
"Jangan sampai aku menciummu seperti yang kamu lakukan semalam padaku, di depan mama dan papa kamu. Karena aku yakin, setelah ini kita pasti akan langsung di gelandang ke KUA," bisik Mirza sedikit memberikan ancaman seraya tersenyum seringai, yang membuat Lila beringsut dan bergeser sedikit menjauh dari Mirza.
"Ish, silahkan aja kalau berani," tantang Lila dengan tanpa bersuara, setelah dirinya menjauh dari Mirza.
Mirza hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, seraya tersenyum kecut karena ia tak sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Mirza tak ingin mengambil apapun dari Lila sebelum mereka berdua halal nanti, kalau pun dia sering menggoda Lila dan mengatakan akan mencium, itu hanyalah sebatas bahasa bibir.
"Kak Lila," panggil sang mama, menuntut jawab karena Lila tak kunjung memberikan jawaban dan malah terlihat asyik bercanda dengan Mirza.
"Eh, iya, Ma." Lila menoleh ke arah sang mama dan juga papanya.
"Jadi gini, Ma, Pa ...." Lila kemudian menceritakan obrolannya dengan Tiara, mantan pacar seminggu Mirza yang diputuskan karena telah berani mencuri ciuman di pipi pemuda paling tampan di kampusnya tersebut.
"La, tolong dong, kenalin aku sama saudara-saudara kalian. Yang wajahnya kebule-bulean kayak Mirza, gitu," pinta Tiara saat mereka berdua duduk di kafe, setelah bertemu dengan Mirza di tempat parkir dan Tiara menceritakan perbuatannya terhadap Mirza, pada Lila.
Lila mengernyitkan kening. "Harus yang blasteran? Memangnya, kalau lokal kenapa?" tanya Lila keheranan mendengar permintaan temannya yang dirasa aneh.
"Untuk memperbaiki keturunan, La," jawab Tiara tersenyum nyengir.
Lila menepuk jidatnya sendiri, mendengar jawaban konyol Tiara, teman baiknya yang satu jurusan dengan Lila.
"Ra, memperbaiki keturunan itu jangan hanya bentuk fisiknya saja, tapi yang utama adalah perbaiki akhlaknya," ucap Lila yang mulai berceramah seperti biasa, Tiara bahkan sampai hafal bahwa Lila pasti akan berbicara panjang kali lebar dan seperti tak ada habisnya bahan yang dibicarakan.
"Kalau paras cantik dan tampan, itu memang banyak yang suka, Ra. Tetapi mereka sukanya ya, hanya sebatas pada pandangan mata. Berbeda jika akhlak yang baik, orang akan menyukainya itu dari hati," lanjut Lila.
"Tahu enggak, apa yang aku maksud?" tanya Lila kemudian.
Tiara mengangguk-angguk. "Sukanya hanya sebatas di mulut saja atau fatamorgana, sementara yang memiliki πͺπ―π―π¦π³ π£π¦π’πΆπ΅πΊ, akan benar-benar disayangi oleh banyak orang," balas Tiara. "Begitukah?" tanya Tiara memastikan persepsinya.
Lila mengangguk. "Kurang lebih seperti itu, Ra," balas Lila. "Jadi bagaimana? Masih mau yang tampangnya oke saja tanpa perduli dengan perilakunya?" tanya Lila menegaskan.
Tiara nampak bingung. "Tampang oke kayak si Mirza, tetep ya La. Kalau bisa, sama hatinya juga baik," pinta Tiara seraya tersenyum dan memainkan kedua alis naik turun.
"Hah, banyak banget sih maunya kamu!" protes Lila. "Cari sendiri aja deh, kalau gitu!" lanjut Lila yang menyerah.
Tiara cemberut. "Kok kamu gitu sih, La. Enggak bestie, ah!" protes Tiara seraya membuang pandangan ke arah lain.
Hening, sejenak menyapa meja tempat mereka berdua minum.
"Saudara kamu 'kan banyak, La. Cakep-cakep lagi," ucap Tiara mengurai keheningan.
__ADS_1
Lila meghela napas panjang. "Iya, tapi sudah π΄π°ππ₯ π°πΆπ΅ semua, Ra. Selain Mirza, masih tersisa satu, itupun masih ABG. Dia pacarnya banyak pula," balas Lila seraya tersenyum, teringat akan Iqbal.
"Ya udah, deh. Ntar kalau ada anak teman papa atau anak-anak temannya om, aku infoin ke kamu," pungkas Lila yang langsung beranjak.
Tiara menyeruput jusnya hingga tandas dan kemudian ikut beranjak. "Beneran ya, La. Aku tunggu kabar dari kamu," ucap Tiara dengan mata berbinar.
***
"Maksud kamu, Ronald mau kamu kenalin sama Tiara?" tanya Mirza, menatap sang calon Ibu Suri dengan tatapan penuh selidik.
"Iya, Bang. Kenapa? Abang keberatan?" tanya Lila.
"Jangan bilang, Abang masih ada rasa ya, sama si Tiara itu!" Lila cemberut, gadis itu menunjukkan rasa cemburunya.
Mirza tersenyum. "Enggak, Sayang. Perasaanku udah habis hanya untuk kamu," balas Mirza.
"Ehm ...." Om Devan berdeham karena kedua muda-mudi di hadapannya bercengkrama, seolah tak melihat keberadaan Om Devan dan Tante Lusi.
Mirza dan Lila sontak menoleh ke arah sumber suara dan keduanya tersenyum malu.
"Jadi, urusan si Ronald, sudah beres ya?" tanya Om Devan memastikan.
Lila mengangguk. "InsyaAllah, Pa. Nanti coba Lila komunikasikan sama Tiara," balas Lila.
Mirza dan Lila saling pandang. "Kami, Pa?" tanya Lila seraya menunjuk diri sendiri dan juga menunjuk Mirza.
Om Devan mengangguk. "Hem," balas Om Devan dengan gumaman. "Apa rencana Bang Mirza, pada putri om?" tanya Om Devan langsung, yang tak ingin melihat hubungan mereka berdua yang sudah sebegitu dekat, malah akan menimbulkan fitnah nantinya.
Mirza menegakkan tubuh sebelum memulai berbicara. "Iya, Om. Mirza memang sudah memiliki π±ππ’π―π―πͺπ―π¨ untuk kami berdua," ucap Mirza.
"Jika Om dan Tante mengijinkan, Daddy dan Mommy akan datang kemari untuk melamar Lila, tepat setelah kami di wisuda nanti," lanjut Mirza seraya melirik sang kekasih hati.
"Adapun untuk pernikahan, jika Om dan Tante setuju, akan diselenggarakan tepat saat Mirza ulang tahun nanti. Dan untuk tempatnya, InsyaAllah akan bertempat di kediaman kami berdua," imbuh Mirza menerangkan dengan detail.
"Kalian sudah memiliki rencana tempat untuk tinggal?" tanya Om Devan terkejut.
Mirza mengangguk. "Baru mulai di bangun hari ini, Om. Kata Om Ilham, dalam sebulan beres," balas Mirza.
Ya, usai ngobrol dengan sang daddy mengenai tempat tinggal untuk mereka berdua nantinya, Mirza langsung menghubungi Om Ilham untuk membuatkan gambar hunian idaman Lila.
Lila tersenyum bahagia, mendengar penjelasan pemuda tampan, yang selalu bisa membuat jantungnya berdebar kencang itu.
__ADS_1
Tante Lusi pun tersenyum senang mendengar perkataan Mirza, yang ternyata telah merencanakan semuanya dengan matang.
"Dimana itu, Bang? Apa yang di dekat komplek Opa Alvian?" tebak Om Devan.
Mirza mengangguk membenarkan. "Iya, Om," balas Mirza.
Om Devan mengangguk-angguk. "Baiklah, nanti kami akan ke sana," tutur Om Devan.
"Jadi, gimana, Om, Tante? Apakah rencana Mirza tadi di setujui?" tanya Mirza, seraya menatap Om Devan dan Tante Lusi bergantian.
Om Devan dan Tante Lusi saling pandang, Tante Lusi kemudian mengangguk pelan.
"Kami serahkan semua jawabannya pada Kak Lila," balas Om Devan, seraya menatap sang putri yang senyum-senyum sendiri sedari tadi.
Mirza kemudian menatap Lila, untuk meminta jawaban gadis cantik yang saat ini pipinya merona merah karena tak menyangka, Mirza telah merencanakan semua untuk mereka berdua dengan begitu matang.
"Kenapa aku enggak di ajak bicara, Bang?" Lila pura-pura protes, padahal hatinya berbunga-bunga.
"Kalau aku bicara dulu sama kamu, bukan surprise namanya, Sayang. Padahal, aku 'kan penginnya kasih kejutan sama kamu," kilah Mirza, yang membuat hati Lila semakin melambung ke atas awan.
"Gimana, Sayang. Kamu suka enggak, dengan rencana masa depan untuk kita berdua tadi?" desak Mirza karena Lila masih terdiam dan belum menjawab pertanyaannya.
Lila menggeleng pelan ...
____ bersambung _____
π·π·π·π·π·
Two ... done! π
Masih mau lagi? Tapi gak janji ππ
Makasih yah, masih setia nungguin Bang Mirza.
Yuk, sambil nunggu Bang Mirza bucin ... eh, nunggu Bang Mirza up lagi π₯°
Mampir di novel yang bikin penasaran ini yah ...
Judul ; One Night Stand In Dubai
Karya ; Lady Mermad
__ADS_1