovi yang mengalami benturan keras, juga bagian kaki kanan Mas Yovi terjepit sehingga mengalami patah tulang," terang Dokter Raharja.


"Tetapi Mas Yovi jangan khawatir, kami sudah mengambil tindakan dengan cepat, kaki Mas Yovi sudah kami gips," lanjut Dokter Raharja.


"Berapa lama, kaki saya akan sembuh, Dok?" tanya Yovi khawatir, karena sebentar lagi ia harus mengikuti prosesi wisuda di kampus, wisuda yang telah lama ia nantikan.


Wisuda yang selama dua tahun ini tertunda karena kesibukannya membangun bisnis baru, bersama keluarga Yovi di Bandung.


"Sekitar enam sampai delapan minggu, Mas Yovi. Setelah itu, Mas Yovi bisa mulai jalan dengan menggunakan alat bantu," balas Dokter Raharja.


Yovi memejamkan mata, wajahnya terlihat begitu sedih. Lila juga nampak ikut bersedih dan Mirza langsung mengusap lembut punggung Lila.


"Yakinlah, semua akan baik-baik saja," bisik Mirza, mencoba menenangkan Lila.


"Dok," panggil Yovi. "Apakah tidak ada pengobatan lain yang bisa mempercepat kesembuhan kaki saya, Dok?" tanya Yovi penuh harap.


"Saya tidak mau memakai kursi roda saat saya diwisuda nanti dan sebentar lagi, saya juga akan menikah!" ucap Yovi penuh penekanan, seolah tidak bisa menerima kenyataan, yang menimpa dirinya.


"Mas Yovi tenang dulu, ya," bujuk Dokter Raharja. "Jika Mas Yovi tidak melakukan aktifitas berat dan saat terapi nanti, Mas Yovi mengikuti sesuai anjuran dari dokter, InsyaAllah kaki Mas Yovi akan segera pulih," lanjutnya, membesarkan hati pasien.


Yovi terdiam, tangannya yang tidak tertusuk jarum infus nampak mengepal sempurna.


"Iya, Kak. Lila di sini saja," balas Lila, yang tetap berdiri di tempatnya seraya melirik Mirza.


Dokter Raharja nampak membisikkan sesuatu pada perawat, perawat berseragam putih itu mengangguk dan kemudian segera menjalankan perintah dari sang dokter.


Ia menyuntikkan cairan dalam botol kecil, ke dalam infus pasien.


"Pak Salim, silahkan kalau mau menanyai Mas Yovi," ucap Dokter Raharja mempersilahkan polisi bernama Salim tersebut.


Pak Salim mengangguk dan kemudian berdiri mendekati ranjang pasien. Polisi tersebut mulai menanyakan, perihal bagaimana laka lantas itu bisa terjadi.


Sementara Mirza langsung mendekati Dokter Raharja, ia sempat mendengar tadi apa yang diperintahkan oleh dokter tersebut kepada perawatnya.


"Dok, apakah kecelakaan yang dialami Kak Yovi mempengaruhi kondisi psikologis Kak Yovi?" tanya Mirza dengan pelan.


Dokter Raharja mengangguk. "Sedikit, Mas. Mungkin karena benturan keras di kepala pasien dan sepertinya Mas Yovi juga sudah memiliki beberapa planning yang telah direncanakan dengan matang. Sehingga mengetahui kondisinya seperti ini, Mas Yovi jadi tidak bisa menerima keadaan," terang Dokter Raharja.


Mirza mengangguk-angguk. "Lantas, bagaimana jika Kak Yovi mendengar berita yang mungkin saja tidak sesuai dengan keinginannya, Dok?" tanya Lila yang ikut mendekat, ia nampak sangat khawatir.

__ADS_1


"Kalau bisa, jangan sampai Mas Yovi mendengar berita yang bisa membuatnya depresi karena itu, akan mempersulit kesembuhan Mas Yovi nantinya," balas Dokter Raharja.


Mirza dan Lila saling pandang.


"Ada apa, Mas Mirza?" tanya Dokter Raharja, yang melihat raut kecemasan di wajah Mirza dan Lila.


"Maaf, Dok. Apa kita, bisa bicara di luar sebentar?" pinta Mirza.


Dokter Raharja mengangguk. Mereka bertiga kemudian segera meninggalkan ruangan tempat Yovi di rawat.


Yovi sendiri tidak menyadari kepergian Lila karena ia masih fokus menjawab pertanyaan dari petugas polisi, selain itu Yovi juga mulai merasakan kantuk.


Sementara di luar, Mirza mengajak Dokter Raharja untuk duduk di bangku panjang, yang biasa digunakan oleh keluarga pasien untuk menunggu.


"Begini, Dok ...." Mirza kemudian mulai menceritakan permasalahan antara Yovi dan Lila, serta keinginan Yovi yang ingin menikahi Lila usai wisuda nanti, jika Lila bisa kembali menerima cinta Yovi.


Sementara di sisi lain, Mirza juga ingin menyampaikan kebenaran pada Yovi, bahwa dirinya dan Lila akan segera bertunangan.


"Padahal saat itu, Lila sudah ingin menjawab langsung permintaan Kak Yovi tetapi Kak Yovi-nya yang minta agar Lila memikirkan kembali," keluh Lila yang kini bingung sendiri.


Dokter Raharja mengangguk-angguk. "Maaf, bagaimana jika Mbak Lila, berpura-pura dulu menerima Mas Yovi?" saran Dokter Raharja dengan hati-hati. "Minimal, sampai kesehatan Mas Yovi pulih dan dia sudah bisa keluar dari rumah sakit," lanjutnya.


Mirza menggeleng. "Itu bukan ide yang bagus, Dok. Apalagi, kami berdua juga sudah merencanakan untuk bertunangan," tolak Mirza tegas.


Lila menatap Mirza tak setuju. "Bang, untuk sementara mungkin tak me---"


"Tidak, Sayang," sahut Mirza cepat.


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Siang bestie,,


First 😍


Kalau tadi baru terima notif, itu berarti bab yang aku up semalam tapi nyangkut di pohon cabe punya tetangga 😄


Yuk, sambil nunggu yang kedua, mampir di novel keren berikut yah 🥰


Judul : JAMUR (Janda Muda Di bawah Umur?

__ADS_1


Author : Ramanda



__ADS_2