Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Bang Mirza Manis Sekali


__ADS_3

Mirza kini telah bergabung bersama saudara-saudaranya di ruang keluarga. Ia dan Lila mendapatkan banyak cercaan pertanyaan dari Attar dan Nezia, yang penasaran mengapa mereka berdua bisa tiba-tiba jadian.


Lila hanya senyum-senyum saja, sementara Mirza sibuk menjawab cercaan dari tiga saudaranya sekaligus, termasuk Iqbal yang juga kepo dengan kisah percintaan Mirza dan Lila yang berawal dari persahabatan itu.


"Abang sebenarnya udah lama curiga dengan sikap kamu sama Lila yang beda itu, Za. Tapi seolah kamu mengelak, dengan mengencani gadis-gadis yang enggak jelas di luar sana," ucap Attar yang mengemukakan analisanya jauh-jauh hari, tentang sikap Mirza pada Lila.


"Hem, bener tuh," timpal Nezia. "Inez juga merasakan sih, sikap Lila yang menaruh hati sama Abang sejak lama. Tepatnya, ketika Lila mulai jadian sama Juan," lanjut Nezia, seraya melirik Lila.


"Sok tahu, kamu!" protes Lila yang malu, jika perasaan yang selama ini tak disadarinya dikulik habis oleh sang sahabat.


"Ya tahulah, La. Kita 'kan bestie," balas Nezia bercanda, ia pun kemudian terkekeh sendiri.


"Inez tahunya dari tatapan kamu yang selalu meminta persetujuan sama Bang Mirza, jika Juan ngajak jalan," lanjut Nezia.


Mirza mengerutkan kening, sementara Lila tersipu.


"Benarkah? Itu artinya, sejak awal kita masuk Perguruan Tinggi?" tanya Mirza memastikan. "Apa itu artinya, aku cinta pertamamu, Ibu Suri?" lanjut Mirza bertanya, seraya menatap dalam netra Lila.


"Huwek ...." Iqbal berlagak ingin muntah. "Abang kayak ABG aja, panggilannya narsis!" ejek Iqbal seraya tergelak, yang diikuti oleh Attar dan Nezia.


Lila diam-diam sedikit menjauh dan bergabung bersama Maira dan Maida, yang melambaikan tangan ke arahnya.


"Hahaha ... iya, kamu benar, Dik. Bang Mirza narsis!" timpal Nezia masih dengan tawanya.


"Biarin! Daripada kamu, manggilnya pipi sama mimi, kayak artis aja!" gerutu Mirza, membalas olokan Nezia.


Ya, Nezia memanggil kekasihnya dengan panggilan pipi dan kekasih Nezia, yang merupakan teman seangkatan Abraham itu memanggil Nezia dengan panggilan mimi.


Mereka berdua memang sudah sangat serius menjalin hubungan karena Firman adalah salah seorang pengusaha muda, yang cukup mapan di ibukota.


Firman berencana untuk menikahi putri bungsu Om Alex itu, setelah Nezia di wisuda nanti.


"Biarin! Sirik tanda tak mampu!" Nezia membela diri.


"Udah, udah, malah saling mengolok." Attar menengahi.


"Ini, Bang Attar juga, narsis banget!Masak manggil si comel, Dedek Gemoy. Dih, gemoy dari mana coba?" tanya Iqbal yang mengolok, seraya geleng-geleng kepala.


"Suka-suka abang, dong, mau manggil gimana. Pacar, pacar abang," kilah Attar.


Mereka berempat pun masih saling mengolok dan bercanda dengan asyiknya, sedangkan Lila terlihat asyik ngobrol bersama kembar bungsu.


Rupanya, kedua adik Mirza itu sedang curhat sama Lila. Ya, selain dengan Salma, Maira dan Maida lebih dekat sama Lila dibanding sama saudara perempuannya yang lain, seperti Malika, Tasya dan Nezia.


Lila yang lembut, penuh pengertian, yang memberikan nasehat tanpa menggurui, membuat Maira dan Maida merasa dihargai dan disayangi.


"Jadi Dik Mela lagi deket nih, sama seseorang?" goda Lila bertanya.


Maira yang centil pun tersenyum lebar. "Ya, begitulah, Kak."


"Sayang, sudah jam berapa ini? Kok belum pada tidur? Besok kalian sekolah, lho?" tanya Mommy Billa yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan wajah yang segar dan bersemu merah, entah apa yang dilakukan sang suami di dalam sana pada istri cantiknya itu.

__ADS_1


"Iya, Mom. Baru jam sembilan, kok," balas Maira, yang nampak enggan untuk beranjak karena belum selesai bercerita pada Lila.


"Ya udah, bobok dulu. Ceritanya lanjut besok," bujuk Lila dengan lembut, seperti membujuk anak TK.


"Berarti, Kakak nginap sini lagi, dong?" tanya Maida dengan mata berbinar.


"Ya enggak besok juga kali, Dik. Kapan-kapan, insyaAllah," balas Lila.


"Yah, Kak Lila enggak asyik," gerutu Maira dan Maida bersamaan, seraya beranjak.


Mereka semua pun membubarkan diri, Iqbal dan kedua kakak sepupunya berebut menaiki anak tangga. Mereka bertiga naik ke lantai atas, sambil bercanda ria.


"Mom, Lila juga mau ke atas," pamit Lila dengan sopan, yang diikuti Nezia, Attar dan juga Mirza.


Mommy Billa mengangguk dan tersenyum tulus. "Istirahatlah kalian, Abang jangan begadang sampai larut!" pesan Mommy Billa pada sang putra.


Mirza mengangguk patuh.


Mereka berempat pun menaiki anak tangga, untuk menuju ke kamar masing-masing.


Lila dan Nezia di kamar yang sama, sementara Attar di kamar Mirza bersama Iqbal yang sudah naik terlebih dahulu.


Sebenarnya masih ada banyak kamar kosong, tetapi mereka lebih senang berbagi kamar agar bisa saling bercerita dulu sebelum tidur.


"Nez," panggil Mirza pada adik sepupunya, ketika Nezia hendak membuka pintu kamar.


Nezia menoleh. "Ada apa, Bang?"


"Ini 'kan udah malam," tolak Lila, yang khawatir kejadian seperti tadi sore akan terulang.


Apalagi ini malam-malam dan udara di musim kemarau mulai terasa dingin, yang pastinya akan sangat mendukung untuk melakukan hal-hal yang sebenernya diinginkan tetapi belum boleh di lakukan.


Mirza tersenyum dikulum, ia rupanya mengerti apa yang dipikirkan oleh sang kekasih hati.


"Kita bicara di balkon, di tempat terbuka, Sayang," ucap Mirza.


"Ya udah, sana! Pakai pura-pura malu segala! Dari orok juga udah saling dekat, kan?" ledek Nezia, yang langsung nyelonong masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Lila yang masih ragu di depan pintu kamar yang sengaja di tutup rapat oleh Nezia dari dalam.


Sementara Attar juga langsung masuk ke kamar Mirza, seolah memberikan ruang dan waktu untuk Mirza dan Lila berbicara berdua saja.


"Bagaimana, Ibu Suri? Apa tampangku, seperti tampang pria mesum?" goda Mirza berbisik di dekat telinga Lila, membuat darah Lila berdesir.


'Wajahmu memang enggak mesum, Za, tapi sikapmu padaku yang menjurus ke sana,' batin Lila bergolak.


"Mau di gendong menuju balkon atau jalan sendiri, Laila Sayang?" tanya Mirza yang semakin menggoda.


Lila mengerucutkan bibir dan langsung berlari kecil menuju balkon, ia tak mau lagi menunda, ingin segera tahu apa yang akan dibicarakan oleh Mirza.


Lila tak ingin berlama-lama dan hanya berduaan saja dengan pemuda yang ia cintai karena nafsu, bisa menjerat dan menjerumuskannya kapan saja.


"Cepet banget sih jalannya, Sayang," protes Mirza, begitu ia berhasil menyusul Lila.

__ADS_1


Lila hanya melihat sekilas ke arah Mirza dan kemudian segera mengalihkan pandangannya, ke tempat lain sengaja menghindari tatapan Mirza yang menghanyutkan.


"La, duduk sini, Sayang. Ada yang ingin aku sampaikan," pinta Mirza seraya menepuk bangku kosong di sebelahnya.


Lila menurut, ia kemudian duduk di samping Mirza. Jantung Lila mulai berdetak cepat, berpacu dengan waktu.


Mirza nampak mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil, dari sakunya. Membuat Lila mengernyitkan dahi.


Mirza membuka kotak tersebut dan menunjukkan pada Lila. "Ini hadiah dari mommy, untuk calon menantunya," ucap Mirza.


Lila menatap kagum cincin dengan batu permata kecil yang berkilauan, sangat pas dengan model cincinnya.


"Hadiah?" tanya Lila bingung.


Mirza mengangguk, ia kemudian menceritakan apa yang di dengarnya dari sang mommy.


Lila merasa terbaru karena orang tua Mirza sudah benar-benar menerimanya sebagai calon menantu, dengan memberikan cincin yang di beli khusus untuk putri dan menantu keluarga Daddy Rehan Alamsyah.


"Sini tangannya," pinta Mirza.


"Mau ngapain?" tanya Lila khawatir.


Mirza terkekeh. "Cuma mau menyematkan cincin indah ini di jari lentik mu, Sayang," balas Mirza.


Lila pun tersipu malu karena pikirannya ngelantur kemana-mana. Ia kemudian mengulurkan tangan kanannya.


"Di jari tangan kanan saja," pinta Lila.


Mirza menyematkan cincin tersebut di jari manis Lila dan kemudian mengecup punggung tangan Lila.


Lila tertegun dengan sikap manis Mirza. 'Bang Mirza, manis sekali,' batin Lila, seraya menikmati wajah tampan Mirza.


"Sayangnya, Baginda Raja belum dibolehin sama Ibu Suri untuk mencium yang lain," gumam Mirza, mengurai lamunan Lila.


"Ish, apaan sih, Abang. Itu mulu yang di bahas," protes Lila yang langsung beranjak, mencuri kecupan kecil di pipi Mirza dan langsung berlari menjauh masuk ke dalam kamar.


Membuat Mirza tertegun ....


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Cie ... Bang Mirza semalaman gak bakal bisa tidur deh kayaknya 🥰


Biar bisa cepat bobok cantik, baca Novel keren ini ya, bestie...


Karya ; Siti Fatimah


Judul ; Istri Yang TAK DIANGGAP


__ADS_1


__ADS_2