Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Yovi Kecelakaan


__ADS_3

"Abang adalah laki-laki beruntung karena bisa mendapatkan cintamu, Sayang," ucap Mirza dengan sepenuh hati.


Lila menatap Mirza dengan tatapan dalam. "Lila juga mencintai Abang, tolong jangan pernah kecewakan Lila, Bang."


Suara klakson dari kendaraan yang hendak keluar dari tempat parkir yang terhalang oleh mobil Mirza, mengurai tatapan dalam kedua muda mudi tersebut.


"Abang pindahin mobil dulu, ya," ijin Mirza yang segera kembali ke dalam mobil.


Mirza segera memindahkan mobilnya, agar mobil lain yang hendak keluar bisa lewat. Setelah tempat tersebut kosong, Mirza kemudian memarkirkan mobilnya di sana.


Pemuda itu bergegas turun dan menghampiri Lila, ia gandeng mesra tangan Lila menuju gedung rektorat yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya memarkir mobil.


"Mau di gendong, Sayang?" tanya Mirza yang sengaja menggoda, untuk mengurai kebekuan yang sejenak tercipta karena pertemuan yang tidak mengenakkan dengan Tiffany tadi.


Lila menggeleng. "Malu kali, Bang. Lagian enggak jauh juga, kok," balas Lila tersenyum simpul.


Melihat sang gadis sudah tersenyum, membuat hati Mirza merasa tenang. Ia pun ikut tersenyum.


"Sayang, nanti kalau kita bulan madu, abang maunya di gunung. Kita bisa jalan-jalan sambil menikmati pemandangan alam yang cantik, seperti kamu. Kalau kamu lelah berjalan, abang siap untuk gendong kamu," ucap Mirza yang mulai ngelantur kemana-mana.


"Abang ini ngomong apa, sih? Ngomongnya kejauhan, Abang," protes Lila.


"Lamar dulu, Lila, terus nikahin, baru deh kita bahas bulan madu," lanjut Lila.


Mirza terkekeh pelan. "Wah, rupanya Ibu Suri sudah tidak sabar ya, untuk menikah dengan Baginda Raja," ucap Mirza menggoda, yang membuat Lila manyun.


"Bukan begitu, Abang! Lila 'kan cuma menjelaskan urutannya!" Lila semakin cemberut, pura-pura ngambek.


"Iya, iya. Abang cuma bercanda, Sayang," ucap Mirza seraya mengusap puncak kepala Lila.


"Kalian berdua nih ya, mesra-mesraan melulu dari tadi. Sampai gak sadar kalau kita perhatikan!" seru Attar yang tiba-tiba sudah berada di belakang Mirza.


"Tahu nih, seolah dunia milik mereka berdua," timpal Nezia, yang langsung menyerobot ke tengah, diantara Lila dan Mirza.


Lila hanya senyum-senyum melihat tingkah sepupunya Mirza tersebut, sementara Mirza cemberut sambil menoel hidung mancung Nezia.


"Kamu tuh ya, Dik. Enggak bisa lihat orang seneng lagi gandengan, main serobot aja," protes Mirza.


Nezia hanya tersenyum nyengir.


"Habisnya, Inez enggak bisa kayak kalian berdua. Si dia, sibuk mulu dengan pekerjaan. Punya waktu, cuma pas weekend!" gerutu Nezia yang mengeluhkan kesibukan sang pacar.


"Ya sama, Nez, kayak abang. Bedanya, dedek gemoy yang sibuk dengan tugas sekolah," timpal Attar yang pacarnya juga sibuk, menjelang ujian akhir sekolah.


"Tapi 'kan masa depan cerah, Nez. Kamu tinggal duduk manis, transferan lancar jaya," goda Lila.


"Iya, sih. Makanya Inez mau sama temannya Mas Bram," balas Nezia seraya terkekeh.


"Sayang, nanti setelah kita menikah, kamu juga tinggal duduk manis di rumah dan semua kebutuhan kamu, abang yang mencukupi," sahut Mirza, yang tak rela sang kekasih memuji cowok lain di hadapannya.

__ADS_1


"Cie, manggilnya udah ganti Abang aja, sejak kapan? Atau Jangan-jangan, kalian juga udah ciuman bibir, ya?" tanya Nezia tanpa tedeng aling-aling.


Putri bungsu Om Alex itu jika berbicara terkadang suka ceplas-ceplos, tanpa memperhatikan keadaan sekitar.


"Ish, kamu ini bicara apaan sih, Nez!" protes Lila dengan pipi merona merah, karena mahasiswa lain yang mendengar obrolan mereka langsung menoleh ke arah mereka berempat.


"Tahu nih, anak satu!" timpal Mirza sambil mencubit pipi Nezia.


"Abang, ih ... dari tadi KDRT melulu sama Inez!" protes Nezia. "Inez laporin loh sama Kak Seto karena Abang melakukan tindak kekerasan pada anak di bawah umur," lanjutnya seraya mengelus pipi bekas cubitan Mirza.


"Lah, udah perawan bilangnya masih di bawah umur!" cibir Attar.


Sementara Lila hanya senyum-senyum, menyaksikan tingkah tiga bersaudara tersebut.


Di dalam gedung rektorat, mereka berpisah. Attar yang berbeda jurusan langsung menuju ke lantai dua, dimana fakultasnya berada.


"Abang mau nganter Lila dulu?" tanya Nezia yang satu jurusan sama Mirza.


"Iya, Nez. Ayo, kalau mau ikut ngantar Lila! Habis ini, baru ke fakultas kita," tawar Mirza.


Nezia menggeleng. "Ogah, ah. Jadi obat nyamuk!" balas Nezia. "Mendingan Inez ke fakultas dulu dan godain Pak Orlando, lumayan kan, cuci mata," lanjut Nezia seraya tersenyum tengil.


"Ck ...." Mirza berdecak. "Jangan main hati!" peringat Mirza pada adik sepupunya.


"Enggak, Bang. Hanya di mulut, enggak sampai ke hati," balas Nezia sambil berlalu menuju ke fakultasnya yang berada di ujung.


Lila geleng-geleng kepala melihat tingkah centil Nezia, beda tipis sama saudari kembarnya, Lili.


"Iya, boleh," balas Mirza.


Mereka berdua segera berbelok ke kanan, berlawanan arah dengan Nezia tadi.


Setelah menyelesaikan semua urusannya di kampus, mereka berempat kembali berkumpul di kantin sambil menikmati minuman dan camilan ringan.


"Mau pada makan sekalian, enggak?" tawar Mirza.


Semua kompak menggeleng. "Nanti aja, deh. Baru jam segini," ucap Nezia sambil melirik jam di pergelangan tangan kirinya.


"Kalian berdua, mau kemana lagi?" tanya Attar seraya menatap Mirza dan Lila bergantian.


"Lila mau ketemu sama Kak Yovi dulu," balas Mirza mewakili sang kekasih.


"Tapi dari tadi chat dari Lila cuma centang satu, Bang. Ponselnya enggak aktif," ucap Lila seraya menunjukkan chat yang ia tujukan pada Yovi.


"Di telepon ke nomor selulernya dong, La," saran Nezia.


"Oh, iya. Aku coba, ya," balas Lila yang langsung mendial nomor seluler Yovi.


Terdengar nada sambung, tapi hingga beberapa saat menanti, panggilan dari Lila tidak ada yang menyahut. Bahkan Lila mengulangnya hingga tiga kali.

__ADS_1


"Ya udah, lain kali aja kalau belum bisa," ucap Mirza.


Lila mengangguk dan segera menutup ponselnya. Baru saja Lila hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas, Lila mengurungkan.


"Aku coba sekali lagi, deh," ucap Lila, yang kembali mendial nomor Yovi.


"Di 𝘭𝘰𝘢π˜₯, ya?" pinta Nezia seperti biasanya.


Ya, sudah bukan rahasia lagi, jika diantara mereka ada yang mendapatkan telepon dari pacar ataupun gebetan, maka harus di keraskan suaranya agar yang lain bisa ikut mendengar.


Kecuali, jika mereka tengah sibuk membahas sesuatu dan si penerima telepon langsung melipir menjauh, maka ia baru bisa bebas berbicara.


Lila mengangguk dan kemudian menekan tombol 𝘭𝘰𝘒π˜₯ 𝘴𝘱𝘦𝘒𝘬𝘦𝘳.


"Halo ...," suara seorang perempuan menyapa di seberang sana.


"Iya, halo," balas Lila seraya mengernyitkan kening.


"Maaf, apa Anda mengenal pemilik nomor ponsel ini?" tanya suara di seberang.


"I-iya, saya mengenalnya. Maaf, Mbak ini siapa? Terus Kak Yovi-nya dimana? Kenapa ponsel Kak Yovi, bisa ada pada Mbak?" cecar Lila dengan banyak pertanyaan.


"Saya suster dari Rumah Sakit Harapan, yang menangani pasien. Apa Anda bisa kesini segera? Kami bingung mau menghubungi siapa, karena ponsel pasien di kunci dan kami tidak bisa membukanya. Kebetulan Anda menelepon," terang suara di seberang yang ternyata adalah suster dari rumah sakit.


"Iya, bisa Sus," balas Lila seraya menatap Mirza untuk meminta persetujuan.


Mirza mengangguk setuju.


"Tapi maaf, Sus. Kenapa Kak Yovi bisa, berada di rumah sakit?" tanya Lila kemudian.


"Pasien mengalami kecelakaan tunggal dan keadaannya saat ini kritis," balas suster tersebut dengan gamblang.


Lila terdiam, ia tak mampu berkata-kata. Bagaimana pun, Yovi pernah mengisi hatinya dan mendengar Yovi kecelakaan apalagi kondisinya kritis membuat Lila menjadi sedih.


Mirza segera mengambil alih telepon tersebut. "Sus, tolong berikan penanganan terbaik pada pasien. Saya atas nama pemilik RPA Group yang akan menanggung semua biaya pengobatan pasien," titah Mirza tegas.


Mendengar nama RPA Group selalu investor utama di rumah sakit besar itu, suster langsung mengiyakan. "Siap Tuan Muda Alamsyah."


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Done... 2 😍


Yuk, sambil nunggu othornya khilaf up lagi πŸ˜„πŸ˜„


Mampir di novel keren ini yah...


Judul : Hasrat Tuan Kesepian

__ADS_1


Author : Reni.t



__ADS_2