
Di kampus tempat Mirza dan keempat sahabatnya itu menimba ilmu, mereka berlima sedang mengikuti gladi bersih untuk acara wisuda yang akan diselenggarakan satu bulan lagi.
"Neng Lila, apa kabar?" sapa seorang pemuda dengan kalem. "Za, apa kabar?" sapanya kemudian pada Mirza
"Eh, Kak Yovi. Alhamdulillah, kabar baik, Kak," balas Lila dengan tersenyum ramah.
Sementara Mirza hanya tersenyum masam.
"Boleh, ikut duduk di sini?" ijin Yovi sambil menunjuk bangku kosong di sebelah Lila, ketika Lila sedang duduk berdua dengan Mirza sebelum acara gladi bersih di mulai.
"Iya, boleh, Kak. Siapa aja boleh duduk karena kebetulan kosong, Kak," balas Lila.
Yovi pun kemudian duduk di sebelah Lila, membuat Mirza langsung nempel pada Ibu Surinya itu.
"Za, geser dikit, ah," bisik Lila yang merasa risih karena Mirza duduknya nempel-nempel.
Mirza hanya melirik tajam pada Lila dan hal itu membuat Lila tersenyum senang.
'Apa benar, kamu cemburu, Za?' batin Lila bertanya. 'Jika benar Mirza cemburu, itu artinya dia beneran sayang sama aku,' lanjut Lila dengan hati yang membuncah bahagia.
Selanjutnya, Lila terdengar asyik menanggapi setiap pertanyaan dari Yovi. Sesekali Lila juga bertanya pada Yovi, kemana saja dua tahun terakhir, hingga Yovi jarang nongol di kampus.
"Iya, Neng Lila. Aku ikut orang tuaku pindah ke Bandung dan mulai merintis usaha di sana. Itu sebabnya, kuliahku jadi keteteran dan telat mengikuti wisuda," balas Yovi dengan jujur.
"Tetapi dengan telat begini, aku jadi beruntung, lho. Karena bisa barengan sama kamu," imbuh Yovi seraya tersenyum manis.
"Ehem ...." Mirza berdeham, sebagai bentuk protes bahwa ada dirinya di samping Lila yang tak seharusnya diabaikan.
Namun, Lila dan Yovi masih terus ngobrol, hingga ketika panitia datang dan membuat mereka berdua harus mengakhiri obrolan seru tersebut.
Gladi bersih yang diadakan di ruang auditorium yang sangat luas itupun segera dimulai. Sepanjang mengikuti gladi bersih itu, Mirza terus saja nempel pada Lila meski mereka berdua berbeda kelompok karena Mirza dan Lila memang beda jurusan. Namun, Mirza tak perduli dan mengikuti kemanapun Ibu Surinya itu melangkah.
Hal tersebut salah satunya karena Yovi, kakak tingkat yang satu jurusan dengan Lila dan baru akan ikut wisuda tahun ini, terlihat kembali ingin mendekati Lila.
Yovi adalah mantan gebetan Lila, sebelum Lila akhirnya memilih menjalin hubungan serius dengan Juan karena saat itu, Yovi tidak menunjukkan keseriusannya dan memilih aktif di organisasi kampus. Berbeda dengan Juan yang terus menerus memberikan perhatian pada Lila.
__ADS_1
"Oh ya, Neng. Ada yang mau aku sampaikan," ucap Yovi yang sudah kembali duduk bersama Lila dan Mirza, di saat ada kesempatan istirahat sebentar.
Yovi yang kalem, berwajah ganteng dan tidak pernah neko-neko, tentu saja membuat hati Mirza ketar-ketir. Apalagi Lila juga belum secara resmi memberikan jawaban atas pernyataan cinta Mirza.
Terlebih, Sikap Lila yang sedari tadi juga baik pada Yovi dan seolah memberikan lampu hijau pada pemuda itu untuk mendekat, membuat Mirza harus semakin gencar menunjukkan perhatian dan keseriusannya kepada Lila.
"La, udah mau jam makan siang. Kita ke kantin, yuk," ajak Mirza, yang memang ia sengaja agar Yovi tidak memiliki kesempatan untuk mendekati dan menyampaikan apapun pada Lila.
Lila melihat jam tangan cantik di pergelangan tangan kirinya. "Bentar lagi, Za. Ini kita juga belum selesai, kan?" tolak Lila dengan halus seraya tersenyum manis pada Mirza, memohon pengertian pemuda tampan yang nampak terbakar api cemburu tersebut.
"Kak Yovi, mau ngomong apa?" tanya Lila menoleh kembali ke arah Yovi dan mengingatkan Yovi akan ucapannya tadi.
"Oh ya, Neng." Yovi nampak membetulkan duduknya. "Apa, aku masih memiliki kesempatan untuk kembali mendekatimu dan menjalin hubungan serius, Neng?" tanya Yovi berterus terang.
"Ehem ...." Kembali Mirza berdeham.
Perasaan Mirza semakin resah karena Yovi ternyata memang benar mencoba hendak kembali menjalin hubungan dengan Lila.
Yovi yang merasa telah memiliki pekerjaan yang mapan, berencana untuk mengajak Lila menikah usai mereka di wisuda nanti.
Lila hendak menjawab, ketika tiba-tiba Nezia nampak mendekat ke arah mereka bertiga.
"Hai, Nez. Apa kabar?" sapa Yovi dengan ramah. Yovi memang terkenal sebagai kakak tingkat yang baik dan ramah pada semua juniornya dan Mirza mengakui hal itu.
"Baik, Kak. Kak Yovi gimana kabarnya? Lama ya, enggak kelihatan. Jangan-jangan udah nikah, nih," cerocos Nezia yang memang kadang-kadang suka cerewet.
"Belum kok, Nez. Nih, lagi pedekate lagi sama Neng Geulis," balas Yovi yang dari dulu selalu memanggil Lila dengan panggilan kesayangan Neng Geulis. "Siapa tahu masih diberi kesempatan," lanjut Yovi memberikan kode, seraya melirik Lila.
Nezia melirik abang sepupunya sekilas. "Iya, Kak. Masih jomblo dia," ucap Lila, yang sengaja ingin membuat Mirza terbakar api cemburu dan segera mengakui perasaannya pada Lila.
Ya, Nezia belum tahu bahwa Mirza telah menyatakan cintanya pada Lila, termasuk Attar dan Lili. Mirza dan Lila sepakat, akan menyimpan obrolan di dalam mobil tadi, hanya untuk mereka berdua saja.
"Abang, Inez cariin lho dari tadi," ucap Nezia kemudian sambil mendekat di bangku Mirza. "Yuk, Bang, kita ke sana! Abang di cari sama panitia jurusan," ajak Nezia sambil menarik tangan Mirza.
"Ada apaan sih, Dik? Abang tunggu di sini aja, kamu bisa 'kan handle semua?" tanya Mirza. "Nanti abang ngikut aja arahan kamu," lanjutnya yang nampak enggan meninggalkan Lila, apalagi hanya berduaan dengan Yovi.
__ADS_1
Jelas saja Mirza cemburu berat, karena sebenarnya dulu Lila lebih cenderung untuk memilih Yovi dibanding Juan. Mirza sendiri dan sahabat yang lain, juga sangat setuju jika Lila jalan sama Yovi. Pemuda baik dan dari keluarga yang baik, cukup sepadan dengan keluarga mereka.
Sekarang, Mirza harus bersaing dengan Yovi. Pemuda ganteng yang pernah membuat Lila senyum-senyum sendiri enggak jelas, kala membayangkan wajah ganteng kakak tingkatnya tersebut.
"La, di sini 'kan dah selesai. Ikut kesana, yuk," ajak Mirza yang khawatir Lila akan kembali terbawa perasaan jika berdekatan dengan Yovi.
Yovi yang sekarang berbeda, dengan Yovi yang dulu. Yovi yang penampilannya lebih keren layaknya eksekutif muda, tidak seperti Yovi dua tahun lalu yang masih suka mengenakan celana jins belel karena Yovi termasuk salah satu aktifis kampus.
Lila menggeleng. "Belum selesai, Za. Nanti kalau udah kelar, aku nyusul kesana deh," janji Lila, agar Mirza mengikuti Nezia.
"Janji ya, Ibu Suri. Jangan dekat-dekat sama cowok itu," bisik Mirza penuh penekanan di dekat telinga Lila.
Lila tersenyum. "Kenapa? Apa Baginda Raja, cemburu?" tanya Lila yang ikut berbisik, menggoda Mirza. Dan panggilan mesra Lila barusan, sukses membuat Mirza tersenyum lebar.
"Oke, aku kesana dulu," pamit Mirza kemudian, hanya pada Lila.
"Kak Yovi, kami kesana, ya," pamit Nezia sambil berlari kecil mengikuti langkah lebar Mirza.
"Abang, jalannya jangan cepet-cepet!" protes Nezia yang masih terdengar di telinga Lila.
Lila tersenyum melepas kepergian Mirza seraya menatap punggung kokoh pemuda tampan tersebut, hingga langkah Mirza semakin menjauh.
'Apa aku harus yakin, bahwa hatimu benar-benar telah menjadi milikku, Ibu Suri?' gumam Mirza dalam hati sambil terus melangkah bersama Nezia, meninggalkan Ibu Surinya hanya berdua dengan Yovi, sang mantan gebetan.
_____ bersambung _____
🌷🌷🌷🌷🌷
Sore bestie,,, hayo, adakah yang masih punya rasa sama sang mantan? ☺
Yuk, sambil nunggu sang mantan hadir, eh.. bang Mirza hadir kembali maksudnya 🥰
Mampir di novel kece karya temanku yah... sama2 bahas mantan 😍
Judul : Tetanggaku Mantanku
__ADS_1
Karya ; Santi Suki